Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH TUJUH : Rayuan Usang Tuan Tampan


__ADS_3

Adrian memarkirkan Range Rover putihnya di depan rumah, di mana kemarin dia menurunkan Ryanthi. Adrian lalu melihat arloji di pergelangan kiri. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Diliriknya Ryanthi yang tertidur lelap. Dia masih terlihat sangat cantik, meski dalam keadaan seperti itu.


Helaan napas berat meluncur dari bibir berhiaskan kumis dan janggut tipis Adrian. Dia mendekat, lalu menepuk pelan pipi Ryanthi. "Hey, Nona. Bangunlah. Kita sudah sampai," ucapnya.


Ryanthi membuka mata perlahan. Seketika, gadis itu terperanjat mendapati Adrian sudah berada tepat di dekat wajahnya. "Kamu mau apa?" Ryanthi segera memundurkan wajahnya.


"Kamu tidur nyenyak seperti bayi," ucap Adrian. "Apa kamu ingin tetap tidur di mobilku?"


Ryanthi tidak menjawab. Dia menegakkan tubuh, lalu melihat keluar. Gadis itu mengeluh pelan.


"Kenapa?" tanya Adrian heran.


Ryanthi menoleh. Raut wajahnya menyiratkan rasa tak nyaman. "Kita ... salah alamat," ucapnya ragu.


"Bukankah ini rumahmu?" pancing Adrian.


"Bukan," jawab Ryanthi pelan.


Adrian tersenyum seraya menggeleng tak mengerti. "Ya sudah. Tunjukan di mana rumahmu yang sebenarnya."


Ryanthi menoleh, lalu tersenyum polos. Dia senang karena Adrian tidak marah atas kebohongannya.


"Katanya bukan penderita amnesia," sindir Adrian sambil menyalakan kembali mesin mobil, kemudian melajukannya ke alamat yang Ryanthi sebutkan. Adrian tersenyum kalem, saat melihat rumah yang mereka tuju.


"Terima kasih," ucap Ryanthi sambil melepas sabuk pengaman.


"Hanya terimakasih?"


Ryanthi mengernyitkan kening.


"Mana ponselmu?" Adrian mengulurkan tangannya kepada Ryanthi.


"Untuk apa?" tanya Ryanthi penasaran.


"Berikan saja!"


"Kenapa kamu suka sekali memerintah?" keluh Ryanthi kesal.


"Sudahlah jangan mengajakku berdebat. Berikan ponselmu!"


Ryanthi tak ingin berdebat. Dia memberikan ponselnya kepada Adrian. Dia terus memperhatikan pria itu, yang tengah mengetikkan sesuatu di layar. Sesaat kemudian, ponsel milik Adrian berdering.


"Terima kasih, Cantik," ucap Adrian, sambil mengedipkan sebelah mata saat mengembalikan ponsel milik Ryanthi.


"Sama-sama," balas Ryanthi seraya membuka pintu, lalu keluar dari mobil.


"Kamarmu yang mana?" tanya Adrian.


"Memangnya kenapa?" tanya Ryanthi heran.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya," jawab Adrian sambil tersenyum kalem.


Ryanthi mengeluh pelan. Tanpa basa-basi lagi, dia segera masuk ke halaman.


Sementara, Adrian terus memperhatikan gadis itu hingga benar-benar menghilang dari pandangan. Namun, Adrian tak juga beranjak dari sana. Dia terus mengawasi rumah megah dengan cat warna putih tadi.


Perhatian Adrian tertuju pada salah satu jendela di lantai dua, dengan lampu yang baru dinyalakan. Adrian, melihat siluet indah di sana. Bayangan tubuh semampai itu menutup tirai hingga rapat.


................


Hari terus berganti. Semua orang sibuk menyiapkan pernikahan Vera yang tinggal beberapa hari lagi. Vera terlihat begitu antusias. Dia seakan lupa bahwa dirinya sedang mengandung.

__ADS_1


"Kamu tidak lupa minum vitamin kan?" tanya Ryanthi mengingatkan.


"Aku punya alarm yang sangat cerewet sepertimu. Mana mungkin lupa," ujar Vera seraya terkikik geli.


"Aku melakukan itu demi keponakanku," balas Ryanthi.


"Ah, Ryanthi. Aku menyayangimu."


Ryanthi tertawa pelan. Sambil menunggu Vera yang tengah meminum vitamin, dia melihat ke sekeliling kamar gadis itu. Pandangan Ryanthi tertuju pada foto yang terpajang di dinding.


