Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Hadiah Termewah


__ADS_3

"Sayang!" panggil Ryanthi kepada Arumi yang baru saja mengeluarkan loyang dari dalam oven. Ia lalu meletakan loyang berisi kue berwarna coklat keemasan itu di atas meja.


Arumi segera menoleh kepada sang ibu. Ia juga melayangkan sebuah senyuman manis kepadanya. "Ada apa, Bu?" tanya Arumi seraya melepas sarung tangan tebal yang tadi dipakainya.


"Ada seseorang yang mencarimu," jawab Ryanthi dengan wajah yang terlihat curiga.


"Siapa? Lily?" tanya Arumi dengan penasaran. Ia menyebutkan nama teman dekatnya sewaktu di sekolah lanjutan dulu.


"Seorang pria," jawab Ryanthi semakin membuat Arumi penasaran. "Dia sangat tampan," bisik Ryanthi dengan nada setengah menggoda.


Gadis itu pun terdiam untuk sejenak. Ia berfikir dan mencoba menerka siapakah pria yang datang mencarinya saat itu.


"Temuilah, Sayang! Dia menunggumu di luar," suruh Ryanthi.


"Oke!" Arumi pun berlalu dari dalam dapur dan menuju ruang utama dari toko itu tanpa melepas apron chef yang dipakainya.


Arumi melangkah dengan perasaan yang mulai gugup dan penuh dengan tanda tanya. Dalam fikirannya kini hanya ada dua pria, yaitu Edgar dan Moedya.


Ternyata, memanglah benar dengan apa yang Arumi kira. Pria yang datang menemuinya adalah Edgar. Arumi tidak menyangka jika Edgar akan berani mencarinya di toko. Arumi pun merasa heran karena Edgar dapat mengetahui toko milik ibunya itu.


"Hai, Arum," sapa pria berambut ikal itu dengan hangat.


"Hai, Ed," balas Arumi dengan ekspresi wajahnya yang biasa saja. Ia bahkan terlihat malas dengan kehadiran pria itu, apalagi untuk meladeninya.


"Aku fikir kamu sudah kembali ke Paris," ucap Arumi.


Edgar tersenyum manis. Tatapan lembut penuh cinta itu masih ia layangkan kepada gadis dengan celan jeans 7/9, dengan rambutnya yang digulung asal-asalan.


"Aku masih betah disini. Do you mind if i stay here for a while?" tanya Edgar.


Arumi melipat kedua tangannya di dada. Ia tampak begitu malas meladeni pria bermata abu-abu itu.


"Yeah ... you can stay here for a while. It's not my business. Terserah kamu!" jawab Arumi dengan nada bicaranya yang dingin dan sikapnya yang tak acuh.


"Please, Babe! Berhentilah menghukumku!" pinta Edgar dengan sungguh-sungguh.


Arumi menyeringai kepada pria keturunan Perancis itu. Ia benar-benar sudah malas dengan percakapan itu.


"Kembalilah ke Paris! Jalanilah hidupmu dengan tenang disana! Kamu tidak akan pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan gadis manapun yang kamu mau," suruh Arumi dengan tegasnya.


"Tidak, Babe! I want you," Edgar masih pada pendiriannya. "Aku akan disini untuk beberapa hari. Aku mohon, berilah aku satu kesempatan lagi!" Edgar kembali memohon kepada Arumi. Bahkan ia kini berani memegang kedua tangan Arumi.


Dengan segera, Arumi menarik kembali kedua tangannya. Ia tidak suka dengan sikap Edgar padanya.


"Jangan sentuh aku!" sergahnya. "Lagipula, bagaimana kamu bisa mengetahui alamat toko ini?" tanya Arumi dengan herannya.


"I know everything about you," jawab Edgar dengan sangat yakin.


Tersungging senyuman sinis di sudut bibir Arumi, Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak!" sergah Arumi. "You don't know me at all!" bantah Arumi dengan tegas.


"Ayolah, Arum! Aku mohon! Mari kita bicarakan hal ini secara baik-baik!" ajak Edgar.


"Apalagi yang harus kita bicarakan?" tanya Arumi dengan suaranya yang agak pelan. Ia tidak ingin jika sampai para karyawan toko itu mendengar percakapan mereka berdua.


"Segala urusan diantara kita sudah selesai sebelum aku kembali kemari. Aku sudah meninggalkan semua cerita tentang kita di Paris, dan aku tidak berniat untuk membawanya pulang," jelas Arumi. Raut wajahnya tampak semakin kesal.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Edgar dengan alisnya yang berkerut. "Hubungan kita belum berakhir. Aku sama sekali belum mengakhirinya. Itu hanya keputusan sepihak darimu!" bantah Edgar dengan tegas.


