Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Pengakuan Puspa


__ADS_3

Arumi tertawa geli melihat kegusaran Moedya. Ia terus memperhatikan pria itu tanpa merubah sikap berdirinya.


"Jangan mengada-ada! Kamu itu bukan anak kecil lagi, begitu juga denganku! Kenapa tiba-tiba aku berfikir jika kamu hanya mencari alasan saja karena ingin bersembunyi dari ajakanku untuk bertemu dengan ibuku?" Tukas Arumi dengan nada ejekan yang ia tujukan untuk Moedya.


Mendengar hal itu, tentu saja Moedya merasa tidak terima. Dengan segera ia membantah semua tuduhan Arumi.


"Oh ... tentu saja tidak!" Bantah Moedya. Ia pun tertawa pelan. "Aku bukan pengecut!" tegasnya.


"Lalu?" Tantang Arumi.


Moedya terdiam. Ia sedikit gelagapan karenanya.


"Um ... aku hanya ... hanya ... sedikit ... gugup. Aku rasa itu hal yang wajar, kan?" Moedya mencoba membela dirinya. Ia tetap berusaha untuk terlihat keren di depan Arumi.


Arumi kembali tertawa geli. Akhirnya ia dapat melihat sisi lain dari seorang Moedya.


"Jadi ... bukan karena rambutmu, kan?" Sindir Arumi seraya menahan tawanya.


Moedya mengangkat kedua bahunya.


"Dengar Moemoe! Ibuku adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Tutur katanya halus dan ia selalu tersenyum. Aku rasa kamu harus segera menghapus semua tato di tubuhmu, jika kamu takut menghadapi wanita seperti dia!" ledek Arumi lagi. Ia semakin puas mempermainkan kekasihnya itu.


"Ayolah, Sayang!" Moedya tertawa pelan. "Ada satu dua hal yang tidak dapat kamu pahami, karena kamu bukan seorang pria!" tegas Moedya. Ia masih berusaha membela dirinya.


Arumi semakin tergelak mendengar pernyataan konyol dari pria bertato itu. "Jika aku seorang pria, aku rasa kita tidak akan pacaran dan tentu saja kamu juga tidak akan menciumku sampai berkali-kali ... mungkin ...." Arumi menggerakan kedua bola matanya ke kiri dan ke kanan. Ia semakin senang meledek sang kekasih


Moedya mendelik kepadanya. Ia mengangkat telunjuknya dan menggerakannya, memberi isyarat kepada Arumi agar gadis tidak macam-macam dengannya.


Sesaat kemudian, Moedya menghampiri Arumi yang masih berdiri dengan tenangnya. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.


"Haruskah aku membuktikan seberapa jantannya diriku di hadapanmu?" Tantang Moedya. Ia membuat Arumi merasa risih dengan sikap pria itu padanya. Gadis itupun bergerak mundur.


Arumi menutupi rasa risihnya dengan tersenyum. Senyum yang sangat dibuat-buat. Ia berusaha untuk terlihat tenang.


"Tidak ... tentu saja ... tidak usah! Aku tahu itu dan kamu tidak perlu membuktikan apapun juga padaku!" Sergah Arumi. Ia kembali memasang senyum manisnya kepada Moedya.


"Jadi ... siapa yang penakut sekarang?" Balas Moedya. Ia merasa telah membalas telak Arumi.


Arumi tertawa pelan. "Aku yang penakut, dan kamu sang pemberani ... ah, tentu saja ... kita berdua pemberani!" Tegas Arumi. Ia kembali tertawa.

__ADS_1


Moedya menatap lekat gadis dengan lesung pipi itu. Ia pun menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Apa bedanya penakut dengan pengecut?" Tanya Moedya.


Arumi kembali menahan tawanya. "Aku hanya tahu perbedaan antara mentega dan margarin," jawab Arumi dengan seenaknya.


"Oke. Perbincangan selesai! Aku harus kembali ke bengkel," ucap Moedya seraya meraih jaketnya.


"Jadi ... kapan kamu akan ikut denganku bertemu ibu?" Tanya Arumi lagi. Ia ingin kepastian dari Moedya.


"Nanti kuhubungi lagi," jawab Moedya seraya memakai jaketnya.


Arumi terus memperhatikan pria berambut gondrong itu. Moedya memang pribadi yang sangat unik. Pria itu mulai menunjukan sisi menyebalkan dalam dirinya. Akan tetapi, Arumi meyukai hal itu.


