
Ryanthi berdiri di depan pusara dengan nama Surya Cipto Wijaya. Makam yang berdampingan dengan makam milik Farida itu terlihat sangat terawat.
Tak ada kata yang keluar dari bibir Ryanthi. Ia hanya terpaku dengan tatapan nanarnya.
Kedua orang tuanya kini telah berada dalam pelukan Yang Maha Kuasa. Satu persatu, orang yang ia cintai pergi meninggalkannya. Betapa pahitnya hidup ini, bagi Ryanthi. Akan tetapi, itu bukan akhir dari segalanya.
Baru saja ia kembali tersenyum lebar atas kepulangan Arumi, kini ia harus kembali dengan wajah sendunya demi meratapi kepergian Adrian.
Sekali lagi. Ketika ia mendapatkan hal baru, maka ia akan kehilangan sesuatu yang telah lama ia miliki.
Ryanthi masih terdiam. Ia seakan merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap lekat kedua pusara milik orang tuanya.
Ada rasa sesal dalam hati Ryanthi, karena pusara Adrian berada jauh darinya. Namun, hal itu sudah menjadi keinginan dari sang suami.
Ryanthi berjongkok diantara kedua pusara itu. Perasaan haru, kian menyelimuti relung hatinya.
"Ayah, ibu ... lihatlah aku sekarang. Hatiku kembali meratapi kepergian orang yang sangat aku cintai," ucap Ryanthi dengan lirihnya.
"Ayah ... sahabatmu Adrian, telah pergi meninggalkanku. Ia bahkan pergi tanpa berpamitan sama sekali kepadaku. Aku tidak sempat merasakan tanggannya yang hangat."
Ryanthi kemudian menoleh kepada pusara milik Farida.
"Ibu tahu kenapa Adrian melakukan hal itu padaku? Dia sama seperti ibu. Aku tahu jika kalian berdua pasti tidak ingin aku melihat kalian kesakitan, bukan? Tetapi kenapa?"
"Aku bukan anak kecil yang akan merasa takut memghadapi kematian, hanya karena melihat seseorang yang sedang meregang nyawa. Aku pasti akan merasakan hal yang sama, dan mungkin saja aku pun akan melakukann hal itu pada kedua buah hatiku," Ryanthi tak dapat menahan rasa haru dalam hatikya. Air matanya luruh dalam tangis kepedihannya.
Melihat hal itu, Vera pun segera berjongkok di sebelah Ryanthi. Ia memegangi pusara milik Surya dengan rasa haru yang sama.
"Aku juga sangat merindukan papa. Meskipun dia bukan ayah kandungku, tapi dia adalah ayah terbaik yang pernah aku miliki," ucap Vera. Ia melepas kaca mata hitamnya. Ia juga mulai menyeka sudut matanya.
"Kamu jauh lebih beruntung dariku, Ver. Aku bahkan tidak memiliki banyak waktu dengan ayahku. Akan tetapi, aku merasa sangat bahagia karena Tuhan memberiku kesempatan untuk dapat memeluknya terlebih dahulu," Ryanthi pun menundukan wajahnya. Ia menatap pusara sang ayah untuk beberapa saat lamanya.
"Tidak lama lagi, namaku akan berada diantara mereka. Tetapi, sebenarnya aku ingin berada di dekat Adrian. Aku ingin menemaninya disana ...." Ryanthi tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. Yang terdengar darinya hanyalah sebuah helaan napas panjang dan dalam. Ia tengah berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya.
Ryanthi teringat kepada Arumi. Gadis itu sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak menangis dan terus bersedih.
Vera kemudian memegangi pundak Ryanthi. Ia seakan mengingatkan wanita itu untuk tidak kembali larut dalam kesedihannya.
__ADS_1
"Aku sudah berjanji kepada Arumi untuk tidak
membiarkanmu menangis disini," ucap Vera.
"Tenang saja, Ver! Aku tidak akan terlalu lama menangis, meskipun ... meskipun rasanya begitu menyakitkan untukku. Aku belum siap untuk kehilangan Adrian," Ryanthi kembali mencoba untuk menahan rintihan tangisnya.
"Tidak akan ada satu orang pun yang merasa siap
untuk kehilangan orang yang dicintainya. Tidak aku, kamu, atau bahkan orang terkuat sekalipun," ujar Vera dengan kata-kata yang sangat bijaksana.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang akan ku lakukan, seandainya itu terjadi padaku. Kehilangan papa telah membuatku merasa seperti melihat kiamat. Mamaku juga sekarang sudah mulai sakit-sakitan. Karena itu, aku selalu berusaha untuk tetap berada di dekatnya. Aku tidak ingin melewatkan kebersamaan kami berdua," tutur Vera dengan pelan.
"Memang seharusnya seperti itu, Ver," gumam Ryanthi. Ia kemudian melirik wanita bertubuh semampai itu.
"Aku melewati setiap hariku bersama ibuku. Setiap saat, bahkan setiap detik aku melihat wajah itu. Aku yang selalu menyeka kulitnya yang mulai keriput ketika beliau sakit. Aku yang menyuapinya, aku bahkan berjuang untuk kesembuhannya. Akan tetapi, aku justru tidak menemaninya disaat-saat terakhirnya. Itu sesuatu yang sangat konyol, kan?" sesal Ryanthi.
