Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
●TUJUH BELAS : Kenangan yang Ternoda


__ADS_3

Surya mencoba merangkai kata yang akan disampaikan kepada Ryanthi. Sebenarnya, dia merasa bingung harus memulainya dari mana.


"Hampir dua tahun pernikahan kami jalani. Namun, ibumu tidak kunjung hamil. Dia merasa sangat kesepian di rumah seorang diri. Bukan di sini. Dulu, kami menyewa sebuah rumah sebelum pindah kemari.


"Waktu itu, Ayah sedang merintis usaha. Kesibukan yang sangat menyita waktu. Tidak ada jadwal kerja yang pasti. Terkadang, akhir pekan pun harus berkutat dengan pekerjaan."


"Betapa bahagianya ibumu, saat pertama kali datang kemari. Dia memeriksa semua ruangan yang ada di sini. Sementara, kesibukan Ayah semakin meningkat. Akhirnya, ibumu merasa jenuh. Dia mulai menemui teman-teman lamanya. Setiap Ayah pergi, maka dia pun demikian. Tak jarang, Ayah pulang lebih awal."


"Bagi Ayah, itu bukanlah masalah selama membuat ibumu terhibur. Hal itu berlangsung hingga berbulan-bulan. Suatu hari, ibumu mengatakan jika dia hamil. Itu merupakan berita paling luar biasa bagi Ayah. Terlebih, setelah kamu lahir. Namun, tanpa diduga ibumu mengatakan sesuatu yang tidak pernah Ayah duga."


"Apa?"


"Dia meminta tes DNA, karena dirinya tidak yakin dengan ayah dari bayi itu."


Seketika, Ryanthi terpaku. Ini benar-benar mengejutkan baginya.


Farida adalah wanita yang menjadi panutan, srkaligus simbol dari kekuatan yang membuatnya bisa berdiri tegak.


"Tidak mungkin! Ibuku tidak mungkin wanita seperti itu!" sanggah Ryanthi tegas. "Ayah ingin menutupi semua kesalahan dengan mengkambinghitamkan ibu? Ibuku sudah tiada! Bagimana mungkin Ayah tega menjelekannya seperti itu!"


"Kenyataannya memang demikian. Ibumu yang lebih dulu berselingkuh," tegas Surya.


"Lalu, Ayah membalasnya? Ayah membawa Maya serta putrinya kemari."


"Harus diakui bahwa itu merupakan awal dari keadaan buruk ini. Apa yang Farida lakukan telah mengoyak harga diri Ayah sebagai seorang pria." Surya meraup kasar wajahnya.


Ryanthi tak mengalihkan pandangannya dari Surya. "Orang tua macam apa kalian ini?"


"Ayah sadar dengan kesalahan itu. Memang tak seharusnya Ayah membalas perbuatan Farida. Ayah hanya mengikuti apa yang ibumu lakukan dengan membawa Maya kemari, yaitu bersikap jujur. Namun, ternyata dia tidak bisa menerima dan lebih memilih pergi," jelas Surya.


"Ayah lebih memilih Maya daripada ibu! Luar biasa!" ucap Ryanthi ketus.


"Ayah sudah mencegahnya. Terlebih, karena dia akan membawamu. Ayah bahkan bersumpah tidak akan mengakuinya sebagai istri, jika dia berani pergi dari rumah ini. Saat itu, usiamu masih kecil. Ayah pikir Farida tidak akan bisa bertahan hidup di luar sana. Namun, Ayah keliru. Ibumu wanita yang sangat tangguh."


Ryanthi menyeka bulir-bulir bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ayah tidak pernah mencari kami sama sekali," sesalnya.

__ADS_1


"Ayah mencari kalian! Ayah terus mencari kalian! Menurut sumber yang Ayah terima, kalian selalu berpindah-pindah tempat. Farida tak ingin ditemukan," tegas Surya.


Ryanthi duduk terpekur. Begitu juga dengan Surya. Kebisuan menggelayuti mereka berdua, hingga terdengar suara dentingan jam sebanyak tiga kali. Tanpa terasa, mereka telah melakukan perbincnangan panjang.


"Maafkan Ayah dan ibu, Nak. Kami memang tidak layak kamu jadikan panutan. Namun, semuanya telah terjadi. Ayah berjanji padamu untuk memperbaiki semuanya. Seperti Farida yang sudah menebus kesalahannya dengan merawatmu, maka izinkanlah Ayah untuk melakukan hal yang sama. Biarkan Ayah menebus kesalahan dan mengganti delapan belas tahun yang hilang," pintanya seraya menggenggam erat jemari Ryanthi.


Ryanthi tidak menjawab. Kepalanya terasa begitu pusing dengan kisah hidup yang berliku. Kenyataan apa lagi yang harus dia hadapi saat ini. Semua kenangan indah sang ibu harus ternoda, oleh cerita menjijikan yang dituturkan Surya.


Ryanthi terus berpikir. Apakah kesalahannya, sehingga dia harus ikut terseret dalam konflik pribadi dari kedua orang tuanya.


......................


Ryanthi terbangun dengan tubuh lesu. Dia melihat jam digital yang ada di meja sebelah tempat tidur. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh.


Kepala Ryanthi terasa sedikit pusing. Dia baru tidur jam empat pagi, setelah perbincangan panjang dengan Surya. Ryanthi duduk termenung beberapa saat di tepian tempat tidur, sambil memikirkan apa yang sang ayah ceritakan semalam.


Setelah beberapa saat, Ryanthi beranjak ke kamar mandi. Dia menyalakan kran air hangat, yang langsung membasahi seluruh tubuh. Ryanthi memejamkan mata, Dia kembali memikirkan semua perkataan Surya tentang sang ibu.


