
Surya tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan yang Ryanthi ajukan. Pria itu hanya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Surya seperti ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, bibirnya kembali terkatup rapat. Suasana kembali terasa canggung.
Sementara, Ryanthi sabar menunggu meski hatinya sudah tak karuan membayangkan jawaban yang akan Surya berikan. Dia takut jika dirinya mendapat kejutan besar, yang selama ini terlewat dan tak pernah disangka.
Setelah beberapa saat terdiam, Surya akhirnya kembali bicara, "Itu pilihan ibumu. Ayah tidak bisa mencegahnya." Surya seakan tak berani menatap Ryanthi. Pria paruh baya itu lebih memilih memperhatikan langit gelap, meski tak ada sesuatu yang menarik di sana.
"Bagaimana mungkin Ayah bisa berpikir sesederhana itu?" protes Ryanthi. Dia kecewa dan tidak dapat menerima jawaban Surya yang dinilai terlalu enteng.
Surya menoleh sekilas, sebelum kembali mengalihkan perhatian ke arah lain. "Memang seperti itu kenyataannya. Kamu ingin Ayah menjawab seperti apa? Ibumu yang bersikeras ingin pergi, meskipun Ayah sudah mencegahnya," lanjut pria itu dengan raut masam. Surya mungkin tidak menyukai pembahasan tersebut.
Ryanthi menatap tajam sang ayah. Ekspresi wajah gadis itu menyiratkan rasa tak nyaman yang luar biasa. "Aku sama sekali tidak mengerti." Ryanthi menggeleng pelan. "Jelaskan sesuatu dengan bahasa yang tidak terlalu sulit untuk aku pahami," pintanya.
"Sudah Ayah jawab tadi." Surya tidak berani melakukan kontak mata dengan Ryanthi. Dia terus menghindar, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampak jelas bahwa pria tersebut tengah menyembunyikan sesuatu.
Ryanthi dapat merasakannya dengan jelas. Entah apa yang ditutupi Surya, hingga dirinya seakan tidak berani bersitatap secara langsung. "Apa yang Ayah sembunyikan dariku? Mengapa Ayah terlalu berbelit-belit dan membuatku semakin penasaran? Aku bukan anak kecil lagi yang percaya begitu saja, dengan jawaban alakadarnya yang Ayah berikan. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun, dan telah memahami dengan baik bahasa tubuh dari lawan bicaraku." protes Ryanthi. Gadis itu mengeluh sekali lagi.
Namun, Surya tampak tidak mau tahu dengan semua rasa penasarnnya. Sang pemilik perusahaan tekstil itu justru terkesan menghindar, seakan tak ingin memberikan penjelasan secara detail kepada Ryanthi.
__ADS_1
Ryanthi duduk sambil bersandar pada besi teralis pembatas. Dia melipat kaki, lalu menempelkannya di dada. Ryanthi menyilangkan kedua tangan di atas lutut, lalu meletakkan dagunya di sana.
Melihat hal itu, Surya segera mengikutinya. Dia duduk bersandar sambil menekuk kaki kanan, dan membiarkan kaki kiri terulur lurus.
"Tadi sore, ibu datang padaku. Dia mengatakan Ayah akan memberikan semua jawaban yang aku inginkan. Setelah sekian lama, ibu mengizinkanku untuk memanggilmu 'ayah'. Namun, ternyata aku tidak mendapat apa kuinginkan saat ini." Ryanthi seperti berbicara pada dirinya. Dia merasa kecewa.
Sebenarnya, Surya mengerti dengan maksud Ryanthi. Tidak salah jika gadis itu mempertanyakan tentang semua hal, yang tidak dirinya ketahui. Surya menyadari bahwa Ryanthi harus merasakan akibat, dari sesuatu yang tak pernah gadis itu mengerti apa penyebabnya. Ryanthi harus merasakan ketidakadilan dalam hidup, karena konflik pribadi yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Namun, terlalu berat bagi Surya, untuk mengungkit kembali masa lalu kelam bersama Farida. Meskipun dia merupakan satu-satunya wanita yang Surya cintai, tapi tidak dipungkiri bahwa Farida juga adalah orang yang telah memberikan penderitan batin untuknya hingga saat ini.
