
Suara mixer terus mengalun dari dalam dapur toko kue itu. Arumi berdiri seraya terus memperhatikan benda itu berputar tatkala ia mencampur semua bahan hingga membentuk sebuah adonan yang diinginkan.
Hari ini, ia tengah membantu Ryanthi untuk menyelesaikan pesanan besar yang masuk ke toko mereka.
Beberapa saat kemudian, Arumi pun mematikan benda itu dan mengeluarkan adonan kentalnya. Dengan telaten ia memasukannya ke dalam loyang.
Ryanthi pun membantunya dengan semangat. Sesekali ia juga memberikan pengarahan kepada gadis muda itu. Kerja sama tim yang terlihat begitu menyenangkan antara seorang ibu dengan anak gadisnya.
Arumi terlihat sangat menikmati aktivitasnya saat itu. Wajahnya tampak serius meski sesekali ia tersenyum manis.
"Sayang!" panggil Ryanthi pelan.
Arumi pun menoleh.
"Bawa ini ke depan dan tata di dalam etalase!" Ryanthi menyodorkan satu loyang croissant kepada Arumi. Arumi pun mengangguk.
"Tata yang rapi!" imbuh Ryanthi.
"Oke!" jawab Arumi seraya berlalu keluar dari dapur.
Tampak disana dua orang karyawan yang sedang sibuk melayani pelanggan yang sudah datang sejak toko mulai dibuka.
Biasanya, di toko itu ada empat orang karyawan. Akan tetapi, dua orang karyawan hari ini izin untuk tidak masuk. Karena itu, Arumi dengan senang hati membantu sang ibu disana.
Arumi dengan rambut yang disanggul asal-asalan dan sebuah apron chef berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Ia sudah tampak seperti seorang profesional.
Gadis penyuka tampilan casual itu, hari ini terlihat begitu manis meski hanya memakai kaos putih press body yang dipadukan dengan plaid ruffle midi skirt nya.
Ia pun tengah asik menyusun croissant itu dengan rapi, sesuai dengan perintah Ryanthi.
Arumi begitu hati-hati dalam melakukan pekerjaannya. Apalagi ini adalah hari pertama ia membantu sang ibu disana.
"Permisi, Nona ...." terdengar sapaan dari arah belakangnya. Arumi pun segera menoleh.
Seketika ia begitu terkejut melihat seseorang yang tengah berdiri di belakangnya itu.
Arumi merasakan jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Suaranya pun seakan tertahan di dalam tenggorokannya. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain menggerakan bibirnya seperti seseorang yang sedang kebingungan. Entah bagaimana karena tiba-tiba Moedya berada disana.
"Kenapa dia ada disini?" gumam Arumi dalam hatinya. "Ah ... ini toko kue, siapapun boleh datang kemari," fikirnya lagi.
Lagi, Arumi berfikir bodoh seperti saat mereka bertemu kemarin-kemarin di supermarket itu.
"Hai ... Moemoe," sapa Arumi hangat dengan senyuman manis yang merekah indah di bibir dengan warna joyful orange nya.
Moedya tersenyum. "Hai .... kamu disini? Kamu juga masih ingat namaku rupanya," gurau Moedya dengan senyum khasnya yang menggoda.
Arumi tersenyum lebar dan semakin menampakan sepasang lesung pipinya. Ia lalu mengangguk. "Ada yang bisa kubantu?" Arumi bergaya bak seorang karyawan teladan yang tengah melayani seorang pelanggan.
"Um ... apa aku bisa pesan kue tart disini?" tanya Moedya. "Aku mendapat rekomendasi toko ini dari seorang teman," terang Moedya.
__ADS_1
Arumi manggut-manggut. "Ya, tentu saja. Untuk kapan?" tanya Arumi.
"Besok. Siang atau sore tidak masalah," jawab Moedya dengan gaya bicaranya yang terlihat begitu tenang.
"Oke," jawab Arumi. "Tunggu sebentar. Kami memiliki beberapa contoh yang bisa kamu pilih," ucap Arumi lagi.
Ia kemudian mengajak Moedya menuju meja kasir, dimana terdapat katalog aneka kue yang dijual di toko itu.
Moedya pun membuka lembar demi lembar katalog itu. Ia melihat-lihat semua contoh kue tart yang nantinya akan ia pesan.
