Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH DELAPAN : Permintaan Istimewa


__ADS_3

Ryanthi berdiri di undakan terbawah anak tangga, ketika Maya melintas di hadapannya sambil menggerutu kesal. Entah apa yang terjadi pada wanita itu, karena Ryanthi tidak berani bertanya padanya.


Sesaat kemudian, Surya muncul dari arah yang sama. Wajah pria paruh baya berpostur tinggi besar teraebut sama tampak masam. Sepertinya, dia baru bertengkar dengan Maya.


"Ayah," sapa Ryanthi.


Surya tertegun, lalu menoleh. "Hai, Nak. Kenapa berdiri di sana?"


Ryanthi tersenyum. Dia bergegas menghampiri sang ayah, yang mengajaknya ke ruang keluarga. Mereka lalu duduk berdampingan, ditemani secangkir teh hangat yang baru disajikan Mbok Mur di meja, tepat di hadapan Surya.


"Kulihat Tante Maya marah-marah. Apa dia ada masalah?" tanya Ryanthi membuka percakapan.


"Biasa. Perbedaan pendapat," jawab Surya tenang. Dia tak ingin membuat Ryanthi khawatir.


"Mungkin Tante Maya terlalu stres menjelang pernikahan Vera," ujar Ryanthi lagi.


Surya menggeleng pelan. "Semua urusan yang berkaitan dengan pernikahan Vera sudah selesai. Lagi pula, acaranya tinggal dua hari lagi ...." Surya menjeda kata-katanya. Dia menatap Ryanthi. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya pria itu tiba-tiba.


Ryanthi tahu bahwa Surya mencemaskannya.


Gadis itu tersenyum, seraya menggeleng yakin.


"Ayah benar-benar merasa bersalah, karena tidak dapat menjagamu dengan baik," ucap Surya setelah meneguk tehnya. Rona kecewa terlihat jelas di wajahnya.


Sebenarnya Ryanthi sudah lelah dan tidak ingin membahas kembali masalahnya dengan Arshan. Dia sudah bertekad untuk benar-benar menyingkirkan semua rasa sakit, serta kecewa di dalam hatinya terhadap pria itu.


"Bisakah untuk tidak membahas masalah ini terus-menerus? Vera akan menikah lusa. Aku sudah menerimanya Lagi pula, aku harus melanjutkan hidup. Aku tidak ingin membuang energi untuk terus terbelenggu dalam masalah seperti ini," ucap Ryanthi yang meniru kata-kata Adrian.


Surya kembali menatap putrinya. Dia tersenyum penuh wibawa. "Ayah bangga padamu. Ibumu sudah memberikan pendidikan yang baik sehingga kamu menjadi gadis yang kuat seperti ini," ucapnya. "Lihatlah apa yang ayah lakukan? Ayah bahkan tidak dapat berbuat apa-apa untuk memberikan kebahagiaan untukmu." Surya kembali menyalahkan dirinya, atas apa yang sudah terjadi kepada Ryanthi.


"Ini semua bukan salah Ayah," bantah Ryanthi lembut.


Surya terdiam sejenak. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. "Ayah ingin membelikanmu mobil. Kamu bisa pilih mobil apa saja, sesuai dengan yang kamu inginkan," ucapnya tiba-tiba.


Ryanthi terbelalak tak percaya atas ucapan sang ayah. "Aku tidak bisa menyetir mobil seperti Vera," gumamnya pelan.


"Tenang saja. Ayah bisa mencarikanmu supir pribadi. Sementara itu, kamu bisa belajar mengemudi. Kamu adalah gadis pintar. Ayah yakin kamu bisa belajar cepat," ujar Surya.


Ryanthi tersenyum lembut. Dia sangat bahagia, karena Surya berniat membelikannya mobil. Namun, Ryanthi menginginkan sesuatu yang lain, yang selalu menjadi impiannya sejak dulu. Gadis itu langsung mengutarakannya kepada Surya.


"Aku minta maaf, Ayah. Bukannya bermaksud menolak hadiah tadi. Namun, untuk saat ini aku tidak membutuhkan itu. Aku masih bisa menikmati perjalanan dengan bus ataupun angkutan umum lain. Aku juga sudah terbiasa berjalan kaki. Ibu sudah mengajariku sejak kecil. Tak ada masalah bagiku," tutur Ryanthi.