Dalam foto tadi, terlihat Vera kecil yang tengah berpose bersama Surya. Sesuatu yang entah pernah Ryanthi lakukan dengan sang ayah atau tidak.


"Foto itu diambil waktu ulang tahunku yang ke-8. Papa memberiku hadiah sepasang sepatu balet. Setelah itu, aku langsung mengikuti kursus balet," terang Vera.


Ryanthi memaksakan senyum.


"Kamu sangat beruntung," ucapnya menahan rasa sakit dalam hati.


"Ya. Rasanya sangat beruntung memiliki papa seperti Bapak Surya Wijaya," ujar Vera enteng.


Jujur saja, ucapan Vera telah membuat Ryanthi merasa begitu hancur. Namun, lagi-lagi Ryanthi harus mengabaikan semua itu.


"Apa semua urusanmu sudah beres?" tanya Ryanthi, mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku harus fitting kebaya hari ini," jawab Vera.


"Kebaya?" Ryanthi mengernyitkan kening.


"Iya. Arshan ingin kami memakai setelan kebaya. Katanya supaya lebih Indonesia," jelas Vera.


"Oh," ucap Ryanthi memaksakan senyum.


"Oh, ya?"


"Kamu harus tampil cantik di pesta nanti. Tentunya tidak boleh lebih cantik dariku. Hanya aku yang boleh jadi pusat perhatian nanti," ucap Vera sambil melenggak-lenggok.


Lagi-lagi, Ryanthi hanya tersenyum simpul.


"Aku tidak percaya karena akhirnya Arshan bersedia menikahiku," ucap Vera lagi.


Sementara, Ryanthi tak menanggapi. Gadis itu hanya diam termenung, memikirkan kata-kata Adrian.


Tanpa terasa, malam telah datang. Ryanthi sudah bersiap tidur, saat ponsel barunya berdering. Ryanthi sempat mengernyitkan kening. Dia tahu siapa yang menghubunginya.


Benar sekali. Di layar, tertera nama Adrian. Ryanthi memilih mengabaikan panggilan itu. Dia kembali meletakan ponselnya.


Ryanthi segera naik ke tempat tidur. Gadis itu bahkan sudah merebahkan tubuh.


Namun, sesaat kemudian sang Tuan Tampan kembali menghubunginya.


Ryanthi mengeluh pelan. Terpaksa dia menggeser ke atas, ikon berwarna hijau pada layar ponselnya. "Hallo," sapa Ryanthi malas.


"Astaga, lama sekali. Memangnya, di mana kamu meletakkan ponsel ini?" tanpa membalas sapaan Ryanthi, Adrian langsung melayangkan protes terhadap gadis itu.


"Aku sudah tidur," jawab Ryanthi berbohong.


"Jangan berbohong padaku, sayang," balas Adrian diiringi tawa pelan. "Aku mengawasimu dengan saksama," ucap Adrian lagi.


Ryanthi terbelalak. Dia segera turun dari tempat tidur, lalu melangkah ke dekat jendela. Gadis itu menyibakkan tirai yang menutupi jendela kamar.


Di luar pintu gerbang, ada sebuah mobil berwarna putih terparkir. Terlihat sangat jelas di malam yang gelap seperti itu. Tepat di body sebelah kendaraan mewah tadi, tampak seorang pria yang berdiri dengan gaya andalannya. Adrian menempelkan ponsel di telinganya, sambil bersandar dengan nyaman pada pintu mobil yang tertutup. Sesaat kemudian, pria itu langsung melambaikan tangannya, saat melihat bayangan Ryanthi dibalik tirai yang terbuka.

__ADS_1


"Kenapa kamu kemari malam-malam begini?" tanya Ryanthi agak ketus.


Adrian tertawa pelan. Dia tak peduli seperti apapun sikap Ryanthi terhadapnya.


"Aku hanya kebetulan lewat daerah sini. Jadi, kuputuskan untuk mampir dan menyapamu. Aku pikir, kamu akan menyambut telepon dariku dengan senang hati," jawabnya enteng.


Ryanthi terdiam sejenak. Dia memikirkan jawaban yang akan diberikan pada pria tampan itu. Meskipun dirinya merasa kesal, karena Adrian kerap mengganggu, tapi dia tak bisa bersikap terlalu keras padanya.


"Jadi, Tuan Tampan rupanya belum tahu dengan etika bertamu," sindir Ryanthi dingin.


"Kalau begitu jangan anggap aku sebagai tamu," jawab Adrian masih dengan gaya bicaranya yang terdengar sangat tenang.


