Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Rintihan Pilu Ryanthi


__ADS_3

Setelah menjalani perjalanan panjang, akhirnya Ryanthi dan kedua buah hatinya tiba juga di kota kelahiran Adrian, Marseille.


Setibanya di rumah mewah itu, bukanlah sebuah penyambutan yang hangat yang didapatkan oleh mereka bertiga, melainkan mereka langsung disuguhi dengan sesosok jasad di dalam peti mati.


Lemas, Ryanthi pun langsung ambruk tak berdaya. Terulang kembali ketika ia harus melewatkan hal seperti ini. Ryanthi kembali membiarkan orang yang ia cintai untuk meregang nyawa sendirian, tanpa dirinya.


"Ibu ...." rintih Arumi pelan seraya membantu Ryanthi untuk bangkit. Dengan terpaksa, Ryanthi kembali menegakan kakinya dan berjalan menghampiri Adrian yang sudah tertidur dengan sangat nyenyak.


Air mata Ryanthi pun terus menetes dan sangat sulit untuk dibendung. Adrian, telah pergi untuk selamanya. Pria itu telah meninggalkan dirinya.


"Suamiku ... Sayang ... ini aku ... aku datang ..." rintihan Ryanthi dalam deraian air matanya. Ia menyentuh wajah pria yang selama ini telah menemani setiap hari-hari dalam hidupnya, dengan penuh haru.


Ryanthi ingin menyentuh wajah itu dengan terus-menerus. Ia tidak ingin melepaskannya sama sekali.


"Adrian ... suamiku ...." rintihnya lagi. Air matanya jatuh dengan semakin deras. Ini adalah terakhir kalinya ia dapat melihat wajah itu secara langsung.


Ya, setelah peti mati itu ditutup dan dibawa ke tempat pemakaman, maka itu merupakan kebersamaan terakhir antara dirinya dan Adrian.


Arumi hanya dapat menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak, yang juga tengah berusaha untuk tetap berdiri tegar.


Arumi tak kuasa melihat itu semua. Apalagi ketika ia melihat sang ibu yang tidak meratap, ataupun menangis sambil meraung-raung. Akan tetapi Arumi sangat mengetahui, jika kini sang ibu tengah berada di depan pintu keterpurukannya.


Ryanthi hanya terpaku menatap jasad Adrian yang sudah pucat di dalam peti mati itu. Rasa terkejut itu seakan telah membuatnya mati rasa. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat itu.


Rasa sakit itu seakan bahkan seolah tidak terasa olehnya, karena tertutupi oleh perasaan tidak percaya akan kenyataan pahit yang harus menimpanya kembali.


Perlahan Keanu melepaskan Arumi dari dalam dekapannya. "Temani ibu!" bisiknya seraya mencium kening sang adik.


Arumi pun mengangguk. Ia kemudian menghampiri Ryanthi dan berdiri di sebelahnya. Dirangkulnya pundak wanita setengah abad itu. Arumi kembali menumpahkan air matanya disana.


Sementara itu, Keanu tampak berbincang dengan anggota keluarga yang lain. Ia sedang menanyakan perihal tentang awal mula Adrian bisa sampai terkena serangan jantung.


...🕊 🕊 🕊...


Acara pemakaman telah usai. Ryanthi duduk termenung di dekat perapian. Ia masih belum mempercayai atas apa yang telah terjadi kepada Adrian.


Ryanthi tidak bicara kepada siapapun sejak kedatangannya di rumah itu. Ia hanya ingin sendiri.


Andai saja ia tahu jika suaminya hanya akan mengantarkan nyawa atas kepulangannya ke tanah kelahirannya itu, maka Ryanthi pasti tidak akan pernah mengizinkannya untuk pergi.


Merasa puas berdiam diri di dekat perapian, Ryanthi kemudian beranjak menuju kamar yang disediakan untuknya. Kamar itu adalah kamar yang digunakan Adrian selama beberapa hari ia tinggal di rumah itu.


Disana masih terdapat barang-barang milik Adrian yang ia bawa dalam kopernya. Ada beberapa helai kemeja dan juga barang-barangnya yang lain. Semuanya tersimpan dengan rapi.


Sesaat kemudian, Ryanthi meraih buku yang tersimpan di atas laci sebelah tempat tidur. Ia kemudian membuka lembar demi lembar halaman buku itu.


