Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Tuan Tampan


__ADS_3

"Ryanthi, bangunlah!" terdengar bisikan lembut di telinga Ryanthi yang membuat dirinya segera membuka matanya.


Ryanthi menoleh ke belakang, dimana terdapat seraut wajah tampan dengan senyuman khasnya yang sangat menawan.


Wajah pria itu begitu ia kenal dengan baik. Setiap sudutnya, setiap garis dan lengkungannya, bahkan suara ******* napasnya pun seakan sudah terekam dengan jelas di dalam ingatan Ryanthi.


"Adrian?" Ryanthi melonjak kaget. Ia kemudian terduduk sambil bersandar pada kepala tempat tidurnya. Dipeluknya bantal itu dan seolah ia jadikan sebagai perisai untuk dirinya.


Adrian tertawa pelan melihat kelakuan sang istri. Ia malah semakin mendekat kearah Ryanthi. Sedangkan Ryanthi terus bergeser menghindarinya.


"Ada apa denganmu?" tanya Adrian dengan heran. Ia kembali tertawa dengan gaya tertawanya yang sangat khas.


Ya, Tuhan. Itu adalah hal yang sangat Ryanthi rindukan selama ini. Ia memberanikan diri untuk menatap pria itu. Ryanthi tak ingin melewatkannya lagi.


"Aku baru selesai berolahraga. Masih bau keringat ...." ujar Adrian seraya mencium ketiaknya sendiri. Kaos oblong yang dipakainya pun tampak basah di beberapa bagian.


Ryanthi tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan wajah tidak percaya.


"Aku mau mandi dulu, mau ikut?" tawar Adrian dengan nakalnya. Senyuman itu sungguh telah membuat rasa haus akan kerinduan Ryanthi terhadapnya seketika sirna begitu saja. Perlahan, Ryanthi menggelengkan kepalanya.


"Oke. Tidak biasanya kamu menolak," gumam Adrian dengan wajah sedikit kecewa. Ia pun beranjak dari tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Ryanthi dengan segera.


Adrian tertegun dan menoleh. "Aku ... mau mandi," jawabnya dengan sebuah kerlingan nakal terhadap Ryanthi.


Ryanthi terdiam. Tubuhnya seakan terpaku di atas tempat tidur itu. Ia tidak dapat bergerak sama sekali.


Keanehan apalagi ini? Fikirnya.


Perlahan Ryanthi mencoba untuk memaksakan dirinya bergerak. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat tangannya.


Seketika Ryanthi pun terbelalak kaget. Tangan itu, ia ingat benar dengan jemari indah itu. Jemari yang begitu lentik dan indah dengan kuku putih bersih. Kulitnya yang tampak kencang dan halus menandakan usia si pemilik tangan itu.


Ryanthi tertegun. Akhirnya ia dapat menarik tubuhnya untuk berdiri. Ryanthi pun segera berlari kearah cermin.


Kembali lagi keanehan itu terjadi dalam dirinya. Ia kembali menjadi Ryanthi muda.

__ADS_1


Belum habis rasa heran dalam dirinya, Ryanthi kini harus dikejutkan oleh sebuah pelukan hangat, yang tiba-tiba ia rasakan dari arah belakang.


Wangi aroma menyegarkan itu tercium dengan jelas oleh Ryanthi. Tubuh yang masih sedikit basah, dengan beberapa titik air yang menghiasi ukiran-ukiran menggoda itu. Ryanthi begitu mengenal detakan jantung dari si pemilik tubuh tegap itu.


"Adrian ...." desah Ryanthi dengan perlahan.


Adrian menatap mereka berdua dari pantulan cermin itu. Tatapannya tampak begitu hangat dan lembut, namun dirasa begitu menyakitkan bagi Ryanthi.


"Aku tidak percaya jika kita sudah menikah. Aku bahkan menghitung setiap detik yang ku lalui denganmu setiap harinya, karena aku tidak ingin melewatkan satu hari pun ketika aku bisa melewatkannya denganmu," bisik Adrian dengan lembutnya.


"Setelah ini, aku berencana untuk membeli sebuah rumah untuk kita. Bagaimana menurutmu? Akan tetapi, akhir-akhir ini aku sangat merindukan kampung halamanku. Rasanya aku ingin segera pulang kesana," ungkap Adrian dengan sedikit rona sedih di wajah tampannya.


"Bagaimana jika kubuat rumah masa depan kita dengan nuansa Eropa? Pasti akan sangat nyaman dan indah. Dengan begitu, kerinduanku terhadap negara asalku akan sedikit terobati," cetus Adrian lagi. Ia belum melepaskan pelukannya dari Ryanthi.


"Bukankah kita sudah memiliki rumah impian itu? Rumah itu sudah berdiri dengan kokoh dari semenjak Keanu berusia tiga tahun. Rumah ini, yang kita tem ... pa ... ti ...." Ryanthi terdiam ketika ia baru menyadari jika dirinya kini tengah berada di apartemen lama milik Adrian.


"Kenapa aku berada disini?" gumam Ryanthi dengan wajah tidak mengerti.


Dengan segera ia melepaskan dirinya dari dalam pelukan Adrian. Ryanthi beranjak kearah jendela kaca yang besar itu. Ia pun berdiri terpaku disana.


Iya, ia ingat betul tempat itu. Ini adalah kamar dimana dulu ia pernah menginap. Ini adalah kamar yang mengawali segala cerita indah yang mengharu biru antara dirinya dan juga Adrian.


