
Arumi begitu takjub dengan perubahan besar dari toko kue yang dikelola Ryanthi saat ini. Sebelum ia berangkat ke Paris, toko kue itu tidak sebesar dan semegah saat ini. Bahkan, sang ibu kini telah memiliki beberapa orang karyawan untuk membantunya disana.
Toko dengan nama "Sweet in Jar" . Nama yang sangat manis dan juga terlihat laris, dengan banyaknya pengunjung yang datang kesana siang itu.
Arumi tersenyum manis melihat aneka kue yang terpajang di dalam etalase. Begitu juga dengan aneka cookies dalam kemasan yang cantik dan terlihat sangat menarik.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?" terdengar sapaan seorang pelayan disana, membuat Arumi terkejut. Ia pun menoleh kepada gadis muda dengan setelan seragam khas toko itu.
"Tidak ... aku ...." belum sempat Arumi melanjutkan kata-katanya, terdengar Ryanthi menyebut namanya.
"Arumi ... Sayang!" Ryanthi tengah berjalan menghampirinya. Ia pun mencium pipi Arumi dengan hangatnya.
Arumi tersenyum manis. Gadis itu selalu tampak ceria dan senantiasa memamerkan sepasang lesung pipinya yang cantik.
"Ibu fikir kamu tidak jadi datang," ucap Ryanthi. Ia lalu melirik pelayan tadi dan menyuruhnya untuk kembali pada tugasnya.
"Aku sudah membujuk ayah dan kakak Ken ku yang tampan. Tetapi mereka tetap tidak mengizinkanku untuk menyetir mobil yang katanya merupakan hadiah untukku," keluh Arumi.
"Hmm ... aku rasa mobil itu akan betah menjadi penghuni garasi ayah," Arumi kembali mengeluh dengan setengah menggerutu.
Ryanthi tertawa renyah. Ia lalu menggandeng lengan Arumi. "Jangan mengeluh! Apalagi sampai menggerutu seperti itu," larang Ryanthi dengan nada bicaranya yang khas.
Arumi tidak menjawab. Ia terus mendampingi langkah sang ibu menuju dapur dari toko kue itu.
Sesampainya di dalam dapur, seketika Arumi tertegun ketika berdiri di dalam ruangan itu. Ia dibuat sangat takjub dengan suasana apik yang ditampilkan di dalam dapur itu.
Dapur yang begitu rapi dan bersih. Dapur dengan tata letak segala sesuatunya yang terlihat begitu penuh dengan perhitungan.
"Ibu ... ini dapur yang sangat luar biasa!" seru Arumi pelan. Matanya berbinar dan terus menjelajahi seluruh ruangan dapur itu. "Aku sangat menyukainya!" ucapnya lagi. Arumi terlihat begitu antusias. Ia menjelajahi seluruh bagian dari dapur itu dengan senyuman yang terus terkembang. .
"Dapur ini tidak lama lagi akan menjadi ruang kerjamu. Disini, akan tercipta banyak hasil karya manis dari tangan lembutmu," ucap Ryanthi. Ia menanggapi kekaguman dari putri bungsunya itu.
"Lakukan! Buatlah sesuatu dengan penuh cinta!" Ryanthi memegang kedua tangan Arumi dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Auranya penuh dengan semangat yang membara yang berusaha ia salurkan kepada putri kesayangannya itu.
"Wow! Aku sudah tidak sabar untuk membuat sesuatu disini," sahut Arumi dengan penuh semangat. Itulah ciri khas dari gadis manis dua puluh dua tahun itu.
"Jangan fikirkan dulu tentang bagaimana kamu dapat menjual hasil karyamu! Tetapi, buatlah dirimu nyaman dan merasa puas akan sesuatu yang telah kamu buat.
Yakinlah, segala sesuatu yang dibuat dengan hati yang tulus, maka pasti akan membuahkan hasil yang sangat membanggakan.
Setidaknya, buatlah dirimu merasa bangga atas apa yang telah kamu hasilkan dengan tangan ini," ucap Ryanthi. Ia tidak juga melepaskan senyuman itu dari wajahnya.
