Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH SATU : Lepas Kontrol


__ADS_3

"Apa? Putus? Apa maksudmu?" Adrian tidak percaya dengan ucapan Ryanthi barusan. Dia mendekat dengan memasang raut cemas.


"Iya, Adrian. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Kita sudahi saja semuanya," jawab Ryanthi yakin.


"Aku sudah meminta maaf serta mengizinkanmu pergi. Apa lagi yang kamu inginkan?"


"Aku tidak punya pilihan lain. Inilah satu-satunya jalan terbaik untuk kita."


"Terbaik untuk kita? Aku tidak bisa memahaminya!" tolak Adrian.


"Untuk kita Adrian!" tegas Ryanthi merasa benar dengan keputusannya.


"Mengapa?"


"Karena aku takut," jawab Ryanthi lirih.


"Apa yang kamu takutkan?" Adrian menautkan alis tak mengerti.


"Semuanya," jawab Ryanthi. Dia menatap nanar Adrian. Terpancar jelas keresahan mendalam pada sorot mata gadis itu. "Aku takut jika hubungan ini hanya akan membebani kita. Aku akan pergi cukup lama. Entah apa yang akan terjadi dalam rentang waktu itu."


"Aku ingin fokus pada pendidikanku di sana. Tak mau terbebani oleh pikiran-pikiran tak menentu tentang dirimu. Maksudku ... aku ... aku takut membayangkan ...."


Adrian menarik napas panjang. Rupanya itu yang ada di dalam pikiran Ryanthi. Sesuatu yang sangat sederhana. "Kamu pikir aku tidak takut jika membayangkanmu di sana. Selama tiga tahun, kamu akan terlepas dari pandanganku. Aku tidak tahu siapa yang kamu temui dan ajak bicara," balas Adrian dengan suaranya yang bergetar, karena menahan amarah.


"Paris adalah kota yang indah. Namun, kamu jauh lebih indah. Siapa yang berani menjamin bahwa tidak akan ada mata nakal yang melirik, lali membuatmu tergoda?" lanjut Adrian.


Ryanthi tidak menanggapi, saat mengetahui bahwa Adrian pun memiliki ketakutan yang sama. Namun, keputusannya sudah bulat untuk mengakhiri hubungan yang baru terjalin beberapa waktu itu.


"Pikirkan lagi, Ryanthi. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan," bujuk Adrian. "Adalah sesuatu yang wajar saat kamu merasakan ketakutan seperti itu. Artinya, kamu benar-benar takut kehilangan diriku. Namun, itu tidak dapat dijadikan alasan."


Ryanthi lagi-lagi tidak menanggapi. Dia bergerak mundur. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Ryanthi mungkin terlalu keras kepala, sehingga begitu sulit menerima ucapan orang lain. "Maaf, Adrian. Tolong mengertilah," pintanya.


"Apa yang harus kumengerti?" protes Adrian yang sudah tak kuasa menahan amarah.


"Kamu hanya perlu melupakan semua yang pernah terjadi antara kita," pungkas Ryanthi. Dia berbalik menuju lift, lalu menekan tombol hingga pintunya terbuka. Ryanthi masuk dan berdiri di sana. Saat kembali membalikkan badan, gadis itu seketika dibuat terkejut dengan apa yang Adrian lakukan.


Adrian duduk bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk. Dia seakan tengah memohon kepada Ryanthi tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin Adrian sudah kehabisan kata-kata.


Ada rasa sakit dalam hati Ryanthi, saat melihat apa yang Adrian lakukan. Namun, dia tak ingin berkompromi lagi dengan keadaan. Ryanthi memilih tak peduli. Dia membiarkan pintu lift tertutup.


......................


Range Rover milik Adrian melaju kencang menyusuri jalanan ibukota. Dia tak tahu akan ke mana malam itu. Adrian hanya ingin menghilangkan kepenatan, atas perselisihannya dengan Ryanthi.


Setelah puas berkeliling tanpa tujuan, Adrian akhirnya tiba di sebuah klub malam. Itu merupakan tempat di mana dia biasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang bersama Fiona, beberapa tahun ke belakang.


Adrian segera memarkirkan mobilnya. Namun, dia tidak langsung keluar. Adrian hanya duduk termenung di belakang kemudi. Dia termenung


memikirkan Ryanthi yang telah berhasil memporak-porandakan hati yang sudah dibangun untuknya.

