
Seorang pria setengah baya dengan perawakan tinggi besar berjalan menghampiri mereka berdua. Pria itu berdiri di hadapan Ryanthi. Dia tampak gagah dengan baju batik khas Pekalongan yang dikenakannya. Meskipun tidak muda lagi, tapi sisa-sisa ketampanan masih terlihat di wajah pria paruh baya tersebut. Terlebih, karena tampilannya yang sangat bersih dan juga terawat.
Perasaan Ryanthi langsung mengharu-biru saat menatap pria yang diirinya cari. Ingin sekali dia berteriak memanggil pria itu denga sebutan 'ayah'. Namun, entah mengapa suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Ryanthi pun hanya bisa berdiri mematung, tanpa tahu harus melakukan apa.
Surya, dialah pria itu. Seseorang yang sudah mencampakan dirinya dan Farida, sehingga mereka berdua harus menjalani hidup yang terasa begitu berat. Pria yang selama ini hanya ada dalam mimpi semu Ryanthi, dengan sedikit sekali kenangan dalam ingatan.
Surya adalah pria yang tidak terlalu jelas seperti apa sosoknya, setelah mereka berpisah sekian lama. Ryanthi hanya mengingat sebagian kecil tentang diri sang ayah. Saat itu usia gadis yang kini telah tumbuh dewasa tersebut baru lima tahun. Surya jarang berada di rumah, karena dia terlalu sibuk dengan bisnis yang sedang dirinya rintis.
Ada beberapa kenangan kecil yang dapat Ryanthi ingat. Namun, haruskah dia menanyakan hal itu kepada Surya? Tidak. Ryanthi nekat pergi menemui sang ayah bukan untuk mengenang masa lalu, yang mungkin sudah tidak ada dalam ingatan pria itu. Ryanthi pergi ke sana, hanya demi sang ibu yang tetngah terbaring tak berdaya.
Ryanthi tersenyum seraya mengangguk pelan. Dia menunjukkan sikap yang sopan kepada pria itu. Sedangkan, Surya membalasnya dengan cukup ramah. Walaupun raut wajah pria paruh baya tersebut menyiratkan rasa aneh.
"Gadis ini mencari Papa," ucap Maya dengan raut tak suka saat mengatakan hal itu.
"Ada perlu apa mencari saya?" tanya Surya, dengan suaranya yang terdengar penuh wibawa.
Ryanthi terdiam sejenak. Dia bingung harus memulainya dari mana. Gadis itu telah berbohong dan meninggalkan Farida yang sedang sakit. Oleh karena itu, dia tidak boleh pulang tanpa membawa hasil. Ryanthi mengumpulkan segenap keberanian dalam dirinya. "Ibuku sakit," jawab gadis cantik tersebut. Sejak tadi, dia tak mengalihkan pandangan dari pria yang ada di hadapannya.
Surya terlihat semakin heran dengan jawaban gadis cantik berambut pendek tersebut. Dia mengernyitkan kening. "Maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Iya. Ibuku sudah lama sakit. Saat ini, kondisinya sangat memprihatinkan," ucap Ryanthi lagi. Dia bingung serta gugup. Bahasa tubuh itu berubah menjadi kecemasan yang terlihat jelas.
"Iya, tapi saya tidak mengerti. Ibumu sakit, harusnya dibawa ke rumah sakit untuk berobat. Saya bukan ketua RT di sini. Jadi, saya tidak punya urusan dengan hal itu," tolak Surya halus.
"Mungkin dia butuh uang, Pa. Coba Papa berikan beberapa rupiah. Dia pasti akan langsung pergi. Lagi pula, bukan rahasia lagi jika sekarang banyak orang menggunakan modus yang bermacam-macam demi mendapatkan sejumlah uang." Maya menimpali dengan sikapnya yang sombong. Dia berkali-kali mencibir ke arah Ryanthi.
Ryanthi menatap tajam wanita itu. Dia ingin sekali rasanya menjambak rambut jagung Maya, lalu menyeret wanita tersebut hingga ke rumah kontrakan yang dia dan Farida tempati. Setelah itu, Ryanthi akan menyuruh wanita menyebalkan tadi untuk bersujud dan meminta maaf kepada ibunya.
__ADS_1
Namun, beruntung karena Ryanthi masih dapat mengendalikan diri. Dia tidak memedulikan kata-kata pedas Maya. Gadis itu hanya terfokus kepada sang ayah.
Surya memegang pundak Maya yang terus bersikap ketus. Dia memberi isyarat agar istrinya tersebut lebih menjaga ucapan. Maya langsung diam, kemudian memalingkan wajah.
"Mama tunggu di mobil saja," suruh pria itu lembut.
Tanpa banyak membantah, Maya berlalu meninggalkan Ryanthi dan Surya berdua saja. Dia masuk ke mobil dengan perasaan kesal.
Sepeningal Maya, Surya menghela napas dalam-dalam. Setelah itu, pria berkharisma tersebut mengeluarkan dompet kulit yang terlihat mahal dari saku belakang celana panjangnya. Surya mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
Sementara, Ryanthi hanya terdiam dan memperhatikan gerak-gerik sang ayah. Tak ada yang terlewat sama sekali dari pengamatannya.
Surya kemudian menyodorkan uang tadi kepada Ryanthi, yang hanya menatapnya dengan perasaan sedih. Dari sana, Ryanthi mulai sadar bahwa Surya benar-benar tidak mengenali dirinya.