Arumi mengangguk. Ia membalas senyuman hangat dari sang ibu, dengan sebuah pelukan erat. "Aku sangat merindukan Ibu. Aku ingin dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ibu. Anggap saja untuk mengganti masa tiga tahun yang terlewatkan," lirih Arumi. Ia terlihat menahan tangisnya agar tidak pecah, dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
__ADS_1
"Ibu jauh lebih merindukanmu," balas Ryanthi. "Sekarang Ibu tahu dan dapat merasakan apa yang kakekmu rasakan dulu. Ketika ia mengatakan ... jika ia sangat merindukan putri kesayangannya," Ryanthi mengulum bibirnya menahan haru karena teringat kepada mendiang ayahnya, Surya.
"Kamu tidak menangis bukan saat sendirian disana?" tanya Ryanthi dengan suara yang sedikit bergetar.
"Apakah Ibu juga menangis?" Arumi balik bertanya.
Ryanthi melepaskan genggaman tangannya. Ia pun memalingkan wajahnya. Terdengar suara helaan napasnya yang begitu berat. Ia seperti tengah berusaha untuk menahan sebuah rasa yang begitu menyesakkan untuknya.
"Bukankah nenek sudah mengizinkan Ibu untuk menangis?" tanya Arumi lagi. "Kenapa Ibu masih harus merasa malu?" Arumi menatap lekat Ryanthi yang masih memalingkan wajahnya.
Ryanthi menggeleng pelan. "Ini bukan karena malu, Nak!" bantah Ryanthi.
"Lalu? Kenapa harus disimpan sendiri?" pancing Arumi.
"Tidak ada apa-apa, Nak. Ini ... ini ... hanya sebuah ketakutan dari seorang Ibu. Ibu sangat mencemaskanmu, juga kakakmu," jelas Ryanthi.
"Ayah?" tanya Arumi lagi.
Ryanthi tersenyum kelu. "Ayahmu sudah mengambil semua jatah kecemasan yang Ibu rasakan untuknya ... dulu ...." jawab Ryanthi.
Arumi manggut-manggut seraya tersenyum lembut.
"Bagaimana jika kapan-kapan kita pergi belanja, ke salon, atau apalah ... kita bersenang-senang," cetus Arumi seraya merangkul Ryanthi dari belakang. Ia tidak ingin semakin terlarut dalam perbincangan yang membuat dirinya dan Ryanthi merasa sedih.
"Ibu adalah panutanku. Aku sangat mengidolakanmu. Seperti nenek yang menjadi panutan Ibu, maka yang aku rasakan lebih dari itu. Aku harap ... Ibu akan selalu mendampingiku hingga nanti," Arumi meletakan dagunya di atas pundak Ryanthi.
Arumi tertawa renyah. "Aku rasa air mata terlalu takut karena melihat ketegaran Ibu," ujarnya.
"Katakan padaku, Bu! Bagaimana caranya agar bisa selalu terlihat tegar?" tanya Arumi. Ia berdiri di depan oven berukuran besar itu.
Ryanthi menatap anak gadisnya itu dengan lekat. Ia pun mengikuti arah tatapan Arumi. Kini mereka menatap objek yang sama.
"Tidak ada seorang pun yang benar-benar tegar, Nak," jawab Ryanthi dengan lirih . "Terlebih kita kaum wanita. Air mata itu terkadang jatuh tanpa harus diminta," terang Ryanthi lagi.
"Meskipun nenekmu dulu pernah mengatakan kepada Ibu, 'jangan jadikan air mata sebagai sahabat!'. Akan tetapi, hal itu terasa sangat sulit untuk dilakukan," tutur Ryanthi. Raut mukanya terlihat sangat datar.
Ryanthi selalu merasa hancur jika sudah mengenang Farida. Ikatan kuat yang terjalin diantara mereka, memang terlalu sulit untuk diputuskan meskipun telah dipisahkan oleh kematian.
Sejenak wanita berusia setengah abad itu tertegun menatap oven dengan ukuran besar yang ada di hadapannya. Ia tiba-tiba teringat akan hal penting lainnya.
"Sayang ...." Ryanthi kemudian mengalihkan tatapannya kepada Arumi. Gadis itupun menoleh.
