Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH TIGA : Es Krim di Pundak


__ADS_3

Ryanthi tak berdaya dalam dekapan mesra Adrian. Dia menyesalkan cintanya yang terlalu besar kepada pria itu, sehingga dirinya kesulitan melarikan diri.


"Aku tidak akan melarangmu pergi ke Paris. Namun, tolong jangan tinggalkan aku," pinta Adrian pelan.


Ryanthi menatapnya sesaat, lalu memalingkan wajah.


"Kenapa kamu terus memalingkan wajah dariku?" tanya Adrian. Dia memaksa Ryanthi agar menatapnya.


Inilah yang paling tidak Ryanthi sukai. Makin lama menatap Adrian, maka hatinya semakin tak bisa berpaling. Wajah itu tidak akan mungkin sanggup dia lupakan. Selamanya, sudah terpatri di pelupuk mata dan relung hati.


Adrian merekatkan keningnya pada kening Ryanthi. Sementara, tangan pria itu terus membelai pipi si gadis. "Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku belum pernah memohon di hadapan gadis manapun selain dirimu. Kamu gadis pertama yang benar-benar membuat duniaku menjadi kacau. Menjadikanku seseorang yang berbeda."


"Aku mohon, bicaralah," pinta Adrian.


Ryanthi hanya memejamkan mata. Merasakan napasnya yang berbaur mesra, dengan napas Adrian.


Sesaat kemudian, Adrian merenggangkan dekapannya. Dia menatap ke depan. Pada cakrawala senja yang menaungi mereka.


"Jadi, mulai saat ini aku harus membiasakan diri untuk tidak mendengar suaramu secara langsung. Menyentuh serta menggenggam tanganmu. Memeluk dan menciummu ...." Adrian mengembuskan napas berat. Dia menoleh kepada Ryanthi yang masih terdiam.


"Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat seperti itu," lanjut Adrian pelan dan dalam, tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok sang kekasih.


Ryanthi menatap sendu pria di sebelahnya. Dia ingin menangis, tapi air mata itu tak dapat keluar. Ryanthi kembali menatap ke depan. Pada cakrawala luas berwarna jingga tak terbatas. Dia tak memedulikan Adrian yang terus memandang ke arahnya.


"Aku berjanji akan setia menunggumu hingga kembali. Namun, kamu juga harus menjaga kesetiaan yang kuberikan, selama dirimu berada di Perancis," ucap Adrian lagi. Dia terus bicara, meski Ryanthi tak menanggapi semua kata-katanya.


"Aku akan pergi selama tiga tahun, Adrian. Dalam rentang waktu itu, usiamu pasti bertambah. Apa kami akan terus menungguku selama itu? Mamamu akan menyalahkanku, karena telah membuat putra kesayangannya menjadi seorang perjaka tua," celetuk Ryanthi, yang sontak membuat Adrian tertawa geli.


"Itu artinya, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku," jawab Adrian diselingi senyum lembut.


"Aku tidak yakin kamu masih setampan ini, setelah tiga tahun ke depan," celetuk Ryanthi lagi, yang membuat Adrian kembali tertawa.


"Karena itu pastikan kamu kembali. Lalu, kita buktikan bahwa perkiraanmu itu salah. Ketampananku tidak akan pernah luntur. Sama halnya dengan cintaku padamu. Haruskah aku mengatakannya lagi?"


"Apa?"


Adrian menatap Ryanthi dengan sorot teduh, seperti langit senja kali ini. Dia tampak sangat tenang. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu Ryanthi."

__ADS_1


Ryanthi seketika tertawa geli, mendengar ucapan Adrian yang teramat konyol. "Aku tahu," jawabnya singkat diiringi senyum manis.


"Namun, maaf Adrian. Aku tidak bisa. Aku harus membiasakan diriku jauh darimu, dan menghilangkan keterikatan kita." Ryanthi menggeser tubuh, sehingga memberi jarak antara dirinya dengan Adrian. Hal itu membuat putra Indira tersebut menjadi keheranan dengan wajah kembali muram. Adrian memicingkan mata, saat menatap Ryanthi yang sedari tadi bersikap aneh.


