Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● TIGA PULUH DELAPAN : Masa Lalu yang Kembali


__ADS_3

Adrian berdiri di tepian kolam renang sambil menatap sekelilingnya, yang berupa deretan gedung tinggi. Tubuh dan rambut pria itu masih basah. Adrian baru selesai berenang. Saat itu, dia tengah menunggu kedatangan Ryanthi.


Hati pria tampan berdarah Perancis-Indonesia tersebut seketika berbunga-bunga, ketika mendengar suara lift yang terbuka. Adrian bergegas meraih handuk, lalu melilitkannya di pinggang. Dia melangkah penuh semangat ke dekat lift.


Namun, seketika Adrian membeku. Pasalnya, yang muncul dari dalam lift bukanlah Ryanthi, melainkan wanita lain. Wanita berambut panjang, dengan tampilan anggun tapi terlihat sangat menggoda. "Fiona?" gumam Adrian.


"Hai, Adrian. Aku sangat merindukanmu," ucap wanita bernama Fiona tadi. Dia mendekat, lalu berdiri di hadapan Adrian. "Kamu masih setampan dulu, bahkan terlihat jauh lebih matang dan seksi," ucapnya sambil menyentuh tubuh atletis Adrian, yang masih lembap.


"Hentikan! Sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" usir Adrian penuh penekanan.


Fiona tertawa renyah. Dia tak memedulikan sikap tak bersahabat yang Adrian tunjukan padanya. "Ayolah. Aku sudah berkali-kali menghubungimu. Namun, kamu terus mengabaikannya. Padahal, rinduku sudah tak tertahankan lagi. Karena itulah aku sengaja datang jauh-jauh dari Kanda, hanya untuk bertemu denganmu.


Adrian membalikkan badan. Dia tak ingin meladeni sikap nakal Fiona. "Hubungan kita sudah lama berakhir. Aku tidak berniat menyambungnya lagi," ujar pria itu dingin. Sikapnya jauh berbeda. Tak seperti terhadap Ryanthi.


"Dengar, Sayang. Aku bisa saja mencari pria tampan di sana, tapi itu tidak kulakukan. Sejujurnya, aku belum bisa melupakanmu. Lebih tepatnya, tidak akan bisa. Dua tahun waktu yang terlalu singkat untuk menyingkirkanmu dari hatiku. Terlalu banyak kenangan indah antara kita," ujar Fiona lagi.


"Kamu masih ingat malam itu? Aku benar-benar menyukai mobil jeep-mu. Sulit bagiku untuk melupakan apa yang sering kita lakukan di dalamnya," pancing Fiona agar Adrian mengingat kembali kebersamaan mereka yang penuh gairah.


"Jangan bahas hal itu lagi! Itu masa lalu. Aku sudah melupakan semuanya. Tidak ada yang istimewa bagiku!" tegas Adrian jengkel. "Pergilah secara baik-baik. Kamu tahu bahwa aku tak akan bisa berbuat kasar terhadap wanita," usir Adrian ketus.


"Kenapa kamu menyuruhku pergi? Dulu kamu sangat menyukai jika aku berlama-lama di sini. Aku masih punya banyak waktu," tolak Fiona dengan sikapnya menggoda.


Adrian terdiam beberapa saat. Dia tak bisa membiarkan Fiona terus berada di sana. Terlebih, karena dirinya sedang menunggu kedatangan Ryanthi.


Dengan segera, Adrian menarik lengan Fiona menuju lift. "Aku harap ini adalah hari terakhirku melihatmu lagi! Setelah hari ini, jangan pernah menampakan wajahmu di hadapanku, karena aku tidak akan menyukainya!" ucap Adrian penuh penekanan, meski dengan gaya bicaranya yang tenang.


"Kenapa Adrian? Belum pernah kamu menolakku seperti ini, biasanya kamu ...."


"Aku sudah memiliki kekasih, dan aku sangat mencintainya. Aku harap kamu bisa mencerna semua kata-kataku dengan baik!" potong Adrian. Dia sudah tidak tahan membiarkan Fiona terus berada di sana.

