Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Memulai Komitmen


__ADS_3

Moedya mengajak Arumi masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan ukuran yang besar dengan warna khas seorang pria, yang menjadikan kamar itu tampak begitu maskulin. Terlebih semua pernak-pernik bernuansa otomotif yang terpajang disana, membuat Arumi seperti tengah berada disebuah bengkel.


Lagi. Arumi kembali melihat foto yang sama terpajang di dalam kamar Moedya. Meski tidak dalam ukuran besar seperti yang terpajang di dinding ruang tamu, namun ada beberapa foto kebersamaan antara Moedya dengan sang ayah.


Arumi terus mengamati foto itu. Ia membandingkan antara Moedya dengan ayahnya.


"Kenapa?" tanya Moedya seraya berdiri di dekat Arumi.


Arumi kembali meletakan foto itu pada tempatnya. Ia pun menoleh kepada Moedya. "Ayahmu sangat tampan. Penampilannya juga eksentrik. Dia pasti memiliki banyak penggemar," ujar Arumi dengan senyuman manis di wajahnya.


"Dia idolaku," sahut Moedya pelan.


"Ya. Ibu Ranum sudah mengatakannya padaku," balas Arumi.


"Apa saja yang ibuku ceritakan padamu? Aku harap dia tidak mengatakan hal yang macam-macam tentangku," tukas Moedya.


Arumi tertawa pelan. "Kenapa? Begitulah jika seseorang dengan banyak dosa. Ada banyak ketakutan dalam dirinya," celetuk Arumi dengan seenaknya. "akan tetapi, ada banyak juga yang mengatakan jika dosa itu terkadang menyenangkan ... konyol!" Arumi tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya.


Moedya menggumam pelan. Ia kemudian menarik Arumi kembali ke dalam dekapannya.


"Kalau begitu, mari kita melakukan dosa yang menyenangkan itu," rayu Moedya diselingi senyuman mesumnya yang menggoda.


Arumi mendelik tajam kepada pria yang kini menunjukan wajah mesumnya kepada dirinya. Ia kembali tertawa pelan. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Arumi.


"Tidak. Aku tidak akan baik-baik saja selama berdekatan seperti ini denganmu," jawab Moedya. Tangannya mulai bergerak nakal.


Arumi menatap pria itu dengan senyuman geli. Ia menyukai kenakalan pria itu terhadapnya. Akan tetapi ia sadar jika semua itu belum waktunya.


"Moemoe ... ceritakan tentang ayahmu! Aku lihat, ibu Ranum sangat kehilangannya," pinta Arumi.


Moedya terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu melepaskan dekapannya dari Arumi. Moedya memilih untuk berdiri di dekat jendela kamarnya. Wajahnya tampak tidak seperti biasanya.


Arumi segera menghampiri pria itu dan berdiri di dekatnya. Ia menatap lekat kearah Moedya dan mencoba menerka apa yang tengah pria itu rasakan kini.


"Usiaku sekitar dua belas tahun ketika ayah pergi. Kecelakaan lalu lintas telah merenggut nyawanya dengan tiba-tiba. Aku dan ibu sangat terpukul. Kami sangat kehilangan beliau," Moedya mengawali ceritanya.


"Ya, aku tahu seperti apa rasanya kehilangan seorang ayah dengan begitu tiba-tiba," sahut Arumi pelan.


"Aku sudah pernah mengatakannya padamu bukan? Aku sangat dekat dengan ayahku. Lihatlah!" Moedya menaikan kaosnya hingga sebatas dada. Disana tertulis nama Arya.


Arumi menatap tulisan itu. Ia menyentuhnya dengan perlahan.


"Aku mengabadikan nama ayah di dadaku. Itu sebagai tanda bahwa selamanya ia akan ada di hatiku," ucap Moedya. Ia kembali menurunkan kaosnya.


"Lalu kenapa nama ibu Ranum ada di tangan kananmu?" tanya Arumi.


"Karena ibuku adalah kekuatanku. Seperti tangan kanan yang penuh tenaga, yang biasa kupakai untuk melakukan segala hal," terang Moedya.


"Kamu tidak tahu seberapa kuatnya ibuku. Beliau wanita yang sangat tegas, lugas, dan dia sangat mirip denganmu. Bahasa tubuh kalian, gaya bicara kalian. Kamu selalu mengingatkanku kepadanya," terang Moedya dengan datar.

__ADS_1


Arumi tersenyum lebar. "Oh, ya? Apa seperti itu?" tanya Arumi.


"Cobalah untuk lebih mengenal ibuku!" pinta Moedya.


"Apa kamu selalu seperti ini?" tanya Arumi lagi.


"Seperti apa?" Moedya balik bertanya.


"Ya ... seperti ini. Mengajak seorang gadis ke rumahmu, mengenalkanya kepada ibumu, dan berbincang di dalam kamarmu. Apa kamu selalu melakukannya?" selidik Arumi. Ia menatap lekat kepada Moedya.


"Tidak! Tentu saja tidak!" bantah Moedya.


Arumi tertawa pelan. Ia seakan menyangsikan semua pengakuan Moedya padanya.


"Jangan membuatku merasa besar kepala karena menjadi gadis pertama yang mendapatkan semua kehormatan ini! Aku rasa itu terlalu drama dan sudah biasa ada dalam kisah-kisah romantis, dimana gadis yang beruntung itu adalah gadis pertama dalam segalanya," sanggah Arumi.