__ADS_1


"Kenapa kamu benar-benar keras kepala?" gumam Adrian. Sulit sekali bagi Adrian untuk mengendalikan gadis itu. Padahal, wanita sekelas Fiona saja dapat dia pegang dengan mudah. Namun, Adrian merasa kesulitan menghadapi seorang Ryanthi yang hanya gadis biasa, yang bahkan tidak dapat berjalan dengan memakai high heels 11 cm.


Namun, gadis itu sudah membuatnya kewalahan, sehingga dia berkali-kali memegangi kepala yang terasa pusing.


Setelah beberapa saat terdiam, Adrian memutuskan masuk. Dia memesan minuman. Namun, tak sekalipun dirinya menggubris wanita-wanita penghibur, yang datang mendekat untuk menggoda.


Akan tetapi, Adrian tak dapat mengabaikan seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Dia sangat mengenal wangi parfum itu. Adrian seketika menoleh.


Wanita itu tampak sangat cantik dan seksi dalam balutan mini dress berwarna gold. Rambut panjangnya menjuntai indah di pundak sebelah kiri. Dia tersenyum menggoda dengan bibir berpoleskan warna merah menyala.


Adrian sedikit hilang konsentrasi, ketika merasakan sentuhan lembut di lengannya yang berbalut kemeja panjang berwarna hitam.


"Aku suka kemejamu," bisik wanita yang tak lain adalah Fiona.


Adrian berusaha tak peduli. Dia meneguk minumannya dengan tak acuh.


"Aku tidak menyangka kamu akan datang kemari," bisik Fiona lagi. Dia menyentuh tengkuk kepala Adrian.


"Aku bebas pergi ke manapun yang aku mau," jawab Adrian dingin.


Fiona tertawa pelan. "Aku tahu, karena memang seperti itulah dirimu. Bebas melakukan apapun yang kamu mau," ucapnya tetap terlihat menggoda.


Adrian segera menghabiskan minumannya, lalu beranjak dari sana.


Namun, dengan segera Fiona meraih tangannya. "Mau ke mana?"


"Jangan ganggu aku!" tolak Adrian tegas.


"Aku kemari dengan seorang teman, tapi aku rasa dia tidak akan pulang cepat malam ini. Bolehkah aku menumpang mobilmu?" Fiona tersenyum sangat manis penuh rayuan.


Dengan terpaksa, Adrian menyetujui permintaan wanita itu. Dia membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Aku lihat, sepertinya dia gadis yang manis. Akan tetapi, itu bukan tipemu. Sejak kapan kamu menyukai gadis seperti itu?" tanya Fiona ketika mereka sedang dalam perjalanan.


"Itu bukan urusanmu," jawab Adrian datar tanpa menoleh sedikit pun.


Fiona tertawa pelan. "Jadi, sekarang kamu mulai mengincar gadis-gadis lugu?" tanyanya lagi.


Adrian tidak menjawab. Dia hanya fokus pada lalu lintas di depan.


Fiona membetulkan posisi duduk. Dia menyilangkan kaki, sehingga bagian bawah mini dress yang dikenakannya semakin naik. Alhasil, pahanya yang putih dan mulus terekspos sempurna.


Adrian sempat meliriknya sesaat. Dia tahu Fiona memang suka sekali menggodanya, ketika sedang menyetir. Sesuatu yang sangat berbahaya. Namun, Adrian menyukainya. Fiona memang wanita yang sangat pintar dalam hal seperti itu.


"Aku pikir, kamu sudah kembali ke Kanada," ucap Adrian tanpa menoleh padanya. Dia mencoba mengalihkan perhatian.


Fiona menoleh, lalu tersenyum. "Tadinya aku akan kembali ke sana. Namun, aku masih betah di sini. Lagi pula, sudah cukup lama aku tidak pulang. Aku ingin melepas rindu bersama beberapa orang teman," jawabnya tanpa melepas tatapan nakal dari Adrian.


Adrian meliriknya sekilas, sebelum kembali fokus ke lalu lintas. Beberapa saat mereka berada di perjalanan, hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang tidak terlalu mewah. Adrian tidak tahu itu rumah siapa.

