Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH DUA : Paksaan


__ADS_3

"Vera hamil," ucap Ryanthi datar, tapi berhasil membuat Arshan terkejut bukan main.


Arshan berkali-kali menggelengkan kepala. "Itu bukan anakku!" bantahnya tegas. Namun, Ryanthi tak peduli. Dia bahkan tak menoleh sedikit pun pada pria di sebelahnya.


".Tidak! Aku tidak akan pernah menikahi Vera!" tolak Arshan tegas. "Thi, aku tidak mencintai Vera! Aku tidak pernah mencintainya!" Arshan mengulang kata-katanya. Dia berharap Ryanthi percaya dan bersedia memaafkan dirinya.


"Kamu tidak mencintai Vera, tapi kamu menidurinya! Entah berapa kali kalian melakukan hal itu. Memalukan!" Ryanthi mulai terpancing.


"Aku tahu. Itu kesalahan yang tidak termaafkan. Namun, saat itu aku benar-benar khilaf. Kamu tahu sendiri, Vera gadis yang cantik. Dia memberikan apa yang tidak pernah kamu berikan padaku."


Teriris hati Ryanthi mendengar ucapan Arshan.


Ryanthi lupa, Arshan adalah pria normal. Dia sadar, bahwa dirinya terlalu kaku. Jangankan untuk bercinta, Ryanthi bahkan jarang sekali membiarkan Arshan menciumnya. Akan tetapi, apakah hal seperti itu patut untuk dijadikan alasan?


Arshan bermaksud menggenggam tangan Ryanthi, tapi gadis itu segera menepisnya. Dia ingin dientuh lagi.


"Apakah aku benar-benar menjijikan untukmu? Harus dengan cara apa lagi aku memohon, agar kamu bersedia memaafkanku? Kesalahanku memang sangat fatal, tapi itu tidak berarti aku rela melepaskanmu begitu saja."


"Seharusnya ka.u berpikir terlebih dulu sebelum melakukan kebodohan itu. Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu. Juga Vera. Gadis itu menangis dan terlihat sangat kebingungan. Aku minta padamu, tolong nikahi dia."


"Jika dulu kamu pernah mencintaiku, maka jangan biarkan reputasi ayahku hancur karena hal seperti ini. Aku tidak ingin ayahku sampai menanggung malu, karena kesalahan yang telah Vera lakukan."


"Tidak! Itu bukan anakku!" Arshan tetap menolak.


Ryanthi terdiam. Arshan memang berhak menolak permintaannya. Namun, Ryanthi juga tidak bisa mengabaikan Vera. Meskipun gadis itu sangat menyebalkan, tapi Vera adalah saudaranya kini.


"Seandainya aku menjadi Vera, maka aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Aku akan memilihmu, karena kamu memang pria terbaik," ucap Ryanthi pelan, tapi penuh kegetiran.


Arshan terdiam mendengar ucapan Ryanthi. Dia menyesali semua kebodohan yang telah dilakukannya, sehingga harus kehilangan gadis yang sangat dicintai.


Sesaat kemudian, Ryanthi mengambil paper bag yang ada disebelahnya, lalu berdiri. "Aku masih ada urusan lain. Maaf karena telah memaksamu untuk menikahi Vera. Tolong pikirkan lagi.' Setelah itu Ryanthi berlalu meninggalkan Arshan, dalam perasaan yang tak karuan.


......................


Ryanthi keluar dari lift yang membawanya menuju ruang apartemen milik Adrian. Dia berdiri, melihat sekeliling ruangan itu.


Ryanthi begitu terkejut, ketika melihat Adrian baru naik dari kolam renang yang ada di bagian samping ruangan itu. Adrian tersenyum. Dia terlihat biasa saja, meski hanya mengenakan celana renang yang basah.


Ryanthi menunduk karena malu, harus melihat Adrian dalam keadaan seperti itu. Namun, sesekali Ryanthi melirik kepada pria yang kini sudah mengenakan handuk.

__ADS_1


Adrian melangkah gagah ke hadapan Ryanthi. Pandangan pria tampan itu, tertuju pada paper bag yang segera Ryanthi sodorkan. Adrian langsung menerima dan melihat isinya, tanpa mengeluarkan dari dalam paper bag tadi. "Aku pikir, kamu tidak akan mengembalikan secepat ini."


