Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Putusan Hukuman untuk Moedya


__ADS_3

Keesokan harinya, Ranum datang menemui Moedya bersama seorang wanita berambut pendek dengan penampilannya yang rapi. Wanita itu memakai setelan blazer berwarna hijau, dan terlihat begitu formal. Sesaat kemudian, mereka bertiga lalu duduk bersama.


"Perkenalkan nama saya Rosma Sri Rahardja, SH. Ibu Ranum meminta saya untuk menjadi pengacara Anda, Pak Arjuna," wanita berambut pendek itu memperkenalkan dirinya. Ia juga mengajak Moedya untuk bersalaman. Sikap dan gaya bicaranya sangat tegas, tapi masih menunjukan keramahan yang dimilikinya.


"Panggil Moedya saja," sahut Moedya dengan tenangnya. Pria itu tersenyum kecil. Sedangkan wanita bernama Rosma itu hanya tersenyum dengan penuh wibawa.


"Ia kurang menyukai nama depannya," bisik Ranum pelan, tapi masih dapat didengar oleh Moedya. Pria itupun hanya menggelengkan kepalanya saat menanggapi ucapan sang ibu.


Rosma mengerti. Ia pun manggut-manggut. "Baiklah Pak Moedya. Jadi begini, saya sudah membaca file Anda dan mempelajarinya dengan baik. Saya sudah sering sekali menangani kasus seperti ini, di mana kita melawan untuk melindungi diri tapi pada akhirnya apa yang kita lakukan malah membuat kita menjadi tersudut, dan seakan menjadi pihak yang bersalah," terang wanita berambut pendek itu. "Bisakah Anda menceritakan kronologisnya secara langsung kepada saya?" pinta pengacara itu kepada Moedya.


Moedya berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian ia pun menceritakan semuanya dengan lengkap, dari awal kedatangannya di apartemen milik Nancy hingga berakhir dengan kejadian berdarah itu.


"Korban melemparkan asbak ke arah Anda?" tanya Rosma.


"Ya," jawab Moedya dengan tenangnya.


"Itu akan menjadi poin penting yang meringankan Anda, Pak Moedya," ucap wanita dengan blazer hijau itu. "Itu termasuk tindakan penyerangan terhadap Anda," jelasnya lagi.


"Begitukah?" tanya Moedya.


"Ya," jawab Rosma. "Saya juga telah menggali informasi tentang wanita bernama Nancy itu. Ia adalah seorang mucikari. Ia memegang andil yang sangat besar dalam kasus perdagangan gadis-gadis di bawah umur dan masih ada beberapa kasus lain yang menjeratnya," terang Rosma membuat Moedya terperangah. Selama ini, ia hanya mengetahui jika Nancy adalah pemilik sebuah night club, bukanlah mucikari.

__ADS_1


"Mantan suaminya bernama Johan. Ia adalah kepala preman di kawasan sekitar night club milik Nancy. Ia juga sudah sering keluar masuk penjara karena berbagai kasus kriminal yang telah dilakukannya. Benar-benar pasangan yang serasi," lanjut Rosma dengan nada miris.


Ranum terdiam mendengar penuturan dari pengacara itu. Sesaat kemudian, ia pun menatap putra semata wayangnya dengan penuh rasa heran.


Bagaimana Moedya bisa bergaul dengan wanita seperti itu? Ranum benar-benar tidak habis pikir karenanya. Ia merasa bersalah akan dirinya sendiri. Ia terlalu membiarkan Moedya dengan kehidupannya.


"Semoga penyelidikan dalam kasus ini segera selesai, sehingga kita bisa segera melanjutkan ke persidangan," ucap Rosma lagi.


"Iya. Terima kasih atas bantuannya," sahut Moedya pelan. Ia masih terlihat begitu tenang.


"Saya akan berusaha untuk mendapatkan hak Anda. Setidaknya untuk mengurangi hukuman Anda nanti," tegas Rosma lagi. Wanita itu terlihat begitu yakin. Moedya hanya mengangguk. Mereka pun menyudahi acara pertemuan itu karena jam besuk juga telah habis.


"Anda tenang saja, Pak Moedya. Saya dan tim akan bekerja keras dalam kasus ini. Semoga hasilnya bisa maksimal dan memuaskan," selesai berjabat tangan, Rosma kemudian berlalu diikuti oleh Ranum. Tentu saja setelah wanita cantik itu memberikan pelukan hangatnya untuk putra kesayangannya.


