Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● TIGA PULUH SEMBILAN : Cinta yang Menakutkan


__ADS_3

Adrian memutuskan kembali ke apartemen. Dia akan menunggu hingga Ryanthi jauh lebih tenang. Walaupun perasaannya masih gelisah, tapi Adrian memaksakan pulang. Tak ada gunanya tetap berada di sana, karena dia tidak dapat bertemu secara langsung dengan Ryanthi.


Setibanya di apartemen, Adrian duduk termenung di sofa hingga beberapa saat. Ada banyak hal yang mengusik pikirannya.


Tanpa terasa, senja turun menyelimuti kota. Perlahan, gelap pun membenamkan segala harapan Adrian. Pria itu beranjak dari duduknya. Dia berpindah ke dekat bukaan kolam renang, lalu berdiri di sana.


Lampu-lampu jalanan kota sudah menyala. Begitu juga dengan gedung yang ada di sekitar apartemennya. Cahaya berkelap-kelip itu, membuat mereka seperti jutaan kunang-kunang dalam kegelapan malam.


"Apa yang sedang kamu lakukan Ryanthi? Apakah kamu memikirkanku?" gumam Adrian. Dia membungkukkan badan dengan bertumpu pada kedua lengan. Angin malam mulai menyapanya. Mungkin mereka juga sama seperti Adrian. Ingin mencari teman agar tidak terlalu kesepian.


Adrian kembali membetulkan posisi berdirinya menjadi lebih tegak, sehingga tampaklah dengan jelas postur 180 cm itu.


Sepertinya, ini akan kembali menjadi malam panjang untuknya. Malam itu, dia akan kesepian lagi. Namun, apakah Adrian hanya akan berdiam diri? Haruskah dia mengikuti kata hatinya dan kembali menemui Ryanthi.


Adrian tak peduli, meskipun dia harus memohon kepada gadis itu. Dia hanya ingin menyingkirkan semua rasa gelisah dalam hatinya. Adrian tak ingin terus termenung dalam kegalauan. Bagaimanapun juga, dia tak dapat menghilangkan bayangan Ryanthi dari ingatannya.


Setitik keberanian muncul. Adrian bergegas ke lift, setelah meraih kunci mobil. Dia kembali memacu kendaraan menuju kediaman Surya.


Setelah tiba di sana, Adrian langsung turun. Dia berdiri di depan pintu gerbang, dengan pandangan lurus tertuju ke kamar Ryanthi. "Tunjukkan dirimu, sayang," ucap Adrian pelan.


Sesaat kemudian, muncul siluet di balik jendela yang kini tertutup sempurna oleh tirai, sehingga Adrian tak bisa melihat cahaya lampu di dalam kamar lantai dua itu.


"Ah!" keluhan pendek meluncur dari bibir pria itu.


Hingga beberapa saat, Adrian mematung ditemani udara malam yang dingin. Kali ini, dia tak ingin pulang dengan tangan hampa. Adrian meminta izin masuk kepada penjaga keamanan. Setelah berada di halaman, dia mengambil kerikil, lalu melemparnya tepat mengenai kaca jendela kamar Ryanthi sebanyak dua kali.


Ryanthi yang saat itu sedang termenung, langsung memeriksa ke dekat jendela. Dia menyibakkan tirai. Seketika, pandangannya tertuju pada seraut paras tampan di bawah sana. Adrian tampak mengeluarkan ponsel. Dia menghubungi Ryanthi.


Awalnya, Ryanthi tak berniat menerima panggilan itu. Namun, akhirnya dia mengalah. Terlebih, setelah melihat Adrian berlutut seakan memohon padanya.


"Aku ingin bicara. Kumohon, keluarlah," pinta Adrian. "Aku mohon Ryanthi." Adrian menundukkan kepalanya. "Aku ingin bicara denganmu."


"Ini sudah malam, Adrian. Sebaiknya kamu pulang."


"Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum kamu keluar dan menemuiku secara langsung," tegas Adrian.


Ryanthi tidak bicara lagi. Dia bahkan menutup sambungan telepon, lalu menutup tirai. Hal itu membuat Adrian merasa kian gelisah.


Namun, kegelisahan Adrian seketika sirna, ketika Ryanthi muncul di halaman. Dia berdiri mematung sambil menatap pria itu. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ryanthi pelan.

