Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Pendekatan Lagi


__ADS_3

Keanu memarkirkan mobilnya di depan toko kelontong dimana kemarin ia mengantarkan Puspa. Ia pun terdiam untuk sejenak. Sementara tangannya, masih ia letakan di atas kemudi.


Lama ia duduk di dalam mobilnya. Ia juga kini terus menatap pada gang sempit diantara toko itu. Ia berharap agar Puspa segera muncul dari sana.


Semakin lama, Keanu pun merasa semakin bosan. Ia pun mencoba untuk menghubungi gadis itu, namun panggilannya tak juga dijawab oleh yang bersangkutan.


Akhirnya, Keanu pun memutuskan untuk turun dari dalam mobilnya. Ia berjalan menuju gang kecil itu.


Baru saja ia akan memasuki gang itu, langkahnya seketika terhenti karena melihat Puspa datang dengan wajah yang tampak sangat ketakutan. Ia bahkan terkejut melihat Keanu ada disana, di hadapannya.


"Puspa?" Keanu terlihat sangat heran melihat sikap Puspa saat itu. Matanya menatap gadis itu dengan lekat. Ia ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja.


"Ada apa? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Keanu dengan wajah yang menyelidiki.


Puspa tampak resah. Ia menatap Keanu dengan sepasang matanya yang dipenuhi banyak ketakutan.


"Ayo, ikutlah denganku!" ajak Keanu.


"Kemana?" tanya Puspa dengan wajah curiga.


Akan tetapi sebelum Keanu menjawab, Puspa telah terlebih dulu berjalan kearah mobil Keanu terparkir.


Dengan segera, Keanu membukakan pintu untuk gadis itu. Puspa pun segera masuk dan duduk dengan tenangnya.


"Sudah makan?" tanya Keanu seraya melirik gadis dengan kaos dan skinny jeans itu.


Puspa mengangguk pelan. Ia pun tersenyum lembut kepada Keanu, dan berbalas hal yang sama dari pria itu.


Tetes-tetes air hujan, makin lama semakin deras jatuh ke bumi. Keanu pun mulai meyalakan wiper mobilnya. Ia tampak begitu fokus pada jalanan yang tengah dilaluinya.


"Akan kemana kita?" Puspa memberanikan diri untuk bertanya kepada Keanu. Ia menatap pria yang tampak serius dengan kemudinya.


"Entahlah. Kamu sendiri ingin kemana?" Keanu malah bertanya balik.


Puspa tersenyum renyah. "Entahlah, aku juga tidak tahu," jawabnya.


Keanu melirik gadis itu untuk sesaat. Ia pun tersenyum simpul.


Beberapa saat lamanya berada di perjalanan, akhirnya Keanu menghentikan laju mobilnya di depan sebuah gedung tinggi. Ia pun menunjuk gedung tinggi itu.


"Ini perusahaan yang kemarin aku ceritakan padamu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalmu," tunjuk Keanu.

__ADS_1


Puspa menoleh keluar dari balik jendela kaca mobil yang basah itu. "Wow!" decaknya kagum. Ia tampak begitu takjub melihat gedung tinggi yang terlihat sangat megah dan berdiri dengan kokohnya.


"Datanglah hari Senin besok. Kamu bisa menemui pak Levi disana. Dia pasti akan menerimamu dengan baik," ucap Keanu. Pria itu masih dengan sikapnya yang kalem.


Puspa tersenyum simpul. Ia menatap Keanu untuk sejenak. Pria itu sangat tampan dengan penampilannya yang begitu rapi dan bersih. Bola matanya yang berwarna abu-abu terlihat sangat indah dan bersinar. Senyum dan bahasa tubuhnya pun menunjukan betapa Keanu adalah pria yang berkarakter tenang. Keanu memang pria yang sangat menawan.


Keanu pun kembali menjalankan mobilnya. Menembus guyuran air hujan yang semakin deras.


"Kenapa tadi kamu terlihat sangat ketakutan?" selidik Keanu. Ia menghentikan laju mobilnya di perempatan lampu merah.


Puspa tidak segera menjawab. Ia terlihat ragu untuk bicara kepada Keanu. Tentu saja, karena Puspa belum mengenal pria itu dengan baik.


Sesaat kemudian, Puspa kembali melirik pria itu. "Tidak apa-apa," jawabnya pelan.


Keanu dapat menangkap sesuatu yang Puspa sembunyikan darinya. Ia tahu jika gadis itu pasti tengah menghadapi sesuatu yang berat dalam hidupnya.


"Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin bercerita padaku. Akan tetapi, jika kamu membutuhkan teman bicara, maka jangan sungkan untuk bercerita. Aku merupakan pendengar yang baik," ujar Keanu dengan senyumnya.