"Bukankah kamu minta agar harus dikembalikan?"


Adrian tersenyum seraya meletakan paper bag di sofa. "Mau minum apa?" tawarnya.


Ryanthi menggeleng pelan. "Tidak usah. Aku akan langsung pulang. Apa kamu sudah membuang bajuku yang kemarin?"


Adrian menatap Ryanthi sesaat. Dia meraih paper bag, yang tadi diletakan di sofa. "Sebentar. Akan kuambilkan," ucapnya seraya berlalu.


Sementara, Ryanthi begitu kagum dengan suasana di dalam apartemen milik Adrian. Kelihatannya pria itu memang tidak terlalu suka memajang banyak barang di ruangannya, karena di sana pun Ryanthi hanya melihat sofa berwarna putih pucat yang melingkar rapi. Ada juga meja kecil dengan hiasan lampu yang indah. Di bagian lain, terdapat sebuah meja berukuran lebih panjang. Di atas meja itu ada tiga buah hiasan dari keramik berwarna putih.


Tepat menghadap ke sofa, terdapat bukaan yang cukup besar dan langsung menuju kolam renang yang dibatasi oleh pembatas dari kaca. Di bagian samping, terdapat area bersantai.


Suasana di dalam sana sangatlah nyaman dan sejuk. Padahal, kediaman Surya pun sangat mewah. Namun, Ryanthi tetap takjub ketika melihat tempat tinggal Adrian.


Ryanthi memberanikan diri mendekati kolam renang. Pemandangan di sana sangat indah. Dia membayangkan andai dirinya berdiri di sana, ketika malam hari. Pasti suasananya akan jauh lebih indah. Langit yang gelap dan lampu gedung bertebaran di sekitar apartemen. Itu akan membuat suasana malam menjadi lebih ceria.


Ryanthi berjalan semakin mendekat ke kolam renang itu. Embusan angin sore mulai dia rasakan menerpa wajahnya. Rambut bob pendeknya yang kini mulai panjang sedikit, tersingkap dari pundak.


Ryanthi kemudian mengalihkan pandangan pada air kolam yang bening. Ada bayangan langit berwarna biru di sana, berbaur dengan jernihnya air kolam renang itu. Ryanthi terhanyut menatap air yang memenuhi kolam itu. Sesekali, dia menghela napas panjang. Cukup lama dirinya menunggu Adrian sambil berdiri di sana.


Ryanthi tersentak. Dia segera berbalik. Namun, dirinya berdiri terlalu ke pinggir, sehingga kakinya terpeleset di tepian kolam. Akhirnya dia terjatuh. Ryanthi meronta, meminta tolong. Dia tidak bisa berenang.


Melihat hal itu, Adrian melemparkan paper bag yang dipegangnya. Dia segera melompat ke kolam. Dengan cepat dirinya membawa Ryanthi naik, lalu duduk di tepian kolam. Ryanthi ketakutan. Napasnya tersenggal-senggal tak beraturan. Adrian menepuk-nepuk punduk gadis itu, karena mungkin Ryanthi meminum banyak air, hingga dia batuk-batuk. Setelah beberapa saat, barulah gadis itu terlihat tenang. Sesaat kemudian, Adrian memberikan handuk berwarna putih pada Ryanthi.


"Luar biasa. Aku baru saja ganti baju," keluh Adrian mendapati seluruh pakaiannya basah kuyup.


"Maaf," ucap Ryanthi pelan.


Adrian menyodorkan paper bag berisi baju Ryanthi yang kemarin. "Untung aku tidak jadi membuangnya. Sana ganti bajumu," suruhnya.


Tanpa banyak bicara, Ryanthi menurut. Dia sudah tahu harus ke mana. Selesai berganti pakaian, Ryanthi kembali ke ruangan tadi. Dia melihat Adrian masih dalam keadaan basah kuyup.


Ryanthi merapikan bajunya. Dia melipat dan menutupi bagian yang robek. Namun, lipatan itu kembali terbuka. Ryanthi sibuk dengan pakaiannya, sehingga dia tidak menyadari kedatangan Adrian. Pria itu kembali membuatnya terkejut.


"Sebaiknya aku segera pulang," ucap Ryanthi sambil terus memegangi bagian depan dressnya.


"Baiklah. Kamu yakin tidak mau minum dulu?" Adrian sepertinya ingin agar Ryanthi berada lebih lama di sana.

