Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Menghabiskan Malam


__ADS_3

Dengan segera Puspa berdiri di hadapan Keanu. Tanpa diduga, ia melepaskan mini dress yang dipakainya dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.


Keanu tersentak menyaksikan hal itu. Secepat kilat ia meraih jasnya dan menutupi tubuh Puspa seraya mendekap erat gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Keanu. Ia terlihat begitu marah dengan ulah Puspa.


Puspa pun pada akhirnya menangis di dalam pelukan hangat Keanu. Ia menumpahkan air matanya di atas kemeja hitam pria itu.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Puspa disela-sela tangisannya. "Semua pria yang mendekatiku hanya menginginkan kesenangan semata. Aku tidak yakin jika dirimu juga tidak menginginkan hal itu," tukas Puspa.


"Apa aku terlihat seperti seorang bajingan di matamu?" Tanya Keanu. Ia mengerutkan keningnya dengan tidak mengerti.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" Desak Puspa.


Keanu terdiam. Ia pun melepaskan dekapannya dari Puspa dan segera meraih mini dress yang tergeletak di lantai. Keanu kemudian melepaskan jas yang menutupi tubuh Puspa dan kembali memakaikannya baju.


"Jangan seperti itu! Tidak semua pria brengsek seperti apa yang kamu fikirkan!" Tegas Keanu. Ia benar-benar tidak menyukai apa yang Puspa lakukan barusan.


Puspa terdiam. Ia pun kembali tertunduk meskipun isakannya kini sudah semakin berkurang.


"Aku sangat malu padamu," sesal Puspa.


"Kenapa?" Tanya Keanu. "Aku tidak pernah menghinamu atas apapun yang telah terjadi dalam hidupmu. Aku juga tidak menghakimimu untuk segala hal yang menurutku salah. Kenapa kamu harus berfikir seperti itu?" Sergah Keanu dengan tegas.


Puspa tidak menjawab. Lagi-lagi ia merasa jika lidahnya terasa begitu kelu. Ia kesulitan untuk mengatakan segala hal yang ingin ia utarakan kepada Keanu.


"Rasanya aku ingin segera mengakhiri hidupku. Semuanya tidak sesuai dengan apa yang aku impikan. Semua cita-citaku, cita-cita mendiang ayahku, ataupun harapan mendiang ibuku. Semuanya telah hancur!" Ringis Puspa. Ia tampak begitu menyesali semua yang telah terjadi di dalam hidupnya.


Keanu memegangi lengan gadis itu dengan erat. Ia kembali membujuk Puspa agar bersedia untuk sedikit bercerita kepadanya.


"Katakan padaku apa yang begitu mengganggumu, Puspa?" Desak Keanu. Ia berusaha untuk tetap sabar dalam menghadapi gadis itu.


"Ken ... aku ... aku ...." Puspa tidak melanjukan kata-katanya. Ia hanya mengerakan bibirnya tanpa tahu harus berkata apa.


Keanu terdiam dan menatap gadis itu. Sepasang mata abu-abu miliknya tampak menyiratkan sebuah pertanyaan yang begitu besar tentang gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Sesaat kemudian, Keanu pun meraih pergelangan tangan Puspa dan mengajaknya ke bagian belakang rumah megah itu.


Di bagian belakang rumah itu, terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar dengan pepohonan yang begitu rindang. Kemudian, di sisi lain dari halaman belakang itu, terdapat taman dengan sebuah gazebo yang letaknya menghadap pada sebuah kolam berbetuk persegi, dengan beberapa aliran air yang mengalir dan menimbulkan suara gemericik yang membuat suasana terasa begitu nyaman.


Gazebo itu sendiri memang tidak terlalu besar. Akan tetapi, itu dirancang dengan sangat cantik dengan hiasan tirai berwarna putih dan beberapa buah alas duduk yang terbuat dari busa berkualitas yang sangat empuk.


"Ayo!" Ajak Keanu. Ia terus menuntun Puspa menuju gazebo itu dan duduk di sana.


