
Sesuai janjinya kepada Indira, malam itu Adrian mengajak Ryanthi untuk menemui wanita yang telah melahirkannya tersebut. Ryanthi sendiri tentu saja menyambut baik hal itu, karena ia juga sangat merindukan wanita yang selama ini telah ia anggap sebagai pengganti Farida.
Ryanthi, masih setia dengan midi dress off shouldersnya. Dress berwarna biru elektrik yang dipadukan dengan tatanan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja. Akan tetapi, hal itu telah berhasil membuat Adrian tidak mampu berkedip selama beberapa saat lamanya. Pria tersebut benar-benar takjub dengan penampilan dan kecantikan fisik Ryanthi malam itu.
Adrian seakan tak ingin melepaskan gadis itu, bahkan hingga mereka berdua sudah berada di halaman rumah Indira. Adrian masih belum dapat melepaskan kekagumannya. Oleh karena itu, sebelum masuk dan menemui Indira, ia sempat menghadiahi gadis itu dengan sebuah ciuman mesra. Ada satu hal yang membuat Ryanthi lebih merasa tersanjung. Hal itu ialah ketika Adrian memperlihatkan sebuah benda yang dulu ia tinggalkan untuk pria bermata abu-abu tersebut.
Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan ialah jepitan rambut, yang Ryanthi beli seharga lima puluh delapan ribu. Benda itu masih terlihat bagus di tangan Adrian. Ryanthi menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena rasa tidak percaya.
"Seperti aku menjaga cintaku selama tiga tahun saat menunggumu kembali, maka aku juga menjaga apa yang kau tinggalkan untukku. Lihatlah, masih sama seperti saat kau meninggalkannya dulu di atas laci tempat tidurku, kan?" Adrian meletakan jepitan rambut itu di atas telapak tangan yang ia sodorkan kepada Ryanthi.
Ryanthi tersenyum dan mengangguk. Ia hanya memejamkan mata ketika Adrian mulai memasangkan jepitan rambut itu di bagian belakang rambutnya, sehingga kini rambut panjangnya menjadi terikat sebagian. Ryanthi pun merapikan hasil karya Adrian dengan tangannya sendiri dan kembali tersenyum.
"Ayo, turun. Mamaku pasti sudah menunggu kita. Semenjak kau pergi, ia menjadi sangat cerewet padaku, dan sejujurnya aku pusing mendengar ocehannya setiap hari," keluh Adrian seraya keluar dari mobilnya. Sementara Ryanthi segera mengikutinya.
Sesampainya di dalam rumah, Indira tidak henti-hentinya memeluk Ryanthi, calon menantunya. Rasa bahagia dan haru yang bercampur menjadi satu, membuat matanya tampak berkaca-kaca. "Mama senang karena kau sudah kembali. Adrian seperti gelandangan saat kau tidak ada. Ia tidak bercukur, jarang sarapan, dan ia juga tampak kurus," ucap Indira seraya melirik Adrian.
"Jangan terlalu berlebihan, Ma!" sergah Adrian. Ia tak ingin Ryanthi mengetahui betapa kacau dirinya saat itu. Bagaimanapun juga, masih ada sisa-sisa gengsi yang tinggi sebagai seorang Adrian dalam dirinya.
Ryanthi melirik Adrian dengan tatapan mengejek. Sedangkan Adrian membalasnya dengan tatapan penuh cinta. Malam itu Adrian sedang berbaik hati kepada gadis cantik berbaju biru tersebut. Karena jika tidak, maka ia pasti sudah membawa Ryanthi ke kamar yang dulu ia tempati sewaktu masih tinggal di kediaman orang tuanya.
"Ayo, sini duduk dekat Mama!" ajak Indira kepada Ryanthi. Wanita itu terlihat benar-benar bahagia dengan kedatangan Ryanthi. Ia membuat Adrian merasa jika dirinya seperti anak tiri saat itu.
Adrian hanya duduk dan mendengarkan semua pembicaraan kedua wanita yang sangat ia cintai. Indira meminta Ryanthi untuk menceritakan tentang pendidikan yang dijalaninya selama di Paris. Ia juga bertanya bagaimana keseharian Ryanthi di sana. Wanita itu bertanya banyak hal, sesuatu yang tidak dilakukan Adrian, karena pria itu lebih fokus dengan bagaimana ia bisa melepas semua kerinduannya kepada Ryanthi. Adrian memang belum sempat membicarakan hal-hal seperti itu dengan Ryanthi. Entah karena ia terlalu bahagia, sehingga ia melupakan hal-hal tersebut.
Pria bermata abu-abu itu terus memperhatikan bagaimana antusiasnya Ryanthi ketika sedang bercerita tentang pendidikan yang ia jalani, dan juga tentang semua pengalaman yang ia dapat selama berada di negara Perancis. Terbersit rasa bersalah dalam hati kecilnya, karena Adrian seperti tidak peduli dengan semua yang sedang Ryanthi bicarakan bersama Indira saat itu. Lagi-lagi ia hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri. Ia belum bertanya sekalipun pada Ryanthi tentang bagaimana gadis itu selama berada jauh darinya.
