
Ryanthi berusaha mengimbangi langkah Adrian. Pria itu tidak melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan cepat. Adrian tidak memedulikan Ryanthi yang kesulitan melangkah, karena memakai kain batik juga high heels. "Lambat sekali. Seperti siput," keluh Adrian.
Adrian melepaskan genggaman tangannya. Tiba-tiba, dia mengangkat tubuh Ryanthi. Pria itu memanggul si gadis di pundak sebelah kanan.
"Hey! Turunkan aku!" pekik Ryanthi. Dia bahkan sampai harus memukul-mukul pundak bagian belakang Adrian, agar pria itu menurunkannya.
Namun, Adrian tak menggubris. Dia tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan dirinya, saat membawa Ryanthi masuk ke lift. Untungnya, pria itu sudah mengenal baik petugas lobi. Adrian hanya mengangkat tangan, sebagai tanda sapaan. Si petugas lobi mengangguk saat membalasnya.
"Tubuhmu ramping tapi sangat berat," keluh Adrian, setelah menurunkan Ryanthi di dalam lift.
Sementara, Ryanthi tidak menanggapi. Dia berusaha menenangkan diri dan mengatur laju napas, karena tadi dirinya terlalu terkejut.
Pintu lift terbuka. Adrian kembali memegangi pergelangan tangan Ryanthi. Pria itu membawanya masuk ke apartemen. Setelah itu, barulah Adrian melepaskan tangan Ryanthi.
Adrian menatap tajam gadis yang berusaha menghindarinya. Tampak jelas kekesalan besar yang sedang pria itu rasakan. Terlebih, karena Ryanthi memalingkan wajah darinya.
"Duduk!" titah pria itu tegas.
Ryanthi menoleh. Dia merasa takut kali ini. Adrian terlihat sangat marah. Dia menurut tanpa memberikan bantahan apapun. Ryanthi menunduk, meski sesekali melirik diam-diam kepada pria yang masih menatapnya tajam
Adrian mendengkus pelan, sambil duduk di dekat Ryanthi. "Kemarin aku menunggumu selama seharian. Sayangnya, kamu tidak datang ataupun memberi kabar. Lalu, saat aku menghubungimu, kamu malah pergi entah ke mana meninggalkanku dengan sambungan telepon yang masih menyala!"
Adrian bicara dengan nada sedikit keras. Terlihat jelas bahwa dia begitu marah akibat ulah Ryanthi.
Ryanthi tidak menanggapi. Gadis itu sibuk mengingat-ingat. Dia mengulum bibir, saat menyadari sesuatu. Namun, dia merasa tak harus memberikan penjelasan apapun kepada Adrian. Ryanthi bahkan merasa heran, karena Adrian bisa semarah itu terhadapnya.
"Kenapa kamu marah padaku?" tanya Ryanthi memasang wajah cemberut.
Mendengar pertanyaan itu, Adrian malah merasa semakin kesal. Dia menggerutu pelan, karena Ryanthi tidak mengerti perasaannya. "Astaga. Masih saja bertanya.
Apa aku tidak pantas marah karena kamu sudah mengabaikanku? Belum ada seorang gadis pun, yang berani melakukan hal seperti itu padaku. Kamu membuatku tersinggung," ujarnya jengkel.
"Kamu itu laki-laki atau perempuan? Kenapa mudah sekali tersinggung?" ucap Ryanthi pelan. Namun, sayang Adrian mendengar hal itu. Dia kembali menatap tajam kepada Ryanthi.
Namun, Ryanthi tidak memedulikannya. Dia membiarkan Adrian, dengan segala rasa kesal yang menggunung dalam dada. Ryanthi tak ingin menanggapi, karena dia merasa tak memiliki kewajiban untuk itu.
Merasa Ryanthi tak menanggapi kekesalannya, Adrian kembali berpikir. Pria tampan tersebut mengembuskan napas dalam-dalam. "Setidaknya, kamu bisa mengirim pesan padaku," ucap Adrian dengan intonasi lebih tenang.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah mengatakan bahwa aku sedang sibuk. Aku tidak bisa menemuimu. Lagi pula, aku tidak memiliki kewajiban untuk menuruti semua perintahmu. Kamu ingin aku ke sana atau ke sini sesuai dengan keinginanmu. Aku bukan siapa-siapa bagimu ataupun sebaliknya," jelas Ryanthi tenang. Dia berharap agar pria itu dapat mengerti semua yang diucapkannya.
