
Hari, minggu, bulan silih berganti. Semua persiapan sudah rampung, dan kini saatnya bagi Ryanthi untuk merasakan sebuah debaran dalam balutan kebaya pengantin berwarna putih.
Di sampingnya duduk seorang pria tampan dengan beskap warna senada. Meskipun ia tampak tidak terlalu nyaman dengan blangkon di kepalanya, tapi rona bahagia tak jua lepas dari wajahnya. Ia mengucapkan janji suci di hadapan semua saksi dan tamu yang menghadiri acara tersebut.
Adrian, terlihat sangat bahagia. Ia menatap Ryanthi dan mengecup keningnya dengan lembut.
Sedangkan Ryanthi hanya tertunduk malu. Ia menyembunyikan kecantikannya dalam sebuah kata yang tak mampu untuk ia ungkapkan. Ryanthi kini telah resmi menjadi Nyonya Adrian Winata.
Kebahagiaan terpancar dari seorang Indira. Ia tak henti-hentinya menyeka sudut matanya. Wanita itu benar-benar bahagia, dan seakan kesulitan untuk dapat mengungkapkan kebahagiaannya. Indira tak dapat berkata apa-apa, selain memeluk dan mencium kedua mempelai. Ia pun sesekali menepuk lembut pipi putra kesayangannya yang saat itu tampak sangat bahagia.
Begitu juga dengan Surya. Meskipun ia mengetahui bahwa Adrian dapat melindungi Ryanthi dengan baik, tetapi perasaan tidak rela tetap muncul dalam hati kecilnya. Ryanthi pasti akan pergi dari rumahnya. Gadis itu akan meninggalkannya lagi untuk meniti hidup baru bersama suaminya.
Ada banyak ucapan selamat dari semua tamu yang hadir, yang sebagian besar tentunya orang-orang penting. Terutama dari pihak keluarga dan kerabat dekat kedua keluarga.
Andrea dan suaminya juga hadir dengan membawa anak kembar mereka. Sementara Vera tak henti-hentinya memeluk Ryanthi. Ia begitu bahagia dan merasa terharu dengan pernikahan itu.
Arshan pun tak ingin ketinggalan. Pria itu ikut menyalami Ryanthi. Meskipun tatapannya sedikit aneh, tetapi Ryanthi mengisyaratkan sebuah persahabatan dengannya. Tentu saja, karena ia juga merupakan saudara iparnya saat ini.
Intinya, pada hari itu hanya ada ucapan dan doa, serta tawa bahagia.
Malam itu. Ryanthi berdiri di depan meja riasnya. Ia tengah membersihkan semua riasan yang menempel di wajahnya. Ryanthi sudah benar-benar tidak tahan dengan wajahnya yang terasa begitu berat. Terlebih bulu mata palsu itu membuatnya merasa sangat aneh saat berkedip.
Untung saja karena Vera sudah memberitahunya bagaimana cara melepas bulu mata palsu itu, sehingga dengan mudah ia dapat membersihkannya.
Adrian baru selesai mandi. Ini pertama kalinya ia menginap di rumah Ryanthi, di dalam kamar gadis itu. Dengan handuk yang dililitkan di bagian pinggangnya, Adrian kini berdiri dan menatap Ryanthi dari pantulan cermin yang ada di hadapan mereka.
Rona bahagia itu tak juga lepas dari wajahnya yang tampak jauh lebih segar, jika dibandingkan dengan siang tadi. Ia kemudian berdiri lebih dekat di belakang Ryanthi, yang baru selesai membersihkan semua riasannya.
"Jadi, sekarang aku akan tidur di ranjang Nona Galak-ku?" godanya seraya tersenyum nakal. Senyum yang terlihat sangat manis dan menggoda. Sementara Ryanthi hanya tersenyum. Ia merasa malu dengan tatapan nakal yang ditujukan pria itu kepadanya.
"Bukannya kau tidak biasa tidur di ranjang orang lain? Jangan salahkan aku jika malam ini kau tidak bisa tidur dengan nyenyak," jawab Ryanthi.
Adrian masih dengan senyumannya. Namun, kali ini senyuman itu tampak jauh lebih lebar.