__ADS_1


"Itu rumah mendiang orang tuaku," tunjuk Fiona pada rumah dengan cat hijau lumut tadi. Dia melepas sabuk pengaman.


"Oh." Adrian menanggapi.


"Mau mampir?" tawar Fiona.


Adrian menggeleng. Dia tahu Fiona pasti merencanakan sesuatu.


"Aku lelah. Aku akan langsung pulang," tolak Adrian datar.


Fiona lagi-lagi tertawa pelan. "Kenapa, Adrian? Apa kamu takut?" tantangnya.


Adrian menoleh. Dia menatap wanita cantik yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta. Harus diakui bahwa kini Fiona terlihat jauh lebih cantik, dengan tubuh yang lebih berisi.


"Aku tidak harus takut denganmu," jawab Adrian datar.


Fiona menatapnya intens. Dia lalu menyentuh paras tampan Adrian, dengan bulu-bulu halus yang menghiasinya. "Aku rela meninggalkan segalanya demi dirimu. Aku meninggalkan suami dan kehidupan mewahku hanya untukmu. Namun, kamu meninggalkanku begitu saja," ucapanya pelan seraya terus mengelus-elus pipi Adrian.


Adrian tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum. "Suamimu pria yang sangat menyebalkan. Harusnya dia datang padaku, bukan pada papaku," ujar Adrian kesal.


Fiona tersenyum manis. "Itulah mengapa aku jauh lebih menyukaimu daripada dia. Asal kamu tahu, bahwa aku sangat merindukanmu," bisiknya.


Adalah sebuah godaan besar bagi Adrian, ketika Fiona mulai mendekat dan menyentuh bibirnya. Sesuatu yang ternyata berbalas manis dari Adrian.


Dengan segera, Fiona pindah ke pangkuan Adrian. Pertautan mesra penuh gairah berlangsung hingga beberapa saat dalam mobil itu.


Akan tetapi, tiba-tiba bayangan wajah Ryanthi muncul di pelupuk mata Adrian dengan jelas, membuatnya seketika menghentikan adegan tersebut. "Ryanthi," desah Adrian. Ada gurat penyesalan dalam sorot matanya.


"Keluarlah!" usir Adrian tegas.


"Keterlaluan. Di saat seperti ini pun, kamu masih mengingatnya. Kamu benar-benar keterlaluan!" gerutu Fiona seraya membuka pintu mobil dengan kesal. Dia bahkan menutupnya cukup kencang, menandakan bahwa dirinya teramat jengkel.


Adrian menghembuskan napas panjang. Dia menyandarkan kepala sambil mencoba menenangkan diri. Entah mengapa dirinya bisa hilang kontrol seperti tadi.


Mungkin inilah yang dimaksud Ryanthi. Ketakutan gadis itu memang benar-benar nyata. Belum lagi Ryanthi pergi, Adrian sudah melakukan hal seperti tadi dengan Fiona.


Meskipun Ryanthi sudah memutuskan hubungan dengannya, tapi itu menjadi sesuatu yang kurang etis.


"Bodoh!" gerutu Adrian kesal, sambil terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus jalanan malam yang mulai sepi.


Dia terus mengerutu dan menyayangkan apa yang sudah dia lakukan tadi bersama Fiona.


Sementara, bayangan wajah Ryanthi masih terus mengikutinya, hingga dia berhenti di depan sebuah pintu gerbang rumah mewah dengan cat berwarna putih. Rumah di mana dia menemukan seraut wajah cantik, yang kini terus mengganggu pikirannya.


Tatapan mata Adrian tertuju pada jendela kaca lantai dua, di mana ada seorang gadis yang selalu berdiri menatap malu-malu dari sana. Gadis yang kini akan pergi jauh meninggalkannya.


Adrian membenamkan wajah di atas kemudi mobil. Dia ingin Ryanthi kembali. Tak apa jika gadis itu akan pergi jauh, asalkan tetap menjadi miliknya.


"Apa yang harus kulakukan sekarang, Ryanthi?" gumam Adrian lirih, seakan pada diri sendiri. "Haruskah aku kembali berjuang dari nol, untuk bisa mendapatkan dirimu lagi?" pikir Adrian.

__ADS_1


__ADS_2