Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Rasa Penasaran


__ADS_3

Arumi terkejut bukan main ketika melihat seseorang yang tengah duduk di atas motornya, di luar pintu gerbang rumahnya malam itu.


Gadis itu pun menyipitkan kedua matanya yang bening. Ia memastikan apakah yang ia lihat itu benar-benar pria yang ada dalam fikirannya saat ini ataukah bukan.


Sesaat kemudian, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas kursi kayu, di sudut balkon itu. Ia pun menghubungi seseorang yang tiada lain adalah Moedya.


"Apakah itu dirimu?" tanya Arumi pelan ketika panggilannya telah tersambung.


"Iya, ini aku," terdengar jawaban dari suara berat itu. Ia memastikan jika dirinya memanglah Moedya.


"Haruskah aku kesitu?" tanya Arumi dengan ragu.


"Tidak usah! Ini sudah malam," larang Moedya. "Lagipula aku juga tidak akan lama," lanjutnya.


Arumi terdiam untuk sejenak. Ia masih memegangi ponsel yang ia lekatkan di dekat telinganya. Tatapannya pun masih ia layangkan kepada seseorang yang tengah duduk di atas motornya, di luar pintu gerbang rumahnya itu.


"Lalu ... apa yang kamu lakukan disini? Malam-malam begini?" tanya Arumi dengan suaranya yang setengah berbisik. Ia merasa heran dengan kehadiran Moedya disana.


Moedya tidak segera menjawab. Ia pun masih menatap lekat kearah balkon rumah megah itu. Ia cukup menikmati menatap gadis berambut panjang itu dari kejauhan.


"Aku hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja ...." jawabnya. Ia pun menghela napas pendek. Sebenarnya, Moedya sendiri tidak mengetahui alasan mendasar dari kedatangannya ke rumah itu.


"Kenapa?" Arumi balik bertanya. "Aku tidak apa-apa?" Arumi pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan Moedya padanya.


"Tadi ...." Moedya tidak melanjutkan perkataannya, ia pun hanya tertawa pelan.


Wajah Arumi seketika merengut ketika mendengar suara tawa Moedya yang seakan mengejeknya. Akan tetapi, sesaat kemudian ia juga ikut tertawa pelan.


"No! Jangan bahas kejadian tadi!" larang Arumi. "Itu sangat memalukan!" keluhnya.


"Apa kamu sering seperti itu?" guyon Moedya. Pertanyaannya jelas telah membuat Arumi terbelalak.


"Sembarangan! Tentu saja tidak!" bantah Arumi.


"Lagipula itu juga karena dirimu. Karena tadi kamu mengulur waktuku hingga akhirnya aku ...."Arumi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menggumam pelan. "Sudahlah! Tidak perlu dibahas!" tutup Arumi dengan rasa malu dalam dirinya.


"Apakah kamu lupa jika kamu masih memiliki hutang yang belum dibayar padaku?" lanjut Arumi. Ia kembali mengingatkan akan 'barter' antara dirinya dan Moedya.


Moedya tidak segera menjawab. Ia seakan mengetahui maksud dari ucapan Arumi. "Kakakmu pasti akan membunuhku!" ujarnya.


"Jadi ... kamu akan bersikap curang padaku?" tukas Arumi.


"Tidak! Tentu saja tidak seperti itu," bantah Moedya. "Aku hanya merasa tidak enak padanya," jelasnya.


"Alasan!" tuding Arumi.


"Ya, sudah. Aku pulang saja," jawab Moedya.


"Kamu bermaksud untuk menghindar?" tuduh Arumi dengan jengkel.


"Aku kemari bukan untuk membahas kakakmu," kilah Moedya.

__ADS_1


"Ya, sudah! Pulang saja sana!" pungkas Arumi.


"Wow ... kamu marah?" tanya Moedya yang diiringi dengan tawa pelan.


"You suck!" gerundel Arumi.


Moedya tertawa pelan. Ia seakan merasa puas menggoda gadis itu.


"Tertawalah sepuasmu!" Arumi merasa semakin jengkel.


"Sebaiknya aku pulang saja," ujar Moedya. Ia pun mengakhiri tawanya. Akan tetapi, tatapannya masih lekat tertuju pada gadis di atas balkon itu.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya mematung seraya terus melayangkan tatapannya pada pria di luar pintu gerbang itu.


"Arumi ...." sebut Moedya lagi dengan setengah berbisik. "Selamat malam." lanjutnya.


Arumi tersadar dari lamunan singkatnya. "Kamu ... sungguh-sungguh akan pulang?" tanya Arumi dengan sedikit sesal dalam nada bicaranya.


"Lalu? Apa yang kamu inginkan?" tanya Moedya.


Arumi terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia berlalu dari atas balkon. Berjalan dengan langkah cepat dan terburu-buru. Menuruni anak tangga kemudian keluar dari dalam rumah. Arumi pun berlari menuju pintu gerbang.


Moedya yang melihat Arumi berlari ke arah pintu gerbang pun segera turun dari atas motornya. Ia berdiri di luar pintu gerbang itu dengan ponsel yang masih menempel di dekat telinganya.


"Kamu ... kemari?" gumam Moedya.


Moedya terus menatap gadis yang kini berdiri di balik pintu gerbang itu. Tepat berada di hadapannya.


"Katakan padaku, Moemoe!" pinta Arumi. "Apa yang membuatmu kemari?" tanyanya.