"Jika ada kesempatan, aku ingin ke sana lagi," Ryanthi mengakhiri ceritanya.
"Ah, tentu saja. Kau bisa pergi dengan Adrian, dan kalian sebaiknya berkunjung ke tempat keluarga besar papanya Adrian di sana," balas Indira seraya melirik Adrian yang sejak tadi hanya terdiam. "Lagibpula sudah terlalu lama kau tidak ke sana kan, Nak?" lanjut Indira kepada Adrian.
Adrian hanya mengangguk pelan. Sesaat kemudian, pria itu pun mulai membicarakan tentang hal penting yang akan ia sampaikan kepada Indira. "Ma, aku dan Ryanthi sudah memutuskan untuk segera menikah," ucapnya seraya menggenggam jemari tangan Ryanthi dengan lembut.
Mendengar hal itu, Indira tentu saja langsung setuju. Ia sangat antusias dan bersemangat membahas hal itu bersama kedua lajang tersebut.
"Itu berita yang sangat bagus. Mama sudah mengharapkan bisa mendengar berita seperti ini dari dulu. Tentu saja, Mama sangat mendukung niat baik kalian berdua. Apapun yang kalian butuhkan, bantuan sekecil apapun jangan sungkan untuk bicara kepada Mama," Indira benar-benar bahagia dengan rencana pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
"Kita harus buat pesta yang meriah. Pesta pernikahan yang tidak terlupakan. Mama tahu WO yang bagus. Jika kalian setuju, maka Mama bisa merekomendasikan itu untuk kalian," lanjutnya terus nyeroscos tanpa memberi kesempatan kepada Adrian dan Ryanthi untuk bicara.
Ryanthi hanya tersenyum melihat sikap antusias Indira. Sementara Adrian, ia tak henti-henti menggaruk keningnya yang tidak gatal. Itulah yang seringkali membuat Adrian malas untuk mengobrol lama-lama dengan mamanya.
Selepas obrolan dengan Indira, Adrian mengajak Ryanthi untuk berjalan-jalan di taman yang ada di sebelah rumah itu. Ryanthi berdiri mematung di atas deretan paving block yang tertata rapi di sana. Terakhir kali ia berdiri di tempat itu, ialah ketika harus menghadapi kemarahan besar dari Adrian. Entah malam ini akan ada cerita apalagi di taman tersebut.
"Kenapa?" tanya Adrian yang heran karena melihat Ryanthi hanya berdiri dan termenung.
"Terakhir aku ke sini, kau memarahiku habis-habisan, sehingga membuatku sangat takut," jawab Ryanthi dengan pikiran yang masih menerawang pada malam tiga tahun silam.
Adrian tersenyum. Ia kemudian berdiri di hadapan Ryanthi. Sedangkan gadis itu menatapnya dengan lembut. "Aku pasti akan marah lagi jika kau berani memutuskan untuk pergi dariku. Karena itu, mulai sekarang jangan sekali-kali berpikir untuk menjauh, sebab aku tidak akan menyukainya!" ucap Adrian setengah mengancam.
Ryanthi tertawa pelan mendengar ancaman dari Adrian. Hal itu membuat si pemilik mata abu-abu tersebut merasa heran. "Inilah yang membuatku selalu merasa gemas padamu, sehingga ingin menjitakmu berkali-kali," ucap Adrian dengan wajah sedikit kesal.
"Apanya yang salah?" tanya Ryanthi geli. "Kau tidak suka melihatku tertawa?" lanjutnya.
Adrian mendelik kepadanya. "Tadi aku bicara dengan serius, dan kau mananggapinya dengan tertawa. Itu namanya tidak sopan. Kemari!" Adrian kemudian mengangkat tubuh Ryanthi dan meletakkannya di atas pundak. Sementara gadis itu menjerit pelan dan meronta. Ia meminta agar segera diturunkan. Akan tetapi, Adrian tidak menurutinya. Ia justru malah membawa Ryanthi masuk.
Indira yang saat itu kebetulan masih duduk di ruang keluarga, segera mengernyitkan keningnya karena melihat kelakuan mereka berdua. "Sayang, ada apa ini? Mau ke mana kalian?" tanyanya dengan wajah heran bercampur geli.
Indira ternganga melihat kekonyolan mereka. Ia tidak habis pikir dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian tertawa pelan.
Adrian membawa Ryanthi masuk ke mobilnya dan pergi dari sana. Tak berselang lama, mereka pun tiba di kediaman Surya. Adrian segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah megah tersebut. Namun, ia tidak segera mengizinkan Ryanthi untuk masuk ke rumahnya.
"Jadi, selain yang tadi kau ceritakan kepada mamaku, apalagi yang kau lakukan di Paris. Di luar dari kegiatan perkuliahanmu tentunya?"
Adrian mulai bertanya dengan diiringi tatapan yang menyelidiki. Namun, saat itu Ryanthi merasa jika dirinyaa tengah diinterogasi. Ia tahu ke mana arah pertanyaan yang dilontarkan oleh Adrian.