__ADS_1


Senang rasanya hati Adrian dapat mendengar suara gadis itu lagi. "Aku kemari untuk meminta maaf padamu," jawab Adrian sama pelannya. Tampaklah rona bahagia terpancar dari sepasang mata pria tampan tersebut.


"Bangunlah!" suruh Ryanthi. Dia merasa tak enak melihat seseorang berlutut seperti itu di hadapannya, karena Ryanthi bukanlah siapa-siapa.


Namun, Adrian tidak menuruti perintah Ryanthi. Pria itu hanya menatapnya. "Kamu sungguh-sungguh ingin aku bangkit?" tanyanya meyakinkan.


Ryanthi mengangguk pelan.


Dengan senang hati Adrian segera bangkit. Akan tetapi, rasa senangnya tidak berlangsung lama, karena setelah itu dia melihat Ryanthi langsung berbalik dan berniat kembali ke dalam rumahnya.


"Lebih baik aku berlutut lagi, Ryanthi!" seru Adrian lantang, karena Ryanthi berada cukup jauh darinya.


Ryanthi tertegun dan menoleh. Dia melihat Adrian kembali berlutut. "Bangunlah!" sentak Ryanthi seraya mendekat.


"Tidak! Sebelum kamu memaafkanku!" tolak Adrian tegas.


"Apa yang harus kumaafkan?" Ryanthi terlihat jengkel.


"Kesalahanku," jawab Adrian lesu.


Ryanthi terdiam sejenak. Sesaat kemudian, gadis itu kembali bicara. "Hakmu untuk melakukan apapun yang kamu mau. Jika kemarin-kemarin kamu menciumku dan siang tadi kamu mencium wanita lain, maka seharusnya aku sudah dapat menebak hal seperti itu sejak awal. Aku tidak harus merasa kecewa ataupun terluka. Jadi, tidak ada gunanya berlutut seperti ini di hadapanku. Bangun dan pergilah!"


"Tidak, Ryanthi! Kamu sudah salah paham padaku. Kejadiannya tidak seperti yang kamu kira! Saat itu, aku tidak tahu jika Fiona tiba-tiba menciumku." Adrian membela diri. Dia merasa harus memberikan penjelasan kepada Ryanthi.


"Aku tidak harus menerima penjelasan apapun darimu. Kamu tidak perlu melakukannya. Itu hidupmu, dan aku tidak berhak untuk melarang atau mengatur dalam hal apapun," jawab Ryanthi berpura-pura tegar, padahal dalam hati merasa begitu kecewa.


"Aku tahu kamu marah padaku," ucap Adrian lagi. Dia bangkit, lalu berjalan mendekat kepada Ryanthi.


"Aku tidak harus marah padamu," bantah Ryanthi pelan.


Adrian terus bergerak maju. Setelah jaraknya cukup dekat kepada Ryanthi, dia hendak memegang tangan gadis itu. Akan tetapi, dengan segera Ryanthi menarik serta menyembunyikan tangannya ke belakang.


"Aku mohon, Ryanthi. Jangan lakukan ini padaku." Baru kali ini, Adrian terus-menerus memohon di depan seorang gadis. Namun, dia tak lagi tidak peduli dengan gengsi ataupun harga dirinya. Bagi Adrian, yang paling penting untuk saat ini adalah kata maaf dari Ryanthi.


Ryanthi juga sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan situasi yang mereka hadapi. Namun, apa yang dilihatnya tadi siang, tidak ubahnya dengan ketika dia menemukan Vera di salah satu kamar di rumah Arshan.


Ryanthi tidak menjawab. Dia merasa bimbang, kenapa dirinya harus merasa cemburu. Kenapa juga Adrian bersikeras untuk meminta maaf serta ingin memberikan penjelasan? Apakah Adrian selalu seperti itu dalam memperlakukan seorang wanita?


"Sudah kukatakan bahwa kamu tidak perlu melakukan apapun. Tidak harus meminta maaf atau memberikan penjelasan. Aku tidak peduli," ucap Ryanthi.

__ADS_1


"Jika kamu tidak peduli, lantas kenapa dirimu bersikap seperti ini padaku?"


"Seperti apa?"


"Kamu seakan menjauh dan mengabaikanku."


Ryanthi tidak segera menanggapi. Dia tak tahu harus berkata apa, karena dirinya pun merasa bingung. Jika memang yang dirasakannya merupakan kekecewaan karena cemburu, apakah itu artinya dia sudah jatuh cinta kepada Adrian? Ryanthi segera menggeleng kencang.


