
Malam kian larut, ketika jam besar di ruang tamu berdentang sebanyak sebelas kali. Suaranya begitu keras, sehingga terdengar jelas hingga ke kamar Ryanthi.
Sementara, Ryanthi merasa kasur yang di tidurinya sangat tidak nyaman sehingga malam itu dia hanya bisa membolak-balikan badan ke kiri dan kanan. Ryanthi kemudian memutuskan menyalakan lampu tidur, yang menempel di dinding sebelah atas tempat tidur Kamarnya kini menjadi temaram.
Dulu, ketika Ryanthi masih memiliki telepon genggam, biasanya dia akan mengirim pesan kepada Arshan. Hal itu Ryanthi lakukan, jika dirinya sedang tidak bisa tidur seperti saat ini.
Arshan akan menemani hingga Ryanthi kembali mengantuk.
Namun, kali ini Ryanthi tidak bisa melakukan hal seperti itu. Dia sudah menjual ponselnya, ketika Farida sedang sakit. Alhasil, malam ini Ryanthi hanya melamun sendirian di tempat tidur.
Lama termenung seorang diri, membuat Ryanthi merasa bosan. Akhirnya, dia memutuskan keluar kamar untuk mencari udara segar. Ryanthi tak peduli, meski suasana rumah sudah sangat sepi. Lampu-lampu juga telah dimatikan.
Ryanthi melangkah ke arah balkon lantai dua, yang jaraknya tidak jauh dari kamar. Dia hanya perlu melewati kamar Vera. Akan tetapi, sebelum sampai ke balkon, Ryanthi tertegun di dekat tangga menuju lantai tiga. Gadis itu sempat terdiam beberapa saat, sambil memperhatikan tangga tadi.
Sesaat kemudian, Ryanthi melanjutkan langkah menuju balkon. Dia heran karena pintu kaca di dekat balkon masih terbuka lebar. Ryanthi takut jika ada seseorang yang masuk ke rumah itu. Dia melihat ke sekeliling, mencari sesuatu yang dapat digunakan sebagai senjata. Setidaknya, gadis itu bisa melawan dengan sesuatu. Bukan hanya tangan kosong.
Ryanthi berjalan pelan menuju pintu yang terbuka tadi. Langkahnya diatur sedemikian rupa, agar tidak menimbulkan suara. Ryanthi juga terus bersikap waspada.
Setelah makin mendekat ke balkon, Ryanthi mendengar helaan napas berat seseorang. Gadis itu mulai gugup. Jantungnya berdetak kencang, ketika dia melihat ada seseorang yang sedang berdiri tegak di atas balkon itu.
Suasana yang remang-remang, membuat Ryanthi sulit menerka siapa orang tersebut. Namun, dari perawakannya sangat mirip dengan Surya.
Ryanthi berdiri tidak jauh pintu balkon. Orang yang tiada lain memang Surya, dapat menyadari kehadiran Ryanthi di sana. Dia lalu menoleh. Surya menatap Ryanthi yang sedang memegangi sebuah vas bunga, yang diambil dari meja.
"Ryanthi?" sapa Surya. Meski baru beberapa hari tinggal bersama Ryanthi, tapi Surya sudah sangat mengetahui postur sang putri yang baru dia temukan kembali. "Kenapa belum tidur?" tanya Surya heran.
Namun, Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu hanya menggumam pelan.
"Kemarilah. Temani Ayah," ajak Surya dengan nada yang terdengar akrab.
Ryanthi menurut. Dia menghampiri Surya. Sementara, dirinya masih memegang vas bunga tadi. Hal itu membuat Surya menjadi heran. "Kenapa kamu membawa vas bunga itu?" tanyanya, membuat Ryanthi merasa malu.
"Tadi, aku melihat pintunya terbuka. Jadi kupikir ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya. Dia yakin bahwa Surya pasti mengerti akan maksudnya.
__ADS_1
Surya tertawa pelan. "Kamu pikir ada pencuri masuk ke sini?"
Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya mengangguk samar. Gadis itu masih terlihat canggung di depan sang ayah.
Surya menghentikan tawanya. "Ayah sering berada di sini saat malam. Sekadar untuk mencari angin," ucap pria itu. Tatap matanya kini beralih pada pemandangan malam yang gelap dan sepi.
"Setiap malam?" tanya Ryanthi ragu.
Surya mengangguk yakin. "Lihatlah langit itu. Sangat gelap, kan? Tuhan benar-benar sudah menciptakan suatu karya seni yang sangat indah. Meskipun tidak ada warna lain selain hitam, tapi semua orang mengaguminya."
Surya terdiam sejenak. Dia kembali menatap wajah anak gadisnya yang telah lama menghilang. "Kamu sendiri, kenapa belum tidur?" tanya pria dengan postur tinggi besar itu.
"Aku tidak bisa tidur. Jadi, kuputuskan untuk keluar mencari angin," jawab Ryanthi.
Surya menggumam pelan. "Ayah juga tidak biasa tidur cepat. Karena itulah, ayah sering menghabiskan waktu di sini sambil menunggu rasa kantuk datang. Namun, anehnya makin lama berada di sini, maka rasa kantuk justru semakin menjauh."
Surya menatap nanar suasana malam yang semakin sepi. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan, karena dia tampak seperti sedang memikul beban yang sangat berat di pundaknya. Gelak tawa yang terdengar tadi sore, seakan tidak pernah ada dalam dirinya malam itu. Dia tampak begitu menyedihkan.
"Kamu sudah makan malam?" Surya kembali memecah kebisuan antara mereka.
Ryanthi menggeleng pelan. "Aku tidak lapar," jawabnya datar.
