
"Ibuku ingin berkenalan denganmu," ucap Moedya dengan tenangnya.
Arumi membelalakan matanya dengan sempurna. "Maksudmu?" tanya gadis itu dengan wajah tidak percaya.
"Makan siang bersama," jawab Moedya.
"Kapan?" tanya Arumi lagi.
"Siang ini," jawab Moedya dengan entengnya.
"Aaahh ... tidak!" tolak Arumi.
"Kenapa?" tanya Moedya. "aku tahu jika kamu pernah bertemu dengan ibuku, tapi kalian belum berkenalan lebih jauh lagi, kan?"
"Iya, tapi aku tidak siap!" tegas Arumi.
"Kenapa merasa tidak siap? Ibuku wanita yang baik, meskipun dia sangat tegas. Aku yakin jika kamu pasti akan menyukainya," bujuk Moedya. Ia berharap agar Arumi bersedia menerima ajakannya.
"Ibuku tidak datang ke toko hari ini. Jadi, aku tidak bisa kemana-mana," kilah Arumi. Ia terus mencari alasan.
"Jangan mencari alasan!" sergah Moedya. "kalau tidak maka aku akan memaksamu!" ujarnya dengan wajah yang tampak mesum.
Arumi membelalakan matanya. Ia pun terus berusaha melepaskan dirinya dari dalam dekapan Moedya.
"Aku akan melepaskanmu, asal kamu mau ikut denganku," ucap Moedya dengan entengnya.
"Kamu tidak lihat penampilanku hari ini?" tanya Arumi.
Moedya menjauhkan wajahnya dari Arumi. Ia kemudian mengamati gadis itu dengan seksama. "Tidak ada yang aneh," gumamnya pelan.
"Tidak ada memang, tapi aku tidak mungkin bertemu ibumu dengan kaos dan celana jeans seperti ini. Ibumu sangat cantik, dia juga sangat fashionable. Kamu fikir aku akan nyaman bertemu dengannya dalam penampilan seperti ini?" terang Arumi dengan gaya bicaranya yang tanpa jeda sedikitpun.
"Apanya yang salah dengan penampilanmu saat ini? Kamu masih terlihat sangat cantik bagiku," rayu Moedya dengan senyumnya yang menggoda.
Arumi tertawa pelan. Sesaat kemudian raut mukanya berubah ketus. "Jangan merayuku!" sergahnya.
"Itu bukan rayuan, itu kenyataan. Kamu tahu bukan jika aku tidak pandai merayu?" Moedya menatap lekat gadis itu.
"Kamu memang sangat cantik. Aku akan mengabaikan rembulan di malam hari hanya demi menatap wajahmu," rayu Moedya lagi.
Arumi terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa lemas karena rayuan Moedya. Tidak biasanya pria itu mengatakan sesuatu yang terdengar begitu manis.
"Darimana kamu mendapatkan kata-kata itu?" tanya Arumi.
Moedya tersenyum kalem. Ia lalu menyentuh wajah gadis yang telah mencuri hatinya itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Semuanya datang dengan tiba-tiba. Keindahan itu seakan terlukis dengan begitu nyata setiap kali aku melihat wajahmu. Aku tidak harus membayangkannya, karena semuanya terlihat dengan begitu jelas," tutur Moedya. Tangannya kini mulai menelusup di balik leher berhiaskan kalung kecil itu.
Tidak berselang lama, Moedya pun telah berhasil mendaratkan ciumannya di bibir Arumi. Ia mengulangi apa yang dilakukannya sama seperti ketika sedang berada di pinggir danau sore itu.
Arumi hanya dapat berpegangan pada bagian depan jaket pria berambut gondrong itu. Ia tidak menolak apalagi berontak. Sejujurnya ia sangat merindukan pria itu.
"Ibuku sudah meluangkan waktunya untuk kita. Aku mohon, ikutlah denganku!" pinta Moedya sesaat setelah mereka selesai berciuman dengan mesra.