"Pergilah, Adrian," ucap Ryanthi. Suaranya terdengar begitu lembut. Dia tidak marah, membentak, atau memaki Adrian seperti kemarin-kemarin.


Akan tetapi, sikap lembut Ryanthi justru membuat Adrian merasa jauh lebih bersalah. Dia sungguh tak enak hati. Adrian lebih menyukai Ryanthi yang selalu bersikap ketus padanya.


"Ryanthi. Ayo maki aku sepuasmu. Katakan apapun yang ingin kamu katakan padaku. Keluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatimu, atau kamu bisa menamparku sekalian. Silakan, aku tidak akan menolak. Akan tetapi, tolong jangan diamkan aku. Jangan bersikap begitu padaku. Ayo marahi aku. Marahi saja sepuasmu." Adrian kembali memohon. Dia benar-benar sudah menanggalkan semua harga dirinya sebagai seorang Adrian Winata di hadapan Ryanthi.


Ryanthi mundur beberapa langkah. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak bisa marah padamu," ucap gadis itu. "Aku tidak berhak melakukan itu," lanjutnya seraya menggeleng kencang.


Melihat Ryanthi yang bergerak mundur, Adrian melangkah maju. Dia bermaksud untuk mendekat.


Akan tetapi, dengan segera Ryanthi menahan gerak pria itu. "Tidak! Jangan dekati aku! Aku hanya ingin sendiri. Pulanglah!" suruhnya


Ryanthi segera berbalik. Gadis itu melangkah dengan cepat meninggalkan Adrian.


"Aku cinta padamu, Ryanthi! Aku jatuh cinta padamu!" seru Adrian lantang. Dia tidak peduli, meskipun suaranya di dengar oleh semua orang, karena memang itulah yang pria tampan tersebut inginkan. Adrian harus membuktikan pada Ryanthi, bahwa dirinya berani mengungkapkan perasaan secara terang-terangan.


Ryanthi menghentikan langkah. Namun, dia tak menoleh, apalagi membalikkan badan.


Sementara, Adrian masih berdiri tidak jauh darinya. Pria itu menunggu Ryanthi berbalik, dan menyambutnya dengan penuh suka cita.


Akan tetapi, Ryanthi tidak juga berbalik ataupun hanya sekadar menoleh padanya. Adrian justru dibuat sangat kecewa oleh gadis itu, karena Ryanthi lebih memilih melanjutkan langkah. Dia masuk meninggalkan Adrian sendirian di sana, tanpa memedulikannya lagi.


Hancur. Adrian tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Gadis itu tidak mau menatapnya lagi. Ryanthi pergi tanpa sempat menoleh padanya.


Dengan langkah gontai, Adrian kembali ke tempat di mana mobilnya terparkir. Dia duduk termenung sesaat di sana. Setelah itu, barulah Adrian menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya meninggalkan tempat itu.


Sementara, Ryanthi terisak menatap kepergian Adrian dari balik tirai jendela kamar. Rasanya begitu menyakitkan. Belum pernah dia begitu sedih, saat menyaksikan kepergian Adrian dari rumahnya. Akan tetapi, kali ini sangat berbeda. Seperti ada ribuan jarum tajam yang tertancap dalam hatinya.


Ryanthi bersandar pada dinding. Tubuh gadis itu ambruk ke lantai. Dia merintih tanpa suara di sudut kamar, sambil memegangi dada yang terasa sesak. Cahaya temaram dari lampu tidur di sana, semakin membuat hatinya terasa semakin kelabu. "Adrian." Ryanthi berucap lirih, di antara isak tangisnya yang memilukan.


Dia tidak bisa. Ryanthi tidak berani mengungkapkan perasaannya terhadap pria itu. Ryanthi terlalu takut akan rasa sakit saat cinta yang dia agungkan kembali melukai hatinya.

__ADS_1


Ryanthi sudah mulai menata hidupnya lagi. Dia tidak ingin semua itu kembali terkoyak. Jika sampai dirinya mengalami hal menyakitkan seperti yang sudah-sudah, maka dia takut tidak akan sanggup untuk berdiri tegak lagi. Ryanthi merasa energinya sudah terkuras habis, hanya untuk mengurusi masalah perasaan.


__ADS_2