Buku itu, merupakan buku yang belum selesai Adrian baca. Lembaran yang Ryanthi buka pun berhenti di halaman enam puluh tiga, dimana terdapat foto antara Adrian dan dirinya semasa muda dulu.

__ADS_1


Ya, Adrian memang selalu memakai foto itu sebagai penanda halaman dari setiap buku yang ia baca.


Ryanthi mengetahui, betapa pria itu sangat mencintainya. Pria itu adalah pengagum setianya yang tidak pernah berpaling kepada siapa pun juga. Adrian adalah teman baik yang selalu menjadi pendengar, penghibur dikala sedih, dan tentu saja ia merupakan seorang kekasih yang luar biasa.


"Adrian ... suamiku ...." isak Ryanthi dalam desahnya.


"Apa salahku? Aku hanya meninggalkanmu selama tiga tahun, tapi lihat apa balasanmu untukku? Kamu sungguh keterlaluan!" ratap Ryanthi dengan perlahan. Ia mendekap buku itu dengan erat di dadanya.


"Bukankah kamu sudah berjanji padaku, pada almarhum ayahku? Bukankah kamu yang telah mengatakan jika kamu akan selalu menemaniku? Lalu apa yang terjadi sekarang? Kamu bahkan pergi tanpa berpamitan kepadaku. Seperti itukah pembuktian cintamu pada diriku?"


Ryanthi menundukan wajahnya. Ia menahan suara tangisnya dalam-dalam. Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuknya. Teramat sakit.


Tiga kali sudah ia harus kuat menahan perihnya rasa kehilangan dari orang-orang yang ia cintai.


Kepergian Farida dulu, telah membuatnya begitu sangat tersiksa. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk dapat menata hidupnya kembali.


Setelah itu, ia harus kehilangan Surya. Pria yang selama ini menjadi naungannya pun pada akhirnya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Akan tetapi, kepedihan itu dengan cepat terobati, karena ada Adrian dan Keanu di sampingnya.


Adrian kembali berhasil membuat Ryanthi bangkit dari perasaan yang membuatnya begitu terpuruk.


Lalu saat ini?


Saat ini Adrian lah yang justru pergi meninggalkannya, bahkan tanpa adanya salam perpisahan diantara mereka berdua.


"Adrian ... datanglah padaku! Kembalilah ...." Ryanthi kembali menangis.


Ryanthi bahkan tidak mempedulikan matanya yang mulai terlihat sembap karena terlalu banyak menangis. Ia hanya duduk termenung dan bersandar pada kepala tempat tidurnya.


Perlahan ia merasakan sebuah sentuhan hangat di pipinya. Seseorang tengah mengusap air matanya.


Ryanthi tersentak. Ia kemudian menoleh ke sebelah kirinya.


Pria itu tersenyum manis kepadanya. Sepasang mata abu-abu itu tampak begitu berkilau dan sangat indah. Ia adalah si Tuan Tampan yang dulu senang sekali menggodanya.


"Kenapa menangis?" tanyanya. Ryanthi tak kuasa untuk menjawab. Seperti ada sesuatu yang menahan suaranya untuk keluar.


Dia adalah Adrian muda yang selalu tampil dengan senyum khasnya yang menawan. Pria yang gigih dan tidak mudah putus asa, meski telah menerima banyak penolakan atas cintanya kepada Ryanthi.


Dia adalah Adrian yang terkadang terlihat begitu kalem, namun tak jarang bersikap konyol dan sangat menyebalkan.


Dia adalah Adrian, cinta sejati dari Ryanthi.


"Ini sungguh dirimu?" tanya Ryanthi seraya menyentuh wajah tampan itu.


Adrian tersenyum. "Tentu saja ini aku. Kamu fikir siapa? Jangan katakan jika kamu sedang menunggu pria lain disini!" ujarnya.


Ryanthi tertegun. Ia pun menghentikan tangisnya. "Tidak! Aku tidak ingin hal seperti itu terulang lagi! Tidak!" tolak Ryanthi. Ia segera turun dari tempat tidur dan menjauh dari Adrian.