Puspa menatap sekeliling halaman belakang yang luas itu. Suasana di sana begitu indah dan nyaman dengan beberapa lampu taman yang menjadi penghias serta penerang, meskipun tampak agak temaram.


Puspa kemudian mengalihkan pandangannya pada kolam persegi di depan gazebo. Tampak ada riakan air di beberapa tempat.


"Apakah ada ikan di dalam kolam ini?" Tanya Puspa dengan begitu lugu.

__ADS_1


"Ya," jawab Keanu. "Aku mengisi kolam ini dengan beberapa ekor ikan koi," lanjutnya.


"Kamu menyukai ikan?" Tanya Puspa lagi seraya mengalihkan tatapannya kepada Keanu.


Keanu tidak segera menjawab. Ia hanya menatap kolam itu dengan lekat seakan ada sesuatu yang tengah ia fikirkan.


"Mendiang ayahku yang menanami kolam ini dengan ikan koi. Entah sejak kapan ia mulai menyukainya," terang Keanu. Ia kemudian tersenyum kelu.


"Ayahmu telah tiada?" Tanya Puspa lagi. Ia tampak sangat menyesal.


Keanu mengangguk pelan. "Ayahku meninggal beberapa waktu yang lalu. Ia meninggal saat melakukan kunjunganya ke Perancis. Aku, ibu dan adikku bahkan tidak sempat berpamitan dengannya," tutur Keanu.


Puspa menghempaskan napas sesalnya. Ia merasa tidak enak hati kepada Keanu. Akan tetapi, ia melihat jika Keanu seperti sedang membutuhkan tempat untuk bercerita.


"Pasti sangat menyedihkan," ucap Puspa dengan pelan. Suaranya terdengar begitu lembut.


Keanu mengalihkan tatapannya kepada gadis manis itu. Ia pun mengangguk pelan. "Sangat ...." jawabnya dengan sedikit lirih.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Puspa lagi. Ia merasa penasaran.


Keanu menghela napas panjang. Ia pun mengalihkan tatapannya pada kolam yang ada di hadapannya.


"Aku dan ayahku ... kami berdua sangat dekat. Berkat dirinya aku bisa berada pada posisiku saat ini. Beliau adalah penasihat yang luar biasa dengan segala kharisma yang dimilikinya," tutur Keanu. Ia mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman simpul.


"Kamu ingin melihat foto ayahku?" Tawar Keanu.


Puspa tersenyum. Ia pun mengangguk dengan antusias.


Puspa mengetahui jika saat itu Keanu tidak baik-baik saja. Entah ada ikatan batin seperti apa antara dirinya dengan pria tampan bermata abu-abu itu. Akan tetapi, Puspa merasa begitu sakit ketika menatap wajah sendu Keanu, meskipun pria itu terus mencoba untuk menutupinya dengan sikap kalem yang ia tunjukan.


"Apakah kita akan saling bercerita?" Tanya Puspa. Pertanyaannya telah berhasil memecah kebisuan diantara mereka.


Keanu melirik gadis itu. Ia pun kini menatapnya dengan begitu lekat.


"Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun. termasuk kepada ibuku sendiri. Namun, jika kamu ingin aku bercerita maka aku pasti akan melakukannya dengan senang hati," ujar Keanu.


Puspa membalas tatapan itu. Ia pun tersenyum lembut. Setelah itu, ia menggeser duduknya sehingga lebih dekat dengan Keanu yang masih setia menatapnya.


Perlahan, Puspa menyentuh wajah tampan itu. Ia pun memberanikan diri untuk mencium Keanu yang dengan segera menarik dirinya ke dalam pangkuan pria itu.


Keanu melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping Puspa, sedangkan tangan kirinya menelusup di balik rambut panjang gadis itu. Untuk kesekian kalinya, mereka kembali melakukan pertautan indah itu.


Puspa terus melingkarkan tangannya di leher Keanu. Ia pun me°remas lembut rambut belakang pria itu.


Keanu melepaskan ciumannya untuk sesaat. Ia pun kemudian mengalihkannya pada leher Puspa, membuat gadis itu mende°sah pelan.


