Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Melepaskan Belenggu Kepolosan


__ADS_3

"Kamu sudah salah dengan menuduhku yang macam-macam!" Sentak Moedya dengan amarah yang mulai menguasainya.


"Tidak ada tuduhan yang tanpa alasan! Ada seseorang yang melihatmu masih menemui si jaΒ°lang itu!" Tegas Keanu.


"Hhhhhh" Moedya menghempaskan Keanu begitu saja hingga pria itu kembali bersandar pada dinding. Moedya pun membalikan badannya dengan kasar.


"Aku bersumpah tidak akan mengizinkanmu menemui adikku lagi, bajingan tengik!" Umpat Keanu membuat emosi dalam diri Moedya kian tersulut.


Tak terima dengan ucapan keras Keanu, Moedya pun segera melayangkan tinjunya ke arah Keanu hingga pria itu terhuyung. Sementara Keanu makin kalap, kedua tangannya terkepal dan siap membalas pukulan ke arah Moedya.


Salah satu pukulan telak lolos ke rahang kokoh Moedya. Merasa pusing, Moedya pun terdiam untuk sejenak sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa sakit. Sebelum merasa siap, satu pukulan lagi dari Keanu, kini kembali mendarat di hidung Moedya hingga mengeluarkan darah.


Keanu tampaknya masih belum merasa puas. Dia berniat memberikan pukulan bertubi-tubi kepada Moedya, namun tentu saja Moedya pun tak hanya tinggal diam dan pasrah menjadi bulan-bulanan dari amarah calon kakak iparnya.


Ketika pukulan Keanu hendak bersarang lagi di wajahnya, Moedya menghadang laju tangan Keanu dan memelintirnya, lalu satu tendangan lutut Moedya arahkan tepat ke ulu hati Keanu. Keanu lalu terjatuh dan batuk-batuk, ia pun meraba dadanya dan menahan rasa sakit di bagian itu. Tak puas melihat hal itu, Moedya menendang wajah tampan Keanu, lagi dan lagi membuat pria bertubuh jangkung itu terpelanting ke belakang.


Dengan segera Moedya meraih kerah baju Keanu hingga tubuh pria itu sedikit terangkat. Kembali ia melayangkan pukulannya pada wajah Keanu dengan begitu keras. Darah menetes dari bawah mata Keanu yang robek. Wajah tampan itu kini mulai tak terlihat. Darah segar dan luka lebam lah yang tampak dan menghiasi wajah blasterannya.


Keanu terdiam untuk sejenak sambil merasakan rasa sakit di sekujur badannya. Begitu juga dengan Moedya, ia tak kuasa harus melakukan kekerasan yang lebih dari itu kepada sahabatnya sendiri. Ia kembali menurunkan kepalan tangannya yang sudah terangkat dan bersiap untuk ia layangkan kembali kepada pria yang tampak sudah terluka parah itu. Moedya pun menghempaskan dirinya dan bersimpuh di atas lantai, di hadapan Keanu yang sudah tak berdaya.


Kedua pria itupun kini mulai saling menenangkan diri dengan duduk berdampingan seraya menyandarkan tubuh mereka pada dinding. Napas keduanya pun masih terengah-engah. Mereka berdua tampak sangat kelelahan.


Moedya menarik kaki kanan dan menekuk lututnya. Ia pun meletakan tangan kirinya di atas lutut yang ia tekuk. Tatapannya nanar ia layangkan ke depan.


Entah apa yang telah mereka lakukan tadi? Keduanya saling berfikir. Mereka berdua merasa sama-sama bodoh.


"Aku bersumpah jika aku sangat mencintai adikmu," ucap Moedya dengan napas yang masih sedikit terengah-engah.


"Aku mengakui kesalahanku yang pada awalnya menjadikan Arumi sebagai pelarian saja, tapi pada akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padanya ...." aku Moedya.


"Gadis itu begitu energik, cantik, dia bahkan mengingatkanku kepada ibuku. Mereka memiliki karakter dan kebiasaan yang hampir mirip. Aku tidak tahu jika dia akan membuatku jatuh cinta dengan begitu cepat," Moedya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah keluhan pendek. Ia pun melirik ke arah Keanu yang masih terdiam dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Aku mohon, Ken! Jangan bersikap seperti itu padaku," pinta Moedya dengan sangat. "Anggap saja jika adikmu adalah malaikat penolong yang telah menyelamatkan dan membawaku kembali pada cahaya terang. Dia sangat berarti bagiku ...." Moedya menopang keningnya sendiri. Ia terlihat begitu kacau.

__ADS_1


Keanu tidak menjawab. Ia masih tidak ingin bicara sedikit pun. Akan tetapi, ia mulai teringat pada dirinya sendiri. Hubungan yang ia jalin dengan Puspa.


Keanu memiliki niat suci dengan gadis itu. Ia ingin membawa gadis itu kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang normal tanpa sebuah aturan yang salah, yang telah menahannya dalam sebuah kubangan dosa yang teramat besar.