"Akan tetapi, aku tidak harus menyesali apa yang sudah terjadi. Semakin aku menyesalinya, maka kepedihan itu hanya akan terus menggerogoti kekuatan dalam diriku. Aku tidak ingin jika hal itu terjadi padaku," ucap Ryanthi seraya bangkit.
Diusapnya sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Ia pun mencoba untuk kembali tersenyum.
"Aku tidak harus merasa bersedih. Saat ini, aku memiliki lebih banyak orang yang menyayangiku. Ada keluarga yang mengelilingiku dan tidak pernah membiarkanku sendiri," Ryanthi mencoba untuk tersenyum meskipun hanya sebuah senyuman kelu.
Kekagumannya kepada seorang Ryanthi, memang tidak akan pernah habis. Vera sangat berterima kasih kepada wanita itu, karena telah mengajarkan dirinya, bagaimana caranya untuk bersikap jauh lebih bijaksana.
Hari terus merayap. Matahari pun mulai beranjak ke arah barat. Ia mungkin ingin segera beristirahat, karena merasa lelah dengan sinarnya yang terlalu terik, siang tadi.
Ryanthi dan Vera pun memutuskan untuk segera pulang.
Sementara itu, Moedya pun baru keluar dari dalam toko ketika ia berpapasan dengan Ryanthi disana.
Moedya segera memberi hormat kepada Ryanthi yang baru berpamitan dengan Vera. Ia mengangguk sopan seraya tersenyum dengan gayanya yang khas.
Ryanthi pun menatap kearah Moedya. Ia sudah mengetahui siapa pria yang berjaket kulit dengan rambut man bun itu. Ryanthi pernah melihatnya ketika Moedya menjemput Arumi tempo hari.
"Nak!" panggil Ryanthi dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Ia menatap lekat pria dengan celana jeans sobek-sobek itu.
Moedya segera menoleh. Ia mengurungkan niatnya untuk memakai helmnya.
__ADS_1
"Saya?" Moedya menunjuk dirinya sendiri. Ia tidak yakin jika dirinya yang Ryanthi maksud. Akan tetapi, tidak ada siapapun disana pada saat itu selain mereka berdua.
"Jam berapa sekarang?" tanya Ryanthi. Ia mencoba untuk berbasa-basi kepada pria dengan penampilan eksentrik itu.
Moedya melihat jam tangan hitam yang melingkar diantara gelang-gelang yang dipakainya.
"Pukul lima belas tiga puluh," jawab Moedya dengan ramah.
"Oh ..." Ryanthi pun tersenyum seraya mengangguk pelan, namun ia tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Moedya.
Ryanthi seakan tidak ingin melewatkan dirinya untuk menatap pria berambut gondrong itu. Apalagi ia tahu jika Moedya baru saja keluar dari dalam toko.
Pria muda itu memang tampan, meskipun penampilannya tidak serapi Keanu ataupun Edgar.
Ryanthi juga tidak menyangka jika Arumi akan tertarik dengan pria seperti itu, namum Ryanthi yakin jika Arumi pasti melihat sesuatu yang belum dapat ia lihat dari luar.
Beberapa saat kemudian, Moedya telah berlalu dari tempat itu. Sementara Ryanthi masih terpaku disana, apalagi tidak berselang lama Keanu datang untuk menjemput dirinya dan juga Arumi.
"Selamat sore, Bu," sapa Keanu seraya mencium pipi Ryanthi dengan hangat.
"Sore, Sayang," balas Ryanthi dengan senyum keibuannya. "Darimana?" tanya wanita itu.
"Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Masalah di pabrik, Bu," jawab Keanu dengan kalemnya.
"Ada masalah serius, kah?" tanya Ryanthi dengan sedikit cemas.
"Tidak. Tidak terlalu serius," jawab Keanu dengan segera. Ia terlihat tengah menyembunyikan sesuatu dari Ryanthi.
Ryanthi seakan mengetahui hal itu. Ia dapat melihatnya dari raut muka putra sulungnya yang terlihat tidak begitu berseri seperti biasanya.
"Ayo, kita masuk dulu!" ajak Ryanthi seraya menggandeng lengan Keanu untuk masuk ke dalam toko.
Keanu jarang sekali masuk ke dalam toko itu. Kalaupun sekalinya menjemput Ryanthi, maka ia hanya akan menunggu di luar saja, di dalam mobilnya. Karena itu, ketika ia masuk kesana, ia langsung menjadi pusat perhatian para karyawan toko itu.
Postur dengan tinggi hampir 180 cm itu memang terlihat begitu menjulang, terlebih pria dua puluh tujuh tahun itu juga memiliki bentuk tubuh yang tegap. Keanu memang kerap berolahraga bersama Adrian dulu. Adrian juga lah yang telah mengajarinya untuk berenang. Dia memang sangat dekat dengan sang ayah.
Kepergian Adrian telah membuatnya begitu terpukul. Akan tetapi, sebagai seorang pria yang bertanggung jawab, ia harus tetap dapat menjaga luapan emosi dalam dirinya, terlebih dia adalah pengganti Adrian sebagai kepala keluarga.
__ADS_1
Kesedihan itu biarlah dipendamnya sendiri. Keanu adalah seorang pria, dan pantang baginya untuk menunjukan sisi lemahnya di depan siapapun juga.