
Ryanthi segera menyudahi sarapan. Dia meneguk minumannya meski hanya sedikit. Gadis itu berdiri, lalu membereskan piring serta gelas kotor, bekas dirinya dan Adrian sarapan. Ryanthi memasukkan mereka ke bak tempat mencuci piring.
"Kamu sedang apa?" tanya Adrian dari arah belakang.
Ryanthi menoleh. Dia tidak menjawab. Gadis itu hanya memberi isyarat, dengan menunjukan apa yang sedang dirinya kerjakan.
Adrian memperhatikan gadis cantik itu beberapa saat, sebelum kembali berkata, "Biarkan saja. Itu semua tugasnya Wati."
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa melakukannya," ujar Ryanthi seraya melanjutkan pekerjaannya meskipun telah dilarang.
Adrian tidak berkomentar lagi. Dia terlihat gelisah. Sesekali, pria itu mengacak-acak rambutnya, hingga terlihat jauh lebih berantakan dibanding tadi. Namun, itu tidak membuat pesona Adrian menjadi luntur.
Sesaat kemudian, Adrian beranjak dari dapur. Dia menyapa wanita yang sejak tadi berceramah entah tentang apa. "Kenapa Mama datang sepagi ini?" sambut Adrian, seraya mencium pipi kiri dan kanan wanita yang tak lain adalah ibunya.
"Sambutan macam apa itu?" Wanita dengan penampilan yang sangat elegan tadi, menepuk pelan pipi Adrian. Setelah itu, dia duduk di sofa dengan sikap yang begitu anggun.
Wanita itu adalah Indira, ibunda Adrian. Dia merupakan seorang sosialita. Itu terlihat jelas dari sikap dan penampilannya. Indira tidak muda lagi. Namun, kecantikannya masih terlihat jelas. Dia juga seringkali melakukan yoga, sehingga pembawaannya tampak sangat tenang dan lembut.
"Hari ini kamu tidak ada acara, kan? Bagaimana kalau kamu menemani Mama ke acara sosial, yang diadakan oleh beberapa teman Mama " Indira meletakkan tas mahalnya di meja.
"Tidak bisa. Hari ini aku ada acara mendadak," tolak Adrian segera.
Indira mengeluh pelan. Dia kecewa karena Adrian selalu menolak saat diajak pergi. Sebenarnya, Indira mengetahui bahwa putra sulungnya itu sengaja menghindar. Wanita dengan sanggul rapi memakai harnet tadi telah menyadari, bahwa putra kesayangannya itu sudah tahu jika dirinya akan mengenalkan Adrian kepada putri salah seorang sahabat. Indira ingin agar Adrian menikah secepatnya.
"Acara apa yang lebih penting dari Mama?" protes Indira sambil menatap Adrian yang masih setia melajang.
Adrian menyandarkan tubuh seraya mengusap-usap bibirnya. Ia kerap melakukan kebiasaan seperti itu, setiap kali tengah memikirkan sesuatu.
Sedangkan, Indira mencoba untuk mengerti. Dia berharap apa yang dipikirkannya sesuai dengan jawaban yang akan Adrian berikan.
"Aku ...." Adrian tidak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Ryanthi muncul di ruang tamu. Kehadiran gadis itu, langsung membuat Indira terperangah. Ini adalah pertama kali Adrian membawa seorang gadis ke apartemennya.
__ADS_1
Ryanthi tampak kikuk, karena Indira terus memperhatikannya. Terlebih, saat wanita dengan blouse lengan panjang dan celana kulot itu berdiri. Dia menghampiri Ryanthi, sambil membawa senyum ramah. Sangat jauh berbeda dengan sikap Maya atau Vera.
Sementara, Adrian duduk sambil mencondongkan badan ke depan. Pria itu mengusap-usap keningnya.
"Kenapa gadis ini muncul sekarang?" pikirnya, diiringi gelengan kepala tak mengerti.
"Hey, siapa ini?" tanya Indira hangat. Dia menatap penuh cinta kepada Ryanthi yang malu-malu.
Adrian berdiri, lalu menghampiri mereka. "Dia ...."
"Ryanthi." Belum sempat Adrian melanjutkan kata-katanya, Ryanthi lebih dulu menyebutkan namanya. Membuat Adrian langsung menatap dengan sorot terpana.
"Ryanthi? Nama yang sangat cantik. Sesuai dengan orangnya," sanjung Indira, seraya mencium kening Ryanthi. Indira menangkup wajah gadis itu dengan bahagia bercampur haru. "Cantik sekali," sanjungnya lagi. Rona bahagia tak jua sirna dari wajahnya.
Namun, tiba-tiba Indira memicingkan mata, melihat luka di bawah mata Ryanthi.
"Kenapa wajahmu, Sayang?" tanyanya.
