
Arumi menatap pria dengan gaya rambut man bun itu untuk sejenak. Namun, sesaat kemudian ia pun segera mengalihkan tatapannya pada kendaraan yang terus hilir mudik tanpa henti di jalan raya itu.
Arumi tidak ingin menatapnya. Ia bahkan tidak berharap untuk bertemu lagi dengan pria itu, meskipun kenyataannya ia adalah seorang pengganggu yang menawan.
"Kenapa kita bisa bertemu disini?" tanya Moedya dengan setengah menggumam. Ia seakan bertanya kepada dirinya sendiri.
"Entahlah," jawab Arumi tak acuh.
"Mungkin kota ini terlalu kecil untuk kita berdua," imbuh Arumi tanpa menoleh. Namun, tiba-tiba ia terkejut, karena Moedya kini duduk tepat di sampingnya.
Arumi melirik pria itu dengan diam-diam. Dari sudut manapun, Moedya memang terlihat begitu indah untuk dipandang.
"Oh ... God. He is so charming," batin Arumi.
"Kenapa sendirian disini?" tanya Moedya lagi. Ia menoleh dengan tiba-tiba kepada Arumi, membuat gadis yang tengah menatapnya secara diam-diam itu menjadi agak grogi.
"Um ... aku ... aku sedang ... aku sedang menunggu kakakku. Dia akan menjemputku kemari," jawab Arumi dengan terbata-bata. Ia merasa tampak bodoh di hadapan Moedya saat itu.
"Maksudku ... apa yang kamu lakukan disini?" tanya Moedya lagi. Ia memperjelas pertanyaannya untuk Arumi.
"Kamu sendiri? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Arumi balik bertanya.
Tanpa menjawab, Moedya menunjuk bangunan yang berada di sebelah halte bus itu, yang tiada lain merupakan bangunan bengkel miliknya.
"Kebetulan sekali," gumam Arumi. Ia sendiri tidak menyangka karena langkah kakinya ternyata telah membawanya ke tempat itu.
"Jadi?" tanya Moedya. Ia masih menatap gadis dengan rambut yang digulung asal-asalan itu. Sebagian rambut gadis itu jatuh dan bergerak-gerak karena hembusan angin sore itu.
"Ada minuman dingin disana, mungkin saja kamu haus," tawar Moedya dengan senyuman kalemnya. Ia menawari Arumi untuk mampir ke bengkelnya.
"Modus," gumam Arumi dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Moedya.
"Ah ... tidak! Maksudku ... kakakku sedang dalam perjalanan kemari," jelas Arumi.
"Untunglah dia tidak mendengarnya," gumam Arumi dalam hatinya.
"Pada jam seperti ini, biasanya jalanan macet parah," ujar Moedya dengan gaya bicaranya yang tenang. Tatapannya lurus tertuju pada jalan raya yang ramai itu.
"Tidak masalah. Lagipula kemacetan memang selalu menjadi sahabat kota besar, kan?" jawab Arumi dengan datar.
2
Moedya menggumam pelan. "Ya, tentu saja," ia kembali menatap Arumi dari samping.
"Kita sudah bertemu sebanyak ... berapa kali?" tanya Moedya. Ia seakan tengah mengingat-ingat sesuatu.
"Aku belum mengetahui namamu sama sekali." lanjutnya.
Arumi balas melirik pria yang kini tengah duduk dengan setengah membungkuk itu. Ia juga melirik tato dengan nama seorang wanita yang ada di pergelangan tangan kanan Moedya.
__ADS_1
Arumi tidak ingin bermain api. Akan lebih baik jika ia menghindari pria dengan penampilan yang eksentrik itu.
"Bagaimana? Apakah is ...." belum sempat Arumi melanjutkan perkataannya, Keanu telah tiba disana. Pria dengan penampilan rapi itu sepertinya baru pulang dari sebuah acara resmi.
Melihat kedatangan Keanu, Moedya pun segera berdiri. Ia kemudian menyambut teman baiknya itu dengan hangat. Mereka pun terlihat sangat akrab.
Arumi memperhatikan mereka berdua dengan lekat. Kedua pria itu memang tampak ibarat bumi dan langit dalam hal penampilan. Akan tetapi, mereka berdua sama-sama memiliki daya tarik tersendiri.
"Jadi, bagaimana kejutan yang kamu siapkan itu?" tanya Keanu kepada Moedya.
Moedya tersenyum lebar. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak berbakat dalam hal seperti itu," sesalnya. Ia pun mengeluh pelan.
"Jangan katakan jika kamu ketahuan dan semuanya menjadi gagal," ujar Keanu.
"Hampir," jawab Moedya dengan sedikit sesal dalam nada bicaranya.
m
Keanu tertawa renyah. "Tante Ranum itu, selain cantik dia juga sangat pintar," puji Keanu.
Arumi meringis kecil mendengar sebutan 'tante Ranum'.
"Ya, memang. Tetapi, ibuku sangat menyukai kue dari toko ibumu itu. Kapan-kapan ... kami pasti akan pesan kembali dari sana," ucap Moedya seraya melirik Arumi yang tiba-tiba memasang mimik wajah yang kurang dimengerti olehnya.
Sesaat kemudian, Moedya kembali mengalihkan perhatiannya kepada Keanu. Mereka berdua kembali berbincang hangat.
