
Ryanthi ikut olahraga pagi bersama Surya. Namun, baru beberapa putaran saja, napasnya sudah terengah. Dia belum terbiasa dengan hal itu. Akhirnya, Ryanthi memilih duduk di pinggir sambil meneguk air putih yang dibawa dari rumah.
Setelah mengatur napas, Ryanthi terdiam sambil memperhatikan sang ayah. Surya masih terlihat bugar, di usia yang tak muda lagi.
Ryanthi tersenyum kecil. Namun, tiba-tiba dia teringat pada kondisi makam Farida. "Astaga. Kenapa aku sampai lupa?" sesalnya. Urusan tentang pendidikan dan Adrian, telah membuat Ryanthi lupa untuk membahas masalah itu dengan Surya.
Sesaat kemudian, Surya datang menghampiri. Dia duduk di sebelah Ryanthi, sambil meneguk minuman dari botolnya. "Kenapa? Baru tiga putaran saja sudah loyo," ledek Surya diiringi tawa pelan.
Ryanthi hanya tersenyum. Dia lalu menggeser duduknya, hingga semakin mendekat. "Beberapa waktu yang lalu, aku mengunjungi makam ibu. Ternyata, kondisinya sangat menyedihkan. Makam itu terlihat tidak terawat dengan baik," tutur Ryanthi.
"Ayah memang belum sempat mengurus pemindahan makam ibumu," balas Surya. "Akan Ayah usahakan secepatnya." Dia menoleh, lalu tersenyum hangat demi menenangkan hati Ryanthi.
"Setidaknya suruh orang untuk membersihkannya," ujar Ryanthi.
"Nanti biar Ayah yang urus," balas Surya yakin.
"Tidak lama lagi, kamu akan berangkat. Siapkan semuanya dengan baik."
Ryanthi mengangguk. Dia memaksakan diri terlihat bersemangat, meski hatinya terasa kacau.
Namun, meski disembunyikan, Surya dapat merasakan hal itu. "Kamu sudah bicara lagi dengan Adrian? Kemarin malam kamu ke mana? Ayah melihatmu keluar dengan hanya memakai piyama."
"Adrian sakit. Aku pergi ke tempatnya dengan buru-buru, sampai lupa membawa uang. Jadi ... aku memberikan anting-antingku kepada supir taksi. Maaf ...." Ryanthi tertunduk. Dia takut sang ayah kecewa, karena anting-anting itu merupakan pemberian Surya.
Surya tersenyum sambil menggeleng pelan. Ternyata, Ryanthi masih sangat perhatian kepada Adrian. "Kamu masih sangat peduli padanya," ucap Surya bernada candaan.
Ryanthi tersipu. Dia segera memalingkan wajah, karena tak ingin jika sang ayah melihat wajahnya yang merona.
"Ayo pulang. Sebentar lagi cuacanya panas," ajak Surya seraya beranjak dari duduknya.
Ryanthi ikut berdiri. Namun, sebelum beranjak, dia kembali memanggil Surya yang telah berjalan dua langkah. Surya menoleh. Dia menunggu hingga Ryanthi menyejajarinya.
"Sebentar lagi Vera akan melahirkan. Namun, aku khawatir karena dia sering sendirian di rumah." Ryanthi tiba-tiba teringat kepada Vera.
"Begitukah?" Surya menanggapi.
"Iya. Aku mengunjungi dia kemarin. Rencananya, besok atau lusa aku akan ke sana lagi. Kasihan dia, karena sudah kesulitan melakukan segala hal sendirian," tutur Ryanthi lugu.
"Memang seperti itulah orang hamil. Kamu juga nanti pasti akan tahu bagaimana apa rasanya. Ayah senang karena kamu sangat perhatian kepada Vera. Setelah menikah, dia banyak perubahan. Ayah rasa ... kamu membawa andil besar dalam hal itu."
__ADS_1
Ryanthi menggumam pelan. Dia tidak menanggapi. Gadis itu hanya mengikuti langkah tegap Surya, hingga mereka keluar dari area tempat berolahraga tadi.
"Lalu, bagaimana keadaan Adrian sekarang?" tanya Surya, yang membuat Ryanthi tersadar. Rupanya, sejak tadi dia tidak menyimak semua yang Surya ucapkan, karena Ryanthi berjalan sambil melamun. Namun, saat mendengar nama Adrian, pikirannya langsung terkoneksi dengan baik.