Surya menoleh. Dia terus memperhatikan gadis dengan penampilan sederhana itu. Rambut pendek Ryanthi mulai bergerak tertiup embusan angin malam yang dingin.
"Kamu tidak pernah ikut makan bersama kami di meja makan. Mbok Mur mengatakan, kamu sering makan di dapur bersamanya. Kenapa? Kamu bukan pelayan di rumah ini. Ayah minta jangan lakukan hal itu lagi," pinta Surya.
Ryanthi tidak menjawab. Dia memang tidak suka makan bersama yang lain. Selain karena merasa bingung dengan table manner, Ryanthi juga tidak nyaman harus berlama-lama berada di antara Maya dan Vera. Akan tetapi, ucapan Surya memang benar. Dia bukan pelayan. Apa yang Ryanthi lakukan, hanya akan membuat ibu dan anak itu merasa unggul.
Ryanthi terus menatap ayahnya. Pria itu masih terdiam dengan tatapan yang terus menerawang jauh ke ujung langit di seberang sana. Surya terdengar menghela napas panjang yang begitu berat.
"Dulu, di sini ada bangku kecil. Kamu mungkin belum terlalu ingat. Namun, ibumu yang membeli bangku itu," ucap Surya pelan.
Pria itu terdiam sejenak, lalu menoleh kepada Ryanthi yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya.
__ADS_1
"Kami suka sekali menghabiskan malam di sini. Ketika kamu sudah tertidur lelap, kami berdua akan berbincang-bincang membahas segala hal sampai larut malam. Ibumu tidak peduli meskipun Ayah mengatakan jika besok Ayah harus bangun pagi karena ada pekerjaan. Dia selalu tidur larut."
Surya mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Farida. Pria paruh baya itu mulai senyum-senyum sendiri. Entah apa yang dirasa lucu, karena Ryanthi sendiri tidak tahu dengan kisah masa lalu dari kedua orang tuanya.
"Kapan pertama kali Ayah bertemu ibu?" tanya Ryanthi. Dia berharap agar Surya bersedia untuk berbagi cerita, tentang kisah masa lalu antara dirinya dengan Farida.
Surya kembali mengalihkan pandangan kepada Ryanthi. Dia agak malu-malu untuk bercerita. "Kami teman satu kampus dulu. Ibumu gadis yang sangat cantik. Dia juga sangat supel dan memiliki banyak teman. Ibumu tidak pernah pergi sendiri, bahkan ke toilet pun selalu membawa gerombolannya," tutur Surya diiringi seulas senyuman.
"Ibumu adalah gadis yang paling modis di antara teman-temannya. Itu benar. Dia sangat modis. Farida begitu memperhatikan penampilan. Kamu tahu, Nak? Dia senang sekali memakai baju dengan motif polkadot. Warna pakaiannya pun sangat mencolok." Surya kembali tersenyum, saat mengenang sosok Farida muda.
Ryanthi mengernyitkan keningnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa ibunya adalah gadis yang populer. "Lalu, bagaimana kalian bisa pacaran dan menikah?" tanya Ryanthi lagi begitu penasaran.
Surya tidak langsung menjawab. Sepertinya, dia ragu untuk bercerita kepada Ryanthi. Sementara, gadis itu sangat ingin tahu tentang kisah cinta ayah dan ibunya.
"Ibumu ... dia memiliki banyak pacar," jawab Surya sambil menggaruk keningnya perlahan.
Ryanthi tertawa pelan mendengar pengakuan sang ayah. "Sungguh? Ternyata ibu gadis yang sangat mengejutkan. Dia tidak pernah bercerita tentang itu padaku," gumam Ryanthi penuh sesal. Dia tidak percaya dengan apa yang di ceritakan Surya, karena memang Farida tak pernah bercerita tentang apapun yang berkaitan dengan masa mudanya.
Surya menggumam pelan. "Banyak pemuda yang menyukainya. Ayah bahkan harus menunggu lama hanya untuk kata "iya" dari ibumu. Akan tetapi, akhirnya kami menikah. Setelah menunggu hampir dua tahun lamanya, kamu lahir ke dunia ini," papar Surya seraya kembali menoleh kepada Ryanthi.
"Kamu adalah hadiah terbesar untuk kami berdua. Setidaknya, sampai ayah melakukan hal-hal konyol yang membuat hubungan kami menjadi renggang." Surya mengeluh pelan. Ada rasa penyesalan yang besar di wajahnya dan mungkin sulit untuk dia ungkapkan.
Ryanthi mengalihkan pandangan ke langit gelap. Malam semakin larut. Suasana kian sepi, seperti tidak ada kehidupan di sana. Sesekali, terdengar lolongan anjing milik salah seorang tetangga di rumah sebelah.
Embusan angin malam yang makin dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Ryanthi ingin sekali bertanya kenapa Surya, mengapa dia sampai tega berbuat seperti itu. Menyakiti hati Farida yang katanya sangat dia cintai.
Mengapa Surya sampai hati membiarkan mereka pergi dan tidak pernah mencari, ataupun menemui mereka sekalipun? Andai saja Surya mengetahui seberapa berat hidup yang harus dijalaninya dan juga Farida.
"Ayah, " panggil Ryanthi pelan.
Surya menoleh. "Ada apa? Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya, seakan sudah dapat menerka apa yang ada dalam pikiran Ryanthi.
"Mengapa Ayah tega mengkhianati ibu? Mengapa Ayah sampai hati membiarkan kami pergi?" Akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Ryanthi, meski gadis cantik tersebut tak tahu apakah dirinya akan kuat saat mendengar jawaban dari sang ayah.
__ADS_1