Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH : Putus


__ADS_3

Adrian meletakan gitarnya di sebelah sofa bed. Tiba-tiba, dia merasakan tak enak badan. Kepalanya pusing dan terasa berputar. Pria itu memaksakan berdiri, lalu melangkah keluar. Meski agak sempoyongan, dia berusaha menuruni undakan anak tangga menuju lantai satu.


Setibanya di dalam kamar, Adrian langsung mengempaskan tubuh ke tempat tidur. Dia tak sanggup mengambil obat di kotak P3K. Kepalanya begitu sakit. Tubuh pria itu pun mulai terasa demam.


Perlahan Adrian mencoba memejamkan mata, tapi tidak berhasil. Rasa tidak nyaman itu malah semakin hebat. Adrian meraih ponsel, lalu menghubungi seseorang. Rupanya, dia menelepon Ryanthi.


"Adrian?" sapa Ryanthi, yang seakan tak percaya bahwa pria itu menghubunginya.


"Ry-an-thi ...."


"Adrian? Apa kamu baik-baik saja?" Ryanthi mulai cemas.


"A-aku ...."


Ryanthi yang sudah bersiap tidur, langsung berlari keluar kamar. Dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Gadis itu terus berlari keluar dari rumah. Tak ingin diam menunggu taksi melintas, Ryanthi berlari sekencang mungkin menyusuri trotoar. Dia seperti tak memikirkan apapun, selain ingi segera tiba di apartemen Adrian.


Namun, lama-kelamaan Ryanthi merasa lelah. Gadis itu terengah-engah sambil mengedarkan pandangan ke jalan raya. Beruntung ada taksi yang melintas. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghentikan taksi tadi.


Setelah tiba di halaman parkir apartemen tempat tinggal Adrian, Ryanthi bergegas turun. Dia hampir lupa membayar ongkos taksi. Dia juga tak membawa uang sepeser pun. Akhirnya, Ryanthi memberikan anting-anting yang dia kenakan.


Beberapa saat kemudian, Ryanthi telah berada di ruang apartemen Adrian. Tempat pertama yang dia tuju adalah kamar sang kekasih. Di sana, Ryanthi mendapati Adrian terbaring dalam posisi tak beraturan.


"Adrian?" Ryanthi mendekat, lalu menyentuh pundak pria itu.


"Rya-n-thi," ucap Adrian tersengal. Dia begitu lemah.


"Kamu kenapa?" tanya Ryanthi. Nalurinya segera bekerja. Dia menyentuh kening Adrian. "Astaga! Kamu demam."


Ryanthi ke sana-kemari mencari kotak obat. Setelah menemukannya, dia kembali ke dekat Adrian. Ryanthi segera mengambil air minum. Dia memaksa Adrian minum obat. Setelah itu, Ryanthi menempelkan plester kompres di kening Adrian.


"Aku tidak mau memakai ini," tolak Adrian sambil memegangi plester kompresnya.


"Diam! Siapa suruh ada di kotak obatmu." Ryanthi menyelimuti seluruh tubuh Adrian. "Tidurlah," suruhnya sebelum beranjak keluar kamar. Dia menuju bukaan ruang tamu.


Pemandangan malam sangat indah jika dilihat dari sana. Lampu berkelap-kelip bagaikan sedang menari-nari. Menghibur malam yang kelam. Sudah terlalu larut untuk pulang. Sepertinya, Ryanthi harus menginap di sana.


Semilir angin malam mulai menyapa, dari bukaan kolam renang. Ryanthi menekuk lutut agar tubuhnya tidak terlalu kedinginan. Dia mencoba memejamkan mata, hingga akhirnya terlelap.


......................


Ryanthi terbangun dengan perasaan aneh, karena dirinya tak lagi tidur di sofa ruang tamu. Dia sudah berada di kamar. Di tempat tidur Adrian. Gadis itu melihat sekeliling. Dia tak mendapati Adrian. Ryanthi hanya menemukan roti sandwich dan jus alpukat, karena Adrian sudah tahu bahwa dia tak menyukai jus strawberry.


Alih-alih mencicipi makanan yang tersedia, Ryanthi justru lebih memilih ke kamar mandi. Sesaat kemudian, gadis itu kembali ke kamar. Dia melihat jam digital. Angka yang tertera di sana, sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

__ADS_1


"Ah, aku bangun kesiangan," keluhnya pelan. Baru saja Ryanthi akan berbalik, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Ryanthi tahu benar aroma tubuh itu. Dia berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku, Adrian," pinta Ryanthi.