Moedya menatap lekat gadis itu. Ia tahu jika sebenarnya Arumi tengah memancingnya untuk berbicara tentang sesuatu yang lain.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tantang Moedya.


"Haruskah aku yang bertanya?" Arumi bertanya balik.


Moedya terus menatap gadis itu. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya keluar jendela. Menerawang lurus menembus cuaca yang kembali berselimut rintik-rintik hujan.


"Pernah ada seseorang, tapi tidak sekalipun aku mengajaknya kemari," ungkap Moedya.


"Siapa?" tanya Arumi. Ia menjadi sangat penasaran.


"Apa kamu mencoba untuk menghindar?" pancing Arumi.


"Kenapa kamu begitu pintar?" sindiran halus dari Moedya. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Aku hanya menerka ...." sahut Arumi.


"Sama saja antara dirimu dan pria Perancis itu. Aku juga tidak mengetahui seperti apa hubungan kalian dulu," Moedya mengalihkan arah pembicaraan.


"Kenapa kita harus membahas Edgar?" Arumi tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangannya di dada.


"Sudah kuduga jika kamu juga tidak akan menyukai hal itu. Iya, kan?"


Arumi memalingkan wajahnya. "Jadi?" tanyanya.


"Jadi apanya?" tanya Moedya.


"Aah ... lupakan!" sergah Arumi. Gadis itu mulai kesal.


Moedya tertawa pelan. Ia kemudian menyentuh pundak gadis itu hingga Arumi kembali membalikan badannya dan menghadap kepadanya.


"Apa kita akan memulai sebuah komitmen?" tanya Moedya.

__ADS_1


Arumi menatap lekat pria itu. Ingin sekali ia menjawab "Iya". Akan tetapi, entah apalagi yang masih mengganjal di dalam hatinya.


"Komitmen?" tanya Arumi.


"Ya. Apa salahnya jika kita mencoba?" tawar Moedya. Terlihat harapan besar dalam sorot matanya.


Arumi masih terdiam.


"Jangan katakan jika kamu harus meminta izin kepada ibumu terlebih dahulu untuk hal seperti ini!"


Arumi tertawa lebar. Ia menertawakan rasa ragunya sendiri. Namun pada akhirnya, ia pun mulai memantapkan hatinya. Ya, ia menginginkan pria itu. Pria bertato yang telah membuatnya sangat tertarik.


"Apa kamu sungguh-sungguh menginginkanku, Moemoe?" tanya Arumi. Ia ingin benar-benar meyakinkan hatinya.


"Apa yang kamu rasakan jika berada dekat denganku? Apakah sama seperti yang aku rasakan?" Moedya meraih pinggang Arumi. Ia melingkarkan tangannya disana dengan nyaman.


"Aku tidak tahu seperti apa perasaanmu," ucap Arumi pelan. Ia masih tampak ragu.


"Itu adalah sesuatu yang tidak dapat aku ungkapkan. Akan tetapi, itu adalah perasaan yang membuatku sangat gelisah. Aku tidak tahu sejak kapan rasa itu hadir, namun ia menyebar dengan begitu cepat dan tidak dapat kukendalikan lagi," tutur Moedya.


"Seperti virus?" tanya Arumi dengan polosnya.


"Ya. Aku rasa seperti itu. Atau mungkin lebih dari itu," timpal Moedya.


"Apa rasanya seperti tercekik?" tanya Arumi lagi.


"Lebih ...." jawab Moedya dengan yakin.


Arumi menundukan wajahnya. Pandangannya kini tertuju pada lukisan yang tergambar di lengan sebelah kiri Moedya. Ia pun memberanikan diri untuk menyentuh lengan itu.


"Apa kamu akan menuliskan namaku juga, Moemoe?" tanya Arumi lagi. Ia terus mengusap-usap lengan bertato itu.


"Jika kamu menginginkannya. Aku akan menuliskan namamu disetiap bagian tubuhku," jawab Moedya dengan senyum kalemnya.


Arumi tertawa pelan. Ia kemudian mengalihkan sentuhannya pada wajah itu. Wajah yang selama ini telah berhasil membuatnya lupa kepada Edgar yang tampan.


"Jadi siapa namamu sebenarnya?" tanya Arumi lagi.


"Kenapa banyak sekali pertanyaanmu? Dari tadi kamu terus-menerus bertanya padaku," keluh Moedya.


"Kalau begitu, jangan biarkan aku bertanya lagi," ujar Arumi.


Moedya menghela napas panjang. Ia pun kembali tersenyum. Ia kemudian mengelus lembut wajah gadis itu, menyibakan beberapa anak rambut yang jatuh di atas kening Arumi.


"Arjuna. Itu adalah nama pemberian ibuku," terang Moedya.


"Arjuna?"


"Ya. Arjuna Moedya Aryatama. Tetapi, aku tidak ingin kamu memanggilku dengan nama itu. Aku lebih suka seperti saat ini," ucap Moedya.

__ADS_1


"Moemoe?" jelas Arumi.


Moedya tersenyum simpul. Ia pun mengangguk. Sesaat kemudian, ia kembali membuat Arumi memejamkan matanya ketika ia mulai menyentuh joyful orange itu dengan lembutnya.


__ADS_2