Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH : Di Balik Kegelapan Malam


__ADS_3

Sebelum memutuskan keluar dari kamarnya, Ryanthi memastikan dulu apakah matanya terlihat sembap atau tidak. Dia tidak ingin semua orang mengetahui, bahwa dirinya menangis semalaman. Namun, karena matanya memang terlihat sembap, akhirnya Ryanthi memilih tetap di dalam kamar.


Dilihatnya ponsel yang tergeletak di atas meja sebelah tempat tidur. Ryanthi meraih benda itu, lalu memeriksanya. Namun, rasa kecewa menghampiri. Adrian tidak menghubungi dirinya. Tak seperti hari-hari kemarin.


Ryanthi mulai terkenang dengan semua hal yang telah dia lakukan bersama Adrian. Satu hal yang paling sulit untuk dilupakan, yaitu ketika pria tampan tersebut menciumnya mesra.


Hal sama juga dialami Adrian. Pria itu berdiam diri di dalam kamar. Adrian memutar kembali rekaman peristiwa yang telah dia lewati bersama Ryanthi. Pria itu tak dapat melupakan semua adegan ciumannya bersama gadis itu.


Adrian sudah mencium belasan gadis. Namun, entah mengapa kali ini terasa berbeda untuknya. Adrian tersenyum sendiri saat ingat kejadian itu.


"Ah." Ryanthi mengeluh pelan. Perutnya terasa lapar. Sepanjang hari dia tidak keluar kamar. Ryanthi juga belum makan sama sekali. Terpaksa, Ryanthi keluar dari kamarnya saat makan malam.


Surya tersenyum bahagia, melihat Ryanthi akhirnya ikut makan bersama mereka. Sementara, Maya hanya mendelik berkali-kali.


"Kamu baik-baik saja, kan? Seharian ini, Ayah tidak melihatmu turun," tanya Surya sambil menyodorkan piring kepada Maya, yang segera menuangkan makanan ke piring sang suami.


"Aku rasa, Ryanthi sedang ada masalah dengan Adrian," ujar Vera seraya melirik Ryanthi. Sementara, Arshan tidak bicara apa-apa, selain mencuri pandang ke arah gadis itu.


Ryanthi hanya diam. Dia tidak menanggapi pertanyaan Surya ataupun ucapan Vera. Gadis itu hanya fokus pada makanan yang ada di piringnya.


Melihat perubahan sikap Ryanthi, Surya kembali bertanya, "Apa memang ada masalah dengan Mas Adrian?"


Ryanthi meletakan sendok, lalu menoleh kepada sang ayah. "Tidak, Yah. Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat.


Namun, Surya tidak percaya begitu saja. "Lalu, ada apa? Ayah lihat, sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu?" selidiknya.


Ryanthi tidak langsung menjawab. Dia seperti tengah memikirkan apa yang akan disampaikan kepada Surya. Sesaat kemudian, Ryanthi mulai bicara. "Aku hanya memikirkan tentang rencana yang pernah kita bicarakan waktu itu," jawabnya dengan pandangan lurus kepada sang ayah.


"Tentang kuliahmu itu?" Surya menegaskan, yang segera berbalas anggukan dari Ryanthi.


Surya menelan makanan yang sedang dikunyah. Setelah itu, dia meneguk sedikit air putih yang telah disediakan. "Bukankah kita sudah sepakat. Ayah setuju saja jika kamu sudah benar-benar yakin. Ayah akan mengurus semuanya," jelas Surya.

__ADS_1


"Niatku sudah bulat, Yah," sahut Ryanthi yakin.


"Memangnya ada masalah apa, Pa?" Maya penasaran, karena dari tadi Surya hanya bicara dengan Ryanthi, seolah-olah di meja makan itu hanya ada mereka berdua.


Surya menoleh kepada Maya lalu menjawab, "Ryanthi ingin melanjutkan kuliahnya."


Mendengar hal itu, seketika ada banyak bunga bermekaran di hati Maya. Dia merasa senang. Dengan begitu, Ryanthi akan sering tidak berada di rumah. "Itu rencana yang sangat bagus, Pa. Jadi, Ryanthi ada kegiatan. Dia tidak hanya duduk termenung," celetuknya.


"Aku juga setuju jika Ryanthi ingin melanjutkan kuliah. Aku harap semoga sampai selesai. Jangan sepertiku." Vera mengakhiri kata-katanya dengan tawa pelan.


Ryanthi tersenyum simpul mendengar ucapan Vera. "Kita jelas berbeda, Ver. Jadi, aku pasti bisa menyelesaikan kuliahku sampai selesai," jawab Ryanthi enteng, yang langsung berbalas cibiran dari Vera.


"Memangnya kamu akan melanjutkan di universitas mana?" tanya Vera lagi.


Ryanthi terdiam sejenak. Sesaat kemudian, dia menjawab, "Paris."


Sontak, jawaban Ryanthi membuat Vera dan Maya terbelalak.


Sementara, Arshan langsung tersedak karenanya. Pria itu menatap tajam kepada Ryanthi yang kembali fokus pada piring keramik di hadapannya.


