
Arumi tengah menggosok gigi ketika ponselnya berdering sebanyak dua kali. Gadis itu pun mempercepat aktivitasnya di depan wastafel, dan dengan segera ia menyudahi acara gosok giginya.
Diraihnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di sebelah wastafel keramik berwarna putih itu. Memang sudah menjadi kebiasaan Arumi, ia selalu membawa ponselnya ke dalam kamar mandi.
Diusapnya layar ponsel itu. Tiga panggilan tak terjawab. Dua panggilan dari Edgar dan satu lagi adalah panggilan dari si Mr. Charming.
Arumi tersenyum simpul. Ia meletakan kembali ponselnya. Ia pun melanjutkan aktivitas di dalam kamar mandi itu dengan membasuh mukanya.
Sesaat kemudian, Arumi meraih handuk putih yang tergantung di tempatnya. Setelah itu, barulah ia keluar dari dalam kamar mandi.
Menata bantal dengan rapi, rupanya Arumi sudah bersiap untuk tidur. Arumi membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Rambut itu menutupi punggung dan sebagian pundaknya, yang malam itu hanya berhiaskan tali kecil dari tanktop putihnya.
Arumi pun segera naik ke atas tempat tidur dengan sprei emerald nya. Ia segera bersembunyi di bawah selimut tebal itu dan mulai memejamkan matanya, meskipun sebenarnya rasa kantuk itu belum lah datang untuk menyapanya.
Tidur dengan rasa gelisah, gadis itu hanya membolak-balikan badannya ke kiri dan ke kanan.
Ia pun terus berusaha untuk memejamkan matanya.
Akan tetapi, baru saja ia akan mulai benar-benar memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
Dengan segera, Arumi pun menyibakan kembali selimut tebal itu dan meraih ponsel yang ia letakan di atas meja kecil sebelah tempat tidurnya. Meja berbentuk bulat dengan hiasan sebuah foto keluarga kecilnya.
Adalah sebuah panggilan masuk dari Mr. Charming yang membuat Arumi seketika tersenyum dengan lengkungan yang begitu sempurna. Ia pun segera menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
"Sudah tidur?" terdengar suara khas seorang pria dewasa dari seberang sana. Suara yang sudah mulai akrab di telinga Arumi. Suara yang tiba-tiba menghadirkan sebuah desiran angin di dalam hatinya.
"Tidak ... eh maksudku ... belum ...." selalu, Arumi kembali merasa grogi. Rasanya ia ingin sekali mendepak kebodohannya, ketika harus di hadapkan pada pria yang satu ini.
"Ada apa?" tanya Arumi. Ia berusaha untuk bersikap tenang.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan jika yang membalas pesanku tadi sore bukanlah robot," celoteh Moedya dengan tenangnya.
Arumi tertawa pelan. Moedya sungguh pria yang unik menurutnya. Ternyata selain penampilannya, gaya bicaranya pun memang terasa begitu 'sesuatu' baginya.
"Jadi?" tanya Arumi.
"Jadi apanya?" Moedya balik bertanya.
"Aku tidak berbohong, kan?" jawab Arumi. "Ini nomorku dan aku sendiri yang sedang berbicara padamu. Aku bukan robot buatan Jepang," lanjut Arumi. Ia masih mencoba untuk terkesan santai saat berbicara dengan Moedya.
"Namamu Arumi?" tanya Moedya lagi.
"Ya. Ada masalah dengan nama itu?" Arumi balik bertanya.
Moedya tertawa pelan. "Tentu saja tidak. Itu nama yang sangat cantik," puji Moedya. "Jadi ... apa nama panggilanmu?" tanya Moedya lagi.
Arumi terdiam untuk sejenak.
"Terserah kamu. Arum atau Rumi atau ...." Arumi menggumam pelan. Ia kembali terdiam.
"Atau apa?" tanya Moedya lagi dengan nada bicara yang terdengar sedikit janggal di telinga Arumi.
"Entahlah. Aku lupa mau bicara apa," Arumi berkelit. Ia berkali-kali menepuk keningnya sendiri karena kebodohannya.
__ADS_1
Suasana hening untuk sejenak. Rasa canggung jelas masih menyelimuti mereka berdua. Terlebih dengan apa yang dirasakan oleh Arumi. Ia begitu menjadi salah tingkah meskipun saat itu, Moedya tidak ada di hadapannya.
Ada apa dengan pria itu? Arumi bahkan belum terlalu mengenalnya. Akan tetapi, pria itu telah cukup menyita perhatiannya.
"Apa yang kamu sukai Arumi?" terdengar kembali suara itu memecah kebisuan diantara mereka berdua.