Adrian terdiam. Dia setengah membungkukkan badan, sambil meraup wajah. Apa yang Ryanthi katakan memang benar. Dia seperti orang gila yang marah-marah tanpa alasan. "Masalahnya adalah mama mengundangku untuk makan malam di rumahnya akhir pekan ini. Dia ingin agar aku mengajakmu," jelas Adrian.
"Bagaimana aku bisa mengajakmu? Sementara, kamu selalu menghindariku?" Adrian menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tatapan pria itu tertuju ke depan.
Ryanthi masih terdiam. Dia memikirkan jawaban apa yang akan dikatakan kepada Adrian. Sesaat kemudian, gadis itu kembali bersuara. "Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya? Beritahu mamamu bahwa kita bukanlah pasangan kekasih. Jelaskan sampai dia mengerti, bahwa dirinya telah salah sangka. Waktu itu ... itu hanya kebetulan." Ryanthi mengakhiri kata-katanya dengan perasaan tak enak terhadap Adrian.
Terlebih, Adrian tidak langsung menanggapi. Pria itu masih terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Paras tampannya terlihat sangat serius. Matanya menatap lekat sesuatu. Entah apa itu. Hanya dia yang tahu.
Sesaat kemudian, Adrian kembali mengembuskan napas dalam-dalam. Dia lalu beranjak dari duduknya. Adrian melintas begitu saja dihadapan Ryanthi, yang saat itu mulai memperhatikannya.
Ryanthi tak tahu apa yang akan Adrian lakukan. Gadis itu hanya menatap kepergian Adrian. Namun, setelah berpikir beberapa saat, Ryanthi memanggil pria itu. "Kamu mau ke mana, Adrian?" Ryanthi ikut berdiri.
Adrian tertegun, lalu menoleh. "Ayo temani aku," ajaknya. Dia meraih tangan Ryanthi dan menuntun agar gadis itu mengikutinya.
Ryanthi bagai kerbau yang dicocok hidung. Dia tidak protes sedikit pun, meski dirinya tidak tahu Adrian akan mengajaknya ke mana.
"Tunggu! Aku harus melepaskan sepatuku dulu!" ucap Ryanthi berjalan tertatih dengan satu kaki. Dia berusaha melepaskan sebelah sepatunya yang memiliki hak cukup tinggi.
Adrian menoleh. Dia masih memegang pergelangan tangan Ryanthi. Tanpa diduga, pria itu segera melepaskan tangan Ryanthi kemudian berlutut. Adrian melipat sebelah kaki, dan menjadikannya sebagai tumpuan.
Ryanthi kembali menurut. Dia berpegangan pada pundak pria itu untuk menjaga keseimbangannya.
Dengan cepat, Adrian melepas pengait yang ada di sepatu sebelah kanan Ryanthi. Setelah selesai, dia beralih ke sepatu sebelah kiri.
Ryanthi menatap lekat pria yang tengah berlutut dihadapannya itu. Ada perasaan bersalah dalam hati gadis itu, karena telah mengecewakan perasaan Adrian. Namun, dia tidak berdaya. Ryanthi tak ingin memberikan harapan palsu kepada pria tampan tersebut.
Adrian kembali berdiri dihadapan Ryanthi. Postur menjulang pria itu kali ini terlihat jelas. Terlebih, karena tinggi Ryanthi hanya sebatas dagunya.
Ryanthi menunduk. Dia tak kuasa membalas tatapan pria dihadapannya secara langsung. Ryanthi juga tidak menyangka, bahwa dirnya bisa sedekat ini dengan Adrian. Aroma parfum pria tampan tersebut bahka menguar sangat jelas, menusuk indera penciuman Ryanthi.
"Ayo!" Adrian kembali mengajak Ryanthi menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tangga yang didesain dengan bentuk melengkung itu terlihat sangat indah dan mewah, karena berlapiskan marmer dan dihiasi dengan pinggiran kaca yang cukup tebal.
Ini pertama kali bagi Ryanthi, naik ke lantai dua apartemen mewah milik Adrian. Dia tidak tahu kenapa pria itu membawanya ke sana. Ryanthi sebenarnya merasa takut. Terlebih, karena di sana tak ada siapa pun selain mereka berdua.
