Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Memeluk Bleeby


__ADS_3

Berputar-putar. Itulah yang Arumi rasakan saat ini. Kepalanya terasa begitu pusing. Ia tidak dapat tidur hampir semalam suntuk.


Alarm pukul enam pagi telah berbunyi. Dengan segera Arumi mematikannya. Ia pun kembali termenung di atas tempat tidurnya. Sesekali gadis itu menguap panjang. Rasa kantuk mulai menyapanya. Ia juga merasa begitu lelah.


Arumi pun mulai memejamkan kedua matanya sambil terus duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya. Ia mengingat kejadian kemarin di dalam kamar Moedya. Gadis itu terus berfikir dan bertanya di dalam hatinya.


"Apakah aku sudah melakukan suatu kebodohan?"


Terdengar suara dering ponselnya berbunyi. Arumi tahu jika itu adalah panggilan masuk dari Moedya karena ia menggunakan dering khusus untuk nomor kontak sang kekasih. Dengan agak malas, Arumi pun menjawab panggilan itu.


"Hallo, cantik! Jangan katakan jika kamu belum bangun!" Terdengar suara khas Moedya dari ujung telepon.


"Jika aku belum bangun, mana mungkin aku menjawab panggilan darimu," sahut Arumi dengan seenaknya.


Terdengar suara tawa Moedya dari seberang sana. Tawa yang membuat Arumi sangat merindukan pria bertato itu, terlebih atas apa yang telah terjadi kemarin antara dirinya dan juga Moedya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Moedya lagi.


Arumi paham maksud pertanyaan Moedya padanya. Gadis itu tidak segera menjawab. Ini adalah pertama kalinya untuk Arumi.


"Apakah kamu melihat ada yang aneh denganku?" Tanya Arumi pelan. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya, tanpa ia fikirkan sama sekali.


"Aku rasa tidak ada yang aneh. Mungkin hanya sedikit perbedaan," sahut Moedya. "Bisakah kita bertemu hari ini?" Tanya Moedya lagi dengan harapan Arumi menjawab "iya".


"Aku juga ingin bertemu denganmu," balas Arumi. "Apa hari ini kamu ada di bengkel?" Tanyanya.


"Iya. Datang saja!" Sahut Moedya. "Atau aku yang ke toko?" Tawarnya.


"Hari ini aku tidak berencana ke toko. Ibuku yang ada di sana. Akan tetapi, datang saja ... mungkin kamu ingin berbincang dengannya!" Seloroh Arumi diiringi tawa pelan.


Moedya pun ikut tertawa. Tawa yang telah membuat Arumi tidak sabar lagi untuk dapat bertemu dengan pria berambut gondrong itu.


"Aku tunggu, ya!" Ucap Moedya lagi.

__ADS_1


Arumi menggumam pelan. Sesaat kemudian, ia pun mengakhiri perbincangan mereka. Arumi lalu menyibakan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia pun beranjak turun dari tempat tidurnya.


Niatnya untuk tidur, akhirnya ia urungkan. Ia pun segera masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Untungnya Arumi sudah mandi semalam, jadi tidak masalah jika pagi ini ia hanya membasuh mukanya saja. Lagipula, ia tidak tidur semalaman.


Beberapa saat kemudian, Arumi telah selesai bersiap-siap. Seperti biasa dengan kaos putih press body yang dilengkapi celana jeans 7/9 berwarna biru belel. Arumi pun menggerai rambutnya begitu saja. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun segera menuju ke ruang makan.


Disana Arumi mendapati Ryanthi yang baru selesai menyiapkan sarapan. Arumi pun segera memeluk wanita itu dari samping.


"Selamat pagi, Bu," sapa Arumi seraya mencium pipi sang ibu dengan hangat.


"Pagi, Sayang," balas Ryanthi. "Sejak kemarin Ibu belum bertemu dengan kakakmu. Kamu tahu dia kemana?" Tanya Ryanthi. Ia pun kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Arumi mengikuti sang ibu. Ia duduk di sebelah wanita itu. "Um ... entahlah, Bu. Aku juga belum bertemu dengan kakak," sahut Arumi. "Apa mobilnya ada di garasi?" Tanyanya dengan perasaan tidak enak karena harus berbohong.


"Omong-omong ... ibu Ranum akan datang kemari. Beliau ingin bertemu dengan Ibu," Arumi segera mengalihkan topik pembicaraan.


Ryanthi melirik putri bungsunya untuk sesaat. Ia pun kembali menyiapkan makanannya. "Tentu saja. Ibu akan merasa senang sekali jika dapat bertemu dengannya," sahut Ryanthi seraya memulai sarapannya.


