Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH ENAM : Dalam Penantian


__ADS_3

Setibanya di bandara, Ryanthi hanya duduk diam tak banyak bicara. Satu sisi hatinya menginginkan kehadiran Adrian di sana. Namun, sisi hati yang lain mengatakan bahwa akan lebih baik dirinya tak melihat pria itu sebelum berangkat ke Perancis.


"Jadwal penerbangan kita kurang lebih sepuluh menit lagi. Semoga tepat waktu," ucap Surya membuka percakapan, setelah dari tadi membiarkan putrinya termenung.


Ryanthi menoleh lalu tersenyum.


"Semalam kamu tidak pulang? Ayah lihat kamarmu kosong," ucap Surya lagi, yang seketika membuat Ryanthi terkesiap.


"I-iya. A-aku ...." Ryanthi tergagap. Dia tak mungkin mengatakan bahwa dirinya menginap di apartemen Adrian.


"Apa kamu sudah berpamitan kepada Adrian?" tanya Surya lagi.


Dengan berat, Ryanthi mengangguk pelan. Dia tak bicara lagi, hingga terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi telah siap.


"Ayo," ajak Surya.


Ryanthi mengangguk. Meski raut wajahnya terlihat agak masam, tapi gadis itu berusaha terlihat biasa saja. Ryanthi berdiri. Baru saja dia akan meraih gagang koper, terdengar suara seseorang menyebut namanya. Gadis itu langsung menoleh.


Raut masam tanpa semangat dan senyum, seketika sirna dari paras cantik Ryanthi. Lengkungan indah bak pelangi, terlukis jelas di bibir berpoleskan lipstik warna peach putri Surya tersebut, saat melihat kehadiran seseorang yang teramat dirinya harapkan.


Ya. Adrian berdiri beberapa langkah dari tempat Ryanthi dan Surya berada. Pria itu datang ke sana, meski terlambat.


Tanpa banyak bicara, Adrian langsung menghampiri Ryanthi. Dia memeluk gadis cantik pujaan hatinya. "Semoga kamu berhasil menyelesaikan pendidikan dengan hasil terbaik," ucap Adrian tulus.


Ryanthi mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca. Setitik butiran bening terjatuh di sudut bibir.


Namun, dengan segera Adrian menghapus air mata itu. Dia mengecup kening Ryanthi penuh kasih. "Aku akan menunggumu hingga kembali. Jangan memikirkan apa pun. Aku janji tak akan berbuat nakal sampai kamu kembali," ucapnya, diakhiri dengan ciuman lembut di bibir Ryanthi.


Adrian tak merasa sungkan mencium Ryanthi di depan Surya. Dia tak peduli dengan apa yang dipikirkan rekan sekaligus calon mertuanya tersebut. Adrian hanya ingin meninggalkan jejak lain, sebelum dia berpisah untuk tiga tahun ke depan bersama sang kekasih.


"Ayo. Kita harus berangkat sekarang," ajak Surya.


Dua sejoli itu seketika saling menjauh. Mereka bertatapan beberapa saat, lalu tersenyum.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu" pamit Ryanthi. Begitu juga dengan Surya yang ikut menyalami kekasih putrinya.


Adrian tersenyum kalem sambil mengangguk pelan. Dia berdiri tegak memperhatikan Ryanthi yang sesekali menoleh ke arahnya. Makin lama, gadis itu semakin menjauh. Hingga akhirnya tak terlihat lagi.


Adrian masih berdiri terpaku di tempatnya. Dia harus membiasakan diri lagi tanpa kehadiran seorang kekasih. Namun, itu bukan berarti dirinya bebas melakukan apa pun.


Hari berganti. Adrian menjalani aktivitas seperti biasa. Dia memaksakan diri untuk terlihat biasa, meski ada rasa kehilangan teramat menyiksa batin. Tiga tahun bukanlah waktu yang lama, tapi juga tak sebentar. Apalagi, untuk seseorang yang sedang dilanda rindu berat seperti dirinya.


Begitu juga dengan Ryanthi. Gadis itu sudah disibukan dengan berbagai kegiatan perkuliahan. Setiap hari, Ryanthi selalu menyibukan diri. Terkadang, dia mengisi waktu luang dengan duduk di taman kota, sambil menikmati jutaan dedaunan yang jatuh dan menjadi penanda musim gugur.


Ryanthi menatap langit. Bayangan wajah Adrian hadir di sana. Terlukis dengan indah. Tentu saja. Pria itu akan selalu menjadi yang paling tampan baginya. Sampai kapanpun.