"Aku rasa, malam ini kita berdua tidak akan tidur dengan nyenyak," bisiknya membuat pikiran Ryanthi terbang ke mana-mana. Ryanthi pun kembali tersipu malu. Apalagi ketika tanpa permisi, Adrian melepas kimono berwarna merah yang Ryanthi pakai malam itu.
Kini, hanya sebuah lingerie berenda yang tersisa di dalamnya. Itu adalah lingerie yang sengaja Adrian belikan untuknya. Adrian kembali tersenyum lebar. Ia benar-benar mengagumi kecantikan Ryanthi malam itu.
Adrian kemudian mengawalinya dengan sebuah sentuhan hangat di leher Ryanthi, dan berakhir dengan sebuah desa•han napas yang keluar perlahan dari mulut wanita itu.
Pada akhirnya, tempat tidur Ryanthi lah yang malam itu menjadi saksi. Saksi untuk setiap hentakan yang dilakukan Adrian terhadap wanita yang baru ia nikahi tadi siang itu.
Sepertinya, malam ini mereka berdua memang tidak akan tidur dengan nyenyak.
.......................
Meskipun semalam ia hanya tidur beberapa jam saja, tetapi Ryanthi sudah terbangun pagi-pagi srkali. Ia telah selesai membersihkan dirinya. Sekitar pukul tujuh tiga puluh pagi, Ryanthi segera turun. Sementara Adrian, ia masih terlelap di bawah selimutnya dengan bertelanjang dada.
__ADS_1
Entah kenapa, semua orang yang Ryanthi temui pagi itu tersenyum nakal kepadanya. Terlebih Vera. Senyuman ibu satu anak itu tampak sangat misterius. Ia terus memerhatikan Ryanthi yang tengah menyiapkan sarapan sebelum Adrian bangun.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Ryanthi. Ia berpura-pura tidak mengerti dengan sikap yang ditunjukan Vera terhadap dirinya.
Wanita itupun tertawa. "Bagaimana semalam?" odanya dengan nakal. Ia bertanya dengan setengah berbisik, dan itu membuat Ryanthi mendelik tajam kepadanya.
Ryanthi tersenyum kecil. Vera memang tidak tahu jika Ryanthi sudah pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Namun, tadi malam sudah pasti terasa jauh berbeda. Ryanthi melakukannya tanpa beban apapun. Ia begitu lepas dan sedikit di luar kendali. Ryanthi tersenyum sendiri saat membayangkan hal itu, tapi dengan segera ia mengakhiri lamunan nakalnya.
"Kau yang jauh lebih berpengalaman," jawab Ryanthi. Ia kembali pada pekerjaannya yaitu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suami tercinta, berhubung yang lainnya sudah sarapan terlebih dahulu.
Vera kembali tergelak saat mendengar ucapan Ryanthi. Ia lalu mengambil setangkai anggur dan memakannya. "Aku tidak ingin membahas masalah itu, karena Arshan sudah berangkat ke tempat kerjanya," jawab Vera tanpa berhenti tertawa.
Namun, dengan segera mereka mengakhiri obrolan nakal itu, ketika tiba-tiba Maya masuk ke dapur itu. Ia mencari-cari mbok Mur. Akan tetapi, yang ia temukan di dapur adalah dua orang wanita muda yang tengah berbincang sambil tertawa cekikikan.
"Apanya yang seru? Pagi-pagi begini sudah cekikikan?" tanya Maya dengan penasaran.
Ryanthi dan Vera serentak menggelengkan kepala mereka. "Tidak ada, Tante. Aku dan Vera hanya membahas masalah perbedaan anggur hijau dan anggur ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Vera menyela ucapannya.
"Ryanthi ternyata lebih menyukai buah pisang setengah matang," Vera kembali tergelak. Sementara Ryanthi hanya membalasnya dengan sebuah cubitan kecil di pinggang wanita itu.
Wajah penasaran Maya tampak begitu jelas. Wanita itu seakan sudah paham dengan obrolan yang telah membuat kedua wanita muda itu tampak ceria seperti itu. Namun, sayang sekali karena ia sedang mencari mbok Mur dan tidak dapat ikut bergabung dalam obrolan hangat itu.