"Kenapa, Ryanthi? Apa maslahnya jika kita tetap melanjutkan hubungan ini, meskipun dengan jarak yang berjauhan?" Adrian tak juga memahami apa yang ada dalam pikiran Ryanthi.


Ryanthi menggeleng. "Tidak ada. Masalahnya hanya ada pada ketakutanku. Pada pemikiranku yang berlrbihan. Salahkan aku jika menurutmu diriku terlalu kuno, atau kurang membuka wawasan. Namun, aku ingin berangkat ke sana untuk belajar. Aku ingin memfokuskan pikiran, niat, semuanya untuk ilmu yang sedang kucari. Aku tidak ingin membebani batinku dengan hal lain," jelas Ryanthi dengan sangat berat.


Adrian berkali-kali menyugar rambut, lalu mengacak-acaknya demi menahan kesal.


"Apa maksudmu Ryanthi? Kamu menganggap hubungan kita sebagai beban batin?


Apakah kamu memang tidak pernah memercayaiku?" tanyanya heran. Adrian bahkan terdengar sedikit emosi. Dia benar-benar sudah dibuat hilang kesabaran menghadapi gadis itu. Entah bagaimana, caranya menaklukan sikap keras kepala seorang Ryanthi.


Ryanthi menoleh, lalu menatap lekat pria yang dia kira akan kembali meluapkan amarah seperti malam itu. Namun, perkiraan gadis itu ternyata keliru.


Adrian justru terdiam. Pria itu memikirkan kalimat terakhir yang baru saja dirinya ucapkan. Harus diakui, bahwa dia memang pria yang tidak dapat dipercaya. Apalagi, dengan kejadian kemarin malam. Ciuman panas yang Adrian lakukan bersama Fiona.


"Um ... ya. Aku ... bisa memahami maksudmu dengan baik," ucap Adrian pelan. Dia menjadi salah tingkah. Rasa bersalah muncul dalam hati kecilnya. Adrian tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemikiran kuno Ryanthi. Seharusnya, dia lebih introspeksi diri.


"Jadi bagaimana?" tanya Adrian lagi.


"E ... itu .... Apakah itu sudah merupakan keputusan terakhirmu?" Adrian meyakinkan Ryanthi.


"Aku tidak akan menarik kata-kataku lagi," jawab Ryanthi yakin.


"Oh, ya. Baiklah, Ryanthi," ucap Adrian seraya manggut-manggut. Dia memang tak menyukai keputusan gadis itu. Namun, rasa bersalah dalam diri mengalahkan segalanya.


"Baiklah, jika memang yang kamu inginkan?" ucap Adrian lagi.


Ryanthi tidak menanggapi. Dia hanya terdiam, lalu menundukan wajah.


"Aku akan mengabulkan semua yang kamu inginkan, jika itu dapat membuatmu jauh lebih tenang. Aku sudah cukup memohon padamu, dan aku tidak harus merendahkan harga diriku lagi di atas sikap keras kepalamu itu," lanjut Adrian, yang seketika membuat perasaan Ryanthi hancur berkeping-keping seperti sebuah gelas yang terjatuh dari atas meja. Tak ada yang tersisa. Semuanya menjadi pecahan kecil tak berharga.


Ryanthi tak mengerti. Padahal, itulah yang dia inginkan. Namun, entah mengapa dirinya merasa begitu sakit dan seketika patah hati.


Tubuh gadis itu terasa lemas seolah tidak bertulang. Rasanya, Ryanthi ingin merobohkan seluruh pertahanan diri, lalu menjatuhkan tubuh hingga luluh lantak ke tanah.

__ADS_1


Berakhir sudah. Kisah yang membuat hidupnya terasa manis itu kini telah usai. Dia yang mengakhirinya atas persetujuan dari Adrian.


Sakit. Rasanya seperti ada jutaan anak panah yang menembus dada. Ryanthi ingin berteriak. Mengungkapkan kepada alam semesta, bahwa saat ini dia benar-benar membutuhakan angin untuk membawanya terbang. Ryanthi merasa tak akan sanggup melangkah dengan sepasang kakinya yang tak berdaya.


