Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Pukulan Telak untuk Ranum


__ADS_3

Moedya menatap tajam wanita itu. Wanita yang berdiri dengan kemarahan yang besar kepada dirinya.


Nancy mengalihkan pandangannya kepada pecahan asbak yang berserakan di atas lantai. Sesaat kemudian, ia kembali menatap Moedya dengan sorot matanya yang tiba-tiba berubah.


Bibirnya bergetar seakan menahan tangis yang akan segera pecah. "Kamu yakin akan pergi meniggalkanku, Moedya? Kamu yakin!" Nancy berteriak histeris. Ia tiba-tiba terlihat sangat kacau.


"Tenanglah! Tenangkan dirimu!" Pinta Moedya. Ia masih tetap berusaha agar terlihat tenang.


"Bagaimana aku bisa tenang! Aku tidak suka ini! Sudah kukatakan padamu, jangan pernah berani untuk pergi dariku!" Bentak Nancy dengan keadaannya yang terlihat semakin kacau. Sesaat kemudian ia beranjak ke arah meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci itu.


Moedya tertegun. Ia menatap tajam wanita itu. Moedya pun kini mulai siaga dengan tatapannya yang semakin tajam.


"Sekali aku menarik pelatuknya, maka kupastikan kamu tidak akan dapat keluar hidup-hidup dari apartemenku!" Ancam Nancy seraya mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah Moedya. Ia terlihat sangat serius dengan kata-katanya kali ini.


"Tenanglah! Turunkan senjatamu, Nancy!" Suruh Moedya seraya merentangkan tangannya ke depan. Ia memberi isyarat kepada wanita itu untuk segera menurunkan senjata yang dipegangnya.


"Tidak Moedya! Aku bukanlah wanita bodoh seperti yang kamu kira! Aku bukan wanita lemah!" Teriak Nancy dengan setengah membentak kepada pria yang sangat dicintainya.


"Aku tahu itu! Aku tahu kamu wanita yang hebat," sanjung Moedya. Ia berharap agar Nancy kembali tenang.


"Cuih! Persetan dengan semua sanjunganmu itu. Dasar busuk!" Sanggah Nancy dengan keras.


"Dengarkan aku Moedya! Jika aku tidak dapat memilikimu, maka tidak juga dengan wanita lain!" Bentak Nancy lagi.


Nancy melangkah maju sambil terus mengarahkan pistolnya kepada Moedya. Ia tidak lengah sedikitpun. "Aku bersumpah akan membunuhmu saat ini juga. Setelah itu, aku akan membunuh gadismu! Ah ... tidak! Lebih baik aku menjualnya. Itu akan jauh lebih menguntungkanku!" Ancam Nancy dengan gelak tawanya yang menakutkan.


Kedua tangan Moedya sudah terkepal dengan sempurna ketika mendengar ancaman gila dari wanita itu. Akan tetapi, Moedya masih berusaha untuk tetap dapat menguasai dirinya agar tidak bertindak gegabah.


"Ayolah, Nancy! Turunkan senjatamu! Jangan bertindak terlalu jauh!" Pinta Moedya lagi. Nada bicara Moedya terdengar mulai tegas.


Bukannya menuruti permintaan Moedya. Nancy justru malah menarik pelatuk itu sekali dan menembak sesuatu yang berada tepat di sebelah Moedya.


Merasa terancam, Moedya pun segera menghampiri Nancy dan berusaha untuk merebut pistol itu.

__ADS_1


"Ayo, berikan pistolnya padaku!" Pinta Moedya seraya terus berusaha untuk melepaskan pistol itu dari genggaman Nancy.


"Jangan harap!" Sergah Nancy dengan keras.


Satu tembakan lagi mengarah ke langit-langit ruangan itu, membuat Moedya semakin sigap. Ia semakin keras berusaha untuk merebut senjata itu. Pergulatan sengit pun terjadi. Pistol itu terus bergerak tak tentu arah hingga akhirnya terdengar dua kali letusan yang membuat keduanya seketika terdiam dan saling pandang.


Moedya tertegun dengan mulut menganga. Ia melihat ke bawah dimana darah telah mengucur membasahi lantai dengan granit mewah itu. Moedya pun menggelengkan kepalanya seakan tidak dapat menerima apa yang telah terjadi, terlebih ketika ia mendapati tubuh Nancy yang kini ambruk dengan bersimbah darah. Tubuh indah itu tergelatak di atas lantai, tak bergerak sama sama sekali. Nancy tewas dengan dua luka tembak di perutnya.


Moedya pun menurunkan tubuhnya. Ia duduk bersimpuh di hadapan jasad wanita yang dulu telah menemaninya melewati malam-malam indah yang penuh kehangatan.


Bagaimanapun juga, Nancy pernah sangat menghiburnya dikala ia merasa begitu terpuruk. Wanita itu pernah membuatnya tertawa disaat ia merasa sedih dan kesepian, karena rasa rindu terhadap mendiang sang ayah tercinta. Kini, Nancy telah tiada. Wanita itu mati di tangan Moedya dengan sangat mengenaskan.


Moedya melepaskan pistol yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Tidak dapat dipercaya karena ia telah menghilangkan nyawa seorang manusia.