Bayangan wajah Arumi mulai hadir kembali di pelupuk matanya. Gadis cantik itu telah membuat dunianya menjadi terbalik dengan begitu cepat. Akan tetapi, dikala Moedya ingin kembali pada dunianya yang terang, ia harus menjalani hidup seperti ini.


Tak pernah terlintas dalam benak Moedya, jika ia akan merasakan hidup terkurung seperti saat ini. Kebebasan yang selama ini ia nikmati hanya tinggal kenangan. Arumi, lagi-lagi nama itu yang selalu ia sebut di dalam hatinya. Apakah gadis itu akan bersedia menantinya kembali atau justru sebaliknya?


Perasaan itu ternyata telah berhasil membuat Moedya menjadi sangat gelisah. Bagaimanapun juga, ia merasa takut kehilangan gadis yang sangat ia cintai.


Tiada bedanya dengan Moedya. Arumi juga lebih sering mengurung diri di dalam kamanya yang bernuansa jingga. Ia sangat sedih dan terpukul. Seluruh kekuatan dalam dirinya seakan luruh seketika dan menghilang bersama angin.

__ADS_1


Ryanthi pun tidak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi, ia tidak dapat membiarkan Arumi terus mengurung dirinya dan larut di dalam kesedihan. Sesekali wanita itu mengajak Arumi berbincang-bincang meskipun Arumi lebih banyak memilih untuk diam.


...🕊 🕊 🕊...


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kini tiba lah saatnya bagi Moedya untuk mendapatkan keputusan atas hukuman yang akan ia terima, tentunya setelah ia melewati serangkaian proses persidangan sebelumnya.


Datang ke pengadilan dengan memakai kemeja putih yang dilipat bagian lengannya, Moedya masih memerlihatkan pesona dan juga ketampanannya. Sikapnya masih terlihat sangat tenang, terlebih ketika ia berkesempatan untuk menatap seraut wajah cantik di antara barisan keluarga dan sahabat yang hadir di sana untuk memberinya dukungan.


Tersungging sebuah senyuman kecil di bibir pria berambut gondrong itu. Senyuman yang ia tujukan untuk gadis cantik berambut panjang pujaan hatinya.


Ada kerinduan yang teramat besar dan sulit untuk dikendalikan ketika tatapan keduanya saling bertemu.


Wajah Arumi tampak sedikit sendu saat itu. Hatinya resah karena menanti putusan atas nasib kekasihnya. Akan tetapi, ia tetap berusaha untuk memberikan senyumannya meskipun harus sedikit dipaksakan. Arumi seakan ingin menyampaikan kepada Moedya jika dirinya baik-baik saja.


Moedya tersenyum kecil seraya mengangguk pelan. Isyarat matanya mengatakan jika ia menginginkan untuk segera dapat kembali bersama dengan gadis itu. Sesaat kemudian, Moedya pun segera duduk di kursi yang telah disediakan di tengah-tengah ruang persidangan. Ia harus siap dengan segala putusan yang akan ia terima.


Duduk dengan tenang, Moedya mendengarkan apa yang hakim ketua bacakan. Meskipun ada sedikit rasa takut dalam hatinya, tapi Moedya sudah pasrah menerima semua keputusan yang akan menentukan nasibnya beberapa waktu ke depan.


"Dengan ini, kami menyatakan saudara Arjuna Moedya Aryatama telah bersalah atas hilangnya nyawa seorang wanita bernama Adelia Sanjaya alias Nancy, dan kami telah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara selama tiga tahun dikurangi masa hukuman yang sudah dijalani," hakim ketua pun mengetukan palunya sebanyak tiga kali.


Moedya terdiam. Tatapannya lurus tertuju pada pria yang baru saja memutuskan nasibnya. Untuk tiga tahun ke depan, akan ia jalani di balik jeruji besi. Sendiri, tanpa ibu dan kekasih yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Seusai persidangan, Moedya segera berdiri. Dua orang petugas mengapitny dari sisi kiri dan kanan. Moedya pun melirik mereka untuk sesaat, seakan meminta izin sejenak. Setelah mendapat izin, ia segera menghampiri Ranum yang memeluknya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, Bu!" ucap Moedya dengan pelan. "Ibu masih bisa mengunjungiku di penjara," lanjutnya masih dengan sikap tenang yang tidak ia lepaskan sejak tadi. Ia memeluk dan mengusap-usap punggung sang ibu. Akan tetapi, pandangan Moedya justru tertuju kepada Arumi. Gadis cantik yang tengah menatapnya dengan tangisan yang tertahan di bibirnya.


__ADS_2