Lalu, apa bedanya ia dan Arumi, Puspa dan Moedya? Nyatanya kisah mereka tak ada bedanya.


Malam itu, Keanu tengah berada di kamarnya ketika Arumi masuk dengan tanpa permisi. Gadis itu terlihat cemas melihat keadaan kakak kesayangannya yang mengalami banyak luka di wajahnya.


"Apa yang terjadi, Kak? Siapa yang telah melakukan ini padamu?" Tanya Arumi dengan begitu cemas. Ia terlihat kebingungan harus melakukan apa. Sesaat kemudian, ia pun mengambil obat luka dari kotak obat yang ada di kamar itu.


"Sini, biar aku yang obati!" Arumi duduk di sebelah Keanu. Ia pun mulai mengobati luka sang kakak yang membuatnya sesekali meringis kesakitan.


"Apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya Arumi lagi.


Keanu tidak menajwab. Ia hanya terpaku menatap Arumi.


"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ujar Keanu dengan datar.


"Jangan katakan apapun pada ibu!" Pesan Keanu.


"Bagaimana mungkin? Luka di wajahmu itu tidak dapat disembunyikan kecuali jika Kakak memakai cadar!" Celoteh Arumi dengan seenaknya.


"Ibu pasti akan bertanya macam-macam padaku!" Tegas Keanu. Ia khawatir jika Ryanthi mengetahui keadaannya saat itu.


"Itu sudah resiko bagimu! Lagipula kenapa Kakak bersikap sok menjadi seorang jagoan?" Arumi tampak jengkel.


Keanu tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan berfikir.


...πŸ•Š πŸ•Š πŸ•Š...


Siang itu, Arumi mampir ke bengkel Moedya. Sayang sekali karena pria itu ternyata tidak ada di sana. Hari ini ia tidak datang ke bengkel.


Arumi pun segera menuju ke rumah Ranum. Sesampainya di sana, ia disambut oleh seorang asisten rumah tangga yang segera mempersilakannya masuk.

__ADS_1


"Den Juna ada di kamarnya. Saya rasa ia sedang beristirahat. Kelihatannya ia tidak enak badan," ucap wanita bertubuh gemuk itu.


Mendengar hal itu, Arumi segera menuju ke kamar Moedya. Setelah mengetuk pintu ia pun masuk. Dilihatnya Moedya tengah duduk termenung di atas kursi dekat jendela.


Arumi tertegun melihat keadaan sang kekasih dengan berbagai luka di wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba ia teringat kepada Keanu.


"Apa kalian melawan penjahat yang sama?"Tanya Arumi dengan tatapan yang terus ia layangkan kepada pria dengan rambut sebahu itu. Kali ini Moedya tidak mengikat rambutnya.


Moedya tidak menjawab. Ia menatap Arumi dengan lekat. Ia pun bangkit dari duduknya kemudian+ melangkah maju dan menghampiri gadis cantik yang tengah berdiri menatapnya.


Disentuhnya wajah Arumi dengan lembut. Moedya pun menyapa joyful orange gadis itu untuk sesaat.


"Jangan katakan jika kalian berdua ...." Arumi tidak melanjutkan kata-katanya. Sorot matanya menyiratkan suatu keresahan yang mendalam.


"Hanya sebuah kesalah pahaman. Jangan khawatir!" Ujar Moedya pelan. Ia pun membalikan badannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela dengan setengah membungkuk. Ia pun menopang keningnya sendiri.


"Bukankah kalian sahabat? Apa yang telah membuat kalian bisa saling melukai seperti itu?" Tanya Arumi lagi. Ia menghampiri Moedya dan berdiri di hadapannya.


Moedya mendongakan kepalanya. Ia menatap Arumi dengan lekat. "Dirimu ...." jawab Moedya dengan lirihnya.


Arumi berdiri terpaku seraya terus menatap pria yang ia cintai. Ia merasa semakin heran karena menjadi penyebab dari perselisihan antara Moedya dan Keanu.


"Me?" Tanya Arumi seraya mengernyitkan keningnya. "Apa yang salah denganku?" Tanyanya lagi. Ia semakin tidak mengerti.


Moedya kembali beranjak dari duduknya. Ia pun menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di hadapannya.


"Keanu terlalu menyayangimu, sementara aku terlalu mencintaimu ...." ucap Moedya pelan.


"Lalu?" Tanya Arumi lagi.


Moedya menangkup wajah cantik itu dengan lembut. "Percayalah padaku! Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu sangat berharga bagiku ...." lirih Moedya pelan. Ia pun merekatkan keningnya pada kening Arumi.


Gadis itupun memejamkan matanya. Ia terlarut dalam suasana yang membuatnya merasa seperti tengah berada dalam lautan bunga, dengan sejuta aroma yang membuatnya hanyut bersama deburan ombak yang terasa begitu menggelora. Mengguncang hatinya dan membuatnya ingin memberontak dari kepolosan yang membelenggunya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2