"Terserah Ibu, aku setuju saja!" Sahut Arumi dengan senyum antusias di wajahnya. "Oh iya, hari ini aku tidak ke toko. Aku harus bertemu dengan Moedya. Ibu tidak apa-apa, kan?" Arumi kembali melirik sang ibu.


Ryanthi tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," sahut wanita paruh baya itu. Ia pun sudah menghabiskan sarapannya.


"Aku akan mengantar Ibu ke toko. Nanti sore kujemput lagi," ucap Arumi seraya meneguk jusnya, kemudian beranjak dari duduknya. Meraih kunci mobilnya, ia bergegas menuju garasi.


Selang beberapa saat, Arumi telah mengantarkan Ryanthi ke toko. Ia pun melanjutkan perjalannya menuju ke bengkel milik Moedya.


Memarkirkan mobilnya dengan sangat cekatan, Arumi kemudian turun dan bergegas masuk. Ada beberapa pria di sana yang merupakan sahabat Moedya. Kedatangan Arumi di sana langsung menjadi pusat perhatian mereka. Akan tetapi gadis itu tidak peduli sama sekali. Ia berlalu begitu saja melewati mereka dan menghampiri Moedya yang saat itu segera menyambutnya. Moedya segera meraih jemari gadis itu dan mengajaknya naik ke lantai dua.


Sesampainya di atas, seperti biasa pria itu memberikan sapaan hangatnya untuk joyful orange itu.


Berdiri di hadapan Arumi, Moedya membelai wajah dan rambut gadis itu dengan lembut. Ia belum pernah merasakan cinta yang begitu indah dan hangat seperti saat ini. Cinta yang ia jalani bersama Arumi.


"Aku belum tidur sejak semalam," ucap Arumi pelan. Sesekali ia menundukan wajahnya dan meresapi setiap belaian lembut dari tangan Moedya.

__ADS_1


"Kenapa?" Bisik Moedya. Tatapannya ia layangkan kepada gadis cantik berambut panjang itu.


"Aku memikirkanmu," jawab Arumi. "Bicaralah padaku, Moemoe!" Pinta Arumi dengan agak lirih.


"Tentang apa?" Tanya Moedya.


"Tentang semua hal yang harus aku ketahui. Kisah cintamu, Nancy, semuanya ...." pinta Arumi lagi.


Moedya melepaskan tangannya dari wajah Arumi. Ia pun membalikan badannya dan duduk di atas sofa bed yang ada di sudut ruangan itu. Wajahnya tampak gelisah. Ia pun menjadi salah tingkah.


"Apa yang Keanu katakan padamu?" Tanya Moedya. Ia menempelkan kedua telapak tangannya dan menatap lantai berlapis karpet berwarna biru.


Arumi menghampiri pria itu dan segera duduk di sebelahnya. Ia juga melayangkan tatapannya kepada pria bertato itu.


"Tidak banyak. Aku rasa ... kamu akan memberiku sebuah cerita dengan penjelasan yang jauh lebih dapat kuterima," ucap Arumi.


Moedya menghela napas dalam-dalam. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Arumi. "Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tidurlah dulu! Aku janji akan menceritakan semuanya padamu nanti," ucap Moedya seraya kembali mengelus lembut wajah Arumi.


"Sungguh?" Arumi meyakinkan ucapan Moedya.


Moedya pun mengangguk pelan. Sesaat kemudian ia mencium kening Arumi dengan lembut.


"Aku punya sesuatu. Semoga bisa menemani tidurmu," ucap Moedya seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sebuah lemari plastik yang terletak tidak jauh dari sofa bed itu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan sebuah bungkusan hitam. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan itu.


Adalah sebuah boneka panda dengan ukuran kepala yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Moedya kemudian menyodorkan boneka itu kepada Arumi.


"Ayahku bilang jika namanya adalah Bleeby. Boneka itu adalah teman setia ayahku saat sedang sendirian di bengkel ini," terang Moedya seraya tersenyum kecil.


"Semua benda kenangan antara ibu dan ayahku masih tersimpan dengan baik di sini," tutur Moedya dengan ekspresi wajah yang tampak sedikit sendu.


"Aku juga tidak mengerti kenapa ibuku memberikan sebuah boneka kepada seorang pria gondrong bertato seperti ayahku ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman kelu di sudut bibirnya.


Sesaat kemudian, Moedya kembali beranjak dari duduknya. Ia berdiri sambil terus menatap Arumi. "Istirahatlah, Arum!" Ucapnya lagi. Ia pun berlalu begitu saja dari hadapan Arumi yang saat itu hanya duduk diam seraya memeluk boneka itu.

__ADS_1


__ADS_2