Ryanthi telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia memegangi semangkuk salad buah kesukaan Adrian. "Aku akan ke kamar dulu," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Vera. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar pertanyaan yang diajukan Vera kepadanya.
"Kau akan berapa hari disini?" tanya Vera. Ia segera mengikuti langkah Ryanthi, yang kemudian keluar dari dapur.
Ketika Ryanthi masuk ke kamar, Adrian ternyata telah bangun. Pria itu terduduk di atas tempat tidur dengan selimut yang hanya menutupi bagian perut ke bawah. Wajahnya terlihat lelah, tapi ia tampak berseri-seri. Ryanthi segera menghampirinya. Ia juga duduk di dekatnya.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Ryanthi dengan senyum manisnya.
Adrian menatap wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Ia lalu tersenyum dan mengangguk. "Aku ingin kita segera pulang ke apartemenku," ucapnya datar.
Ryanthi mengangguk setuju. Tidak ada alasan baginya untuk menolak apalagi berdebat. "Iya, tapi sekarang kau harus bangun, lalu mandi, segera berpakaian! Setelah itu kita sarapan," titah Ryanthi. Ia menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Adrian dan sontak membuat pria itu menatapnya denga heran. Jadi, sekarang semuanya menjadi terbalik. Ryanthi yang akan lebih berkuasa atas dirinya.
"Kenapa malah diam? Ayo cepat sana!" Ryanthi menarik lengan Adrian, agar pria itu segera bangkit dari tempat tidurny. Namun Adrian malah tertawa geli saat menanggapi sikap yang ditunjukan Ryanthi. Hal itu, telah membuat Ryanthi melotot dengan tajam kepadanya.
Hari semakin siang, ketika Ryanthi dan Adrian mulai bersiap untuk pulang ke apartemen milik Adrian. Ryanthi tidak membawa semua pakaiannya, karena Adrian yang melarangnya.
Ya, tentu saja. Pria itu dapat membelikannya pakaian jenis apapun dengan harga berapapun, bahkan bila perlu lengkap dengan toko beserta para pelayannya sekalian. Akhirnya Ryanthi hanya membawa beberapa baju kesayangannya saja.
"Kapan-kapan mainlah ke sana," ucap Ryanthi kepada Vera dan Maya sebelum ia berangkat.
"Tentu. Kami pasti akan mampir," jawab Vera dengan semangat.
"Namun, pastikan untuk menghubungi kami terlebih dahulu," sela Adrian diselingi senyum dan nada bercanda.
"Uh ...." Vera melirik Ryanthi yang hanya tersenyum saat menanggapi celetukan suaminya.
__ADS_1
Adrian tampak berbincang sebentar dengan Surya, entah apa yang mereka bicarakan. Sedangkan Ryanthi sibuk berpamitan dengan Maya, Vera, dan sahabat pertamanya di rumah itu, yaitu mbok Mur. Wanita paruh baya itu tampak sangat terharu karena Ryanthi kini sudah menemukan kebahagiaannya. Ryanthi pun tak segan-segan untuk memeluknya, meskipun ia hanya seoarang pelayan.
"Ayah pasti akan sangat merindukanmu. Setelah sekian lama kau berada jauh dari Ayah, dan memutuskan untuk pergi belajar di luar negeri. Kini, setelah pulang kau langsung menikah dan pergi lagi," Surya tampak bersedih.
Ryanthi segera memeluk pria berkaca mata itu dengan erat. "Aku hanya pindah tempat tinggal, Yah. Lagi pula, Ayah bisa menemuiku kapan saja. Aku juga pasti akan sering-sering mampir kemari," ucap Ryanthi mencoba menghibur ayahnya.
Surya manggut-manggut pelan. "Ini rumahmu. Datanglah kapan saja kau mau," ucapnya lagi.
"Iya, tentu," jawab Ryanthi seraya melepaskan pelukan ayahnya. Setelah selesai berpamitan dengan semuanya, mereka pun berangkat.
Di dalam perjalanan, Ryanthi tidak banyak bicara. Ia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Ia juga merasa sangat mengantuk.