"Dalam hal apa?" tanya Arumi.
"Apa saja. Terserah kamu," jawab Moedya.
Arumi berfikir untuk sejenak. Ia bingung harus menjawab apa, namun pada akhirnya ia teringat akan sesuatu.
"Aku ... aku menyukai alam bebas. Aku menyukai langit, angin, sekawanan burung yang terbang di angkasa ... aku menyukai matahri terbenam dan juga langit malam ...." Arumi terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia lalu tertawa pelan. "Aku rasa itu terlalu berlebihan?" gumam gadis dengan lesung pipi itu.
"Tidak juga," jawab Moedya dengan segera.
"Aku harap ... kamu juga menyukai danau," ucap Moedya dengan suara yang setengah berbisik.
Arumi tertawa pelan. "Tentu," jawabnya. "Kamu sendiri? Apa yang kamu sukai?" Arumi balik bertanya.
Moedya kembali terdiam. Yang terdengar darinya, hanyalah berupa suara ******* napasnya saja.
Arumi pun ikut terdiam. Ia masih menunggu apa yang akan Moedya katakan padanya.
"Aku menyukai wanita cantik. Itu sudah pasti jawaban yang paling tepat," jawab Moedya dengan nada bicaranya yang tenang. "Apakah aku harus meminta izin kepada Keanu jika ingin mengajakmu pergi?" tanyanya.
Seketika Arumi menghempaskan tubuhnya ke atas bantal yang empuk itu. Senyum lebar pun terlukis di wajahnya. Kenapa ia begitu berbunga-bunga saat mendengar pertanyaan seperti itu?
"Kamu takut dengan kakakku?" tanya Arumi dengan nada setengah meledek.
"Tentu saja tidak!" bantah Moedya. "Tetapi Keanu adalah temanku, dan aku ... aku harap dia mengizinkanku untuk mengajakmu mencari angin."
"Jika kamu memintanya dengan baik-baik ... aku rasa ...." Arumi tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Sesaat ia berfikir. Ia seolah-olah begitu berharap jika Moedya akan mengajaknya pergi berdua.
"Maksudku ... kamu pasti sudah mengenal kakakku dengan baik, bukan?" jelas Arumi. Ia harus tetap menjaga image nya di depan Moedya.
Moedya hanya menggumam pelan. Ia pun tersenyum simpul. Ia tahu jika Arumi ternyata menyimpan perhatian lebih kepadanya.
Malam ini, Moedya tengah berada di kamarnya sendiri. Kamar dengan nuansa dan pernak-pernik yang sangat menampilkan jati diri Moedya sebagai seseorang yang eksentrik.
Ranum, memintanya untuk tidur di rumah malam ini. Ia menjadi sedikit manja karena efek kue ulang tahun yang diberikan Moedya kepadanya.
Malam terus merayap menuju puncak heningnya. Di luar sana pun seolah tidak ada kehidupan sama sekali. Sementara Moedya masih asik berdiri sendiri di lantai tiga rumahnya.
Biasanya, Moedya tidur di bengkel. Ia pun memiliki dua orang teman yang membantunya disana. Mereka juga kerap kali tidur di bengkelnya, karena itu biasanya pada jam seperti ini, Moedya masih asik berkumpul dengan teman-temannya.
Untuk sejenak, Moedya teringat kepada mendiang sang ayah yang begitu ia sayangi. Ia sangat merindukan pria yang dulu memiliki gaya rambut yang sama dengannya.
Moedya memang jauh lebih dekat dengan Arya jika dibandingkan kepada Ranum. Sikap bijaksana dan tenang yang dimiliki Arya, lebih dapat ia terima daripada sikap keras Ranum kepadanya.
Namun, itu tidak berarti jika ia tidak merasa dekat dengan sang ibu. Sebagai seorang anak tunggal, Moedya sudah diwanti-wanti oleh Arya untuk selalu dapat menjaga Ranum dengan baik.
Entah sudah berapa lama ia tidak berziarah ke makam sang ayah. Kesibukannya di bengkel, membuatnya lupa akan tugas baktinya itu.
__ADS_1
"Juna ...." terdengar suara dari arah belakang.
Moedya pun menoleh. Ia tersenyum simpul kepada wanita cantik yang tengah berjalan kearahnya itu. Ranum mengatupkan bagian atas kimononya karena udara yang cukup dingin di atas sana.
"Ibu? Kenapa belum tidur?" tanya Moedya. Ia terus melayangkan tatapannya kepada sang ibu yang kini berdiri di sebelahnya.
"Ibu tidak bisa tidur," jawab Ranum. Ia balik menatap putra semata wayangnya yang sedari tadi masih menatapnya.