"Aku rasa ... Adrian baik-baik saja sekarang," jawab Ryanthi ragu. Dia masih ingat, saat terkahir meninggalkan apartemen sang kekasih. Ryanthi telah membuat Adrian dalam keadaan kacau. Terlebih, pria itu tidak menghubunginya lagi, setelah Ryanthi memutuskan hubungan mereka.
"Syukurlah," balas Surya lega. "Jangan lupa, nanti kamu periksa lagi barang-barang yang akan kamu bawa. Jika masih ada yang kurang, kita masih punya waktu untuk membelinya. Karena Ayah yakin, minggu pertama di sana kamu pasti tidak akan kemana-mana selain pergi ke kampus," ucap Surya sambil tersenyum lembut.
Ryanthi tersenyum penuh arti. Dia merasa ini semua seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kenapa tiba-tiba Tuhan menjadi sangat baik padanya? Meskipun dia harus mengalami beberapa insiden menyakitkan terlebih dulu. Namun, dia sangat bersyukur atas semua ini.
......................
Siang yang panas telah berlalu, bergantikan sore yang cerah. Semilir angin berembus lembut. Terasa begitu sejuk, meski tak sepenuhnya dapat menenangkan hati Ryanthi yang dipenuhi sejuta kegalauan.
Sore itu, Ryanthi tengah berada di sana. Tempat di mana Adrian pernah mengajaknya, untuk melihat matahari terbenam yang indah. Di sanalah, pertama kalinya Ryanthi menangis dalam pelukan pria yang kini menjadi orang yang teramat dia cintai. Namun, sayangnya kini Ryanthi hanya sendiri. Berdiri tanpa siapa pun, di antara ratusan ilalang yang menari-nari tertiup lembutnya angin sore.
Menyesalkah Ryanthi? Tidak. Karena itu jalan yang sudah dia putuskan, untuk dilalui ke depannya.
Sepi. Memanglah seperti itu kenyataan yang harus Ryanthi rasakan saat ini. Sakit. Sudah pasti.
Siapa yang menyangka akan seberat ini? Namun, sekali lagi dia tidak menyesal dengan keputusan yang sudah diambilnya. Ryanthi tidak akan menarik kata-katanya lagi.
Sebentar lagi, senja datang menyapa. Langit biru akan berubah menjadi jingga keemasan.
Seperti hidup Ryanthi kini. Tak lama lagi, dia akan menyongsong lembaran baru. Mewujudkan cita-citanya, demi membuat semua impian menjadi nyata. Ryanthi ingin menggenggam kebanggan dalam diri.
Meskipun harus didapatkan dengan mengorbankan cinta dan perasaan.
Ryanthi sadar, bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat diraih dengan mudah. Semua keberhasilan didapat dengan kerja keras dan tekad kuat. Akan selalu ada harga mahal untuk sesuatu yang disebut dengan kejayaan. Akan ada saatnya ketika seseorang yang gigih bisa berada di atas puncak impian.
Ryanthi tersenyum. Sementara, matanya masih terpejam. Perlahan dia merentangkan tangan ke samping. Ingin rasanya terbang tinggi bersama burung-burung. Membelah awan dan melintasi lautan. Terbang ke manapun yang dia sukai, tanpa membawa beban sedikit pun.
Namun, sesaat kemudian Ryanthi tertegun. Suara mesin mobil yang datang telah membuyarkan semua lamunannya. Perlahan, gadis itu membuka mata. Dia lalu menoleh.
Seraut wajah tampan tengah memperhatikannya. Pria itu bersandar pada bagian depan mobilnya dengan kaki kanan menyilang dan bertumpu pada ujung sepatu. Satu tangan si pria, dia sembunyikan dalam saku celana panjangnya.
Ryanthi segera memalingkan wajah. Hatinya mulai gelisah. "Kenapa Adrian ada di sini?" gumamnya pelan. Jantung gadis itu berdetak semakin kencang, ketika dia mendapati pria tampan itu telah berada di sebelahnya.
"Sudah lama di sini?" tanya Adrian datar. Dia berdiri sambil terus menyembunyikan tangan kanannya di dalam saku celana. Tatapan Adrian menerawang jauh, ke ujung langit yang mulai redup.
__ADS_1
"Iya. Aku mau pulang sekarang," jawab Ryanthi seraya membalikan badan. Dia bermaksud untuk pergi.