__ADS_1


"Tidak usah," tolak Ryanthi kikuk.


"Maaf untuk kejadian tadi," ucapnya tanpa melepaskan tangan dari bagian depan dress.


Adrian tersenyum kalem. Dia tidak melepaskan tatapannya dari Ryanthi, sehingga membuat gadis itu semakin kikuk dibuatnya. "Kenapa harus ditutupi? Aku sudah melihat semuanya?" ucap Adrian dengan senyuman nakal.


Ryanthi langsung melotot. Sesaat kemudian, gadis itu menundukan wajahnya karena malu.


"Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Adrian mulai menggoda Ryanthi.


"Aku rasa tidak. Urusan kita sudah selesai," jawab Ryanthi tanpa berani melawan tatapan pria yang ada di hadapannya. "Aku harus pulang."


"Perlu kuantar?" Adrian menawarkan diri.


"Aku bukan penderita amnesia," tolak Ryanthi, yang langsung membuat Adrian tertawa.


"Ya, sudah. Semoga kamu tidak masuk ke rumah yang salah," balas Adrian sambil memencet salah satu tombol lift hingga terbuka.


Ryanthi terkejut. "Apakah Adrian tahu jika aku berbohong?" batinnya. Namun, Ryanthi tidak peduli. Dia bergegas masuk ke lift sambil menatap Adrian, yang juga tengah menatapnya hingga pintu lift tertutup.


Adrian masih berdiri di depan lift, meski Ryanthi sudah tidak terlihat lagi. Dia tersenyum kecil. Adrian lalu duduk di sofa yang menghadap langsung ke area kolam renang.


Pikirannya menerawang. Namun, suara dering pesan berhasil membuat dia kembali tersadar.


Adalah pesan dari seseorang yang tidak diharapkan. Di sana, tertera nama Fiona. Adrian hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Dia kembali meletakan ponsel di atas meja.


Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering lagi. Pesan masuk dari nomor yang sama. Namun, lagi-lagi dia abaikan. Adrian mengeluh panjang sambil menyandarkan tubuh. Dia meletakkan kepala di atas sandaran sofa, sambil menatap langit-langit apartemenya.


sekilas, Adrian memikirkan urusan pekerjaan. Sudah lama dia tidak datang dan memantau keadaan pabrik. Sebuah perusahaan aerospace yang diwariskan sang ayah, dan sudah dia kelola sejak lama. Semenjak ayahnya tiada.


Adrian jarang sekali datang ke pabrik yang biasa membuat komponen pesawat terbang itu. Apalagi, dia mulai mengurus bisnis barunya di bidang yang lain. Terakhir datang ke sana, adalah ketika dirinya membeli mesin baru dari Jepang. Mesin seharga lebih dari satu milyar itu, sengaja didatangkan untuk menunjang kinerja produksi di pabrik.


Adrian juga sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya. Dia malas datang ke sana, karena Indira selalu membahas masalah pernikahan.


Bukan tanpa alasan, Adrian kini berusia hampir tiga puluh tahun. Sudah sepantasnya dia memiliki seorang pendamping. Namun, Adrian justru terlalu asyik menikmati kesendirian. Dia lebih senang bermain PS, daripada harus pusing-pusing menjalin hubungan serius dengan seorang gadis.


Adrian bukanlah tipe pria yang romantis. Dia juga tidak selalu memberikan perhatian lebih pada gadis yang tengah dekat dengannya. Hal itu kerap menjadi masalah, dalam hubungan yang sedang dia jalin.


Sementara, Fiona merupakan mantan kekasihnya sekitar dua tahun yang lalu. Wanita itu ingijln kembali menjalin hubungan dengannya. Tak bisa dipungkiri, Fiona memang bisa disebut sebagai mantan terindah. Namun, Adrian tidak berniat melanjutkan kisah cintanya yang telah putus dengan wanita itu. Apalagi, setelah dia bertemu dengan seorang gadis lain yang bernama Ryanthi.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Adrian masih terhanyut dalam segala hal yang ada dalam pikirannya. Sementara, di luar langit senja semakin terlihat jelas. Sebentar lagi malam menjelang. Sedangkan, Adrian masih berdiam diri di sofa. Entah apa yang akan dilakukannya setelah itu, karena dirinya hanya teringat pada Ryanthi.


__ADS_2