Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH LIMA : Kisah Manis Menjelang Perpisahan


__ADS_3

Ryanthi terpaku dengan tatapan nanar, saat pintu lift terbuka. Dia melihat Adrian sudah berdiri menyambut kedatangannya, meski dengan raut yang tidak biasa. Alasannya, karena Adrian tak tahu alasan apa yang membuat Ryanthi tiba-tiba meminta untuk bertemu.


Akan tetapi, sepertinya Adrian sudah bisa menebak, ketika Ryanthi tiba-tiba menghambur ke pelukannya. Untung saja Adrian dapat menjaga keseimbangan, sehingga dia bisa menahan tubuh Ryanthi.


"Ya, Tuhan. Sungguh?" Adrian berbisik tak percaya, sambil memeluk erat sang kekasih. Rasa bahagia tak terkira memenuhi hatinya. "Apa kamu benar-benar kembali?"


Ryanthi tak menjawab. Dia hanya memeluk erat Adrian, membenamkan paras cantiknya di dada pria dengan T-Shirt putih itu.


"Ini benar-benar kamu?" Adrian masih terlihat tak percaya. Dia merenggangkan pelukan, lalu menatap lekat paras menawan sang kekasih. Sekali lagi, dia memeluk gadis itu. Kebahagiaannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Beberapa saat kemudian, kedua sejoli itu duduk bersama di sofa yang menghadap langsung ke bukaan kolam renang. Adrian tak henti-henti mengecup kening Ryanthi, yang bergelayut manja dalam dekapannya.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Adrian sembari menggenggam erat tangan Ryanthi.


"Aku hanya teringat padamu. Aku akan selalu menangis jika sudah seperti itu. Ada yang mengatakan, agar aku segera menemuimu untuk ...." Ryanthi tak melanjutkan kata-katanya. Dia melepaskan diri dari dekapan Adrian, lalu duduk tegak sambil menatap pria tampan tersebut.


"Jika aku pergi, apa kamu akan setia menungguku?" tanya Ryanthi lirih.


"Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan itu padamu?" jawab Adrian yakin. "Tunggu sebentar." Adrian beranjak dari sofa. Dia melangkah gagah ke arah kamar.


Sementara, Ryanthi duduk menunggu dengan raut penasaran. Terlebih, saat Adrian kembali membawa senyum yang tampak begitu menawan.


"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Adrian. Dia merogoh ke dalam saku celana panjangnya. Pria itu mengeluarkan kotak kecil berlapis beludru warna ungu gelap. Adrian menyodorkan benda itu kepada Ryanthi.


"Apa ini?" tanya Ryanthi.


"Buka saja."


Ryanthi tersenyum kikuk. Dia membuka penutup kotak kecil tadi. Seketika, kedua matanya terbrlalak sempurna. "Ya, Tuhan! Ini ...." Ryanthi menatap tak percaya kepada Adrian.


"Kamu suka?" tanya Adrian tanpa melepas senyumannya.


Ryanthi tak segera menjawab. Dia memandangi isi dalam kotak kecil tadi, yang merupakan sebuah cincin berlian. Cincin itu pernah Ryanthi coba, saat dirinya dan Adrian berjalan-jalan di satu mall beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"Ini sangat mahal, Adrian. Penjaga tokonya mengatakan bahwa potongan harga hanya berlaku untuk bulan itu," ujar Ryanthi pelan.


"Aku membelinya dengan harga normal," ucap Adrian. "Kupikir, sepadan untuk membuktikan seberapa besar rasa cintaku padamu."


Setitik air mata menetes di sudut bibir Ryanthi, setelah mendengar ucapan Adrian.


"Tadinya, aku akan memberikan cincin itu saat kamu dan Pak Surya makan malam di rumah mamaku. Namun, yang terjadi adalah kita justru bertengkar. Kamu membuatku sangat marah. Akhirnya, aku menyimpan kembali cincin itu," terang Adrian. Seulas senyuman terlukis di bibirnya.


"Aku sempat berpikir keras. Apakah cincin itu akan benar-benar menjadi milikmu atau tidak. Namun, aku memang membelinya khusus untukmu."


"Adrian, aku ...." Ryanthi tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Adrian turun dari sofa. Pria itu berlutut di hadapan Ryanthi yang masih dalam posisi duduk.


"Jangan membantahku kali ini. Aku benar-benar akan mengizinkanmu pergi. Aku juga berjanji akan setia menunggu hingga kamu kembali. Aku tak akan pernah berbuat nakal. Jika sampai aku berkhianat, maka aku tak akan memperlihatkan lagi wajahku di hadapanmu. Itu merupakan sesuatu yang sangat berat, Ryanthi." Adrian menggenggam erat tangan sang kekasih yang masih memegangi kotak beludru tadi.


"Rasanya terlalu menyakitkan, jika harus berpisah denganmu. Kau sudah seperti nyawa kedua bagiku."


"Adrian ...." Air mata menetes kian deras, membasahi pipi Ryanthi.


"Tidak. Jangan menangis. Aku tidak mau jika cinta ini menyakiti, apalagi sampai membebanimu. Aku justru ingin agar kamu merasa kuat dengan adanya jalinan perasaan antara kita berdua.