Surya mengernyitkan kening, karena tidak mengerti dengan yang dipikirkan gadis itu.


Ketika Vera terus merengek agar segera dibelikan mobil, Ryanthi justru menolak saat dirinya menawari.


"Ayah hanya ingin membuatmu lebih bahagia. Itu hanya hadiah kecil," ucap Surya.


"Seandainya aku meminta hal lain, apa Ayah akan mengabulkannya?" Ryanthi bertanya dengan agak ragu.

__ADS_1


"Tentu," jawab Surya tegas.


Ryanthi membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Dia menarik napas demi menetralkan rasa gugup sebelum mengutarakan keinginannya. "Sebenarnya, aku ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," ucap Ryanthi.


"Tentu saja boleh. Ayah senang kamu berniat melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi." Surya terlihat antusias dengan keinginan Ryanthi.


"Namun, aku ingin melanjutkan pendidikanku dalam bidang kuliner," lanjut Ryanthi lagi.


"Ya, tentu. Ayah pasti mendukungmu. Katakan saja, kamu ingin melanjutkan pendidikanmu di mana?" tanya Surya.


"Paris," jawab Ryanthi yakin.


Surya tertegun sejenak mendengar jawaban Ryanthi. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum lebar. "Kamu sudah yakin ingin melanjutkan pendidikanmu di sana?"


Ryanthi mengangguk dengan keyakinan penuh.


"Aku sudah mencari informasi tentang universitas di sana. Program yang ditawarkannya pun sangat bagus. Aku sangat tertarik untuk belajar di sana." Ryanthi tampak sangat bersemangat menjelaskan hal itu kepada Surya, yang mendengarkan dengan saksama.


"Aku punya cita-cita memiliki toko kue dengan namaku. Aku sudah sering membicarakan itu dengan ibu, tapi saat itu jangankan untuk melanjutkan pendidikan. Kehidupan kami sangat sulit dan ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya. Ada kegetiran, ketika dia teringat akan kehidupan yang dijalani bersama Farida.


Raut wajah Surya seketika berubah. Dia menggeser posisi menjadi lebih dekat kepada Ryanthi. "Maafkan Ayah, Nak," pintanya dengan mata mulai berkaca-kaca.


Ryanthi menatap Surya dari jarak yang begitu dekat. Usianya tidak muda lagi. Ada beberapa kerutan di wajahnya. Meskipun tampak sangat terawat, tapi tetap tidak dapat menyembunyikan sisa-sisa perjuangan besar dalam hidupnya. Tanpa terasa air matanya pun menetes, meski belum terlalu deras. Namun, itu cukup membuktikan bahwa hatinya terasa sangat hancur.


Surya menggenggam erat jemari Ryanthi. Dia menciumnya dalam-dalam. Walaupun dia tahu, bahwa itu tidak dapat mengobati luka hati yang dirasakan Ryanthi. Namun, setidaknya Surya ingin menunjukan bahwa dia adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih," ucap Ryanthi lirih.


Ryanthi melepaskan genggaman tangan Surya. Dia segera memeluk pria berpostur tinggi besar itu. Surya pun membalasnya dengan sangat erat. Untuk pertama kalinya, mereka dapat berpelukan seperti itu setelah delapan belas tahun tahun berlalu.


Air mata Ryanthi terus menetes. Ada bahagia dan haru yang bercampur menjadi satu dalam tangisnya. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar bisa menumpahkan segala kesedihan melalui tangisan. Selama ini, Ryanthi hanya memendam segalanya seorang diri.


"Ayah akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Semuanya. Ayah tidak peduli meskipun harus terbakar oleh panasnya sinar mentari sekalipun, selama bisa memenuhi semua yang kamu butuhkan. Ayah janji akan selalu memberikan segala yang terbaik untukmu dan hanya ingin membuatmu selalu tersenyum. Ayah janji padamu."


"Aku senang karena akhirnya bisa memeluk ayah dengan erat seperti ini. Aku sangat merindukan serta membutuhkanmu di sisiku."


"Jangan menangis lagi. Ayah tidak akan suka melihatmu seperti ini. Kamu akan selalu menjadi kebanggaan Ayah."


......................