Ryanthi bergetar menerima perlakuan seperti tadi, dari orang yang tidak dikenalnya. Ryanthi tersenyum seraya menggeleng pelan.
Indira lalu melirik Adrian, yang terkesima dengan adegan di hadapannya. Dia tersenyum bahagia sambil meraih tas dari atas meja. "Baiklah. Mama akan pergi sendiri. Tidak perlu khawatir. Kamu lanjutkan saja acaramu," ujarnya.
"Kapan-kapan, ajaklah Ryanthi untuk makan malam di tempat Mama," ucapnya lagi dengan senyum terkembang. Di a lalu menatap Ryanthi. "Tentu saja dengan pakaianmu sendiri," guraunya diakhiri tawa renyah.
Adrian dan Ryanthi ikut tertawa, meskipun ada rasa canggung dalam bahasa tubuh mereka. "Iya," jawab Adrian. Membuat Ryanthi mendelik padanya. Namun, Adrian tidak peduli. Dia langsung mengantar Indira menuju lift.
Hari itu, jalanan tidak terlalu ramai. Mobil yang dikendarai Adrian, dapat melaju bebas tanpa terlalu banyak tersendat. Pria tampan tersebut begitu fokus menatap ke depan, dari balik kacamata hitam yang membuatnya terlihat semakin gagah.
Namun, Ryanthi tidak sedang memikirkan tentang betapa menawannya seorang Adrian. Dia justru memikirkan kejadian kemarin. Entah apa yang sudah Vera adukan pada Surya. Terlebih, Ryanthi tidak pulang semalaman.
Ryanthi mengeluh pelan seraya merapikan rambut menggunakan tangan. Adrian sempat meliriknya sebentar, sebelum kembali fokus pada lalu lintas kota.
__ADS_1
"Mamamu sangat baik," ucap Ryanthi, memecah kebisuan antara mereka.
Adrian menggumam pelan. "Dia memang seperti itu. Mamaku memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Dia sangat peduli pada anak terlantar dan gelandangan," jawab Adrian tanpa menoleh kepada Ryanthi.
"Bajumu dan yang lainnya masih basah. Wati baru mencucinya hari ini. Jadi, ambil saja lain kali," ucap Adrian lagi, membahas tentang dress Ryanthi. Dia bicara tanpa menoleh kepada gadis itu, karena tetap fokus pada kemudi.
"Buang saja. Lagi pula, baju itu sudah rusak.
Padahal itu baju baruku," sesal Ryanthi.
"Tidak apa-apa. Akan kukembalikan nanti. Lagi pula, kamu juga harus mengembalikan bajuku. Meskipun aku punya banyak di lemari, tapi semua yang sudah menjadi milikku harus aku jaga dengan baik. Tidak akan kubiarkan hilang begitu saja," ujar Adrian. Kata-kata yang terdengar memiliki makna bagi Ryanthi.
"Tenang saja. Pasti aku kembalikan. Lagi pula, ayahku juga tidak memakai baju seperti ini. Jadi, bajumu pasti aman," jawab Ryanthi, tanpa menoleh kepada Adrian. "Aku akan mencucinya sampai bersih," lanjut gadis itu
"Baguslah," balas Adrian singkat.
Tak lama kemudian, Ryanthi menyuruh Adrian menghentikan laju kendaraan di depan sebuah rumah. Namun, itu bukanlah rumahnya, karena kediaman Surya berada di blok lain. Ryanthi berusaha melepas sabuk pengaman yang melintang di dada cukup lama.
Sedangkan, Adrian hanya memperhatikan. Dia tidak membantunya sama sekali.
Namun, akhirnya Ryanthi berhasil melepaskan sabuk pengaman tadi. "Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Ryanthi pelan. Dia lalu membuka pintu mobil.
"Ini rumahmu?" tanya Adrian, sambil menunjuk rumah di mana dia menghentikan kendaraan..
Ryanthi mengangguk, meskipun terlihat ragu. Dia bergegas turun, lalu menutup kembali pintu mobil.
"Sampai bertemu lagi, Ryanthi." Adrian mengucapkan kata-kata perpisahan, yang mengandung makna lain di pikiran Ryanthi.
Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum kecil seraya mengangguk pelan. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada Adrian. Namun, tentu saja dia akan bertemu lagi dengan pria itu, untuk mengembalikan bajunya.
Ryanthi hanya berdiri di depan rumah besar, yang dia akui sebagai rumahnya. Gadis itu tak langsung masuk, karena menunggu Adrian pergi terlebih dulu. Setelah mobil yang Adrian kendarai melaju, barulah Ryanthi melangkah.
__ADS_1
Namun, gadis itu tidak masuk ke rumah yang tadi Adrian tunjuk.
Adrian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, saat melihat pantulan bayangan Ryanthi dari spion mobil. Dia tersenyum geli, atas kebohongan yang dilakukan gadis cantik itu.