"Kenapa penampilanmu begitu mirip dengan mendiang ayahmu?" tanya Ranum. Ia kemudian mengalihkan tatapannya lurus ke depan.
"Karena aku ingin mengikuti jejak ayah yang telah berhasil mendapatkan wanita hebat seperti Ibu," celoteh Moedya. Ia seakan menjawab pertanyaan Ranum dengan seenaknya.
Ranum tertawa pelan. Ia melirik kembali putra sulungnya itu dengan tatapan mata indahnya. Sebuah kerlingan manis yang dahulu kala selalu ia tujukan untuk Arya.
"Ayahmu pernah mengatakan, jika ia tidak akan pernah menemukan wanita lain seperti Ibu," jawab Ranum.
Moedya yang saat itu masih menatap sang ibu pun hanya dapat tersenyum simpul. Memang benar adanya, selama ini ia belum pernah menemukan karakter Ranum dalam diri gadis manapun yang pernah dekat dengannya.
"Bagaimana jika ternyata aku menemukannya?" tantang Moedya.
Ranum kembali tertawa pelan. Ia kembali menatap putranya itu.
"Bawa dia ke hadapan Ibu. Ibu akan langsung menjadikannya sebagai menantu," jawab Ranum dengan sangat yakin.
Moedya berdecak kagum mendengar jawaban lugas dari sang ibu. Ia pun tertawa pelan.
"Aku tidak tahu apakah itu sebuah tekanan atau motivasi untukku," ujarnya dengan sisa-sisa tawa di wajahnya.
"Itu tantangan untukmu!" jawab Ranum. "Ibu yakin jika kamu tidak akan merasa tertekan oleh hal sederhana seperti itu."
"Menurut Ibu, aku tidak akan pernah merasa terbebani oleh perasaanku sendiri?" tanya Moedya.
Ranum menatap lekat pria yang merupakan duplikat dari sang suami. Ia dapat merasakan kehadiran Arya dengan sangat nyata, dalam diri putra semata wayangnya itu. Ia yakin jika Moedya pun pasti akan dapat menjalani hidupnya dengan bijaksana seperti halnya Arya.
Terlepas dari semua 'kenakalan' yang telah mereka lakukan semasa muda, namun ada banyak makna hidup yang mereka dapatkan dari itu semua.
"Jangan jadikan perasaan cinta sebagai suatu beban," pesan Ranum dengan senyum keibuannya.
Sesaat kemudian, Ranum melanjutkan kata-katanya. "Ayahmu adalah pria yang luar biasa. Ia hidup dengan caranya yang sangat sederhana. Ia tidak suka mempersulit sesuatu. Pemikirannya terlalu lurus.
Namun, harga dirinya begitu ia junjung tinggi. Ia selalu merasa jika seorang pria tidak layak untuk menerima pemberian dari seorang wanita, dan kami pernah bertengkar hebat karena hal seperti itu," Ranum tersenyum kelu kala mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Arya waktu itu.
"Apakah Ibu terlalu berkuasa atas diri ayah?" pertanyaan yang terdengar sangat berat dari mulut seorang Moedya.
Ranum tertawa pelan. Akan tetapi, ada rona kegetiran dalam gerak bibirnya. "Ibu terbiasa untuk hidup mandiri. Ibu mengatur segalanya seorang diri. Terkadang Ibu lupa jika Ibu adalah seorang wanita. Namun, semua berubah setelah Ibu bertemu kembali dengan ayahmu ...."
"Ayahmu seorang kutu buku. Ia sangat pintar, ia terlihat sangat dewasa ... dan Ibu ... Ibu sangat merindukannya saat ini ...." Ranum menundukan wajahnya.
Sepuluh tahun sudah ia kembali menjalani kesendirian dalam hidupnya. Sepeninggal Arya, Ranum lebih fokus kepada kariernya. Ia pun berhasil membesarkan Moedya seorang diri, hingga putra semata wayangnya itu kini telah tumbuh dengan daya tarik yang luar biasa, yang kian menyerupai sang ayah dengan segala keunikan dalam dirinya.
Moedya memang bukanlah Arya. Mereka memang serupa tapi tak sama. Moedya pun harus hidup dengan karakternya sendiri meskipun kenyataanya ia sangat mengidolakan mendiang ayahnya.
Moedya pun seharusnya memiliki kisah hidup yang jauh lebih baik dari Arya, karena ia memiliki seorang ibu yang akan selalu berada di dekatnya, mendukungnya dengan segala doa dan harapan yang terbaik untuknya. Tentu saja, meskipun Ranum bukanlah seorang ibu yang lembut seperti Ryanthi.
__ADS_1