"Tidak ada. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di apartemen. Saat merasa bosan, biasanya aku pergi dan duduk-duduk di taman sambil membuat catatan kecil untukmu. Aku juga mendengarkan lagu yang sering kau nyanyikan untukku, Christian Bautista. Sampai-sampai aku benar-benar hapal liriknya saat ini,"
Ryanthi tersenyum mengenang saat -saat ia masih berada di Paris.
"Aku menyukai lagu itu, tetapi ... aku jauh lebih suka jika kau yang menyanyikannya untukku,"
Ryanthi menatap Adrian dengan matanya yang teduh. Adrian pun balik menatapnya dengan tatapan yang sama.
__ADS_1
"Aku ingin secepatnya bisa memilikimu seutuhnya. Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu sebagai Nyonya Adrian Winata. Lalu, setelah itu aku ingin agar kita bisa memiliki dua orang anak. Tidak masalah laki-laki atau perempuan," senyum Adrian tampak mengembang tatkala mengatakan isi hatinya kepada Ryanthi. Sedangkan Ryanthi kembali tertawa pelan.
"Ya sudah. Sebaiknya kau segera beristirahat. Aku akan menghubungimu besok," ucap Adrian dengan lembut.
"Untuk apa?" tanya Ryanthi heran.
"Untuk mengatakan jika besok aku juga masih sangat mencintaimu," jawab Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya. Seketika Ryanthi memalingkan wajahnya. Ia berusaha untuk menahan tawa.
"Kenapa, apanya yang lucu?" tanya Adrian heran.
"Tidak ada," jawab Ryanthi masih terus menahan tawanya.
Adrian terdiam dan berpikir sejenak sebelum akhirnya ia kembali bicara, " Kapan kita akan menentukan tanggal pernikahan? Aku tidak ingin terlalu lama," ujarnya lagi.
"Terserah kau saja. Bagaimana jika kita bicarakan hap ini sambil makan siang di rumahku. Lagi pula, mamamu belum pernah berkunjung kemari, atau mungkin kau bisa membicarakan hal ini dengan ayahku secara pribadi. Aku tidak ada masalah sedikitpun," jawab Ryanthi
"Sebenarnya, aku sudah menentukan tanggal dengan mamaku, tapi aku tidak tahu apakah kau dan keluargamu akan setuju atau tidak," sahut Adrian datar.
Ryanthi menatap pria itu untuk sesaat. Tak berselang lama, tersungginglah sebuah senyuman kecil dibibirnya. "Kapan?" tanyanya.
"Lima belas November," jawab Adrian singkat.
Ryanthi terdiam sejenak. Ia pun penasaran kenapa Adrian memilih tanggal itu. "Ada apa dengan lima belas November?" tanya Ryanthi lagi.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat Ryanthi. Raut wajahnya tampak serius dan mata abu-abu itu menyiratkan banyak hal bagi Ryanthi. "Kenapa tanggal lima belas November? Karena, itu pertama kalinya aku melihat seorang gadis cantik, tetapi sangat pemalu. Ia menghidangkan minuman untukku, meskipun terus menundukan wajahnya. Sepintas, ia terlihat seperti gadis yang lemah dan mudah untuk dikendalikan. Akan tetapi, ternyata aku salah besar. Karena ia adalah gadis yang sangat kuat dan paling keras kepala yang pernah kukenal," tutur Adrian membuat Ryanthi tak mampu berkata apa-apa.
"Gadis itu suka sekali membantah ucapanku. Tak jarang ia membuatku begitu kesal dengan semua tingkahnya, dan ia telah membuatku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Ia telah membuatku berkali-kali berlutut dan memohon. Ia juga bahkan dengan tega meninggalkan dan membuatku menunggunya selama tiga tahun. Aku belum pernah melakukan pengorbanan sebesar itu untuk gadis manapun. Akan tetapi, hanya demi Ryanthi aku melakukan segalanya. Aku telah .endobrak semua batasanku sebagai seorang Adrian, Winata," tutur Adrian lagi dengan lirihnya.
Adrian kemudian terdiam untuk sejenak. Ia masih menatap lekat Ryanthi. Sedangkan gadis itu menatapnya balik dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Adrian kemudian menggenggam erat jemari gadis itu. Ia pun menciumnya dalam-dalam. "Mulai sekarang, aku berjanji bahwa aku yang akan selalu menjadi pelindungmu," ucap Adrian dengan begitu yakin.
Ryanthi mengangguk tegas. Hatinya telah benar mantap dan menerima apapun keputusn Adrian.
"Aku tidak akan pernah menyesal karena menjadikanmu sebagai yang pertama, karena kau menjadikanku sebagai yang terakhir," ucap Ryanthi penuh perasaan. "Aku ingin jika kita sudah menikah nanti, kau akan menyanyikan satu lagu untukku sebelum tidur pada setiap malamnya," lanjut gadis itu lagi
"Apapun akan kulakukan untukmu," jawab Adrian.
__ADS_1
Sekali lagi, ia mencium tangan gadis itu dengan lembut, membuat Ryanthi merasa begitu tersanjung karenanya.