Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Salam Perpisahan dari Edgar


__ADS_3

Malam itu, Edgar datang ke rumah Arumi. Ia bermaksud untuk pamitan pada Arumi dan keluarganya.


Selaku kepala keluarga, Keanu menyambut kedatangan Edgar dengan hangat. Ia pun mengajak pria itu untuk berbincang akrab. Tak lupa, Ryanthi dan tentunya Arumi juga ikut bergabung dengan mereka.


"Jadi, kapan kamu akan kembali lagi ke Indonesia?" tanya Keanu kepada Edgar ketika mereka berbincang di ruang tamu.


"I don't know. Mungkin agak lama, karena aku juga memiliki kesibukan di Paris, dan aku sudah terlalu lama disini," ujar Edgar.


"Aku terus mengejar sesuatu yang malah semakin menjauh dariku," lanjut pria berwajah tampan itu seraya melirik Arumi. Sindiran itu memang ia tujukan untuk gadis dengan lesung pipi yang telah membuat dirinya patah hati.


Arumi sendiri tidak mempedulikan sindiran yang ditujukan Edgar kepadanya. Ia masih duduk dengan tenang. Bahkan sebaliknya, ia terlihat begitu senang akan keputusan yang telah diambil Edgar untuk segera kembali ke negara asalnya.


"Aku rasa itu memang keputusan yang sangat tepat yang telah kamu ambil saat ini," ujar Arumi dengan senyum manisnya.


Keanu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak paham dengan sikap Arumi yang begitu seenaknya. Gadis itu seakan tidak memiliki hati sama sekali.


Tampak dengam jelas jika Edgar justru merasa sedih karena harus kembali ke negara asalnya, tapi Arumi justru sebaliknya. Ia terlihat begitu bahagia karenanya.


Ryanthi sendiri tidak habis fikir dengan sikap Arumi. Padahal, Ryanthi pun tidak pernah mengajarkan gadis itu untuk bersikap kejam terhadap seorang pria. Akan tetapi, sikap Arumi ternyata jauh lebih keras dari dirinya.


Memang tidak salah juga, jika Arumi bersikap tegas kepada Edgar. Terlebih karena Arumi kini sudah tidak menginginkan untuk dapat kembali, kepada pria dengan senyuman menggoda itu.


Perbincangan pun terus berlanjut. Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul dua puluh satu tiga puluh. Edgar pun harus segera pamit, berhubung esok ia akan ikut dengan penerbangan pagi.


Ryanthi pun mengisyaratkan kepada Arumi agar gadis itu mengantar Edgar keluar. Dengan terpaksa, Arumi melakukan apa yang Ryanthi isyaratkan kepadanya.


"Jangan lupa sampaikan pesanku kepada si pirang itu!" ucap Arumi dengam kedua tangan yang terlipat di dada.


"Aku sudah lama tidak bertemu Pamela. Aku juga tidak berniat untuk menemuinya. Akan tetapi, aku pasti akan menyampaikan pesanmu jika kami bertemu kapan-kapan," jawab Edgar dengan tenangnya. Ia berbicara dalam bahasa Perancis kepada gadis itu.

__ADS_1


"Terserah. Itu bukan urusanku lagi. Yang pasti aku akan sangat berterima kasih jika kamu bersedia untuk menyampaikan pesanku padanya," balas Arumi dengan bahasa yang sama.


Edgar tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat wajah cantik Arumi yang pastinya akan sangat ia rindukan.


"Kamu yakin akan membuatku kembali ke Perancis dengan tangan hampa?" Edgar seakan memberi kesempatan kepada Arumi. Ia berharap agar gadis itu untuk berubah fikiran.


"Kamu sedang memohon padaku?" tanya Arumi dengan angkuhnya. Gadis itu tampak menyunggingkan senyuman sinis di sudut bibirnya.


"Aku sudah memohon padamu sejak awal," ujar Edgar. Ia menyesalkan semua sikap dan keputusan Arumi kepada dirinya.


"Ini yang terbaik. Aku memberimu kebebasan, dan begitupun sebaliknya. Adil, kan?" ujar Arumi dengan tenangnya.


"Apanya yang adil? Aku jelas tidak menyukai keputusanmu!" bantah Edgar dengan kesal.


Arumi tertawa pelan. Ia belum pernah terlihat begitu santai dari semenjak kedatangan Edgar di Indonesia untuk menemuinya.


"Ya, dan kamu juga sama saja!" balas Arumi dengan jengkel. Akan tetapi, ia terlihat begitu puas.