Ya, kini Moedya telah menjadi seorang pembunuh.


"Bangunlah! Aku mohon, bangunlah!" Pinta Moedya dengan setengah bergumam.


"Bangunlah, Delia!" Pekik Moedya dengan sekuat tenaga. Akan tetapi wanita itu tetap terkapar tak bergerak sama sekali. Begitu juga ketika dua orang anak buah Nancy masuk dan mendapati majikannya yang telah tewas ditangan Moedya. Mereka terkejut dan serentak akan menyerang pria itu. Namun, dengan sigap Moedya meraih kembali pistol yang masih tergeletak di sebelahnya. Ia pun mengarahkan senjata api itu kepada mereka.


Kedua anak buah Nancy tertegun dan refleks mengangkat kedua tangan mereka.


"Segera hubungi polisi!" Perintah Moedya dengan sikapnya yang jantan. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.


...🕊 🕊 🕊...


Dengan tergesa-gesa Ranum melangkahkan kakinya saat itu. Tatapannya lurus ke depan dengan ekspresi wajah yang teramat serius.


Sesampainya di dalam kantor polisi, Ranum disambut dengan baik oleh petugas yang menangani kasus yang kini menimpa Moedya.


Duduk di hadapan pria berseragam itu, Ranum tampak tidak gentar sama sekali. Ia masih memperlihatkan ketegasan ala seorang Ranum.


"Terima kasih atas kesediaannya untuk datang kemari Ny. Aryatama ...." petugas itu mulai membuka percakapan dengan sebuah basa-basi yang bahkan tidak sempat ia lanjutkan.

__ADS_1


"Dimana putra saya?" Sela Ranum membuat petugas itu menjeda ucapannya.


"Kami sudah mengamankan putra Anda!" jawab petugas polisi itu dengan nada bicara yang sopan namun bernada tegas.


"Mengamankan? Apa maksud Anda dengan 'mengamankan'?" Tanya Ranum. Ia masih belum memahami persoalan yang sebenarnya.


"Ya ... putra Anda telah resmi kami tahan karena kasus pembunuhan terhadap Ny. Adelia Sanjaya," terang petugas itu membuat Ranum tersentak dengan mata melotot sempurna.


"Apa maksud Anda?" Tanya Ranum dengan nada bicara yang cukup tinggi. Ia tidak percaya atas keterangan dari petugas itu.


"Putra Anda menjadi tersangka utama dalam kasus ini," jelas petugas itu lagi.


"Tidak mungkin!" Bantah Ranum seraya menggebrak meja. Ia pun berdiri karena tidak setuju dengan pernyataan petugas itu.


"Tenanglah Nyonya! Ini kantor polisi! Jadi, tolong jangan membuat keributan di sini!" Pinta petugas itu dengan sopan. Ia masih sabar dalam menghadapi kemarahan Ranum saat itu.


"Bagaimana saya bisa tenang ketika Anda mengatakan jika anak saya adalah seorang pembunuh! Ibu mana yang dapat menerima hal itu?" Tegas Ranum lagi.


"Sayang sekali, karena itulah kenyataannya. Putra Anda adalah satu-satunya orang yang berada di TKP saat itu, bahkan dia lah yang telah menghubungi kami," jelas petugas itu lagi.


"Tidak mungkin!" Sanggah Ranum lagi dengan semakin tegas.


"Kami benar-benar minta maaf, Nyonya. Akan tetapi semua bukti mengarah kepada putra Anda. Selain itu ... putra Anda juga telah mengakui semua perbuatannya. Jadi, untuk selanjutnya saya sarankan agar Anda mencari pengacara agar dapat membantu putra Anda di persidangan nanti!" Saran petugas polisi itu membuat Ranum semakin terbelalak.


Apa-apaan ini? Fikir Ranum. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi kepada Moedya? Batinnya lagi.


Tidak lama lagi, ia dan Moedya berencana untuk melakukan lamaran terhadap Arumi. Akan tetapi, jika seperti ini keadaannya ... ya Tuhan, Ranum menjadi sangat kalut saat itu.


"Bisakah saya bertemu dengan putra saya, Pak?" Pinta Ranum. Ia mulai menurunkan nada bicaranya dan mencoba bersikap tenang.


Petugas itu mengangguk dengan tegas. "Silakan tunggu sebentar!" Suruhnya.


Ranum pun kembali duduk. Cemas, takut, semuanya bercampur menjadi satu dan menjadikan perasaan wanita paruh baya itu menjadi sangat tidak karuan. Ia pun hanya dapat menopang keningnya dengan lemas.

__ADS_1


Sungguh, Ranum tidak memiliki siapa-siapa lagi selain putra semata wayangnya itu. Akan tetapi, ia sudah dapat menebak apa yang akan menimpa kepada Moedya kali ini.


Dalam kekalutan, untuk sepintas Ranum teringat akan sumpah mendiang Nurmaida dulu yang ditujukan untuknya. Ia akan selamanya hidup sendiri dengan warna hitamnya. Meskipun nyatanya Moedya memang masih hidup dan dapat ia temui kapan saja, namun bagi Ranum itu tidak ada bedanya sama sekali. Perasaannya sebagai seorang ibu sangatlah hancur saat ini.


__ADS_2