Arumi memalingkan wajahnya. Ia merasa lelah karena harus terus berkutat dalam permasalahan yang itu-itu saja.


"Jadi apa maumu sekarang?" tanya Arumi. "Kamu ingin kita kembali menjalin hubungan seperti saat aku masih berada di Paris?"


"Ya. Kita lanjutkan semuanya, dan aku berjanji padamu ... aku akan berubah. Aku hanya ingin dirimu, bukan yang lain," Edgar kembali dengan sikapnya yang seakan memohon pengampunan kepada Arumi.


Arumi mengeluh pelan. "Aku bosan dengan semua ini!" tandasnya.


"Babe ...."


Arumi terdiam untuk sejenak. Ia kemudian menatap si mata abu-abu itu dengan penuh sesal. Bagaimanapun juga, ia pernah benar-benar jatuh cinta kepada pria berwajah kharismatik itu.


Sebenarnya, Edgar adalah pria yang baik. Ia juga sangat perhatian. Namun sayangnya ia seringkali menganggap jika semua wanita dapat ia taklukan dengan kekayaannya. Hal itulah yang membuat Arumi merasa jijik padanya dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Sayang!" panggil Ryanthi. Ia datang menghampiri mereka yang sedang bersitegang secara bisik-bisik.


Ryanthi menyodorkan ponsel milik Arumi."Dari tadi ponselmu berdering terus. Mungkin saja itu panggilan penting," ucap Ryanthi. Ia kemudian melirik kepada Edgar.


Pria blasteran Perancis itu pun tersenyum padanya. "Madame ...." sapanya dengan sopan.


Ryanthi tersenyum manis. Ia begitu terkesan dengan sapaan yang diberikan Edgar padanya. Ryanthi kemudian melirik Arumi yang tampak tidak terlalu nyaman.


"Kamu tidak akan mengenalkan kami berdua?" tanyanya.


Arumi mendelik kepada sang ibu. Ia seakan memprotes pertanyaan yang ditujukan Ryanthi padanya.


"Edgar," sela pria dengan mata abu-abu itu. "My name is Edgar Hilaire," imbuh Edgar dengan binar indah di matanya. Wajahnya pun kian berseri. Ia dengan segera mengulurkan tangannya kepada Ryanthi, dan mengajak wanita dengan sanggul rapi itu untuk bersalaman.


"Oh ... Edgar," Ryanthi pun membalas uluran tangan pria itu dengan sikap ramahnya. Sementara Arumi terlihat semakin tidak suka melihat adegan itu.


"Oh ... Mrs. Ryanthi, nice to meet you," balas Edgar. "Arum sering bercerita tentang Anda sewaktu dia masih di Paris. Ternyata ... Anda memang wanita yang sangat cantik dan juga ramah," puji Edgar yang masih setia dengan senyum ramahnya.


Ryanthi tertawa pelan mendengar sanjungan dari pria dengan turtleneck hitam itu. Ia pun begitu tersanjung karenanya. "Terima kasih Edgar. Kamu sangat manis dan ramah," balas Ryanthi.


Sementara itu, Arumi kini disibukan dengan ponselnya. Ia asik membalas pesan masuk dari seseorang yang tiada lain adalah Moedya.


Bagi Arumi, hal itu jauh lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan meladeni ocehan tidak berguna yang dilontarakan Edgar untuk merayunya agar mau kembali padanya.


Arumi pun tidak mempedulikan mereka berdua yang tengah berbasa-basi di sebelahnya. Ia justru malah senyam-senyum sendiri di depan layar ponselnya.


"Sayang, kenapa kamu tidak membuatkan Edgar kopi, teh, atau ...." Ryanthi melirik Arumi yang seakan tidak peduli akan kehadiran pria itu.


Arumi menoleh sejenak kepada sang ibu. Sesaat kemudian, ia pun melirik Edgar. "Edgar akan pulang sebentar lagi, Bu," jawab Arumi. "Bukan begitu, Ed?" Arumi kembali menatap Edgar yang terlihat kecewa karena penolakan halusnya itu.


"Kenapa harus terburu-buru?" tanya Ryanthi seraya menatap sesaat pria yang tengah memaksakan dirinya untuk tersenyum itu.


Edgar tidak menjawab. Ia hanya menatap Arumi dengan wajahnya yang terlihat gelisah.