"Tidak lama lagi ayahmu akan berulang tahun. Ibu sama sekali belum ada ide. Ibu tidak tahu akan memberi ayahmu hadiah apa," Ryanthi tampak berfikir.
__ADS_1
"Ibu tahu apa yang ayah inginkan saat ini?" tanya Arumi.
Ruanthi tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya. "Haruskah Ibu bertanya kepada ayahmu?"
Arumi tertawa pelan. "Ayah sudah memiliki segalanya. Aku rasa dia tidak menginginkan hal lain selain Ibu," godanya. Tawa gadis itu terdengar semakin renyah. Ia terlihat begitu puas karena telah membuat sang ibu menjadi tersipu malu.
"Jika ingin memberi hadiah, pastikan Ibu menyiapkan dua hadiah. Karena ulang tahunku hanya berselang satu hari dengan ulang tahun ayah!" pesan Arumi.
"Hmmm ...." Ryanthi menggumam pelan. Ia pun tersenyum.
Sesaat kemudian, ponsel milik Arumi terdengar berdering. Gadis itupun segera memeriksanya. Ternyata sebuah panggilan masuk dari sang kakak, Keanu.
Pemuda itu, sudah sampai disana untuk menjemput Arumi. Hari ini, mereka ada janji keluar bersama.
Kedua wanita cantik itupun beranjak dari dapur. Mereka kembali ke ruang utama toko itu. Akan tetapi, dimana Keanu? Pemuda itu tak terlihat disana.
Rupanya, Keanu tidak turun dari mobilnya. Ia menunggu Arumi di luar toko.
Arumi pun segera berpamitan kepada Ryanthi yang biasa dijemput untuk pulang oleh Adrian. Hingga saat ini, Ryanthi masih tidak tertarik untuk menyetir mobil sendiri.
"Kenapa Kakak tidak masuk?" tanya Arumi setelah ia berada di dalam mobil Keanu. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap.
"Jika masuk, maka Kakak hanya akan menjadi pusat perhatian dari para karyawan ibu," celoteh Keanu diiringi tawa renyah.
Arumi menyeringai kepadanya. "Tampan sekali kakakku!" ledeknya seraya menjulurkan lidahnya dan membuat Keanu semakin terkekeh.
Keanu pun mulai menjalankan mobilnya dengan tenang.
"Kakak akan mengajakku kemana hari ini?" tanya Arumi penasaran. Ia terlihat begitu senang. Matanya terus menatap keluar, pada lalu lintas kota di siang menuju sore hari itu.
"Bagaimana jika kita makan sushi?" tawar Keanu, seraya melirik sang adik untuk sesaat.
Arumi menoleh kepada sang kakak. Ia lalu tersenyum. Gadis itupun mengangguk tanda setuju.
"Oke," gumam Keanu. Ia pun kembali fokus pada kemudinya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Keanu pun berbelok ke sebuah bangunan yang cukup besar. Ia kemudian menghentikan mobilnya disana. Pada halaman yang cukup luas dengan segala barang-barang yang tertata rapi disana.
Sejenak Arumi terdiam. Ia pun mulai mengerutkan keningnya, apalagi ketika Keanu melepas sabuk pengamannya dan bermaksud untuk keluar dari dalam mobil itu.
"Kakak! Ini bukan kedai sushi," protes Arumi. Gadis itu menunjukan ekspresi wajahnya yang penuh dengan rasa heran.
"Memang," jawab Keanu. "Ini adalah bengkel," lanjut pemuda itu dengan tenangnya. Ia lalu keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Diluar sana, tampak seorang pria menyambut Keanu dengan akrabnya. Mereka pun terlihat berbincang dengan hangat. Entah apa yang tengah mereka bicarakan saat itu. Yang pasti, itu telah membuat Arumi merasa bosan.
Perlahan gadis itu menurunkan kaca jendela mobilnya. Ia pun menatap keluar, pada sang kakak yang tengah asik mengobrol bersama seorang pria dengan gaya rambut man bun. Pria dengan penampilannya yang terlihat jauh berbeda dengan sang kakak. Pria yang sempat meliriknya untuk sesaat.