"Yang ini saja!" Moedya menunjuk pada salah satu model kue tart yang menarik untuknya.
Arumi pun melihatnya. "Oh ... oke!" jawabnya. "Jadi ... kamu ingin base cake apa? Blackforest atau ...." Arumi tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Moedya menyela ucapannya.
"Terserah kamu," ucapnya. "Ini kamu yang buat, kan?" tanya Moedya dengan tatapan yang terus tertuju kepada Arumi.
"Hmm ... bisa," jawab Arumi pelan. Ia merasa risih karena tatapan Moedya yang terus tertuju kepadanya. Ia pun mengalihkan tatapannya kesegala arah.
"Baguslah, dengan begitu ... kamu bisa memilihkan yang paling enak untukku," balas Moedya.
Arumi tersenyum. Sesaat kemudian ia pun tersadar. "Oh iya, silakan tulis disini ucapan yang ...." lagi-lagi belum sempat Arumi melanjutkan kata-katanya, Moedya sudah terlebih dahulu meraih kertas kecil itu dan mulai menulis. Ia kemudian menyodorkan kertas itu kepada Arumi yang tengah memperhatikannya.
"Ini. Aku harap kamu bisa membaca tulisanku," gurau Moedya.
Arumi melihat catatan kecil itu. Ia pun tersenyum renyah. Namun, sesaat kemudian ia kemudian mengulum bibirnya. "Untuk wanita paling cantik. Aku menyayangimu," Arumi membacakan isi catatan itu.
"Ya, seperti itu," Moedya mengangguk. Ia membenarkan apa yang dibacakan Arumi barusan.
Moedya hanya tersenyum simpul. "Jadi ... aku harus bayar sekarang atau bagaimana?" tanyanya.
"DP setengahnya dulu boleh," jawab Arumi. Ia kemudian masuk ke area meja kasir dan mengambil bon pembayaran.
Moedya pun menyerahkan sejumlah uang sebagai DP. Setelah itu barulah Arumi mencatatnya.
"Atas nama?" tanya Arumi sambil bersiap untuk mencatat.
"Moedya saja," jawab pria dengan kaos oblong berwarna hitam itu.
"Nomor telepon?" tanya Arumi lagi.
"Tulis saja nama dan nomor teleponmu disitu, biar nanti aku yang menghubungimu!" goda Moedya dengan sikapnya yang kalem. Ia mulai memakai insting 'pemburunya'.
Arumi memainkan bolpoin yang sedang dipegangnya. Ia tahu jika pria yang ada di hadapannya itu, sudah mulai berani untuk menggodanya.
"Hubungi nomor telepon toko ini saja!" jawab Arumi setelah ia terdiam untuk sejenak. Ia mulai memasang wajah judesnya.
Sikap yang terlalu ramah, ternyata menjadi suatu bumerang jika ditujukan kepada pria seperti yang ada di hadapannya itu.
"Silakan tanda tangan disini!" Arumi menyerahkan kertas dan bolpoin itu kepada Moedya. Pria itu pun menurut saja.
__ADS_1
"Silakan bawa tanda bukti ini saat besok mengambil pesanan kemari!" ucap Arumi lagi dengan ekspresi wajah yang kian datar.
Moedya pun meraih selembar kertas itu dan memasukannya ke dalam dompetnya. Tatapannya masih tertuju kepada Arumi yang tiba-tiba berubah sikap padanya.
"Jadi ... jam berapa besok aku bisa mengambil pesananku?" tanya pria dengan tato bertuliskan nama seorang wanita di pergelangan tangannya itu.
Arumi yakin jika kue tart itu pasti akan Moedya berikan, kepada wanita yang namanya diabadikan sebagai tato di bagian tubuh pria itu.
"Kami tutup jam lima sore. Jadi ... datanglah sebelum itu!" jawab Arumi. Ia mencoba menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Oke," jawab Moedya dengan tenangnya.
"Terima kasih atas pesanannya," ucap Arumi dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
Moedya tersenyum kalem seraya mengangguk. "Sampai besok," ucapnya. Ia pun berlalu dari hadapan Arumi, dan keluar dari dalam toko kue itu dengan langkahnya yang terlihat begitu gagah.