"Aku tidak tahu harus bicara apa dengan ibumu," Arumi masih berusaha untuk menolak.
"Bicarakan tentang segala hal. Kue, fashion, lipstik, atau apa saja. Aku yakin jika kamu pasti akan menyukainya. Kalian memiliki banyak kesamaan," bujuk Moedya. Ia mulai melepaskan dekapannya dari Arumi.
"Aku harus meminta izin terlebih dahulu kepada ibuku," ujar Arumi lagi.
"Ayo, hubungi ibumu!" suruh Moedya dengan binar indah di matanya.
Arumi tersenyum manis. Ia kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia pun segera menghubungi Ryanthi.
...🕊 🕊 🕊...
Hujan telah berhenti ketika Moedya memarkirkan motornya di halaman rumah tiga lantai itu. Arumi pun segera turun dan melepas helmnya.
"Ayo!" ajak Moedya seraya meraih tangan Arumi dan menuntunnya masuk. Ini adalah pertama kalinya Arumi datang ke rumah itu.
Rumah milik Moedya memang bukanlah rumah dengan nuansa Eropa. Akan tetapi, rumah itu masih terlihat begitu mewah dengan segala yang ada di dalamnya.
Sepeninggal Moedya, Arumi duduk sendiri di ruang tamu dengan segala perabotan mewah itu. Satu hal yang menjadi pusat perhatiannya adalah foto seorang pria yang penampilannya sangat mirip dengan Moedya. Akan tetapi, ekspresi wajah pria itu tampak jauh lebih datar dari Moedya.
Arumi pun beranjak dari duduknya. Ia menghampiri foto yang terpajang di dinding dengan ukuran yang cukup besar itu dan memperhatikannya.
"Ada tamu spesial rupanya," terdengar suara seorang wanita yang telah berhasil mengejutkan Arumi. Arumi pun segera menoleh pada sumber suara itu.
Tampaklah Ranum dengan penampilannya yang sangat anggun. Ia selalu tampil cantik dalam segala situasi. Wanita itu kini berdiri di dekat Arumi. Ia ikut memperhatikan foto itu.
"Itu adalah ayah Juna. Namanya Pramoedya Aryatama," ucap Ranum dengan seutas senyuman di bibirnya.
Arumi melirik wanita cantik dengan penampilan modis itu. "Juna?" tanyanya.
Ranum menoleh kepada Arumi. Ia pun tersenyum lembut kepada gadis itu. "Ya. Juna. Kamu tidak mengenalnya?" Ranum bertanya balik. Ia seakan tengah bermain tebak-tebakan dengan Arumi.
"Moemoe?" gumam Arumi.
Ranum tertawa pelan mendengar Arumi menyebutkan nama itu. "Moemoe?" ia mengulang nama yang Arumi sebutkan dengan senyum geli.
"Jadi ... itu panggilan sayangmu untuk Juna?" Ranum kembali menoleh kepada Arumi.
__ADS_1
Arumi tertawa pelan. "Jadi, siapa namanya? Aku sama sekali tidak tahu," keluh Arumi dengan kedua bola matanya yang bergerak tak beraturan.
"Ayo, kita bicara sambil duduk!" ajak Ranum. Ia memegangi pundak Arumi. Setelah itu, Ranum pun mendahului gadis itu menuju sofa yang melingkar rapi disana.
Duduk dengan anggunnya, Ranum menatap Arumi untuk sejenak. "Bagaimana toko kue mu?" tanyanya.
"Itu toko kue milik ibuku. Aku belum berani untuk membuka sendiri," terang Arumi.
"Kenapa? Padahal kue buatanmu sangat enak," puji Ranum. Ia masih menatap Arumi dengan cukup intens.
"Tidak, aku masih anak baru," jawab Arumi merendah.