Namun, Adrian tidak menggubrisnya. Dia bahkan memeluk sambil menciumi pundak Ryanthi.


"Aku harus segera pulang." Ryanthi berusaha melepaskan pelukan Adrian.


Namun, pria itu justru semakin mengencangkan dekapannya. "Tidak! Jangan pergi," bisiknya lembut.


Ryanthi terdiam sesaat. Sebenarnya, dia tidak kuasa menolak perlakuan Adrian, karena dirinya juga sangat merindukan hal itu. Namun, ada dorongan kuat yang membuat Ryanthi merasa harus tetap dalam jalur yang sudah dirinya lalui. "Lepaskan aku, Adrian."


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke manapun," tolak Adrian. "Mari kita bicara sebentar secara baik-baik," ajaknya.


Ryanthi menarik napas panjang. "Tidak perlu," tolak gadis itu.


"Harus!" jawab Adrian tegas. "Aku janji tidak akan memarahimu lagi. Aku sangat merindukanmu," lanjutnya seraya menciumi leher Ryanthi, hingga membuatnya merinding.


Perlahan Adrian melepaskan pelukannya.


"Makanlah dulu sarapanmu. Setelah itu, aku ingin kita bicara serius. Aku janji, tak ada marah-marah lagi."


"Bagaimana keadaanmu? Semalam kamu demam tinggi."


Adrian tersenyum. Dia merasa senang karena Ryanthi masih sangat peduli padanya. Itu suatu pertanda, bahwa Ryanthi pasti akan segera memaafkan serta kembali luluh.


"Kamu terdengar sangat mengkhawatirkan semalam. Jadi, aku ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya, karena Adrian memegang pundaknya. Pria itu membalikan posisi Ryanthi sehingga mereka menjadi saling berhadapan. Adrian mengecup lembut kening Ryanthi.


Ryanthi sempat terhanyut oleh sikap lembut penuh rayuan dari Adrian. Dia memejamkan mata. Namun, sesaat kemudian gadis itu tersadar. Ryanthi bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Adrian seorang diri.


"Ryanthi!" panggil Adrian, saat Ryanthi meninggalkannya di dalam kamar. Adrian segera mengejar gadis itu keluar. Jika telat sebentar saja, maka Ryanthi pasti sudah masuk ke lift.


Adrian bergerak cepat menahan Ryanthi yang hendak menekan tombol lift.


"Jangan pergi dulu. Mari kita bicara sebentar," cegahnya dengan wajah penuh harap.


Ryanthi membuang muka. Dia tidak ingin menatap paras tampan Adrian terlalu lama. "Sebaiknya kamu istirahat agar cepat sembuh." Ryanthi menolak halus ajakan Adrian.


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah merasa sehat sekarang," jawab Adrian meyakinkan Ryanthi. Dia memegangi tangan gadis itu, agar tak pergi ke manapun. Adrian menariknya agar menjauh dari lift.


"Aku harus segera pulang, Adrian," tolak Ryanthi. Dia terus berusaha menghindari pria yang teramat dirinya cintai. Makin lama berdekatan dengan Adrian, maka akan semakin sulit bagi Ryanthi untuk melepaskan diri dari jerat asmara yang pria itu tebarkan padanya.


"Aku ingin kita bicara sebentar saja. Aku akan mengikuti apapun maumu. Keinginanmu. Semuanya. Namun, izinkan aku untuk meminta maaf terlebih dahulu," ucap Adrian setengah memohon.


Ryanthi sebenarnya tidak tega dengan permintaan pria yang sangat dicintainya itu. Dia memberi satu kesempatan kepada Adrian untuk berbicara. "Baiklah. Namun, sebentar saja," balasnya pelan.

__ADS_1


Adrian tersenyum senang. Dia menuntun Rynthi agar duduk di sofa.


Ryanthi mengikuti kemauan Adrian. Namun, alangkah terkejut gadis itu, karena Adrian malah duduk bersimpuh di hadapannya. Pria itu meletakan kedua tangan serta dagu di pangkuan Ryanthi. Adrian menatap gadis cantik tersebut dengan penuh cinta dan harapan, agar hubungan mereka kembali membaik.


"Terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan semalam. Aku senang, karena kau masih sangat peduli padaku," ucapnya mengawali pembicaraan. Namun, Ryanthi tidak tidak menanggapi. Dia hanya menatap Adrian dengan tatapan sendu penuh penyesalan.


"Aku ingin meminta maaf, karena malam itu sudah terlalu kasar padamu. Akan tetapi, tolong mengertilah dengan keadaanku. Aku bersikap seperti itu, karena tidak ingin jauh darimu," lanjutnya. Sepasang mata Adrian berbinar, saat menatap wajah cantik yang sangat dia rindukan.


"Iya. Aku tahu," jawab Ryanthi singkat dan pelan.


"Aku sudah memutuskan. Jika memang kamu tetap ingin melanjutkan kuliah di Perancis, maka aku akan mengizinkanmu pergi. Aku bisa mengunjungimu di sana kapan-kapan. Iya, kan?" Adrian tersenyum lembut saat membujuk Ryanthi. Namun, lagi-lagi Ryanthi hanya diam.


"Aku tahu jika kau sudah memutuskan, maka tidak akan ada yang bisa menggoyahkan tekadmu itu. Jadi, daripada kita terus bertengkar dan aku harus kehilanganmu, maka aku mengalah, Ryanthi. Aku benar-benar mengalah padamu." Wajah Adrian terlihat berseri. Tidak tampak tanda-tanda bahwa semalam dia mengalami demam tinggi, hingga membuat Ryanthi cemas.


Ryanthi terus menatapnya. Tanpa sadar dia menyentuh lembut kening dan pipi Adrian.


"Kamu benar-benar sudah sembuh?" tanyanya setengah bergumam. Adrian tersenyum, lalu mengangguk.


"Syukurlah. Dengan begitu, aku bisa pulang tanpa merasa khawatir akan keadaanmu," ucap Ryanthi seraya beranjak dari duduknya.


Sikap Ryanthi yang demikian, tentu membuat Adrian merasa heran. Dia ikut berdiri. "Ryanthi! Kamu dengar apa yang aku katakan tadi?" tanyanya.


Ryanthi tidak menjawab. Dia seperti orang yang sedang kebingungan. Ryanthi tidak tahu harus apa dan bagaimana. Gadia itu hanya berdiri dan sesekali menoleh kepada Adrian, tapi tidak bicara sedikit pun.


"Ryanthi!" panggil Adrian sekali lagi dengan suara agak keras. Suara Adrian berhasil menyadarkan Ryanthi.


"Aku minta maaf, tapi ... aku tidak bisa," tolak Ryanthi lirih.


Adrian mengernyitkan keningnya. Dia tak mengerti dengan gadis itu. Adrian lalu menghampiri dan meraih tangannya. "Apa maksudmu tidak bisa?" tanya Adrian meyakinkan kata-kata Ryanthi.


Ryanthi menatap Adrian. Dia seperti ingin mengeluarkan semua unek-unek, yang selama beberapa hari ini disimpan sendirian. Meskipun terlihat sangat berat baginya untuk bicara, tapi pada akhirnya Ryanthi harus tetap mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku tidak bisa, dan ... aku minta maaf.


Bukan hal yang penting lagi bagiku kamu akan memberi izin atau tidak untuk pergi, karena aku juga sudah mengambil keputusan. Keputusan yang terbaik bagi kita berdua," jawab Ryanthi.


Adrian tertegun dan menatap Ryanthi dengan perasaan aneh. Dia penasaran sekaligus khawatir dengan keputusan yang sudah diambil gadis itu. Namun, Adrian mencoba untuk tetap berpikir positif dan tidak terlalu cepat menerka-nerka.


"Baiklah. Aku siap mendengarkan apapun keputusanmu," ujar Adrian dengan sikap tenangnya. Dia masih berusaha untuk tersenyum manis di depan Ryanthi. Adrian berharap keputusan yang diambil gadis itu benar-benar sesuatu yang tepat.


Ryanthi berdiri mematung. Dia juga tak mengalihkan pandangannya dari wajah tampan yang ada di hadapannya. Ryanthi memang tidak ingin berpaling, meskipun itulah yang harus dia lakukan.


"Adrian ... aku ... aku ingin agar kita putus saja ...." Akhirnya, terlontar sudah kata-kata menakutkan itu dari mulut Ryanthi. Keputusan yang tentu saja telah membuat Adrian seakan kehilangan nyawa secara tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2