__ADS_1


Fiona mengeluh pelan. Dia tak yakin dengan apa yang Adrian katakan. "Kekasih? Tidak mungkin. Aku tidak percaya kamu bisa melupakanku semudah itu. Melupakan hubungan kita yang indah." Fiona kembali mendekat kepada Adrian. Wajahnya tampak kecewa dan ragu. Wanita cantik itu yakin Adrian hanya mencari alasan.


"Itu kenyataannya! Aku sudah melupakanmu!" tegas Adrian.


Fiona menatap lembut pria yang tengah berdiri di hadapannya. Ketampanan seorang Adrian benar-benar membuatnya gila. Entah mengapa, meskipun dua tahun sudah berlalu, tapi dia masih sangat merindukan sosok pria itu untuk dapat mengisi hari-harinya.


Adrian terlalu sempurna untuk dilewatkan. Apalagi, dulu Adrian meninggalkannya sebelum dia merasa puas dengan pria itu. Rasa penasaran Fiona masih terbawa, bahkan setelah berpisah selama dua tahun. "Adrian ...." Fiona mendekat. Dia berusaha menyentuh tubuh Adrian.


Namun, dengan cepat Adrian menepis tangan wanita itu. "Pergil dan kembalilah ke Kanada! Lanjutkan hidupmu disana!" usir Adrian dengan sangat tegas.


"Aku tidak percaya kamu bisa menemukan wanita lain, yang dapat membuatmu merasa nyaman seperti saat bersamaku," bantah Fiona ragu.


"Aku sudah menemukannya!" tegas Adrian


Fiona menggeleng kencang. Dia tetap tidak percaya. "Kalau begitu, izinkan aku memelukmu sekali saja. Setelah itu, aku akan pergi," pintanya lembut.


Adrian tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam wanita yang pernah mengisi hari-harinya sehingga menjadi lebih hidup. Bersama Fiona, Adrian merasakan bahwa dirinya menjadi pria dewasa yang sangat bahagia.


Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. "Aah!" Ryanthi terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Dia segera mundur dengan sorot tak percaya.


Seketika, Adrian tersentak. Dia menoleh ke lift. "Ryanthi!" panggilnya. Sayang, pintu lift sudah tertutup kembali. Adrian kebingungan di sana. Sikapnya terlihat sangat gelisah. Dia lalu menatap tajam Fiona.


"Pergi dari sini dan jangan tampakan wajahmu lagi di hadapanku!" sentak Adrian. "Jika sampai Ryanthi tidak memaafkanku gara-gara hal ini, maka aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancamnya serius. Setelah itu, Adrian segera pergi ke kamarnya untuk berpakaian.


................


Dengan wajah masam, Ryanthi masuk ke rumah. Dia ingin segera ke kamar, lalu menangis sepuasnya di atas bantal. Ryanthi melangkah cepat. Dia tidak memedulikan siapa pun yang ada di sana. Gadis itu menaiki undakan anak tangga dengan tergesa-gesa. Ryanthi seakan tidak peduli, meskipun jika dirinya bisa saja tersandung.


Sesampainya di lantai dua, Ryanthi berpapasan dengan Vera. Istri Arshan tersebut segera menyapanya. Namun, Ryanthi tidak menggubris. Dia langsung masuk ke kamar. Ryanthi bahkan membanting pintu sekeras mungkin, sampai-sampai Vera terkejut karenanya.

__ADS_1


"Kenapa dia?" gumam Vera heran.


Di dalam kamar, Ryanthi segera mengempaskan tubuh ke tempat tidur dengan posisi telungkup. Dia membenamkan seluruh wajahnya di atas bantal. Ryanyhi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan. Adrian sungguh telah membuat dirinya merasa hancur.