Sesekali, Ryanthi mengusap wajahnya. Sungguh mengerikan, ketika dia mulai membayangkan ibunya yang tengah bersenang-senang dengan pria yang bukan ayahnya. Lalu, terbayang saat sang ayah melakukan hal sama. "Kehidupan macam apa ini?" keluhnya dalam hati.


Beberapa saat lamanya, Ryanthi berada bawah guyuran shower yang mengalir deras. Setelah puas membersihkan diri, dia baru keluar. Ryanthi mengeringkan rambut dengan handuk di depan cermin sambil memperhatikan dirinya.


Namun, kali ini Ryanthi ingin memanjangkan rambutnya seperti Vera. Diakui atau tidak, tapi gadis itu memang terlihat sangat menarik.


Tiba-tiba Ryanthi teringat pada kekasihnya, Arshan. Sudah beberapa hari berlalu, semenjak terakhir kali pria itu datang mengunjunginya.


Ini adalah hari Sabtu. Seharusnya Arshan libur bekerja.


Ryanthi melihat jam digital. Angka di sana menunjukan pukul sepuluh. Pagi itu, lagi-lagi dia tidak ikut sarapan di meja makan.


Setelah berpakaian, Ryanthi baru memutuskan keluar kamar. Menjengkelkan. Baru saja menutup pintu, dia malah bertemu dengan Vera. Gadis itu terus memperhatikan Ryanthi, seakan tengah menyelidikinya.


Tersungging senyuman sinis di wajah Vera. Ryanthi tahu bahwa gadis itu sedang menertawakan penampilannya yang yang lusuh, meskipun baru selesai mandi. Farida benar, Ryanthi harus membeli baju baru.


Vera berdiri dengan gayanya yang bak seorang model. Tangan kanan gadis itu berada di pinggang, dengan kaki sedikit terbuka sehingga rok mini yang dia kenakan semakin naik. Dari penampilan rapi Vera, sepertinya gadis itu akan pergi.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Ryanthi. Meskipun tidak terlalu suka dengan gadis itu, tetapi dia harus menganggapnya sebagai saudara.


"Aku bukan dirimu, yang selalu menghabiskan waktu setiap hari hanya dengan termenung dan berpikir. Hidupku tidak monoton seperti hidupmu. Hari ini aku ada kencan," jawab Vera. Dia senyum-senyum sendiri. "Semoga hariku tidak menjadi sial karena bertemu denganmu pagi ini," celetuknya sebelum berlalu sambil mengibaskan rambut panjangnya.


Sepeninggal Vera, Ryanthi segera ke dapur. Perutnya mulai terasa lapar. Sarapan bukan, makan siang pun bukan. Namun, Ryanthi melahap makanan yang ada di hadapannya.


"Kemarin-kemarin, bapak menegur si Mbok," ucap Mbok Mur mulai membuka percakapan.


"Aku tahu. Ayah sudah mengatakannya," sahut Ryanthi sambil mengunyah makanan. "Aku tidak suka makan di sana, Mbok. Belum terbiada," lanjut Ryanthi seraya menyudahi sarapannya yang kesiangan. Ryanthi bangkit, lalu meletakan piring kosong di dalam bak pencuci piring. Setelah itu dia mencuci tangannya.


Sayup-sayup, terdengar suara sang ayah berbiaca dengan seseorang, yang tiada lain adalah Maya. Wanita itu ingin agar Surya menemaninya pergi, tapi Surya menolak. Maya menjadi sangat kesal.


"Ka.u sudah biasa pergi ke manapun sendirian. Kenapa tiba-tiba ingin aku temani?" Surya bebicara dengan agak tegas, karena Maya terus merengek seperti anak kecil yang sedang meminta uang jajan.


"Sudah lama kita tidak pergi berdua," ujar wanita itu sok manja.


"Alah!" Surya mengibaskan tangannya. "Hari ini aku ada acara. Jadi, lain kali saja," ucap Surya seraya meninggalkan Maya yang tampak cemberut.


Ada apa dengan wanita itu? Usianya tidak muda lagi. Namun, d ia bersikap seperti anak kecil. Vera bahkan terlihat jauh lebih dewasa darinya dalam bersikap. Ryanthi menggeleng-gelengkan kepala sambil mengintip dari balik dinding pembatas dapur.


"Ibu memang seperti itu," bisik Mbok Mur.


"Oh," sahut Ryanthi singkat. Dia tidak sempat menanggapi lagi, karena Surya datang menghampiri.


"Selamat pagi. Ayah tadi mencarimu ke kamar. Ternyata kamu ada di sini," sapa Surya dengan nada bicara yang berbeda.


"Aku baru selesai makan. Hari ini, aku bangun kesiangan," ujar Ryanthi kikuk.


"Syukurlah kalau kamu sudah makan. Rencananya, Ayah ingin mengajak kamu keluar hari ini. Bagaimana? Kamu mau?" Pria paruh baya itu menatap lembut Ryanthi yang hanya termangu.


"Keluar?" ulang gadis itu. "Ke mana?" tanya Ryanthi seraya menggaruk kening.


"Terserah. Kita bisa pergi jalan-jalan, berbelanja, makan, nonton, atau apapun yang kamu inginkan," jawab Surya diiringi senyum kalem khas dirinya.


Ryanthi tidak segera menanggapi. Dia memikirkan terlebih dulu tawaran dari sang ayah. Sesaat kemudian, gadis cantik itu melirik Mbok Mur, seakan meminta pendapat darinya.

__ADS_1


Mbok Mur memberi isyarat, agar Ryanthi menerima ajakan tersebut.


"Baiklah. Aku ikut," putus Ryanthi sambil tersenyum lembut kepada Surya.


__ADS_2