Dengan diam-diam Arumi memperhatikannya dari dalam. Ia terus melayangkan tatapannya pada pria yang kini tengah memakai helm dan jaket kulitnya. Bahkan hingga Moedya menaiki motor retronya dan benar-benar pergi dari sana.
"Dasar mata keranjang!" umpat Arumi pelan. Ia pun menghempaskan sebuah keluhan pendek. Sesaat kemudian, ia kembali ke dapur dan menghampiri Ryanthi yang terlihat sangat sibuk dengan beberapa loyang yang akan ia masukan ke dalam oven berukuran besar itu.
"Ada pesanan satu tart untuk besok siang," lapor Arumi masih dengan wajah datarnya.
"Maksudmu?" tanya Ryanthi. Ia menatap lekat Arumi dengan wajah keheranan.
"Besok kita harus menyelesaikan tujuh ratus lima puluh snack box, Sayang!" lanjut Ryanthi.
Arumi tertegun. Ia baru ingat dengan hal itu. "Oh ... ya Tuhan! Aku benar-benar lupa," ucap Arumi. Ia menepuk keningnya sendiri.
"Ibu hanya punya empat orang karyawan disini. Sementara dua orang sedang izin sakit. Jadi ... kerjakan sendiri!" sahut Ryanthi dengan senyumnya.
Arumi terdiam. Ia berfikir untuk sejenak. "Itu artinya ... aku tidak bisa membantu Ibu membereskan pesanan snack box," sesal Arumi.
Ryanthi menghampiri putri bungsunya itu. Ia kemudian memegang erat tangan Arumi. Dengan senyum penuh semangat, ia pun berkata, "Kerjakan dari sekarang! Saatnya membuat sesuatu ...." ucapnya.
Arumi tersenyum lebar. "Ya. Itu hanya sebuah tart," ucap Arumi. Ia berusaha meyakinkan dirinya.
Arumi. Meskipun nyatanya ia seorang lulusan dari sekolah kuliner ternama di luar negeri, akan tetapi ini adalah pesanan pertama untuknya. Ini hal yang baru dan sejujurnya ia sangat gugup.
Selama ini ia sudah sering berlatih dan terus berlatih. Tetapi, ternyata rasanya berbeda ketika ia harus membuat sesuatu untuk orang lain atas nama sebuah "pesanan".
"Kerahkan seluruh kemampuanmu, Sayang!" Ryanthi masih dengan dorongan semangat yang besar untuk sang putri tercinta.
"Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan! Tenangkan dirimu! Anggaplah saat ini kamu sedang berada di sebuah padang ilalang, dengan suara deburan ombak dan hembusan angin yang tenang, pada suatu senja yang indah," Ryanthi membisikan kata-kata penenang, yang selama ini selalu menjadi obat baginya dikala ia merasa cemas.
Dipeganginya kedua lengan Arumi dengan lembut. "Ibu sama gugupnya sepertimu saat itu. Ketika dengan tiba-tiba ... Ibu harus menggantikan nenekmu untuk menghandle semua pesanan. Rasanya Ibu ingin menangis. Itu hal yang sangat melelahkan. Tetapi ... semua terbayar, ketika mereka tersenyum bahagia saat menikmati setiap gigitan dari sesuatu yang telah Ibu hasilkan dengan tangan ini."
"Kamu tahu, Sayang? Itu adalah kepuasan yang sebenarnya. Lebih dari nilai nominal yang kita hasilkan. Kebahagiaan tersendiri ketika kita dapat melihat orang lain, begitu menghargai jerih payah kita dengan sebuah penghargaan yang luar biasa. Kamu akan merasakan hal itu nanti. Sebentar lagi," Ryanthi mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa pelan. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Arumi menatap lekat sang ibu. Inilah yang membuatnya begitu mengagumi wanita yang masih setia dengan midi dress nya. Tak salah jika pria seperti Adrian, begitu mati-matian berjuang untuk mempertahankan cintanya kepada wanita itu.
__ADS_1
Arumi berharap agar ia bisa sehebat sang ibu, dengan cinta yang kuat dari seorang pria yang yang luar biasa. Yang tidak membuatnya merasa sakit dan terbebani.
Apakah itu merupakan suatu keinginan yang terlalu muluk-muluk? Yang pasti seperti ucapan dari sang ayah, "Aku tidak suka kisah cinta yang rumit."