Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH TUJUH : Menumbuhkan Keyakinan


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan pagi, Adrian datang menjemput Ryanthi. Rencananya, dia akan menemani gadis itu mengunjungi makam Farida.


Setelah tiba di tempat yang dituju, Ryanthi dan Adrian berjalan bersama ke dekat pusara ibunda Ryanthi. Kondisinya cukup memprihatinkan.


Makam itu belum sempat dipindahkan ke tempat pemakaman keluarga. Karena Ryanthi dan Surya tidak rutin berkunjung, sehingga mereka tidak mengetahui bahwa ada banyak rumput liar yang tumbuh di sekitar tempat peristirahatan terakir Farida.


Setelah menghabiskan beberapa saat di sana, Ryanthi mengajak Adrian pulang. Berhubung, saat itu cuaca juga sudah mulai panas. Akan tetapi, selama dalam perjalanan pulang, Ryanthi terus tampak murung. Hal itu membuat Adrian berinisiatif mengajaknya ke tempat lain.


Adrian membawa Ryanthi ke sebuah mall. Di sana, dia mengikuti kekasihnya ke manapun yang gadis itu inginkan. Termasuk, ketika masuk ke salah satu toko perhiasan.


"Lihatlah. Cantik sekali cincin itu," tunjuk Ryanthi pada cincin bertahtakan berlian asli.


"Sejak kapan kamu menyukai perhiasan?" tanya Adrian heran, saat Ryanthi meminta penjaga di toko itu untuk mengambilkan cincin tadi.


"Entahlah. Aku hanya tiba-tiba tertarik melihatnya," jawab Ryanthi enteng.


"Anda bisa mendapatkan hanya dengan harga dua puluh juta saja, Nyonya. Penawaran spesial dari toko kami," ucap wanita si penjaga toko ramah.


Ryanthi langsung mematung beberapa saat. "Dua puluh juta?" ulangnya.


"Iya, Nyonya. Itu merupakan penawaran spesial untuk bulan ini," jelas si penjaga toko lagi.


"Oh, ya." Ryanthi tersenyum kaku. Dia meletakkan kembali cincin tadi. Setelah itu, Ryanthi mengajak Adrian pergi. "Astaga. Mahal sekali," ucapnya saat sudah berada di luar.


Sedangkan, Adrian hanya tersenyum menanggapi ucapan sang kekasih. Dia kembali menemani Ryanthi berjalan-jalan menjelajahi tempat perbelanjaan itu.


Menjelang sore, keduanya baru kembali ke rumah. Adrian tak langsung membiarkan Ryanthi turun dari kendaraan. Seperti biasa, dia meminta jatah ciuman yang belum didapatkannya hari itu.

__ADS_1


"Sekali lagi," pinta Adrian. Dia seakan tak merasa puas setelah mencium Ryanthi beberapa saat.


"Serakah," balas Ryanthi.


"Hey, anggap saja sebagai ongkos karena telah mengantarmu ke sana-sini," ujar Adrian tak acuh. Dia tertawa pelan. "Jangan lupa, besok malam. Ajaklah Pas Surya dan Bu Maya untuk ikut ke tempat mamaku." Adrian kembali mengingatkan.


"Iya. Tenang saja. Aku sudah memberitahu ayah tentang hal itu. Beliau setuju." Ryanthi tersenyum lembut. "Ya, sudah. Bolehkah aku turun sekarang?"


"Boleh, tapi berikan aku satu ciuman lagi," jawab Adrian nakal.


"Ya, Tuhan." Ryanthi menggeleng tak mengerti.


Tanpa terasa, waktu hari telah berganti. Seusai makan malam, Surya mengajak Ryanthi berbincang berdua. Sedangkan, Maya lebih memilih kembali ke kamar setelah makan malam.


"Ayah sudah mengurus segala sesuatu untuk keberangkatan ke Perancis. Begitu juga dengan biaya-biaya administrasi dan lain-lain. Kebetulan, Ayah memiliki seorang teman di sana. Nanti, dia yang akan membantumu selama berada di Paris. Dia fasih berbahasa Inggris. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," tutur Surya menerangkan.


"Terima kasih, Yah," balas Ryanthi. Dia segera memeluk sang ayah. "Jangan lupa juga, besok malam kita mendapat undangan makan malam dari mamanya Adrian."


Ryanthi menggeleng pelan. "Aku belum sempat memberitahunya," jawab gadis itu ragu.