Tak jauh berbeda dengan Adrian. Setiap hari, setiap malam, pria itu selalu melakukan hal sama seperti yang Ryanthi lakukan. Dia juga melihat siluet indah sang kekasih, pada bentangan langit luas.


"Apakah kita sedang menatap langit yang sama, Ryanthi?" gumam Adrian. Seulas senyum terlukis di bibirnya.


"Indah sekali rasa rindu serta penantian yang kujalani sekarang. Aku tak akan pernah melupakannya. Hingga saat nanti kamu menjadi milikku seutuhnya, akan kujadikan perjuangan cintaku sebagai mahar paling istimewa untuk dirimu. Kamu adalah yang pertama membuat diriku merasakan cinta seperti ini."


"Bukannya aku tidak ingin bertemu denganmu. Namun, aku tak mau merasa sedih, saat kamu harus kembali ke Indonesia. Tolong mengertilah. Aku tidak sekuat itu."


Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Adrian.


"Aku menghormati keinginanmu, Ryanthi. Apapun itu, asalkan kamu merasa tenang dan bisa menjalani semuanya dengan baik."


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, tiga tahun sudah dijalani dalam hubungan jarak jauh yang membuat Adrian tersiksa dalam rindu berat. Pria itu menyibukan diri dengan bisnis baru yang dirintis bersama Surya.


"Kupikir, hanya aku yang dilarang datang ke sana," ucap Adrian saat melihat jalannya pembangunan resort mewah, yang merupakan kerjasama antara dirinya dengan Surya.


"Ryanthi melarang saya datang mengunjunginya. Dia memang sangat berbeda." Surya tersenyum samar.


Delapan belas tahun Surya berpisah dengan anak gadisnya itu. Setelah bertemu kembali, dia harus menjalani perpisahan lagi.


"Saya ingin meminta izin kepada Anda," ucap Adrian serius.

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya Surya tak kalah serius.


"Saat Ryanthi kembali nanti, saya ingin langsung melamarnya," jawab Adrian yakin.


Surya tidak menjawab. Pria paruh baya itu hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Adrian. Tak perlu ada penjabaran yang detail bagi ayahanda Ryanthi tersebut, tentang seberapa besar dia memberi restu atas hubungan antara Ryanthi dengan Adrian.


Beberapa bulan berlalu, dari percakapan antara Adrian dengan Surya.


Malam itu, Adrian berdiri di balkon dekat bukaan kolam renang. Dia menatap langit pekat yang terlihat sama kesepian seperti dirinya. Namun, kali ini seulas senyuman yang terlukis di bibirnya.


"Ryanthi, besok. Apa yang akan terjadi besok?" gumam Adrian, seraya terus memandang ke langit.


......................


Angin berembus tidak terlalu kencang. Langkah anggun berbalut flat shoes dari seorang gadis, terhenti saat di hadapannya ada beberapa orang yang telah menunggu penuh sukacita.


Ryanthi, akhirnya dia dapat merasakan kembali atmosfir Indonesia yang hangat, berhiaskan senyum ramah orang-orang terdekatnya.


"Ayah." Ryanthi menghambur ke pelukan Surya. Rasa rindu yang teramat besar, mereka luapkan saat itu.


"Ah, lihat. Itu Tante Ryanthi," ucap seorang wanita yang tak lain adalah Vera. Dia menggendong balita perempuan berusia sekitar dua tahun.


"Ya, Tuhan. Apa ini keponakanku?" Ryanthi memasang raut tak percaya. Dia bermaksud hendak menyentuh putri Vera. Akan tetapi, dengan segera Maya meraih tangannya.


Ryanthi tertegun seraya menatap sang ibu tiri. Begitu juga dengan yang lain. Terlebih, Surya. Dia tak berharap istri sirinya tersebut berbuat onar di sana.


Namun, apa yang dipikirkan semua orang ternyata salah. Maya tersenyum, lalu memeluk Ryanthi. Suatu penyambutan yang tak pernah gadis itu duga.


"Maaf, karena Arshan tak bisa ikut menjemput. Dia harus bekerja. Suamiku sudah mendapat kenaikan jabatan di pabrik," ujar Vera. Wanita itu telah banyak berubah, dari semenjak pernikahannya dengan Arshan.


"Tidak apa-apa, Ver. Lagi pula, aku bukan presiden. Tidak perlu penyambutan secara istimewa," sahut Ryanthi, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Ryanthi begitu bangga karena telah menyelesaikan pendidikannya dengan hasil terbaik. Dia juga sangat bahagia, bisa kembali ke tanah air. Namun, di mana Adrian? Pria itu tak menjemputnya.

__ADS_1


__ADS_2