Sementara, Adrian mengemudi dengan tidak tenang. Dia memacu kendaraan dengan sangat cepat. Adrian berharap bisa segera menemui Ryanthi. Dia terus memikirkan tentang bagaimana caranya untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang telah terjadi. Adrian tahu, Ryanthi tidak akan semudah itu menerimanya. Terlebih, karena Ryanthi merupakan gadis yang sangat keras kepala.


"Sial!" gerutunya sambil memukul kemudi yang sedang dia pegang. Belum juga dia berhasil meluluhkan hati gadis itu sepenuhnya, Adrian sudah melakukan kesalahan fatal. Apa yang tadi terjadi, akan membuat kepercayaan gadis itu luntur bahkan mungkin hilang seketika. Adrian sadar, kali ini dia harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat meyakinkan Ryanthi.


Adrian menginjak pedal gas dengan lebih kuat, sehingga mobilnya melaju semakin kencang.


Dalam beberapa saat saja, dia telah tiba di depan rumah Ryanthi. Namun, Adrian tidak langsung memasukkan mobilnya ke halaman. Dia hanya memarkirkan kendaraan mewah itu di luar pintu gerbang.


Tatapan Adrian tertuju ke arah jendela kamar Ryanthi. Dengan segera, pria itu mengambil ponsel. Meski tak yakin, tapi dia mencoba untuk menghubungi Ryanthi.


Sesaat kemudian, niat itu Adrian urungkan kembali. Dia tahu, mana mungkin Ryanthi mau menjawab telepon darinya dalam keadaan kesal. Dia hanya bisa terdiam sambil menyandarkan tubuh, menggantungkan siku di dekat kaca jendela mobil. Adrian berpikir dan mencari cara agar dapat menemui Ryanthi.


Setelah beberapa saat, Adrian kembali meraih ponselnya. Dia meyakinkan diri untuk menghubungi Ryanthi. Akan tetapi, sebanyak tiga kali dia melakukan panggilan, tak ada satu pun yang dijawab. Panggilannya yang terakhir, bahkan langsung di tolak oleh gadis itu.


Adrian mencoba untuk mengirim pesan, meskipun dia yakin jika Ryanthi tidak sudi membalasnya. Namun, setidaknya Ryanthi pasti akan membaca pesan yang dia kirimkan. Adrian mulai mengetik sesuatu dan mengirimkannya.


Berkali-kali, pria itu memeriksa pesan yang sudah terkirim tadi. Namun, tanda centang duanya tidak juga berubah menjadi biru. Adrian menggelengkan kepala. Cara itu tidak berhasil. Dia kembali menatap jendela kamar Ryanthi. Gadis itu tidak tampak di sana. Pria bermata abu-abu itu mengembuskan napas bert penuh keluhan. "Bodoh!" umpatnya. Adrian merutuki dirinya.


Sesaat kemudian, pria itu melihat arloji mahal yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah lewat tengah hari. Dia belum makan siang. Hati boleh resah, tapi Adrian tak boleh membiarkan perutnya ikut gelisah.


Adrian menepuk keningnya. Kali ini, dia benar-benar merasa tolol, karena tak mampu menghadapi seorang gadis. Namun, pria itu dapat tersenyum bangga. Jika memang Ryanthi marah dan tak suka melihatnya bersama wanita lain, maka itu artinya Ryanthi merasa cemburu.


"Apa kamu cemburu padaku, Ryanthi?" gumam Adrian. Senyum menawan terkembang di bibir berhiaskan kumis tipis yang sudah tercukur rapi. "Baiklah. Akan kuterima amarahmu, jika memang karena rasa cemburu," ucap Adrian lagi.


Kembali ditatapnya jendela kamar Ryanthi. Tak ada tanda-tanda gadis itu muncul di sana. Adrian kembali menyandarkan tubuh. Sememtara, kedua tangan berada di atas kemudi. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Helaan napas berat meluncur dari bibir sang pemilik perusahaan aerospace tersebut. Sekali lagi, dia menoleh ke arah jendela kamar Ryanthi. Setelah itu, dia menyalakan mesin mobil. "Kita lihat. Seberapa kuat pertahananmu."


__ADS_2