Ryanthi tertegun, ketika Adrian berdiri di depan pintu berwarna putih. Jantung gadis dengan kebaya dan kain batik itu mulai berdebar sangat kencang. Perasaannya pun menjadi gelisah tak menentu. Terlebih, ketika Adrian menghampiri, lalu meraih tangannya. Pria itu kembali menuntun Ryanthi. Kali ini bahkan setengah memaksa.
__ADS_1
"Tidak!" tolak Ryanthi.
Namun, Adrian tidak menggubrisnya. Dia tak melepaskan tangan gadis itu. Adrian malah memegang lebih kencang dari sebelumnya.
Ryanthi berusaha melepaskan tangan Adrian, hingga mereka berada di sebuah kamar yang tidak terlalu luas. Setelah itu, barulah Adrian melepaskan pegangannya dari tangan Ryanthi yang hanya berdiri mematung. Gadis itu melihat sekeliling, pada setiap sudut ruangan tadi.
Di sana terdapat sebuah televisi layar datar berukuran besar. Berhadapan dengan televisi tadi, ada sofa bed berwarna abu-abu. Di sebelah sofa bed itu, tersimpan sebuah gitar akustik.
Ryanthi masih terus memperhatikan semua yang dilakukan Adrian. Gadis itu kian salah tingkah, ketika pria itu mulai membuka kancing baju batiknya satu per satu. Jantung Ryanthi berdetak semakin kencang. Dia tak mengerti, kenapa Adrian harus melepas pakaiannya.
Adrian melemparkan baju batik tadi begitu saja ke sofa. Kini, dia hanya mengenakan T-Shirt round neck berwarna putih. Adrian juga melepas sepatu dan kaos kaki, kemudian meletakkannya sembarangan di sebelah sofa.
Sejenak, dia menoleh kepada Ryanthi yang hanya berdiri mematung, dengan tubuh mulai gemetaran dan perasaan tak karuan.
"Kemarilah!" titahnya.
Ryanthi tidak menurut. Dia hanya berdiri dan tidak dapat berbuat apa-apa. Kakinya seperti terpaku pada lantai marmer yang dingin itu.
Adrian kembali mengisyaratkan agar Ryanthi mendekat padanya. Akan tetapi, Ryanthi masih tetap berdiri. Gadis itu menggeleng kencang berkali-kali, sebagai tanda penolakan.
Sikap Ryanthi, membuat kekesalan dalam diri Adrian muncul lagi. Dia menghampiri Ryanthi, lalu menarik tangannya. Gadis itu akhirnya bergerak maju dan mendekat padanya.
"Duduk!" titah Adrian lagi.
"Kenapa pria ini suka sekali memerintah orang lain?" gerutu Ryanthi dalam hati. Gadis itu belum menghilangkan rasa takutnya, atas apa yang akan Adrian lakukan selanjutnya.
Adrian menyalakan televisi. Entah apa lagi yang dia nyalakan saat itu. Satu yang pasti, tangannya kini telah memegang sesuatu, yang membuat Ryanthi akhirnya dapat bernapas lega.
Pria itu duduk di sebelah. Adrian bersiap untuk bermain play station. "Temani aku sampai selesai bermain," ucapnya. Dia kembali memberi perintah kepada Ryanthi.
Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu hanya menggumam pelan. Sekilas, Ryanthi memperhatikan wajah pria itu dari samping. Janggutnya terlihat sedikit lebih lebat dan tidak beraturan. Namun, hal itu tidak mengurangi ketampanan dan tetap memperlihatkan kesan maskulin dalam diri Adrian.
Ryanthi terus menatap Adrian. Sepasang mata pria itu memperhatikan layar televisi dengan tajam dan serius. Dia seperti tidak sadar bahwa di sebelahnya ada seorang gadis yang sejak tadi duduk sambil memandangnya. Adrian seakan tengah berada di dunianya. Dia tidak peduli dengan sekeliling.
Lama-kelamaan, rasa kantuk mulai menyerang Ryanthi. Dari tadi dia hanya duduk dan tidak melakukan apapun, selain memperhatikan orang yang sedang asik memainkan stik play station.
Detik berikutnya, Ryanthi menyerah. Matanya terasa begitu berat dan sangat sulit untuk dia tahan agar tidak terpejam. Ryanthi mulai menyandarkan tubuh, lalu terlelap di sebelah Adrian.
__ADS_1
Setelah Ryanthi tertidur, barulah Adrian melirik gadis itu. Dia tersenyum sambil mengelengkan kepala. Sesaat kemudian, Adrian kembali melanjutkan kegiatan pengusir stres, yaitu bermain PS.