Dia tak pernah menyangka, bahwa seperti inilah rasanya patah hati.


"Kamu senang? Aku sudah mengabulkan keinginanmu. Aku harap, kamu puas dan tidak menyesal dengan keputusan yang dianggap benar ini," ucap Adrian lirih. Dia menyembunyikan amarah yang sebenarnya sudah tak mampu dibendung.


......................


Keesokan harinya, Ryanthi mencoba menghibur diri dengan berjalan-jalan di mall. Sesuatu yang baru bisa dia lakukan, setelah dirinya memilih tinggal bersama Surya.


Ryanthi tak tahu apa yang sedang Adrian lakukan saat ini. Namun, dia tak peduli. Gadis itu hanya ingin mengisi sisa waktu sebelum hari keberangkatannya tiba.


Suasana mall begitu ramai. Ryanthi asyik melihat banyak barang, tapi tak membeli apapun. Padahal, kali ini dia mengantongi beberapa lembar rupiah yang cukup jika digunakan untuk membeli beberapa setel pakaian bermerk ternama.


Merasa bosan, Ryanthi memilih masuk ke toko aksesoris. Dia melihat beberapa jepit rambut dari perak. Setelah mendapat yang dia sukai, Ryanthi langsung membayar di kasir.


Setelah dari toko aksesoris, gadis itu melanjutkan langkah di antara deretan pertokoan. Tiba-tiba, dirinya ingin membeli es krim. Sesaat kemudian, dia berjalan sambil membawa es krim dalam cone dengan rasa green tea.


"Sebaiknya, aku langsung pulang saja," pikir Ryanthi. Namun, langkah gadis cantik itu seketika terhenti, saat mendengar suara wanita memanggil namanya. Ryanthi menoleh.


Seorang wanita cantik bertubuh indah dalam balutan dress off shoulders, berjalan menghampiri Ryanthi. Wanita yang tak lain adalah Fiona.


"Kenapa sendirian? Mana Adrian?" tanyanya berlagak mengedarkan pandangan ke sekitar mereka. Namun, sesaat kemudian Fiona tertawa pelan. "Ah, ya! Aku lupa," ucapnya.


Fiona berjalan semakin mendekat ke hadapan Ryanthi. "Malam itu, aku melihat Adrian seorang diri. Dia tampak sangat kalut dan sedih. Kami berbincang hangat sepanjang malam. Akhirnya, dia bisa kembali tertawa ceria," tutur Fiona penuh percaya diri.


"Oh, ya?" Ryanthi masih terlihat biasa saja menanggapi ocehan Fiona.


"Ya. Adrian memang selalu ceria saat berada di dekatku. Dia akan merasa terhibur. Karena itulah, Adrian nyaman bersamaku," ucap Fiona lagi yang sengaja memanas-manasi Ryanthi.


"Kamu tahu, Ryanthi?" Fiona tersenyum puas. "Adrian mengantarkanku pulang. Kami sempat berciuman. Aku tidak menyangka bahwa bibirnya masih terasa manis. Sama seperti dua tahun yang lalu."


Gemuruh hebat melanda hati Ryanthi. Dia menelan ludah dalam-dalam, lalu tersenyum. "Tak masalah. Kau memang seorang penghibur. Jadi, pantas saja jika dia merasa senang ditemani wanita sepertimu," balas Ryanthi. Ucapannya terkesan biasa, tapi terdengar tajam di telinga Fiona yang langsung memasang raut berbeda.


"Adrian pasti akan kembali padaku. Dia tak membutuhkan wanita yang bisa membahagiakannya, seperti kamu. Akulah satu-satunya wanita yang bisa memahami keinginan seorang Adrian. Dia lebih pantas berdampingan dengan seseorang yang hangat dan tahu bagaimana cara menyenangkanya." Fiona terdengar begitu percaya diri.

__ADS_1


Ryanthi tersenyum sinis. Dia menjilat es krim yang hampir menetes ke tangan. "Baiklah, Fiona. Hiburlah dia sampai puas. Ini hadiah untukmu." Ryanthi menumpahkan es krimnya di pundak Fiona.


__ADS_2