
Arumi melangkah ke hadapan Moedya. Dia menatap pria pujaan hatinya dengan sayu. Arumi menyimpan air mata yang tak ingin dia tumpahkan di depan pria itu. Akan tetapi, sekuat apapun Arumi menahannya, ternyata dia tetap kalah. Tangis itu pun akhirnya tercurah di dada Moedya.
"Jangan menangis," cegah Moedya. Selalu kata itu yang terucap dari bibirnya untuk sang kekasih.
"Bagaimana aku tidak menangis? Aku ...." Arumi tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dia terus terisak.
"Kamu akan menungguku kembali, Arum?" bisik Moedya seraya merenggangkan pelukannya.
Arumi menatap pria tampan itu dengan lekat. Dia pun mengangguk yakin. "Seperti ayahku yang menunggu ibuku kembali, maka aku juga akan melakukan hal yang sama kepadamu. Aku akan menunggumu, Moemoe ...." Ucapan yang ingin sekali Moedya dengar dan sekaligus menjadi penyemangat dalam menjalani hukumannya.
"Terima kasih. Terima kasih banyak, Arum," balas Moedya dengan senyuman bahagia. Dia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena kedua petugas itu dengan segera menggiringnya untuk melanjutkan langkah mereka menuju mobil khusus tahanan.
Sementara Arumi menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Ryanthi. Sedangkan Ranum, berdiri dengan tegar menatap putra tercinta menuju hukuman tiga tahun yang akan dijalaninya.
"Saya minta maaf, Bu Ryanthi. Seharusnya kita bertemu bukan dalam situasi seperti ini," sesal Ranum ketika mereka akan berpamitan di halaman parkir.
"Tidak apa-apa, Bu Ranum. Terkadang, ada beberapa hal yang terjadi di luar kendali kita," balas Ryanthi dengan senyumnya yang lembut.
"Mungkin kita bisa melanjutkan perbincangan ini dengan suasana yang jauh lebih nyaman. Mampirlah ke toko kami. Kita dapat minum teh bersama di sana," ucap Ryanthi. Dia mengundang Ranum dengan khusus.
Ranum tersenyum hangat. Dia pun menganguk pelan. "Tentu. Saya merasa begitu terkesan atas undangan Anda, Bu Ryanthi. Semoga kita bisa menjalin hubungan dengan jauh lebih dekat dan akrab setelah ini," balas Ranum.
"Saya hanya tinggal berdua dengan Arjuna. Maksud saya ... Moedya. Dia tidak terlalu menyukai nama depan itu," ujar Ranum dengan senyum kelu di bibirnya. "Sekarang ... saya akan sendirian untuk beberapa tahun ke depan," Ranum tertunduk. Dia menyentuh sudut matanya.
"Jangan khawatir, Bu. Aku akan sering-sering menemui Ibu," sela Arumi. Dia segera memeluk Ranum dengan hangat.
"Terima kasih, Sayang," balas Ranum seraya menyentuh pipi Arumi lembut.
"Jangan merasa sendiri, Bu. Masih ada kami yang akan menjadi keluarga kedua untuk Ibu," ucap Arumi dengan lembut. Dia mencoba untuk terlihat tegar di hadapan kedua wanita yang menjadi idolanya.
Ryanthi dan Ranum saling pandang. Sesaat kemudian, mereka bertiga melempar senyum semangat dan saling memberikan dukungan.
...π π π...
Malam itu, Ryanthi berdiri sendiri di atas balkon tempat biasa dia merenung sambil menikmati langit malam. Senyuman kecil tersungging di wajahnya. Ryanthi telah menyelesaikan buku yang Adrian tinggalkan.
Angin malam mulai berembus dengan lembut. Dia memberikan sapaan halusnya seiring dengan sebuah pelukan hangat yang Ryanthi rasakan. Ryanthi kemudian memejamkan mata untuk sesaat.
__ADS_1
Tarikan napas itu sangat dia kenal. Begitu juga dengan aroma tubuh yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.
"Adrian ...." deΒ°sah Ryanthi pelan. Dia pun membuka matanya.
"Apa kabar, Ryanthi?" bisik Adrian dengan suara berat.
"Aku sudah menyelesaikan buku yang kamu tinggalkan untukku. Sebentar lagi, Keanu akan menikah. Arumi juga sudah menemukan cinta sejatinya, meskipun kini dia tengah terpisah dengan kekasihnya. Aku sangat sedih melihat hal itu," resah Ryanthi. Dia bersandar pada tubuh Adrian.
Pria tampan itu tersenyum simpul. Dia meletakkan dagunya di atas pundak Ryanthi. "Kamu pikir nyonya Indira Winata tidak sedih, saat melihatku dalam keadaan yang sangat kacau ketika kamu pergi?" kenang Adrian.
"Dia datang setiap hari ke apartemenku. Membangunkan diriku setiap pagi dan memaksa untuk sarapan. Dia juga memberikan ceramah panjang lebar. Aku bahkan harus menemaninya belanja. Itu sesuatu yang tidak kusukai," keluh Adrian.