"No, Beib! Jangan samakan aku dengan dia ... siapa namanya? Mu ... Mudi ... or ... ah, masa bodoh siapa pun namanya. Satu yang pasti, aku tentu saja jauh lebih baik jika dibandingkan dengannya!" tegas Edgar dengan sangat percaya diri.


"Yeah ... terserah kamu," Arumi menanggapi ocehan Edgar dengan begitu tenangnya. Yang pasti ia merasa sangat senang, karena satu dari dua pengganggu dalam hidupnya akan segera pergi dan menghilang dari pandangan matanya.


"Aku pastikan kepadamu Arum. Jika bukan aku yang kembali kemari, maka ... kamu yang akan mencariku ke Perancis. Kita lihat saja! Catat dan ingat itu baik-baik!" pesan Edgar dengan sikapnya yang terlihat sangat kalem di hadapan Arumi.


"Apakah itu semacam ancaman atau peringatan untukku?" tanya Arumi. Sepasang bola matanya bergerak dengan tidak beraturan.


"Tentu saja bukan," jawab Edgar. "Itu hanya keyakinanku saja. Sebuah bisikan dari hati kecilku. Entahlah, yang pasti ... aku merasa sangat yakin jika pada akhirnya kamu akan kembali ke dalam pelukanku," ujar Edgar dengan begitu percaya diri.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap pria dengan mata abu-abu itu. Ada perasaan aneh yang mulai datang dan cukup mengganggunya.

__ADS_1


Edgar adalah pria yang tidak percaya dengan sebuah getaran yang berasal dari hati. Meskipun ia selalu berkata manis, namun kenyataannya ia tidak pernah memiliki kisah cinta yang begitu manis dan berkesan, selain dari sebuah ******* di atas ranjang.


Edgar tidak pernah menemukan seorang wanita yang benar-benar mencintainya dengan tulus, selain demi untuk materi yang selalu ia tawarkan kepada mereka.


"Semoga perjalananmu menyenanngkan. Aku juga akan sangat merindukan kota Paris dan mungkin merindukanmu ... sebagai temanku. Aku tidak ingin perkenalan kita berakhir dengan keburukan," harap Arumi dengan senyuman tulus di wajahnya.


Edgar masih menatap wajah cantik yang pernah menjadi miliknya untuk beberpa waktu lamanya. Ia memang menyayangkan hubungannya dengan Arumi, yang harus kandas begitu saja.


"Aku cinta kamu, Arum. Aku sungguh-sungguh mengatakan hal itu. Semuanya sangat tulus dari dalam hatiku," ungkap Edgar dengan lirihnya.


"Aku tahu jika sulit bagimu untuk dapat mempercayai hal itu. Akan tetapi, ini adalah kejujuran dan ungkapan hati dari seorang Edgar Hilaire untukmu."


"Sebenarnya aku sangat sedih dan kecewa, karena ternyata sangat sulit untuk dapat membawamu kembali ke dalam hidupku. Akan tetapi, aku tahu jika mungkin untuk saat ini kamu membutuhkan sedikit waktu untuk berfikir. Aku akan memberikannya dengan senang hati. Aku hanya berharap, semoga masih ada yang tertinggal meskipun hanya sedikit saja dari kisah manis tentang diriku dalam hatimu," Edgar berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ada. Tentu saja aku tidak melupakannya dengan begitu saja. Namun, untuk saat ini ... aku tidak bisa. Aku benar-benar minta maaf ...." ucap Arumi dengan sangat menyesal.


Edgar pun menganggukan kepalanya. Ia mencoba untuk mengerti akan keputusan dari Arumi.


"Arum ...." sebut Edgar dengan begitu dalam.


Arumi menatap pria bermata abu-abu itu. Wajah tampan dengan senyuman manis khas penakluk wanita itu, memang terlalu sayang untuk dilewatkan. Akan tetapi, itu bukan lah sesuatu yang Arumi cari selama ini.


"Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" pinta Edgar. "Anggap saja sebagai salam perpisahan kita kali ini," rayunya.


Arumi tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum seraya mengangguk pelan.


Dengan segera pria itu meraih tubuh Arumi dan memeluknya dengan erat untuk beberapa saat lamanya. Ia ingin mencurahkan segala rasa rindu yang ada di dalam hatinya. Ia akan membawa hangatnya pelukan Arumi malam itu, pulang bersamanya menuju benua biru.


Arumi hanya terpaku dan membiarkan Edgar memeluknya. Akan tetapi, gadis itu menyempatkan dirinya untuk menatap kearah pintu gerbang. Ia memastikan jika tidak ada seorang pun yang tengah mengawasi mereka dari sana.

__ADS_1


__ADS_2