Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH SATU : Adrian Vs Adonan Kue


__ADS_3

Hal yang sangat menggelikan, ketika seorang pria dengan penampilan necis, memarkirkan mobil mewahnya di depan sebuah toko bahan dan peralatan kue. Adrian keluar dari Range Rover putih miliknya, sambil melepas kacamata hitam yang dia kenakan. Pria itu melangkah masuk ke toko. Beberapa pelayan yang kebetulan adalah gadis ramaja belasan tahun, saling pandang dan berbisik-bisik saat melihat sosok tampan berpostur tinggi tegap tersebut.


Adrian berdiri dan melihat sekeliling. Dia tidak tahu harus bagaimana, hingga salah seorang dari pelayan toko itu datang menghampirinya. Pelayan tadi tersenyum sambil mengangguk sopan. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanyanya ramah.


Adrian tak langsung menjawab. Satu hal yang ada dalam pikirannya hanyalah terigu. "Terigu," jawab pria itu ragum


Si pelayan kemudian bertanya lagi tentang merk terigu yang Adrian cari. Namun, Adrian tidak tahu, karena dalam video yang ditontonnya semalam suntuk dan secara berulang-ulang itu, tidak disebutkan merk terigu yang digunakan.


Si pelayan menjelaskan beberapa merk terigu dengan kualitas masing-masing. Dia juga menawarkan bahan-bahan premium. Akhirnya, Adrian meminta semua bahan yang premium saja.


Tak berselang lama, Adrian sudah keluar dari toko diiringi tatapan gemas dari para pelayan tadi. Dia memasukan semua barang belanjaannya ke bagasi. Adrian memutuskan tidak pulang ke apartemennya, melainkan ke rumah Indira.


Setelah berada di dapur, Adrian hanya berdiri mematung sambil menatap gundukan serbuk berwarna putih di hadapannya. Dia tak tahu apa yang harus lakukan terlebih dahulu. Adrian lalu membuka kembali video yang sudah diunduh sebelumnya.


Namun, makin di amati, kepala Adrian malah semakin pusing. Tepung berceceran di mana-mana. Di baju, wajah, dan rambut. Adrian menggerutu kesal dan hampir melemparkan semua telur yang sudah dibeli tadi.


"Nak." Untunglah, Indira datang dan membuatnya mengurungkan niat itu. Indira menghampiri dengan senyuman geli, karena penampilan Adrian yang sudah dipenuhi tepung dan mirip kue putri salju.


Sementara, Adrian terus menggerutu kesal, karena tidak dapat membuat apapun selain kekacauan. Dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya memisahkan kuning telur dengan cepat. "Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan," keluhnya putus asa.

__ADS_1


Indira tertawa pelan melihat putranya yang putus asa karena kue. "Adrian tidak mudah menyerah dalam segala hal, bahkan untuk sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh orang lain sekalipun. Lalu, sekarang dia merasa tak sanggup menaklukan sebuah kue? Hanya kue, Sayang. Benda yang sangat lembek, rapuh, bahkan bisa kamu remukan dengan ujung jari," ujar Indira seraya membantu Adrian memisahkan kuning telur satu per satu.


Adrian terdiam. Dia mencerna ucapan Indira barusan. Apa yang sang ibu katakan memang benar adanya. Seharusnya, dia bersungguh-sungguh agar kue yang akan dirinya buat bisa diterima oleh Ryanthi.


Ya, Adrian memang melakukan ini semua untuk Ryanthi. Dia ingin meminta maaf lagi kepada gadis itu, dengan membawa kue buatannya. Semoga Ryanthi bersedia untuk menerima.


"Bukannya kamu rela melakukan semua ini demi Ryanthi? Mama yakin, jika sebenarnya dia juga sedang memikirkanmu. Bisa saja bahwa Ryanthi sangat merindukanmu," ucap Indira. Dia sudah menyiapkan mixer dan beberapa peralatan lain. "Masukan sedikit demi sedikit!" suruh Indira, seraya menyodorkan tepung yang tadi hampir mengajak Adrian berkelahi.


Adrian menurut. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati dan teliti. Pria itu termenung sejenak sambil memperhatikan pencampuran bahan-bahan. Makin lama, semua berubah menjadi sesuatu yang lebih kental dan terlihat lembut.


Sesaat kemudian, adonan yang sudah tercampur rata itu dimasukan ke dalam loyang, yang sebelumnya telah dilapisi mentega dan sedikit tepung terigu. Adrian terus memperhatikan Indira yang melakukan itu. Sang ibu ternyata cukup piawai.