__ADS_1


Ryanthi semakin tidak mengerti ketika ia melihat dirinya di dalam pantulan cermin. Ia pun segera melangkah kearah cermin itu dan menyentuh wajahnya sendiri. "Tidak mungkin," gumamnya dengan wajah tidak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Adrian seraya memeluk Ryanthi dari belakang.


"Ini pasti mimpi ...." gumam Ryanthi lagi.


Adrian tertawa pelan. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari Ryanthi dan menuju ke dekat jendela kamar itu. Ia pun menyibakan tirai yang menutupi jendela kaca itu.


"Berhentilah bermimpi, karena matahari sudah bersinar. Lihatlah, Ryanthi! Ini adalah musim semi yang indah. Mungkin sebaiknya kita habiskan hari ini dengan berkeliling. Bagaimana menurutmu?" tawar Adrian.


Ryanthi menghampiri Adrian masih dengan wajahnya yang tampak ragu. Ia berdiri di dekat pria itu. Tampaklah hamparan laut biru yang indah dengan deretan kapal pesiar disana.


Ryanthi terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat tentang hari itu.


"Ini hari terakhir kita disini. Setelah ini kita akan ke Paris. Bukankah kamu ingin mengunjungi sahabatmu itu, siapa namanya?" Adrian melirik Ryanthi dengan kedua alisnya yang hampir bertemu.


"Pierre ...." jawab Ryanthi.


"Oh ... iya, Pierre. Ingat, jangan membuatku cemburu!" ancam Adrian seraya kembali memeluk Ryanthi dari belakang dengan mesranya.


Ryanthi tertawa pelan meskipun ia merasa sangat aneh.


Adrian kemudian meletakan dagunya di atas pundak Ryanthi. Ia memegangi kedua lengan wanita cantik itu dengan lembut.


"Aku harap kamu menyukai acara bulan madu kita kali ini. Jika ada waktu, kita akan melanjutkan bulan madu kedua ke ...." Adrian tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kemana?" tanya Ryanthi seraya melirik wajah tampan yang berada tepat di sebelahnya itu.


"Kemana? Nona Ryanthi sendiri ingin kemana? Ah ... tidak! Sekarang kamu bukan nona lagi. Saat ini kamu adalah Nyonya Adrian Winata Karoly. Aku harap kamu senang bisa menyandang nama belakangku," ucap Adrian.


"Ya, tentu saja. Aku senang dan sangat bahagia bisa menyandang nama belakangmu. Akan tetapi, tidak ada hal yang jauh lebih membuatku bahagia, selain saat bisa memilikimu dalam hidupku," ungkap Ryanthi dengan suara lembutnya.


"Aku berjanji padamu, aku akan selalu menjadi teman, pelindung, dan suami yang baik untukmu. Ingatkan aku, jika aku telah berbuat keliru padamu!"


"Kamu tahu bukan, jika aku adalah pria yang brengsek. Akan tetapi, aku mempunyai cinta yang sangat besar dan tulus padamu. Semuanya terasa begitu suci ketika aku memikirkanmu, Ryanthi ...."


"Aku sangat menyukai namamu, sehingga aku ingin terus menyebutnya. Aku tidak akan pernah merasa bosan untuk mengulang dan terus mengenang semua kisah manis kita berdua. Semuanya terasa begitu indah."


Ryanthi menggumam pelan. Ia kemudian tersenyum lembut. "Kamu adalah pria terbaik dalam hidupku. Aku yakin jika kamu tidak akan pernah berbuat keliru padaku," balas Ryanthi.


"Semoga. Aku hanya ingin terus memelukmu dan membuatmu tersenyum. Aku tidak suka melihatmu menangis. Melihatmu bahagia, adalah sesuatu yang jauh lebih luar biasa daripada tender ratusan juta bagiku. Karena itu, tetaplah tersenyum. Jika bukan untukku, maka lakukan itu untuk Keanu dan ... Arumi ...."


Ryanthi tertegun. Ia menatap lekat Adrian.


Adrian tersenyum kalem. Ia masih berdiri dengan gayanya yang khas. Akan tetapi, entah kenapa karena ia semakin menjauh dari Ryanthi.


"Adrian ... kenapa kamu menjauh?" tanya Ryanthi.

__ADS_1


Adrian tidak menjawab. Ia masih berdiri dengan satu di dalam saku celananya. Senyuman itu pun tak jua hilang dari wajah tampannya.


__ADS_2