"Menurutmu?" Moedya balik bertanya.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap pria berjaket kulit itu.


"Entahlah. Tiba-tiba ... aku ingin melihatmu," ungkap Moedya tanpa mengalihkan tatapannya.


Arumi menundukan wajahnya. "Jangan menggodaku!" tolaknya.


"Jadi kamu sudah merasa tergoda hanya dengan ucapan seperti itu?" pancing Moedya.


Arumi menghela napas panjang. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dada.


"Aku mungkin tidak akan merasa tergoda jika yang mengatakan hal itu adalah orang tuaku," balas Arumi dengan tenangnya. Ia seakan tengah membangun benteng pertahanan diri dari godaan pria bertato itu.


"Lalu apa bedanya denganku?" pancing Moedya lagi.


Arumi tertawa pelan. Ia lalu menatap pria yang masih berdiri di balik pintu gerbang itu.


"Karena kata-kata itu meluncur dari mulut seorang pria yang hampir menciumku kemarin. Kamu fikir apa? Atau itu bukan sesuatu yang aneh bagimu?"


Kini giliran Moedya yang tertawa pelan. Ia tidak menyangka karena Arumi akan membahas kejadian di dekat danau itu. Ia anggap jika gadis itu masih merasa penasaran kepadanya.

__ADS_1


"Aku belum pernah mencium gadis yang baru ku kenal," kilah Moedya dengan kalemnya.


"Itu artinya ... seharusnya aku aman jika berada di dekatmu saat ini."


"Yup. Tidak ada alasan bagimu untuk merasa takut padaku ...." ujar Moedya.


"Syukurlah. Jadi?" tanya Arumi.


"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kita bahas saat ini."


Arumi terdiam. Tatapannya masih ia layangkan untuk pria itu. Sejenak ia pun berfikir jika apa yang dikatakan Moedya baru saja memanglah benar adanya.


Apa yang tengah ia perdebatkan dengan pria itu? Mengapa harus mempermasalahkan sesuatu yang tidak penting. Apakah benar-benar tidak ada hal lain, untuk menjadi topik pembicaraan diantara mereka?


"Mungkin sebaiknya kamu pulang," saran Arumi.


"Kamu ingin aku pulang sekarang?" tanya Moedya. Ia seakan berharap agar Arumi meralat ucapannya.


"Ini ... sudah terlalu malam. Besok aku harus ke toko pagi-pagi," jawab Arumi meskipun raut wajahnya menunjukan hal yang sebaliknya.


Moedya mengangguk pelan. "Oke! Masuklah!" suruhnya. "Aku tidak akan pergi sebelum melihatmu benar-benar menghilang di balik pintu itu," ucapnya seraya menunjuk pintu rumah Arumi.


"Oke," jawab Arumi pelan. "Apa kamu akan mengajakku ke danau itu lagi?" tanya Arumi. Ia pun langsung mengulum bibirnya, menyesali pertanyaan yang sudah dilontarkannya kepada Moedya.


"Jika kamu mau," jawab Moedya.


Arumi tersenyum lembut. Itu adalah senyuman yang mewakili sebuah jawaban darinya.


"Besok ku jemput," ucap Moedya lagi dengan nada bicara yang hampir datar.


Arumi pun mengangguk pelan.


"Masuklah!" suruh Moedya. Suaranya terdengar begitu dalam.


"Selamat malam," ucap Arumi. Ia pun kemudian membalikan badannya dan melangkah masuk dengan membawa sebuah perasaan aneh yang belum dapat ia lukiskan dengan jelas.


Arumi pernah merasakan hal seperti ini ketika awal mula ia bertemu dengan Edgar. Akan tetapi, rasa penasarannya terhadap Edgar tidak sebesar rasa ingin tahunya terhadap Moedya.


Edgar pria yang jauh lebih mudah untuk ditebak. Ia seseorang yang terbuka dan seakan tanpa rahasia. Sedangkan Moedya, pria itu seakan menyimpan banyak sekali tanda tanya yang harus Arumi temukan jawabannya.


Arumi dapat merasakan hal itu semua dari sorot mata dan ekspresi wajahnya, yang terlihat seperti seseorang yang hidup berdampingan dengan sebuah rasa tidak nyaman yang cukup besar.


Entah apa atau siapa yang telah membuat Moedya menjadi seperti itu? Satu yang pasti, Arumi merasa tertantang untuk dapat mengenal pria itu dengan lebih jauh.


Arumi telah menghilang di balik pintu yang tinggi dan kokoh itu. Sementara Moedya masih berdiri disana, di tempat ia berdiri sejak tadi.


Ada banyak gadis yang ia kenal. Haruskah ia mendekati adik dari sahabatnya sendiri?


Moedya sangat mengenal Keanu, begitu juga sebaliknya. Ia tahu dan dapat menebak jika Keanu tidak akan suka jika ia mendekati adik tersayangnya. Akan tetapi, entah kenapa karena Arumi telah berhasil menghadirkan sebuah perasaan yang membuatnya tertantang untuk lebih mengenal gadis itu.


Moedya baru bertemu dengannya hanya sebanyak beberapa kali saja. Terkadang gadis itu terlihat sangat polos dan manja. Akan tetapi, terkadang ia juga terlihat begitu dewasa.

__ADS_1


Gadis seperti apa sebenarnya Arumi itu? Tentunya bukan hal yang sulit bagi pria seperti Moedya, untuk dapat mengetahui hal itu dalam waktu yang singkat.


__ADS_2