Adrian melirik Ryanthi beberapa kali sambil terus mengemudikan mobilnya. Perlahan digenggamnya jemari Ryanthi dengan tangan kirinya, kemudian diciumnya dengan lembut. Ryanthi menoleh dan tersenyum dengan matanya yang sayu.
"Tidurlah! Nanti aku bangunkan jika kita sudah sampai," suruhnya dengan lembut.
Ryanthi kembali tersenyum. Perlahan ia memejamkan matanya dan mulai terhanyut dalam goncangan mobil Adrian yang tengah melaju dengan tidak terlalu kencang.
Entah bagaimana awalnya, tapi tiba-tiba Ryanthi kembali berada di kontrakan petaknya yang dulu. Ia melihat ruangan sempit itu dengan suasananya yang lembab dan kumuh. Ryanthi juga melihat sebuah kasur busa tipis yang dulu sering ia ompoli.
Adalah sesuatu yang menarik perhatiannya. Di sana duduk seorang wanita. Muda dan cantik, dengan sanggul asal-asalannya. Di pangkuannya tertidur seorang gadis kecil dengan rambut pendek dan wajah yang mirip dengan wanita itu.
Dialah Farida dan Ryanthi kecil yang malang.
Perlahan, Farida mengelus rambut gadis kecil itu, dan Ryanthi asik memainkan jemari sebelah kiri sang ibu. Gadis kecil itu tampak sangat senang dengan apa yang sedang dilakukannya saat itu, karena ia sesekali tertawa pelan. Namun, sesaat kemudian gadis kecil itu terdiam dan menoleh kepada ibunya.
"Tangan Ibu kenapa?" tanyanya menunjukan jari tengah ibunya yang menghitam.
Wanita itu tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Ibu kurang berhati-hati, sehingga tangan Ibu tadi terkena oven panas," jawabnya tanpa berhenti membelai lembut rambut putri kecilnya.
"Jika aku besar nanti, biar aku yang membuatkan kue untuk Ibu. Jadi tangan Ibu tidak akan terluka lagi," ucap gadis kecil itu polos.
Farida tersenyum dan mencium kening putri kecilnya. Ia terus mengelus rambut pendek bocah itu hingga si empunya tertidur.
Dengan hati-hati, Farida memindahkan Ryanthi kecil ke atas selembar kasur busa yang tipis. Ia juga menyelimutinya dengan selembar kain jarik. Ditatapnya wajah gadis kecil itu untuk sesaat.
"Sekarang musim hujan. Ibu harap malam ini kau tidak ngompol lagi," bisik Farida pelan seraya merebahkan tubuhnya di samping tubuh kecil Ryanthi.
Bergetar hati Ryanthi melihat sebagian cuplikan masa lalunya. Ia segera berlari ke luar dan menyambut rintik-rintik hujan yang mulai turun, seiring air matanya yang menetes deras.
Namun, lagi-lagi Ryanthi dibuat heran karena tiba-tiba ia berada di depan sebuah rumah sederhana berwarna hijau muda. Ia masih ingat betul jika itu adalah rumah kontrakan, yang terakhir ia tempati bersama mendiang ibunya.
Perlahan Ryanthi masuk ke sana. Ia masih dapat mengingat dengan jelas setiap bagian rumah itu. Matanya kini tertuju pada sebuah kamar di mana terbaring seorang wanita dengan tubuh kurus dan wajah yang pucat.
"Ibu," de•sah Ryanthi penuh haru. Ia berniat untuk menghampiri wanita itu. Namun, langkahnya seketika terhenti karena ia melihat dirinya sendiri masuk ke dalam kamar itu.
Ryanthi dengan rambut pendek, kaos usang dan celana kulot pendeknya masuk membawa sebuah baskom. Dengan telaten ia menyeka tubuh sang ibu yang hanya terkulai lemah tak berdaya, dengan selembar sapu tangan handuk berwarna biru. Ryanthi masih ingat dengan jelas, itu adalah hari di mana ia pergi meninggalkan ibunya untuk menemui ayahnya.
__ADS_1
Tangisnya mulai pecah. Artinya, apa yang ia lihat saat itu adalah hari terakhir ia melihat ibunya yang masih bernyawa.