Namun, dengan segera Adrian meraih pergelangan tangan gadis itu. Dia memegangnya erat, hingga membuat Ryanthi meringis.
"Lepas Adrian! Sakit!" desis Ryanthi pelan. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adrian.
Akan tetapi, Adrian tidak menggubrisnya sama sekali. Pria itu masih tetap menggenggam pergelangan tangan Ryanthi, meski tidak sekencang tadi. "Hatiku jauh lebih sakit!" ucap Adrian tegas. Tatapannya pun masih sangat tajam, menembus relung hati Ryanthi.
Gadis itu memalingkan wajahnya. Dia tak kuasa melawan sorot mata pria itu, karena takut jika dirinya akan terluka.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kamu ingin agar aku bersujud di kakimu dan memohon? Ayo Ryanthi! Katakan sesuatu! Katakan jika semua yang kamu ucapkan kemarin itu hanyalah kebohongan! Katakan bahwa kamu tidak akan benar-benar memutuskanku!" Adrian berbicara dengan nada yang semakin tegas. Nyaris seperti malam saat Ryanthi mengutarakan niatnya untuk melanjutkan pendidikan di Perancis.
Ryanthi tetap membisu. Dia juga masih memalingkan wajahnya dari Adrian.
"Tatap aku jika memang kamu punya keberanian! Ayo Ryanthi! Tunjukan padaku seberapa keras kepalanya dirimu!" tantang Adrian masih dengan nada bicara yang sama.
Adrian menunjukkan siapa dirinya. Dia seperti seorang penguasa yang tengah menegur bawahannya.
Namun Ryanthi seakan tak peduli. Dia tidak menuruti pria itu sama sekali. Ryanthi hanya berusaha melepaskan tangannya, yang sedari tadi tidak juga Adrian lepaskan.
Melihat sikap Ryanthi yang tidak juga bicara, Adrian menjadi kesal. Dia langsung menarik tangan gadis itu, hingga Ryanthi masuk dan berada dalam pelukannya.
Ryanthi tersentak. Dia tetap tak memperlihatkan wajah cantiknya kepada Adrian. Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu merinding. Perlahan, dirasakannya napas Adrian yang menggangat di sekitar telinga, pelipis, hingga pipi. Deru napas pria itu terdengar begitu berat.
Hingga beberapa saat, Ryanthi seketika terhanyut karenanya. Dia seperti melayang di atas deburan ombak bersama angin, dengan belasan burung camar yang terbang mengelilinginya bagaikan para dayang yang tengah menghibur ratunya. Ryanthi hanya dapat memejamkan mata, saat merasakan napas Adrian di wajahnya.
"Biarkan aku pergi," pinta Ryanthi pelan.
"Tidak akan pernah," jawab Adrian setengah berbisik. Selaras dengan helaan napasnya yang mulai tenang. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," bisik Adrian, lagi membuat tubuh Ryanthi bergetar hebat.
Namun, lagi-lagi Ryanthi berusaha keras untuk melawan semua getaran itu. "Tidak Adrian! Lepaskan aku!" tolak Ryanthi.
Kali ini, Adrian lah yang tak mau mendengarkan kata-kata Ryanthi. Pria itu masih tetap mendekap erat tubuh si gadis dalam pelukannya, meskipun Ryanthi tidak memperlihatkan wajahnya.
Di relung hatinya, Ryanthi mengakui bahwa dia sangat menyukai hal itu. Dia juga begitu menikmatinya. Akan tetapi, ini tidak sesuai dengan rencana yang telah dia buat sebelumnya. Ryanthi heran, karena Adrian selalu ada di mana pun dia berada, seolah-olah ada medan magnet besar yang menghubungkan mereka berdua.
Senja akhirnya turun menyelimuti kedua insan, yang sedang berusaha mengembalikan hati dan perasaan mereka lagi.
Pada kenyataannya, Ryanthi tak kuasa menolak. Dia begitu nyaman berada dalam dekapan Adrian. Segala hal yang ada dalam diri pria itu teramat sempurna. Adrian adalah pria yang Ryanthi butuhkan.
__ADS_1
Namun, Ryanthi terlalu takut dengan kenyataan pahit yang mungkin akan menghampirinya kembali. Gadis itu sudah terlalu lelah menghadapi kerasnya hidup.