Ryanthi tertawa pelan. "Sungguh?" tanyanya.
"Ya. Aku sangat tersiksa saat itu. Tiga tahun terasa begitu lama bagiku. Hidup dalam kerinduan rasanya sangat menyedihkan. Kamu tahu? Waktu seakan bergerak dengan sangat lambat, dan yang aku ingat hanya satu hal ...."
"Apa itu?" tanya Ryanthi.
"Dirimu," jawab Adrian pelan.
"Katakan pada Arumi dan juga Keanu. Sejauh apapun kita menempuh suatu perjalanan, maka kita pasti akan tiba di tempat itu, selama kita memiliki tujuan yang pasti. Jadi, selalu berpegang teguhlah pada tujuan awal hidup kita, karena kita pasti akan tiba di sana," pesan Adrian.
Ryanthi membalikkan badan untuk menatap wajah tampan itu. Dia lalu menyentuhnya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu lagi, Ryanthi. Menunggumu untuk kedua kalinya, meskipun untuk saat ini aku tak tahu sampai kapan. Akan tetapi, aku akan selalu menunggu untuk bisa kembali bersamamu dalam keabadian kedua kita. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu," Adrian merekatkan keningnya pada kening Ryanthi. Mereka berdua memejamkan mata dan meresapi kebersamaan itu.
Makin lama, Ryanthi merasakan tarikan napas itu semakin menjauh dari wajahnya. Dia lalu membuka mata. Adrian tersenyum dalam sebuah cahaya putih yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
"Terima kasih sudah membantuku untuk menyelesaikan membaca buku itu. Sekarang aku sudah benar-benar tenang. Sampai bertemu lagi, Ryanthi. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu," Adrian kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Ryanthi seorang diri.
Lemas. Tubuh Ryanthi ambruk di atas lantai balkon itu. Air mata kembali terjatuh di sudut bibirnya. Adrian pergi seiring dengan selesainya buku yang Ryanthi baca. Pria itu tidak akan datang dan menemuinya lagi. Adrian akan menantikan Ryanthi untuk mendatanginya.
Beberapa bulan sejak hari itu, Keanu melangsungkan pernikahan dengan Puspa. Dia tidak memedulikan apapun. Keanu hanya ingin mewujudkan satu niat dalam hati, yaitu membawa Puspa untuk menjadi pendamping yang baik baginya. Meskipun hingga saat itu, jati diri Puspa yang sebenarnya masih dirahasiakan dari Ryanthi. Biarlah waktu yang akan memberitahukan hal itu kepada sang ibu.
Arumi pun menjalani hari-hari dengan menyibukan diri di toko. Begitu juga Moedya yang mulai terbiasa dengan kehidupannya di dalam rutan. Ranum pun dengan rutin menjenguk putra semata wayangnya itu. Dia selalu mengingatkan Moedya untuk tetap menjaga penampilannya.
...----------------...
__ADS_1
Tiga tahun kemudian.
Arumi berdiri dengan setengah bersandar pada bagian depan mobilnya. Memakai sheath dress hitam lengan tiga perempat, dia membiarkan rambut panjangnya tergerai dengan indah. Wajah cantik dengan polesan lipstik berwarna oranye, tampak sedikit cemas. Gadis itu berkali-kali melihat sekeliling tempat di mana dirinya berada.
"Maaf, Nona. Jam berapa ya, sekarang?" terdengar seseorang yang bertanya kepada Arumi dan membuat gadis itu seketika menoleh.
Arumi segera menegakkan tubuh. Matanya mulai berkaca-kaca menatap pria yang tadi bertanya. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu segera menghambur ke dalam pelukan pria yang tiada lain adalah Moedya. Dengan penuh suka cita, Moedya membalas pelukan gadis itu. Kekasih yang sangat dia rindukan.
Mereka berpelukan dengan begitu erat dan tidak memedulikan keadaan di sekeliling. Satu yang pasti, mereka hanya ingin melepaskan rasa rindu yang telah lama tersimpan.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Moedya.
"Aku jauh lebih merindukanmu," balas Arumi dengan penuh kebahagiaan.
Perlahan Moedya merenggangkan pelukannya. "Ayo kita pulang," ajaknya.
Dengan senyum lebar penuh rasa bahagia dan haru, Moedya menggenggam erat jemari Arumi, kemudian menuntunnya masuk ke dalam kendaraan. Mobil sedan putih itu pun melaju dengan anggun, meninggalkan tempat yang tidak ingin mereka datangi lagi.
Keduanya akan kembali meniti hari-hari dengan kebersamaan, meskipun mereka tak pernah tahu takdir hidup akan membawa ke mana. Satu yang pasti, setidaknya Arumi telah membuktikan bahwa dirinya yang manja, bisa bersikap jauh lebih dewasa dalam menjalani cintanya.
...π Tamatπ...
Mari lanjut ke judul berikutnya :
Fb. Anellakomalasari
Jangan lupa baca juga :
π Pelangi Tanpa Warna
π Tania (Tatapan Tanpa Rasa)
__ADS_1