"Kamu harus segera memberitahunya, karena waktumu hanya sekitar setengah bulan lagi sebelum harus berangkat ke sana. Semoga dia bisa menerima dan memahami keinginanmu. Karena, kalian akan terpisah selama kurang lebih tiga tahun dengan jarak ribuan mil jauhnya," ucap Surya tenang, meski dia seakan dapat merasakan kereshan Ryanthi. Surya dapat melihat jelas perubahan air muka Ryanthi yang seketika tampak muram.


"Aku akan segera memberitahunya, Yah," ucap Ryanthi. Dia berusaha terlihat tenang dengan menunjukkan senyuman di hadapan Surya.


"Ya, sudah seharusnya begitu. Adrian harus tahu. Entah akan seperti apa reaksinya, tapi Ayah yakin dia akan mendukungmu sepenuhnya. Ayah sudah cukup lama mengenal dia."


Ryanthi kembali tersenyum. Setidaknya, kali ini dia mendapatkan satu suntikan semangat dari sang ayah. Ryanthi mengangguk yakin. Dia akan memberitahu Adrian secepatnya.

__ADS_1


"Oh, iya. Bisakah Ayah menyuruh seseorang untuk membersihkan makam ibu? Ada banyak sekali rumput liar di sana."


"Rencananya, Ayah akan memindahkan makam ibumu ke tempat pemakaman keluarga. Namun, Ayah belum sempat mengurus segala sesuatunya. Jangan khawatir. Pasti akan Ayah lakukan sebaik mungkin." Surya membelai pucuk kepala Ryanthi.


Angin malam berembus tidak terlalu kencang. Seperti biasa, Ryanthi berdiri di balkon seorang diri. Dia mendongak, seakan tengah mencari sesuatu yang dapat dirinya nikmati dari kegelapan yang menyelimuti.


Embusan napas pelan meluncur dari bibir Ryanthi. Dia menoleh, ketika merasakan ada sentuhan halus di pundaknya. Ryanthi tersenyum. "Ibu," sapanya.


Inilah yang paling Ryanthi sukai, ketika Farida datang mengunjunginya. Walaupun, hingga saat ini Ryanthi masih belum memahami apakah itu benar-benar nyata atau hanya mimpi semata.


"Selamat, Nak. Tak lama lagi, semua cita-citamu akan segera terwujud," ucap Farida lembut. Dia berpindah ke sebelah Ryanthi. Berdiri sambil ikut menikmati langit malam yang teduh dan menenangkan.


"Rasanya seperti mimpi, Bu," ucap Ryanthi dengan raut tak percaya. "Aku akan segera pergi ke Perancis untuk mewujudkan impianku. Impian kita berdua." Ryanthi merengkuh Farida, lalu menyandarkan kepalanya di pundak sebelah kiri wanita itu.


"Ibu turut bahagia mendengarnya. Dengan begitu, Ibu juga bisa merasa jauh lebih tenang," ucap Farida seraya menepuk-nepuk pelan pipi Ryanthi.


Mereka terdiam beberapa saat. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Ryanthi tengah merangkai kata yang nanti akan dia sampaikan kepada Adrian. Namun, makin dirinya mencoba untuk menata untaian penjelasan bagi pria itu, nyatanya otak Ryanthi terasa semakin membeku.


Entah akan seperti apa tanggapan dari Adrian nantinya. Mengapa Ryanthi merasa ragu, bahkan takut untuk mengungkapkan niat besarnya itu kepada sang kekasih?


"Menurut Ibu, apakah Adrian akan mengizinkanku pergi?" Pertanyaan yang terdengar sangat bodoh dari Ryanthi, karena dia layangkan kepada Farida.


"Kamu pikir, Ibu tahu jawabannya?" Farida balik bertanya. Wanita itu tersenyum kecil.


"Entahlah, Bu. Namun, aku merasa begitu takut untuk memberitahu dia," ucap Ryanthi ragu.


"Apa menurutmu Adrian tidak akan setuju? Tidak mungkin. Bukankah kamu sudah cukup mengenal seperti apa karakternya?"

__ADS_1


"Ya. Dia berpikiran terbuka dan ...." Ryanthi menjeda kata-katanya. "Berikan aku keyakinan, Bu," pintanya seraya menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Farida.


"Keyakinan ada pada diri dan hatimu, Nak. Kamu bisa menumbuhkannya, tanpa harus meminta kepada orang lain."


__ADS_2