"Aku baru tahu, ternyata Mama bisa membuat yang seperti ini," ucap Adrian. Dia tak menyangka, bahwa Indira juga pandai memasak. Selama ini, yang Adrian tahu Indira lebih suka dengan kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah, yang membuatnya menjadi wanita paling sibuk.


"Apa aku pernah makan masakan Mama?" tanya Adrian mengingat-ingat. Dia tidak dapat membedakan antara masakan mamanya dengan masakan pelayan.


Indira tertawa renyah mendengar pertanyaan polos putranya. Dia lalu memasukan loyang berisi adonan tadu ke dalam oven yang sudah dipanaskan terlebih dahulu, selama kurang lebih sepuluh menit.


"Terkadang, kamu memakan masakan buatan Mama. Namun, mungkin kamu tidak bisa membedakannya dengan masakan Asmi," jawab Indira. Dia kembali menghmpiri Adrian yang masih berdiri menatapnya, dengan wajah dan rambut penuh noda tepung terigu.

__ADS_1


"Kamu jarang sekali ada di rumah. Terlebih, setelah memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen. Tak terhitung seminggu sekali kamu mengunjungi mlMama di sini." Raut wajah Indira tiba-tiba berubah. Rona sedih dan kecewa terlihat di sana.


"Setelah papamu meninggal, Andrea memutuskan untuk menikah. Mama sangat kesepian di rumah ini. Mama sudah mengatakan pada almarhum papamu agar tidak membangun rumah yang terlalu besar, karena Mama sudah tahu jika kamu dan Andrea akhirnya pasti akan pergi meninggalkan kami dari rumah ini. Akan tetapi, Mama juga tidak pernah menyangka jika papamu akan pergi secepat itu." Indira merasa sedih jika sudah mengenang kepergian suami yang sangat dia cintai.


"Sudahlah Ma, jangan bahas itu. Kita semua merindukan papa, bahkan aku juga selalu mengingatnya setiap kali akan tidur di malam hari. Terlalu banyak kenangan antara kami yang sulit untuk dilupakan. Aku juga merasa sangat kehilangannya," ucap Adrian lembut.


"Akan tetapi, meskipun aku atau Andrea tidak tinggal di rumah ini lagi, bukan berarti kami akan mengabaikan Mama begitu saja." Adrian mencoba menghibur Indira yang tampak sedih, hingga wanita paruh baya itu kembali tersenyum.


"Sering-seringlah kemari. Apalagi jika kamu bisa berbaikan dengan Ryanthi secepatnya. Mama sangat menyukai gadis itu. Dia begitu besahaja," harap Indira. Tersungging senyuman di bibir wanita itu, ketika menyebut nama Ryanthi. Kelihatannya, Indira benar-benar menyukai putri Surya Wijaya tersebut.


Adrian tersenyum simpul mendengar mamanya menyentil hubungannya yang sedang tidak harmonis dengan Ryanthi.


Sebenarnya, Adrian tidak yakin apakah setelah ini Ryanthi akan memaafkannya. Namun, yang pasti dia akan bertekad dan berusaha lebih keras, agar Ryanthi bersedia dekat dengannya lagi. Lamunan Adrian seketika buyar, ketika Indira memotretnya secara diam-diam. Pria itu melayangkan tatapan protes kepada sang ibu, yang hanya senyum-senyum melihat foto hasil jepretannya.


"Lihatlah!" Indira memperlihatkan foto itu kepada Adrian.


Seketika, Adrian membelalakan mata. Dia tertawa pelan melihat wajahnya yang tampak aneh, karena dipenuhi tepung terigu.


"Mama sudah mengirimkan foto itu kepada Ryanthi. Mama rasa, Ryanthi pasti akan menyukainya. Foto itu akan menjadi hiburan yang menyenangkan bagi dia." Indira berkata dengan puas. Dia tertawa geli, saat membayangkan wajah Ryanthi nanti setelah melihat foto Adrian yang terlihat aneh.

__ADS_1


Sementara, Adrian hanya melongo dengan apa yang sudah dilakukan mamanya. "Apa kabar dengan ketampananku setelah Ryanthi melihat foto itu?" gumamnya khawatir. Namun, tidak lama kemudian Adrian tersenyum kalem.


Ketampanannya tidak lebih penting, jika dibandingkan dengan kata maaf dari Ryanthi. Adrian berharap, semoga gadis itu dapat mempertimbangkkan kerja keras yang sudah dia lakukan kali ini. "Tunggu aku, Ryanthi," ucapnya yakin.


__ADS_2