Dengan diam-diam, Arumi kemudian melirik tato di pergelangan tangan kanan Moedya. Ia lalu menghela napas pendek. "Bodohnya aku!" umpat Arumi dalam hatinya. Ia pun hanya terdiam dan kembali menjadi pendengar dalam percakapan yang tidak ia mengerti antara Moedya dan kakaknya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara dering telepon yang berasal dari ponsel milik Keanu. Hal itu telah menghentikan obrolan diantara kedua sahabat itu.
Sementara Moedya hanya tersenyum. Ia seakan sudah mengetahui siapa yang saat itu menghubungi dan berbicara dengan Keanu di telepon.
Arumi masih terdiam. Tiba-tiba ia merasa grogi dan salah tingkah ketika Moedya kembali menatapnya dengan cukup intens.
Arumi pun memberanikan diri untuk membalas tatapan itu meski dengan ragu-ragu.
"Kamu tahu siapa yang menghubungi kakakmu itu?" bisik Moedya.
Arumi tertegun. Ia menggerakan kedua bola matanya dengan tidak beraturan. Ia pun akhirnya menggeleng pelan.
"Aku mengetahuinya," bisik Moedya lagi membuat Arumi merasa penasaran.
"Iya, kah?" bisik Arumi dengan wajah sumringah.
Moedya mengangguk yakin.
"Beritahu aku!" pinta Arumi dengan setengah berbisik kepada Moedya.
Moedya tersenyum dengan kalemnya. Ia kembali menatap Arumi, membuat hati gadis itu terasa berayun-ayun seperti sebuah sampan di tengah lautan lepas.
Sesaat kemudian, Moedya pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeansnya. Ia lalu menyodorkan ponsel itu kepada Arumi dengan tanpa menoleh sedikitpun kepada gadis itu. Sikapnya terlihat sangat tenang.
__ADS_1
Arumi mengerutkan alisnya. Ia mengerti dengan maksud dari pria dengan kaos oblong berwarna biru navy itu.
Dengan agak ragu, Arumi pun menerima ponsel itu. Ia lalu mengetikan sesuatu disana. Apalagi jika bukan nama dan nomor teleponnya.
Tidak berselang lama, Arumi mengembalikan ponsel itu kepada Moedya yang masih terlihat begitu tenang seolah tidak ada apa-apa.
Moedya pun memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celana jeansnya.
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka berdua, apalagi karena saat itu Keanu kembali menghampiri mereka.
"Ayo, pulang!" ajak pria dengan rambut pendek itu.
Arumi pun segera bangkit dari duduknya. Ia lalu melangkah menuju mobil sang kakak.
"Kami permisi dulu," ucap Keanu kepada Moedya yang juga turut berdiri.
Moedya tersenyum simpul. Ia lalu menyalami Keanu dengan akrabnya. Sementara itu, Arumi telah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan duduk manis disana.
Diam-diam gadis itu kembali menoleh kearah pria dengan kaos biru itu berdiri. Moedya tengah menatapnya dengan lekat.
Perlahan Arumi pun menggerakan bibirnya, hingga akhirnya tampaklah lesung pipi yang membuatnya terlihat semakin manis.
Tidak ada alasan bagi Moedya untuk tidak membalas senyuman kecil itu. Ia pun menyunggingkan senyuman kalemnya.
Cukup lama, tatapan keduanya terus beradu. Hal itu terus berlangsung, bahkan hingga mobil yang dikendarai oleh Keanu mulai bergerak maju dan meninggalkan tempat itu.
Moedya masih berdiri disana. Ia terus menatap kepergian Arumi hingga mobilnya tak terlihat lagi karena telah berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan itu.
Menghela napas panjang, Moedya kemudian memilih untuk duduk. Ia pun mengeluarkan ponsel itu dari dalam saku celana jeans dan memeriksa phonebook nya.
Moedya pun tersenyum simpul. Daftar kontaknya kini bertambah satu lagi. Ada sebuah nama yang berada di urutan pertama dalam daftar kontak itu. Arumi.
"Jadi ... namamu Arumi rupanya?" gumam Moedya. Ia pun mulai mengetik sesuatu.
Sementara itu, Arumi masih berada di jalan ketika ia merasakan ponselnya bergetar beberapa kali. Hatinya merasa penasaran, akan tetapi ia takut jika ternyata Edgar lah yang telah menghubunginya.
Sekali lagi, ponsel Arumi kembali bergetar. Rasa penasaran semakin menggelitik hati kecilnya. Tangannya pun terasa begitu 'gatal' ingin segera memeriksa ponselnya itu, dan akhirnya ia pun kalah.
Dirogohnya benda tipis itu dari dalam tas kecilnya. Arumi pun mulai membuka layar ponselnya.
Mengecewakan. Ada beberapa pesan masuk dari Edgar. Pria berambut ikal itu, masih belum menyerah juga. Edgar mengajak Arumi untuk bertemu besok sore.
Arumi tidak membalas satupun dari kelima pesan yang masuk itu. Ia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Wajahnya pun tampak kecewa.
Akan tetapi, sesaat kemudian Arumi merasakan ponselnya kembali bergetar.
Gadis itu mengeluh pelan. Ia kembali mengeluarkan ponselnya dengan malas. Untuk kali ini, Arumi tersenyum manis.
Hai.
Kenapa Arumi harus begitu terkesan dengan isi pesan seperti itu? Tentu saja, karena Arumi terkesan pada si pengirim pesan tersebut yang tiada lain adalah Moedya.
__ADS_1
Arumi segera membalas pesan tersebut. Ia tampak senyum-senyum sendiri di depan layar ponselnya.
Bagaimanapun juga, Arumi akan menagih hutang informasi kepada pria bernama Moedya itu.