"Ambilah uang ini. Bawa ibumu berobat," suruh pria itu seraya menyodorkan uang tadi kepada Ryanthi. "Saya doakan semoga beliau cepat sembuh," lanjut Surya mencoba tetap bersikap ramah.
"Simpan kembali uang Anda, karena bukan itu yang aku butuhkan," tolak Ryanthi lagi. Kepedihan yang teramat dalam harus dirinya tahan di dada. Ryanthi terus mencoba mengendalikan amarah dalam diri. Dia masih tetap dengan nada bicara yang sopan, meskipun penuh penekanan.
"Kalau bukan ini yang kamu inginkan, lalu apa?" Surya merasa semakin tidak mengerti.
"Anda," jawab Ryanthi singkat, tapi telah berhasil membuat Surya tersentak. "Aku menginginkan Anda," tegas Ryanthi lagi.
"Dengar! Saya tidak mengenalmu! Saya juga tidak mengenal ibu atau keluargamu yang lain!" sentak Surya. "Kenapa saya harus berurusan dengan kalian? Saya sibuk! Jadi, tolong berhentilah bermain-main seperti ini!" tampik pria itu dengan mimik kesal. Surya mulai hilang kesabaran. Dia segera meraih tangan Ryanthi, lalu meletakan uang tadi di atas telapak tangan si gadis. "Ambil uang ini dan pergilah!" usirnya kasar.
Mendengar bentakan dari sang ayah, hati Ryanthi begitu teriris. Dia sudah berusaha sabar sejak tadi. Ryanthi berharap ikatan batin antara ayah dan anak bisa membuat Surya mengenalinya. Namun, ternyata tidak. Surya tidak mengenali dirinya sama sekali. Kesabaran Ryanthi akhirnya habis.
"Ibuku terbaring sakit selama berhari-hari! Tubuhnya sudah benar-benar lemah! Beliau tidak mau berobat! Aku pikir, Anda bisa membantuku. Sayang sekali aku telah keliru!" Ryanthi mulai bicara dengan keras dan meledak-ledak. Wajahnya menyiratkan kekecewaan yang teramat besar.
__ADS_1
Surya tertawa pelan. "Dengar! Saya sudah memberimu sejumlah uang, tapi kamu menolaknya! Lagi pula, kenapa saya harus ikut repot mengurusi ibumu yang sedang sakit?" tampiknya lagi. Surya yang saat itu akan pergi, menjadi benar-benar kesal karena ulah Ryanthi.
"Alasannya ... karena ... keran ibuku adalah wanita yang meninggalkan rumah ini lima belas tahun yang lalu!" tegas Ryanthi. Dia tidak dapat lagi membendung rasa kecewa. Amarah yang sudah dirinya tahan sejak tadi, akhirnya dapat diluapkan.
Akan tetapi, Ryanthi kembali tersadar. Tidak seharusnya dia marah, apalagi karena Surya memang tidak dapat mengenalinya sama sekali. Ryanthi mencoba menenangkan diri. Dia mengatur kembali napasannya.
Lain halnya dengan Surya. Pria itu seperti tersambar petir, saat mendengar penuturan Ryanthi. "Farida ...." Surya bergumam lirih. Dia lalu menatap gadis yang ada di hadapannya.
Surya berjalan semakin mendekat kepada Ryanthi sambil terus menatapnya lekat. "Ryanthi?" Dia menyebut nama gadis itu dengan suara bergetar karena menahan haru.
Ryanthi pun mengangguk pelan. Dia tak mampu berkata apa-apa.
Dengan segera, Surya memeluk erat gadis itu. "Ya Tuhan! Ayah tidak bisa mengenalimu!" Surya begitu menyesali diri, yang tidak dapat mengenali putri kandungnya. Sedangkan Ryanthi hanya berdiri, tanpa membalas pelukan sang ayah.
Sementara Maya terus memperhatikan adegan itu dari dalam mobil. Dia pun segera beranjak keluar dan mengahmpiri mereka.
"Papa!" sergahnya. Dia menarik kencang tubuh Surya, hingga pria itu melepaskan dekapannya dari Ryanthi.
"Apa-apaan ini?" sentak Maya. Dia melotot tajam kepada sang suami. Maya terlihat sangat marah, ketika melihat Surya memeluk Ryanthi.
Sedangkan, Surya justru bersikap sebaliknya. Pria paruh baya itu terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum lebar, meski raut wajahnya penuh haru. Surya seperti tak mampu berkata-kata lagi, untuk mengungkapkan seberapa besar kebahagiaan yang dia rasakan saat itu. Pencarian yang selalu berujung sia-sia, kini menemukan titik terang setelah Ryanthi datang sendiri menemuinya.
Sikap aneh Surya, membuat Maya merasa heran terhadap suaminya. Dia lalu mengarahkan perhatian kepada Ryanthi. Gadis itu balas menatapnya dengan sinis.
Maya kembali mengarahkan perhatian kepada Surya. Wanita itu masih memasang raut tak mengerti. "Ada apa ini? Siapa dia, Pa?" tanyanya. Maya benar-benar dibuat penasaran, dengan sosok Ryanthi yang baru saja dipeluk suaminya.
"Dia Ryanthi, Ma! Putriku dan Farida!" jawab Surya yang terlihat begitu semringah
__ADS_1
Akan tetapi, tidak dengan Maya. Wanita itu sangat terkejut, mendengar dua nama yang Surya sebutkan. "Ini tidak mungkin," gumam Maya tak percaya.