Puspa tersenyum kelu. Ia terlihat gelisah. Berkali-kali ia memegangi tas kecil yang ada di atas pangkuannya.


Lampu hijau telah menyala. Keanu pun kembali memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Ceritakan sesuatu tentang dirimu!" pinta Keanu.


"Apa saja yang menurutmu boleh untuk kuketahui," jawab Keanu masih dengan kemudinya.


Puspa terdiam untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, ia pun mulai mulai bercerita tentang dirinya. "Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku laki-laki, ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Sementara adikku adalah perempuan, saat ini ia masih duduk di bangku SMA," tutur Puspa.


"Apa hobimu?" tanya Keanu lagi. Ia seakan tengah menginterogasi gadis pemalu itu.


"Aku? Aku ... apa ya?" Puspa berfikir untuk sejenak. "mungkin membaca," lanjutnya.


Keanu melirik gadis itu. Ia pun menghentikan laju kendaraannya. "Membaca?" tanyanya.


Puspa mengangguk pelan. "Aku sudah membaca banyak buku. Segala jenis buku," jelas Puspa.


"Luar biasa," puji Keanu seraya manggut-manggut.


"Biasa saja," bantah Puspa merendah.


"Boleh aku bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi?" tanya Keanu seraya kembali melayangkan tatapannya kepada Puspa.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Puspa.


Keanu menatap lekat gadis itu. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya untuk melanjutakn bertanya kepada Puspa.


"Tidak apa-apa," jawab Keanu. "ayo, turun! Ini adalah coffee shop kesukaanku. Suasana di dalam sangat nyaman. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya," ajak Keanu seraya melepas sabuk pengamannya.


Puspa tersenyum. Ia pun mengikuti Keanu melepas sabuk pengamannya. Gadis itu baru turun ketika Keanu membukakan pintu untuknya.


Sementara di toko, Arumi tengah asik bercanda dengan gadis-gadis disana. Ia sudah mulai akrab dengan mereka. Hari ini, kebetulan ia sedang tidak menerima pesanan.


Arumi tampak tertawa lebar saat itu, entah apa yang tengah para gadis itu bahas, karena mereka terlihat begitu ceria.


Akan tetapi, tawa Arumi seketika terhenti ketika ia melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam toko itu.


Seorang pria dengan jaket kulit dan kaos berwarna putih di bagian dalamnya. Ia melangkah dengan gagahnya kearah dimana Arumi berdiri.


Arumi pun seketika menjadi salah tingkah. Ia merasa tidak nyaman akan tatapan lekat pria yang kini telah berdiri di hadapannya itu. Arumi pun memilih untuk tidak melawan tatapannya. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Boleh aku meminjam Nona Muda ini sebentar?" tanya pria yang tiada lain adalah Moedya kepada ketiga gadis yang ada disana.


Ketiga gadis yang merupakan karyawan toko itu pun saling pandang. Mereka pun mengangguk dengan serentak.


"Terima kasih, Nona-nona," ujar Moedya lagi seraya tersenyum dengan kalemnya kepada mereka. Ia pun segera meraih tangan Arumi dan membawanya ke bagian dalam toko, tepatnya ke dalam dapur.


Sesampainya di dalam dapur, Moedya tidak juga melepaskan genggaman tangannya. Ia justru menarik Arumi ke dalam pelukannya dan tidak melepaskannya.


Arumi berusaha untuk melepaskan dirinya. Akan tetapi, dekapan Moedya terlalu kuat untuknya.


"Lepaskan aku, Moemoe!" Arumi terus berontak. Sesekali ia memukul lengan pria itu.


Moedya hanya tersenyum. Sepertinya ia begitu senang melihat gadis itu saat kesulitan melepaskan diri, dari dalam pelukannya. Ia malah semakin mempererat pelukannya. Ia pun terus tertawa dengan puasnya.


"Apa maumu? Bad boy!" sergah Arumi seraya terus mencoba menjauhkan Moedya darinya. Ia lagi-lagi memukuli lengan pria itu.


"Kenapa tidak membalas pesanku semalam?" tanya Moedya tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku ketiduran semalam," jawab Arumi.


"Begitu, ya? Kamu tidak tahu jika semalam aku menunggu balasan darimu hingga tengah malam? Tega sekali ...." sesal Moedya.


"Bukan urusanku!" sergah Arumi dengan ketusnya.

__ADS_1


"Oh, ya?"


Arumi terdiam. Ia menatap Moedya dengan lekat. Begitu pula dengan pria itu. Ia menatap Arumi dengan sepasang matanya yang penuh misteri.


__ADS_2