Sesaat kemudin, Surya terhanyut dalam lamunannya. Dia memikirkan cara agar dapat menjelaskan kepada Ryanthi, yang sangat membutuhkan jawaban darinya. Surya menatap gadis itu. Wajahnya tampak polos tanpa polesan make up. Pakaian yang dikenakannya pun bukanlah baju bagus, apalagi bermerk.
Namun, sayangnya semua kecantikan fisik Ryanthi, tertutupi oleh kenyataan hidup yang pahit. Wajah gadis itu tampak lelah, serta menyimpan banyak beban. Ryanthi tidak terlalu menikmati sebagian besar hidup yang dijalaninya.
Penyesalan terbesar dalam diri Surya.
Sebagai seorang ayah, dia telah membiarkan itu semua terjadi pada anak semata wayangnya, yang kini seakan menjaga jarak karena sesuatu yang belum terungkap dengan jelas.
__ADS_1
"Apakah ini merupakan saat yang tepat untuk mengatakan segalanya kepada Ryanthi?" Surya terus membatin. Mempertimbangkan baik dan dan buruknya.
"Kamu tidak akan tidur saat Ayah bercerita, kan?" Surya memecah kebisuan antara mereka.
Ryanthi menoleh dan menatap nanar pada sang ayah. "Seperti halnya ibu, aku sudah terbiasa tidak tidur semalam suntuk," jawab Ryanthi lesu.
Surya menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. "Ayah tidak tahu apa yang akan kau pikirkan, setelah mendengar cerita yang akan Ayah sampaikan. Namun, ini juga akan membuat beban dalam diri Ayah sedikit berkurang. Semoga kamu mendapat jawaban yang dirimu inginkan," ucap Surya datar.
"Katakan saja semuanya. Baik atau buruk. Menyenangkan atau tidak. Aku berhak mengetahui alasan yang sebenarnya. Aku terseret dalam permasalahan yang terjadi antara kalian berdua. Itu sangat tidak adil." Ryanthi berusaha keras mengendalikan diri, menahan perasaan berkecamuk dalam dada.
"Apakah kalian tidak pernah memikirkan beban batin yang kurasakan? Meskipun ibu merawat serta memberikan limpahan kasih sayangnya untukku, tapi tetap saja terasa tidak sempurna. Aku hanya bisa diam atau bahkan tersenyum getir, ketika teman-teman sekolahku membicarakan ayah mereka," ungkap Ryanthi.
"Aku ... aku tidak bisa mengutarakan keluhan seperti itu kepada ibu, karena dia tak akan menyukainya. Ibu selalu menolak jika aku ingin membahas sesuatu yang berkaitan dengan ayah. Entah apa yang salah? Aku tidak pernah mendapatkan jawaban sama sekali." Ryanthi terus bicara. Dia seakan ingin meluapkan segala unek-unek yang selama ini dirinya pendam seorang diri.
"Maafkan Ayah, Nak," pinta Surya pelan. Dia memberanikan diri menyentuh pucuk kepala Ryanthi. Kerinduan Surya terhadap putri semata wayangnya tersebut begitu besar. Namun, dia juga tak berani menunjukkan secara langsung, karena Ryanthi terus menjaga jarak dengannya.
"Baiklah, Nak. Baiklah," ucap Surya lagi. Pria itu mengembuskan napas dalam-dalam, sebelum kembali berbicara. "Kamu memang berhak mengetahui segala hal yang terjadi pada kedua orang tuamu, delapan belas tahun yang lalu," putus pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu, ceritakan sesuatu padaku," pinta Ryanthi. Sorot mata yang dilayangkannya kepada Surya, menyiratkan harapan yang sangat besar. Ryanthi sudah tak sabar untuk mendengarkan penuturan dari sang ayah, yang sepertinya tengah berusaha mengumpulkan segenap keberanian.
Ya, butuh keberanian yang sangat besar bagi Surya untuk mengungkapkan kebenaran itu. , Suatu rahasia besar yang selama ini tersembunyi begitu rapat dari semua orang, termasuk Ryanthi sendiri yang menjadi korban dari teka-teki tersebut.