"Kapan-kapan mampirlah ke butik ibuku! Kamu akan menemukan banyak baju-baju aneh disana," ucap Moedya yang tiba-tiba muncul di ruang tamu itu. Ia kemudian duduk di sebelah Arumi. Merentangkan tangan kanannya dengan lurus di belakang pundak gadis itu, ia pun duduk dengan tenangnya disana.
"Kamu hanya tahu tentang sparepart kendaraan, mana mengerti dengan fashion," sahut Ranum. Ia menanggapi ocehan Moedya dengan sebuah candaan.
"Ya, laki-laki mana mengerti dengan hal-hal seperti itu," timpal Arumi.
"Aku hanya tidak mengerti kenapa seorang wanita menyukai pakaian dengan bentuk aneh seperti itu. Kamu tahu pakaian dengan lengan yang hanya ada sebelah dan sebelah lagi entah kemana?" celoteh Moedya.
Seketika Arumi dan Ranum tertawa dengan bersamaan. "Sebaiknya kamu diam dan jangan banyak bicara daripada hanya akan berujung pada ocehan konyol seperti itu!" suruh Arumi seraya melirik pria yang berada di sebelahnya. .
"Apanya yang salah?" tanya Moedya dengan alis yang berkerut. "aku hanya mengemukakan pendapatku," lanjutnya.
Ranum menghentikan tawanya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ranum merasa jika Arumi memiliki kesamaan dengannya. Gadis itu terkesan apa adanya ketika berbicara.
Seusai makan siang, Arumi membantu Ranum merapikan meja makan. "Ibu mengurus rumah ini sendiri?" tanya Arumi.
"Tidak juga," jawab Ranum. "kebetulan asisten rumah tangga disini sedang pulang kampung, jadi saatnya Ibu membuktikan pada Juna jika ibunya adalah wanita yang bisa melakukan pekerjaan seperti ini," terang Ranum seraya menata piring kotor itu di dalam bak cuci piring.
"Ibu adalah wanita yang sangat hebat. Sama seperti ibuku. Aku senang karena bisa berada diantara wanita-wanita hebat seperti Anda dan juga ibuku,"sanjung Arumi dengan tulus. Ia tidak segan menunjukan kekagumannya pada kedua wanita itu.
Ranum tersenyum lembut. Ia kemudian menyentuh wajah Arumi dengan begitu hangat.
"Kapan-kapan, Ibu. ingin berkenalan secara langsung dengan ibumu. Kami pasti bisa berbagi cerita tentang banyak hal," harap Ranum. Ia masih menatap lekat Arumi.
"Juna sudah bercerita banyak hal tentangmu. Ibu turut berduka cita atas musibah yang telah menimpa keluargamu," ucap Ranum lagi dengan lirihnya.
Arumi tersenyum simpul. "Terima kasih, Bu," jawab gadis itu dengan pelan.
"Memang terasa berat awalnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, maka lama-kelamaan kita akan terbiasa juga akan ketidak hadiran orang yang sangat kita cintai. Meskipun sebenarnya ... rasanya ... rasanya memang ... memang terlalu berat," ungkap Ranum. Tiba-tiba wajahnya berubah murung. Akan tetapi, sesaat kemudian, wanita cantik itu kembali dengan senyum lembutnya. "Kamu tahu, Arum?" tanyanya.
"Apa?" tanya Arumi dengan penasaran.
"Juna sangat dekat dengan mendiang ayahnya. Ia begitu mengidolakannya. Lihatlah penampilan mereka!" Ranum mengakhiri ucapannya dengan sebuah tawa pelan.
__ADS_1
Arumi menatap lekat kepada Ranum. Gadis itu tahu dan dapat merasakan jika Ranum menyembunyikan rasa lain, di balik wajah cantik dan juga tawanya. Arumi pun kian teringat kepada Ryanthi. Ibunya juga selalu melakukan hal yang sama. Wanita itu selalu menyembunyikan semua kesedihan yang dirasakannya.