Apa yang sebenarnya terjadi? Hatinya terus bertanya-tanya.


Ryanthi kembali terpaku ketika Adrian mulai mendekatinya lagi. Pria itu terlihat begitu heran dengan sikap yang ditunjukn sang istri pagi itu.


"Apa kamu lapar?" tanya Adrian seraya mengernyitkan keningnya.


"Tidak. Memangnya kenapa?" Ryanthi balik bertanya.


"Karena kamu terlihat gelisah. Kamu bahkan seperti tengah mengigau atau ... entah apa namanya. Akan tetapi ... kamu sangat aneh, Ryanthi," jelas Adrian dengan sepasang mata yang masih menatap intens kepada wanita cantik itu.


Ryanthi terdiam untuk sejenak. Ia pun berfikir keras, namun ia tetap tidak dapat memahami hal itu.


"Adrian, aku tidak mengerti kenapa hal seperti ini harus terjadi lagi kepadaku?" gumam Ryanthi seraya menundukan wajahnya.


Adrian menyentuh dagu Ryanthi dengan lembut. Ia pun mengangkatnya dengan perlahan. "Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Adrian pelan.

__ADS_1


Ryanthi menatap wajah itu dari jarak yang begitu dekat. Kharisma pria itu sungguh luar biasa. Adrian akan selalu membuat dirinya mengagumi pria blasteran Perancis itu.


"Aku bahagia karena dapat melihatmu lagi," jawab Ryanthi seraya menyentuh wajah tampan itu.


"Aku sangat merindukan hal ini. Aku ingin melakukan ini setiap saat, ketika aku dapat menyentuh wajahmu seperti sekarang ...." Ryanthi tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia pun segera menghambur ke dalam pelukan Adrian.


"Aku tidak kemana-mana. Aku masih dan akan selalu berada disini denganmu. Aku harap, aku dapat bertahan hingga nanti. Hingga keinginan kita untuk memiliki dua orang anak terpenuhi," tutur Adrian seraya memeluk erat Ryanthi.


"Aku sudah merindukan saat itu. Saat dimana ada makhluk kecil yang berlarian dan memanggilku "ayah". Itu pasti sangat menyenangkan."


"Oh iya, Ryanthi. Jika kita memiliki anak laki-laki, maka aku akan memberinya nama Keanu. Bagaimana menurutmu?" Tanya Adrian.


Perlahan Ryanthi melepaskan pelukannya dari Adrian. Ia pun menatap pria itu dengan lekat.


"Keanu?" Ryanthi tampak mengernyitkan keningnya.


Adrian mengangguk pelan. Sesaat kemudian, Adrian pun memilih untuk duduk di tepian tempat tidur. Seutas senyuman terlukis di wajah tampan yang bersahabat itu.


"Ayahku pernah bercerita, jika beliau dulu ingin memberiku nama Keanu. Akan tetapi, ibu menganggap jika aku lebih cocok diberi nama Adrian," terang Adrian. Ia kembali tersenyum simpul.


"Ayahku sangat mencintai ibuku, karena itu beliau mengalah saja. Akhirnya ... jadilah aku Adrian yang tampan ini. Ibuku memang tidak salah, karena aku sangat menyukai nama Adrian, dan aku sangat menyukainya ketika kamu menyebutkan namaku dengan penuh cinta," Adrian kembali bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Ryanthi yang masih terpaku menatapnya.


Perlahan Adrian menyentuh wajah cantik itu dengan sangat lembut dan membuat Ryanthi hanya dapat memejamkan matanya.


Semuanya tiba-tiba terasa menjadi begitu hangat. Ada banyak kupu-kupu yang mulai berterbangan di atas kepala Ryanthi, dan sebagian lagi seakan masuk ke dalam hatinya, menggelitik dan membuatnya berkali-kali menahan napas ketika Adrian membawanya ke atas tempat tidur.


Akan tetapi, mereka harus segera mengurungkan niat indah itu, karena tiba-tiba di sebelah mereka duduk seorang gadis cantik. Ia memanggil nama Ryanthi berkali.


"Ibu! Ibu!" terdengar suara Arumi dengan begitu jelas di telinga Ryanthi.


Dengan segera Ryanthi pun tersadar. Ia membuka matanya dan mendapati Arumi tengah menatapnya dengan lekat.


"Kenapa Ibu tidur disini?" tanya Arumi dengan heran. Ia kemudian duduk di sebelah Ryanthi yang sejak tadi ternyata tertidur di atas sofa, di beranda belakang rumahnya.


"Ibu sedang melanjutkan membaca buku ini. Tetapi malah ketiduran disini," ujar Ryanthi seraya mencoba untuk menguasai dirinya.


Arumi tersenyum manis. Ia pun segera menyandarkan kepalanya pada pundak sang ibu.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan ayah. Kemarin malam aku bermimpi tentangnya. Entahlah, tapi ayah terlihat begitu tampan. Ia bahkan jauh lebih tampan dari Edgar," ucap Arumi yang diakhiri dengan sebuah celetukan. Gadis itupun tertawa pelan.


Ryanthi menanggapinya dengan tawa pelan juga. Ia menepuk pipi Arumi dengan lembut. "Ayahmu memang sangat tampan. Karena itu, Ibu selalu memanggilnya dengan sebutan "Tuan Tampan". Dia adalah pria yang paling tampan, yang pernah Ibu cintai seumur hidup Ibu ...." tutur Ryanthi dengan senyum penuh keharuan.


__ADS_2