"Jangan menggodaku, Puspa!" Keanu menghentikan serangannya kepada gadis yang masih duduk di atas pangkuannya itu. Ia menatap Puspa dengan napas yang mulai terengah-engah.

__ADS_1


Puspa tersenyum manja. Dengan kerlingan nakalnya ia telah membuat Keanu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak suka melihatmu bersedih," bisik Puspa.


"Kata siapa aku sedang bersedih?" Keanu mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.


"Ayolah! Jujur saja jika kamu merasa sangat sedih tadi!" Desak Puspa. "Aku dapat melihat dan merasakannya hanya dengan menatap matamu. Entahlah, tapi rasanya begitu menyakitkan untukku," ucap Puspa lagi.


Keanu terdiam. Ia kembali menatap gadis itu dengan sangat intens. Akhirnya ia pun menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Aku sangat bahagia malam ini," ucap Keanu tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Puspa.


"Kenapa?" Tanya Puspa dengan penuh penasaran.


Keanu tidak langsung menjawab. Ia berfikir untuk sejenak. Sesaat kemudian ia pun berkata, "Aku sangat bahagia karena malam ini aku berada di sini denganmu. Aku belum dapat memastikan ini apa, namun yang pasti ... aku senang bisa menatapmu dari jarak sedekat ini," tutur Keanu.


Puspa tersenyum lebar. "Sungguh? Terima kasih," sahut Puspa dengan senang hati. Gadis itu tampak jauh lebih bahagia mendengar ucapan Keanu kepadanya.


Keanu mengangguk pelan. Ia kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya. Sudah lewat tengah malam. Ia harus segera pulang.


"Aku harus pulang," ucap Keanu pelan.


"Kenapa?" Tanya Puspa dengan wajahnya yang terlihat kecewa.


"Ibuku akan bertanya macam-macam jika aku tidak ada di meja makan saat sarapan," jelas Keanu.


"Lalu ... kamu akan mengantarkanku kembali ke sana? Ke tempat itu?" Puspa tampak ingin menolak.


Keanu tidak menjawab. Ia pun merasa bimbang.


Melihat sikap diam yang ditunjukan Keanu, Puspa tampak merajuk. Ia pun turun dari atas pangkuan Keanu dan berlalu dari sana.


Dengan segera Keanu mengejar gadis itu.


"Puspa tunggu!" Seru Keanu pelan. Ia segera meraih tangan gadis itu, meskipun Puspa tampak malas dan berusaha untuk melepaskannya.


"Kenapa?" Tanya Keanu. Ia tidak mengerti dengan sikap Puspa.


"Kamu membawaku kemari malam ini. Namun apa yang kita lakukan? Tidak ada. Kamu akan membuatku merasa bersalah karena aku tidak melakukan tugasku dengan semestinya," jelas Puspa membuat Keanu tampak keheranan.


"Kita berciuman tadi, bahkan hingga berkali-kali," bantah Keanu.


"Ya, tapi setelah itu kamu mengabaikanku dan entah kapan lagi kita bisa memiliki saat-saat seperti ini? Hal ini tidak akan terulang lagi, Ken!" Tegas Puspa dengan jengkel. Ia menepiskan tangan Keanu dan kembali menuju ke dalam rumah. "Aku juga harus kembali ke tempat terkutuk itu!" Gerutu Puspa sambil terus melangkah masuk.


Keanu tertegun. Sesaat kemudian ia pun kembali mengejar Puspa ke dalam rumah. Kembali diraihnya tangan gadis itu dengan erat.


"Lepaskan!" Sergah Puspa dengan kesal.

__ADS_1


Keanu tidak melepaskannya sama sekali. Ia justru menarik gadis itu dan mengangkat Puspa ke dalam pelukannya. Ia telah membuat gadis itu terdiam seketika.


Puspa pun segera0 melingkarkan kakinya pada pinggang Keanu. Sementara kedua tangannya melingkar erat di leher pria yang kini melangkah dengan gagah dan membawanya ke dalam kamar.


__ADS_2