Ryanthi menoleh kepada Maya, lalu tersenyum. "Tenang saja, Tante. Aku tidak akan mengambil jatah uang belanja Tante. Selama ayah sanggup, aku rasa tidak ada masalah. Iya kan, Yah?" Ryanthi mengarahkan perhatian kepada sang ayah.


Surya mengangguk setuju. "Lagi pula, Ayah belum memberikan apapun, sebagai hadiah kepulanganmu ke rumah ini," jawabnya santai.


"Apapun itu, aku sangat berterima kasih. Aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku dan mendiang ibu. Aku harap, suatu saat nanti bisa berdiri di kaki sendiri. Tidak menjadi parasit untuk orang di sekitarku," jawab Ryanthi, tanpa bermaksud menyindir siapa pun.


Surya tersenyum bangga dengan tekad kuat Ryanthi. Tentu saja, dia akan selalu mendukungnya semaksimal mungkin.


Sementata, Arshan terus menatap Ryanthi. Dia tidak percaya bahwa gadis itu memutuskan akan pergi jauh. Lalu, untuk apa dirinya menikahi Vera, jika ternyata Ryanthi tidak ada di rumah itu lagi?


Hingga selesai makan malam, Arshan masih termenung sendirian di teras rumah. Kehidupan macam apa yang sedang dia jalani saat ini? Penyesalan terbesarnya, karena telah mengkhianati Ryanthi yang sangat dia cintai.

__ADS_1


Arshan duduk bersandar pada salah satu pilar rumah berukuran besar. Andai saja dulu dirinya memiliki keyakinan kuat, mungkin saat ini dia masih dapat menggenggam tangan Ryanthi. Namun, kini Ryanthi akan pergi jauh.


Lamunan Arshan terus terbang ke mana-mana.


Tanpa sengaja, dia melihat Ryanthi berdiri di atas balkon. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan. Wajahnya tampak tidak berseri sedikit pun.


Ingin rasanya Arshan menghampiri dan menanyakan alasan Ryanthi memilih pergi jauh? Arshan merasa itu bukanlah karena dirinya. Apakah Adrian yang sudah membuat Ryanthi ingin pergi dari Indonesia? Apa yang telah diperbuat pria itu kepada mantan kekasihnya tersebut?


Arshan terus menatap Ryanthi. Hatinya terasa kian perih, ketika melihat Ryanthi menyeka air mata. "Harusnya aku yang menghapus air matamu," gumam Arshan lirih. Cukup lama pria itu memperhatikan Ryanthi di sana, hingga malam semakin larut.


Suasana sepi kian terasa. Namun, Ryanthi masih betah berdiri di sana sendirian. Memikirkan banyak hal, yang diberikan oleh satu orang yaitu Adrian. Ya, pria tampan tersebut telah membawa banyak perubahan pada hidup Ryanthi. Pengaruhnya teramat besar bagi gadis itu.


"Apa yang kamu pikirkan, Nak?" Sentuhan halus di pundak Ryanthi, membuat gadis itu tersadar dari lamunan.


Ryanthi seketika menoleh, kemudian tersenyum. "Ibu," sambutnya hangat.


Farida selalu hadir di saat Ryanthi membutuhkannya. Sesuai yang pernah wanita itu katakan, bahwa dia akan selalu ada kapanpun Ryanthi perlukan. "Apa yang membuatmu merasa bimbang, Nak? Jika kamu sudah yakin, kenapa harus kembali merasa ragu?"


"Aku takut, Bu," ucap Ryanthi lirih.


"Apa yang kamu takutkan, Nak?" tanya Farida lembut.


"Banyak. Ada banyak sekali yang kutakutkan saat ini. Aku tidak dapat memikirkannya dengan baik." Ryanthi tertunduk lesu.


Farida tersenyum lembut. Dia berdiri tepat di sebelah Ryanthi. Tatapannya melayang jauh, menembus pekat malam yang membentang luas.


"Lihatlah langit gelap itu, Nak," tunjuk Fardia. "Ia kosong. Tak ada yang menarik dan terlihat menakutkan. Namun, ada banyak orang yang menantikan kedatangannya. Di balik rasa sepi yang dihadirkan kegelapan, nyatanya ada banyak tawa kebahagiaan." Farida menoleh sesaat kepada Ryanthi.


"Seorang ayah yang kembali ke pelukan hangat keluarga, setelah bekerja sepanjang hari. Seorang suami yang pulang dengan sambutan mesra istrinya. Seseorang yang lelah, dapat merebahkan tubuh dan mengembalikan energi mereka yang terkuras habis."


"Jika kegelapan itu terlihat sangat menakutkan, mengapa ada banyak kebahagiaan di sana?" Farida kembali melayangkan tatapan lembut penuh kasih, kepada Ryanthi yang seakan tengah mencerna semua kata-katanya.

__ADS_1


"Apakah aku terlalu berlebihan, Bu?" tanya Ryanthi setelah beberapa saat terdiam.


"Kamu hanya sedang berada di masa transisi, yang mungkin terasa begitu membingungkan. Namun, Ibu yakin bahwa kamu pasti bisa melalui semua ini dengan baik. Kamu adalah wanita kuat. Ryanthi, putri Farida. Majulah, jika memang dirimu sudah merasa yakin."


__ADS_2