Menyadari jika sedang diperhatikan oleh Arumi, Moedya pun menyempatkan diri untuk kembali mendekati gadis itu.


Perlahan ia menyentuh wajah cantik Arumi. Gadis itupun membetulkan posisi berdirinya menjadi lebih tegak. Ia tahu apa yang akan Moedya lakukan padanya, terlebih kini pria itu telah mendekatkan wajahnya kepada dirinya.


Arumi pun segera memejamkan matanya dan menanti sebuah ciuman mesra dari sang kekasih. Akan tetapi, sudah beberapa saat ia menunggu ternyata ciuman mesra itu tidak juga ia dapatkan.


Arumi kemudian membuka matanya. Seketika wajahnya memerah karena malu. Ia pun segera menundukan wajahnya.


Moedya menatap gadis itu dengan senyum geli. Sikap isengnya mulai muncul. Ia kembali mempermainkan Arumi.


Arumi tidak menjawab. Ia pun segera memalingkan wajahnya dan menghindari Moedya. Akan tetapi, dengan segera pria bertato itu menarik lengan Arumi hingga gadis itu masuk ke dalam dekapannya. Moedya pun memberikan apa yang Arumi harapkan darinya.


...🕊 🕊 🕊...


Keanu baru keluar dari dalam lift. Ia pun melangakah dengan penuh percaya diri menuju ruangannya. Semua orang yang berpapasan dengannya, mengangguk hormat kepadanya. Sedangkan Keanu hanya membalas mereka dengan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


Keanu pun masuk ke ruangannya. Setelah itu, ia memanggil seseorang untuk datang ke sana. Kebetulan saat itu bertepatan dengan jam istirahat makan siang.


Melepas jasnya, pria berpostur 180 cm itu kini hanya memakai kemeja biru langitnya. Ia pun duduk dengan tenang di belakang meja kerjanya.


Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu ruangannya. Seorang gadis masuk kesana dan berdiri di hadapannya. Ia berdiri terpaku menatap pria yang sedang duduk di kursi tertinggi perusahaan itu.


Keanu beranjak dari duduknya. Ia lalu menghampiri gadis itu.


"Puspa ...." sapa Keanu pelan.


Gadis yang tiada lain adalah Puspa, tersenyum seraya mengangguk hormat.

__ADS_1


"Selamat datang di perusahaanku!" Sambut Keanu seraya menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja kerjanya.


Puspa terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar bingung saat itu.


"Pak ...." ucap Puspa tertahan.


"Seharusnya aku sudah dapat menduga hal ini sebelumnya," sesal Puspa pelan.


"Kamu menyesal?" Tanya Keanu.


Puspa tidak menjawab. Ia hanya menundukan wajahnya.


Keanu terus melayangkan tatapannya kepada gadis bertubuh mungil itu. Ia memikirkan apa yang Ryanthi katakan padanya pagi tadi.


"Aku rasa kita harus bicara," ucap Keanu.


Puspa tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan tertunduk.


"Kamu tidak ingin menjelaskan apa-apa padaku?" Tanya Keanu. Ia menatap lekat gadis bertubuh mungil itu.


"Apa yang ingin kamu ketahui? Tentang yang kamu lihat kemarin??" Puspa balik bertanya.


Keanu tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan gadis itu dengan seksama.


"Aku memang tinggal disana. Sudah sejak lama. Akan tetapi, aku ... aku tidak menyukainya sama sekali," ungkap Puspa.


"Siapa pria yang kemarin itu?" Selidik Keanu.


"Dia ... ayahku!" Jawab Pupsa dengan penuh penyesalan.


"Ayahmu yang melakukan itu padamu?" Tanya Keanu lagi. Ia menggunakan kesempatan itu untuk bertanya dengan detail kepada Puspa.


Puspa mengangguk dengan berat. Ia tampak menahan rasa pilu dalam hatinya.


"Lihat aku Puspa!" Pinta Keanu. Pria itu masih berkata dengan nada bicaranya yang tenang.


Gadis bertubuh mungil itupun perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Keanu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tunjukan Puspa yang asli padaku!" Tegas Keanu dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Seketika, Puspa pun terisak. Meskipun pelan, namun suara isakannya terdengar begitu memilukan. Sementara Keanu, hanya menatap gadis itu dengan lekat. Ia seakan tengah menerka dan mencoba memahami tentang seperti apa Puspa yang sebenarnya.


__ADS_2