Satu hari menjelang pernikahan Vera dan Arshan. Segala urusan telah dirampungkan. Sungguh membanggakan, karena Surya dan Maya menyewa jasa WO ternama ibukota.


Siang itu, Ryanthi tertegun memandangi kebaya berwarna putih yang diletakan Maya di tempat tidurnya. Tanpa senyum ramah atau sapa hangat, Maya hanya mendelik kepada gadis itu.


"Ini baju yang harus kamu pakai besok. Kami ingin agar penampilanmu terlihat lebih berkelas. Jangan sampai mempermalukan kami di acara pesta nanti," ucap Maya sinis.


Ryanthi meraih kebaya itu, lalu memeriksanya.


"Apa ukurnnya sudah pas denganku? Aku belum sempat mencobanya."

__ADS_1


Maya mendelik tajam sambil berkata, "Karena itu, dicoba sekarang! Jadi bisa kelihatan. Kalau memang ukurannya kurang pas sedikit saja itu tidak masalah. Lagi pula, kamu bukan tokoh utama dalam pesta besok."


"Ya sudah. Akan kucoba dulu. Terima kasih. Silakan keluar dari kamarku." Ryanthi tak ingin berdebat.


Maya segera membalikan badan. Dia keluar dari kamar Ryanthi dengan wajah kesal.


Sementara Ryanthi hanya tersenyum kecil.


Ryanthi berdiri di depan cermin. Dia mencoba kebaya yang telah disiapkan untuknya. Kebaya itu sangat cantik dan pas di tubuh Ryanthi.


Andai saja Farida masih ada dan bisa melihatnya sekarang, dia pasti akan sangat bangga dengan anak gadisnya yang cantik.


Ryanthi terus mematut dirinya di cermin, hingga dia merasakan sentuhan lembut di pundak. "Ibu," ucap Ryanthi pelan.


Dia menoleh. Tampaklah Farida sudah berdiri di belakangnya. Ryanthi segera memeluk erat wanita itu.


"Cantik sekali," sanjung Farida sambil membelai pipi Ryanthi.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Farida sembari mengajak Ryanthi duduk di tepian tempat tidur.


Ryanthi menyandarkan kepala di pundak sang ibu. Dia masih memakai kebaya itu. Namun, wajahnya kini berubah masam.


"Besok Arshan akan menikah, Bu," ucapnya pelan.


"Lalu? Bukankah kamu sudah merelakannya?"


Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya termenung menikmati belaian Farida.


"Ikhlaskan saja. Kalau memang kalian berjodoh, dia pasti akan kembali padamu. Namun, jika kalian tidak berjodoh, maka Tuhan pasti sudah menyiapkan yang lain untukmu.


Ibu hanya berharap, siapa pun pria yang beruntung menjadi jodohmu adalah pria yang baik."


"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkan hal itu," jawab Ryanthi pelan.


Farida kembali berkata. "Mulailah hidupmu yang baru. Tinggalkan semua masa lalu yang menyakitkan. Ibu ingin kamu kembali menata masa depan, seperti yang sering kita bicarakan dulu. Kamu sudah sampaikan itu kepada ayahmu, kan?"


Ryanthi mengangguk pelan. "Ayah setuju." Kali ini, suaranya mulai terdengar sedikit bersemangat.


"Syukurlah. Ibu senang mendengarnya. Dengan begitu, kamu akan segera dapat mewujudkan cita-citamu. Meskipun Ibu hanya dapat melihatnya dari kejauhan, kebahagiaan Ibu pasti dapat tersampaikan padamu."


Ryanthi semakin terhanyut dalam belaian Farida. Perlahan, dia mulai memejamkan mata.


Itulah yang selalu terjadi, setiap kali dirinya menikmati belaian lembut sang ibu.


Farida meraih tangan Ryanthi. Dia meletakan sesuatu dalam genggaman tangan gadis itu.


Seketika, Ryanthi tersadar. Dia membuka kepalan tangannya. Ryanthi mendapati sebuah bros berwarna siver berbentuk kupu-kupu. mengangkat. Gadis itu kemudian bangkit, lalu duduk.


"Pakailah itu besok. Kamu akan terlihat jauh lebih cantik," ucap Farida.

__ADS_1


Ryanthi tersenyum lembut. Dia mengangguk, lalu kembali menyandarkan kepala di bahu sang ibu.


__ADS_2