Ryanthi mengeluh pelan. Dia heran karena Adrian selalu bisa membalas setiap perkataannya. Entah itu ucapan halus, atau yang paling ketus sekalipun.


"Lalu, aku harus menganggapmu sebagai apa?" tanya Ryanthi dengan nada menantang.


Lama-lama gadis itu terpancing untuk meladeni permainan Adrian.


Suasana menjadi hening. Adrian tidak langsung memberikan jawaban. Sepertinya, pria tampan blasteran Perancis-Indonesia tersebut sedang memikirkan jawaban, atau mungkin saja karena dia memang tidak memiliki jawaban sama sekali.


Sikap diam Adrian, membuat Ryanthi tersenyum puas. Gadis itu merasa menang. Dia sudah berhasil membungkam pria yang kerap mengganggunya tersebut.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian terdengar lagi suara berat Adrian di ujung telepon. "Aku tak ingin kamu anggap sebagai tamu yang hanya berkunjung sesaat. Anggap saja aku pencuri. Aku datang kemari mencuri hatimu," jawabnya diakhiri tawa pelan.


Seketika, Ryanthi mengulum bibir karena menahan tawa yang hampir saja meledak, atas rayuan usang Adrian. Gadis itu tak segera menanggapi, karena dirinya masih sibuk menahan rasa geli. "Sebaiknya, siapakan dulu materi yang bagus sebelum kamu datang kemari untuk merayuku, karena aku tidak akan meleleh sedikitbpun dengan rayuan kadaluarsa seperti yang kamu katakan tadi," ujar Ryanthi diiringi tawa pelan.


Adrian kembali terdiam. Hal itu membuat Ryanthi semakin berada di atas angin. Gadis cantik tersebut merasa bahwa dirinya telah menang telak. Namun, Ryanthi harus kembali dibuat heran, setelah Adrian kembali menanggapi ucapannya.


"Cocok," ucap Adrian.


Ryanthi mengernyitkan kening, karena tidak mengerti dengan kata 'cocok' yang Adrian ucapkan tadi. "Maksudmu?" tanyanya.


"Penasaran?" Adrian balik bertanya.


Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya mengeluh pelan. Gadis itu kembali dibuat jengkel oleh sikap Adrian.


"Jika memang penasaran, datanglah ke tempatku besok. Aku akan menjelaskannya dengan detail, sampai kamu benar-benar mengerti!," jawab Adrian.


"Modus," jawab Ryanthi


"Besok aku benar-benar sibuk. Jadi, maaf karena aku tidak bisa mampir," lanjut Ryanthi


Adrian terdiam, tapi dia masih menempelkan ponsel di telinganya. Adrian juga masih berdiri tanpa mengubah sikap berdirinya.


Tatapan pria tampan tersebut, terus tertuju pada jendela kaca di lantai dua. Tempat bersembunyi seorang gadis cantik, yang telah berhasil mencuri perhatiannya, hingga dia sulit berpaling.


Sementara, Ryanthi hanya bisa bersembunyi di balik tirai putih itu. Tirai yang sudah memberinya keberanian, untuk menatap Adrian meski dari kejauhan.


Apa yang dirasakan Ryanthi saat ini?


Di satu sisi, ada masa lalu yang sedang coba dia tinggalkan. Sedangkan, di sisi lain ada seseorang yang selalu berusaha untuk dapat meraih tangan serta membawanya berlari.


Meskipun Ryanthi tidak tahu pasti apakah Adrian memang benar-benar menaruh hati padanya, atau hanya sekadar menggoda. Namun, satu yang pasti bahwa dia merasa senang, karena pria itu kerap kali membuatnya ingin tertawa. Tertawa lepas adalah sesuatu yang sangat Ryanthi butuhkan saat ini.


"Aku akan menunggu sampai semua urusanmu selesai." Terdengar lagi suara Adrian, setelah beberapa saat lamanya terdiam.


Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu hanya menggumam pelan.


"Sudah malam, tidurlah. Semoga mimpi indah. Kalau bisa mimpikan aku." Adrian menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Ryanthi. Setelah itu, dia melambaikan tangan, lalu masuk ke kendaraan mewahnya. Tak berselang lama, mobil berwarna putih itu mulai bergerak. Melaju tenang, hingga menghilang dari pandangan Ryanthi.


Sesaat, gadis itu termenung sambil terus menatap ke luar jendela, meskipun Adrian sudah tidak berdiri di sana. Tanpa disadari, tersungging senyuman manis di bibir Ryanthi, meski hanya lengkungan kecil yang samar.

__ADS_1


__ADS_2