"Aku masih ada urusan sebentar lagi, Bu," ucap Arumi dengan tenangnya.


"Sayang sekali," sesal Ryanthi.


Sesaat kemudian, ia lalu kembali melirik kearah Edgar. "Bagaimana jika kapan-kapan kamu mampir untuk makan malam di kediaman kami?" tawar Ryanthi dengan tulus.

__ADS_1


Senyum Edgar terkembang dengan sempurna saat mendengar tawaran itu. Tentu saja, ia tidak akan pernah melewatkannya.


Arumi mendelik kepada sang ibu. Jelas sudah jika ia tidak setuju dengan tawaran konyol itu. Akan tetapi, Edgar sudah lebih dulu menyetujui tawaran dari Ryanthi.


Arumi pun hanya terdiam dengan wajah yang sedikit kecewa. Sedangkan Edgar, ia melirik Arumi dengan senyuman kemenangan di sudut bibirnya.


...🕊 🕊 🕊...


Arumi terdiam ketika Moedya sudah berada di hadapannya. Pria itu duduk di atas motor retronya dengan jaket kulit berwarna hitam dan helm cakilnya.


Sesaat kemudian, Moedya pun menyodorkan helm kepada Arumi. Dengan segera Arumi menerima helm itu dan memakainya.


Moedya pun mengisyaratkan agar gadis itu segera duduk di jok belakangnya.


Entah memiliki keberanian darimana, karena Arumi pun segera menuruti isyarat dari pria bertato itu.


"Sudah siap?" tanya Moedya seraya menoleh kesamping kirinya.


"Iya," jawab Arumi dengan wajah sumringahnya.


Dengan segera, motor yang dikendarai Moedya pun melaju meninggalkan halaman toko kue itu.


Selama di dalam perjalanan, Arumi tak henti-hentinya tersenyum lebar. Ini adalah pengalaman pertama baginya berboncengan dengan seorang pria, dan pergi berkeliling menyusuri jalanan kota.


Beberapa saat lamanya berada diperjalanan, akhirnya mereka pun tiba disebuah tempat dengan danaunya yang sangat indah.


Moedya pun memarkirkan motornya di pinggir danau itu. Sementara Arumi, ia segera turun dan melepas helmnya.


Ada rasa takjub yang luar biasa dalam senyuman yang terlukis indah di wajah cantik itu. Arumi memang sangat menyukai tempat dengan nuansa alam yang indah.


"Bagaimana?" tanya Moedya yang kini berdiri di sebelah Arumi. Ia lalu melirik gadis yang terlihat begitu bahagia di sore hari itu.


"Ini tempat yang luar biasa," decak Arumi seraya menatap balik kearah Moedya.


"Aku sering sekali kemari. Namun itu dulu, dengan ayahku," ujar Moedya. Matanya menatap lurus kedepan.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Arumi.


Moedya kembali melirik gadis yang ada di sebelahnya itu. Ia pun tersenyum simpul.


"Kami sering memancing disini. Kami selalu menghabiskan akhir pekan dari pagi hingga menjelang senja. Setelah itu, barulah kami memutuskan untuk pulang," tutur Moedya.


"Memangnya di danau ini ada ikannya?" tanya Arumi dengan setengah bergumam. Ia seperti bertanya kepada dirinya sendiri.


Moedya tertawa pelan. "Entahlah. Tetapi ... ayahku selalu merasa optimis, jika ada saatnya kami akan mendapatkan hasil yang kami inginkan setelah berjuang seharian," terang Moedya.


"Lalu ... seperti apa hasilnya?" tanya Arumi seraya melirik pria dengan gaya rambut man bun itu.


Moedya tertawa. Ia seakan merasa geli dengan apa yang akan ia ucapkan kepada Arumi.


"Kenapa?" tanya Arumi yang juga ikut tertawa meski ia tidak tahu apa yang dirasa lucu oleh dirinya.


Moedya tidak segera menjawab. Ia hanya terus tertawa.


Arumi menatap pria itu dengan lembut. Ini adalah sebuah cerita baru untuknya. Ia mungkin belum dapat menikmati hadiah kepulangannya dari sang ayah. Akan tetapi, Arumi seperti mendapat sebuah hadiah lain yang jauh lebih mewah dari sebuah sedan putih keluaran dari pabrikan Eropa.

__ADS_1


Hadiah termewah itu ialah, melihat senyum dan tawa dari seorang pria asing yang telah menarik perhatiannya dengan tiba-tiba.


Moemoe ....


__ADS_2