Senja turun menghiasi cakrawala. Cahaya jingga memenuhi langit, membuatnya terlihat begitu indah. Membawa sejuta rasa dan cerita, yang tak akan pernah terlupakan.


Tak berselang lama, malam datang. Warna jingga tadi berubah gelap. Berhiaskan gemerlap lampu perkotaan yang indah, bagaikan ribuan kunang-kunang penghias malam.


Seusai makan bersama, Ryanthi dan Adrian berdiri di balkon dekat kolam renang.


"Ini adalah malam terakhirku di Indonesia. Besok aku akan berangkat," ucap Ryanthi pelan. "Tadinya, aku kemari hanya untuk berpamitan padamu." Ryanthi mengalihkan pandangan pada cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


"Apa aku harus mengantarmu ke bandara?" tanya Adrian.


"Terserah kamu," jawab Ryanthi seraya kembali memandang gedung-gedung pencakar langit, di sekitaran gedung apartemen yang Adrian tempati.


Adrian menggumam pelan. "Baikah," ucapnya, seraya memeluk Ryanthi dari belakang. "Aku akan mengantarmu ke bandara, tapi ada syaratnya."

__ADS_1


"Syarat apa?" Ryanthi menoleh ke samping, pada Adrian yang meletakkan dagu di pundak sebelah kanan gadis itu.


"Temani aku malam ini," bisik Adrian.


Seketika, Ryanthi bereaksi atas ucapan pria itu. Dia ingin menolak, tapi bahasa tubuh gadis cantik tersebut mengatakan sebaliknya. Ryanthi tak menolak, ketika Adrian menciumnya mesra, lalu membawa ke dalam kamar.


"Tidak, Adrian. Aku takut," tolak Ryanthi, ketika Adrian mulai menyentuhnya, lebih dari yang biasa pria itu lakukan.


"Tidak apa-apa. Kamu akan menyukainya," ucap Adrian setengah berbisik.


Bagai kerbau dicocok hidung, Ryanthi menurut apa kata Adrian. Gadis itu tak menolak untuk setiap sentuhan dan perlakuan istimewa yang Adrian berikan padanya. Dia justru tampak sangat menikmati.


Hingga tiba waktunya, ketika Adrian membuat Ryanthi memekik pelan. Akan tetapi, tak ada siapa pun yang bisa menyelamatkannya. Gedung-gedung tinggi yang terlihat gagah pun, hanya dapat menjadi saksi bisu, saat Ryanthi merintih pelan dalam dekapan Adrian.


Malam itu, mereka lalui berdua. Adrian tak mengizinkan Ryanthi turun dari tempat tidur. Ryanthi bahkan tak sempat membuka pesan, serta panggilan masuk dari Surya.


Hingga pagi datang, Adrian masih terlelap di bawah selimut. Sedangkan, Ryanthi sudah selesai membersihkan diri. Gadis itu bahkan telah berpakaian lengkap.


Beberapa saat lamanya, Ryanthi berdiri terpaku memandang Adrian yang tampak kelelahan. Tinggal beberapa jam lagi, dia akan berangkat ke Perancis. Itu berarti, ini adalah kebersamaan terakhir antara dirinya dengan Adrian.


Ryanthi terus merenung, hingga suara dering ponsel menyadarkannya. Nama Surya tertera di layar.


"Yah," sapa Ryanthi pelan. Dia melangkah keluar kamar. "Aku akan pulang sebentar lagi. Jangan khawatir," ucap gadis itu seraya tersenyum kelu. Setelah mengakhiri perbincangan, Ryanthi kembali ke kamar.


Ryanthi lagi-lagi hanya terpaku memperhatikan pria yang tengah terlelap itu. Sesaat kemudian, gadis cantik tersebut mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya. Dia mengeluarkan jepit rambut kecil dari sana. Ryanthi lalu mencari kertas dan alat tulis dari laci. Dia menuliskan sesuatu, lalu menempelkan jepit rambut tadi di bagian atasnya. Tanpa membangunkan Adrian terlebih dulu, Ryanthi pergi dari sana.


Beberapa saat berlalu, Adrian terbangun. Dia mendapati dirinya hanya sendirian di kamar. Adrian juga membaca pesan yang Ryanthi tuliskan.


'Tidak perlu mengantarku ke bandara. Rasanya aku tak akan sanggup melihatmu ada di sana.'


Adrian tersenyum kelu. Dia turun dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi.


Sementara, Ryanthi sudah bersiap-siap untuk berangkat. Semua barang-barang bawaannya telah dimasukkan ke bagasi.

__ADS_1


Ryanthi hanya berpamitan lewat video call dengan Vera, karena putri kandung Maya tersebut berada di kediaman mertuanya. Ryanthi juga sempat berpamitan kepada Arshan, yang kebetulan sedang cuti kerja.


Sebelum masuk ke mobil, Ryanthi tersenyum kepada Maya. Dia mengangguk sopan. Namun, Maya hanya menatapnya. Ryanthi sendiri tak mau ambil pusing. Dia masuk ke mobil, dan bersiap berangkat menuju bandara.


__ADS_2