Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Tantangan dari Keanu


__ADS_3

Arumi terus bergelayut manja di pundak Ryanthi. Sikapnya memang seperti anak kucing yang manis di hadapan majikannya. Gadis itu pun sesekali menciumi pipi sang ibu, seperti sesuatu yang dilakukan oleh anak berusia belasan tahun.


"Aku senang, karena akhirnya Edgar memutuskan untuk segera kembali ke Eropa. Dengan begitu aku akan terbebas dari gangguannya," ucap Arumi seraya memainkan jemari sang ibu. Gaya bicaranya yang blak-blakan, terkadang membuat Ryanthi merasa tidak habis fikir akan gadis itu.


"Kenapa kamu begitu ingin menghindarinya?" tanya Ryanthi dengan heran.


"Ibu lihat dia pria yang sopan dan baik," lanjut Ryanthi dengan pelan. Ia kemudian melirik Arumi yang terlihat berseri-seri saat itu.


"Ibu kemarin bertemu dengan Moemoe di depan toko. Kenapa kamu tidak mengenalkannya kepada Ibu dan kakakmu?" Ryanthi masih belum mengalihkan tatapannya dari putri bungsunya itu.


Arumi membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia menatap sang ibu dengan binar indah di kedua bola matanya.


"Kenapa Ibu ingin sekali mengenal Moedya?" tanya Arumi dengan malu-malu.


"Kenapa? Tentu saja karena Ibu merasa jika Moedya membuat Ibu sangat penasaran. Apa menurutmu ada alasan lain?" pancing Ryanthi.


Arumi tidak menjawab. Ia pun beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Ryanthi seraya menatap gadis itu.


"Aku ingin berenang sebentar. Ibu mau ikut denganku?" tawar Arumi dengan senyum geli. Ia sangat tahu jika Ryanthi bukanlah seorang perenang yang berbakat.


Ryanthi hanya menyungginggkan senyuman simpul kepada gadis itu. "Ibu ingin lanjut membaca saja," jawabnya seraya meraih buku yang tadi sempat ia letakan di atas meja.


Sebelum kembali melanjutkan membaca, Ryanthi menyempatkan dirinya untuk memperhatikan Arumi yang tengah asik bermain di kolam renang. Sejenak fikiran Ryanthi pun kembali kepada masa itu. Masa dimana ia selalu menemani Adrian saat berada di kolam renang.


Ryanthi menghela napas dalam-dalam. Ia pun mulai membuka lembaran buku itu dan kembali membacanya.


Sesaat, Ryanthi seakan merasakan ada semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia pun memejamkan matanya untuk sejenak. Ia tahu jika Adrian pasti akan datang kembali untuk menyapanya.


Perlahan Ryanthi kembali membuka matanya. Ia pun tersenyum. Si Tuan Tampan tengah berenang dengan indahnya disana. Sesekali pria nuda itu muncul ke permukaan dan menoleh kepadanya. Senyuman itu masih terlihat sama.


Tanpa terasa titik-titik bening pun mulai membasahi sudut mata Ryanthi. Dengan segera, ia kembali memejamkan matanya.


Ryanthi tersadar. Ia kembali melihat Arumi disana, di kolam renang itu. Ryanthi pun segera menutup buku yang baru saja akan ia baca.

__ADS_1


Adalah sebuah dilema untuknya ketika ia harus menyelesaikan membaca buku itu. Akan tetapi, setiap kali ia menyentuh dan membuka lembaran dari buku itu, maka bayangan Adrian akan selalu hadir dan terasa begitu nyata di dekatnya.


Hatinya kini mulai gelisah. Bayangan Adrian terus saja mengikutinya. Pria itu seakan hidup di dalam buku yang menjadi wasiatnya. Buku yang belum selesai ia baca dan harus Ryanthi lanjutkan hingga selesai.


Ryanthi kembali menatap Arumi yang baru saja keluar dari dalam kolam renang. Gadis itu begitu cantik dengan tubuh semampai dalam balutan baju renang one piece nya. Rambutnya yang panjang ia biarkan begitu saja.


"Sudah lama aku tidak berenang. Rasanya segar sekali," ucap Arumi seraya meraih handuk dan mulai mengeringkan rambutnya.


Ryanthi menatap gadis itu untuk sesaat. Setelah itu, ia kembali melayangkan tatapannya lurus ke depan.


Hari sudah semakin sore. Akan tetapi, Keanu belum tampak pulang ke rumah. Rupanya pria itu tengah berada di bengkel milik Moedya. Mereka tampak sedang berbincang-bincang dengan santai.


"Jadi, sejak kapan kalian mulai kenal dekat?" tanya Keanu seraya melirik Moedya yang terlihat begitu santai, dengan sebatang rokok yang baru ia sulut. Asap tipis pun mulai mengepul dari rokok itu.


"Belum lama," jawab Moedya dengan perasaan tidak enak kepada sahabatnya itu. Akan tetapi, ia terus berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Arumi bercerita padamu?" Moedya melirik Keanu untuk sejenak. Setelah itu ia kembali mengepulkan asap rokoknya.


"Aku yang bertanya padanya," jawab Keanu. "Jadi ...." Keanu kembali menatap sahabatnya.


"Kamu yakin jika ... kamu ... menyukai adikku?" tanya Keanu lagi.


Moedya kembali tertawa pelan. Inilah yang tidak ia sukai, ketika Keanu mulai bertanya macam-macam kepada dirinya.


"Um ... aku tahu jika ... aku mungkin terlalu brengsek untuk Arumi ...." Moedya menjatuhkan rokoknya yang tinggal sedikit, kemudian Moedya pun mematikan rokok yang masih menyala itu dengan kakinya hingga benar-benar padam.


"Aku tahu siapa kamu. Bandit," gumam Keanu seraya mengeluh pelan.


Bukannya tersinggung, Moedya justru malah tertawa mendengar ocehan Keanu tentangnya. Ia kembali menggelengkan kepalanya.


"Harus ku akui, jika adikmu itu sangat cantik," celetuk pria dengan gaya rambut man bun itu. Ia pun seakan merasa lucu dengan ucapannya sendiri.


"Brengsek!" gerundel Keanu. Akan tetapi, ia pun ikut tertawa.


"Sebenarnya aku belum siap untuk memanggilmu "Kakak", tapi jika itu diperlukan maka mau tidak mau aku harus melakukannya," gurau Moedya lagi seraya melirik Keanu sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Kamu fikir aku sudah siap punya adik sepertimu? Jangan harap! Meskipun kita sahabat, tapi itu bukan berarti aku akan memberimu izin begitu saja untuk mengencani adikku!" tegas Keanu.


Moedya kembali tergelak. Ia masih menyandarkan sebagian tubuhnya pada bagian depan mobil Keanu.


"Ayolah, Kakak!" rengek Moedya seraya memegangi lengan Keanu. Sikapnya seperti seorang istri yang meminta dibelikan lipstik kepada suaminya.


Keanu melirik kearah Moedya dengan tatapan jijik. Ia pun bergidik karenanya. "Najis!" umpatnya seraya berlalu menuju pintu mobilnya.


Moedya kembali tergelak melihat Keanu melarikan diri darinya. Ia senang jika sudah bersikap iseng terhadap pria itu.


"Jadi bagaimana, Kakak Ipar?" tanya Moedya lagi.


"Apanya yang bagaimana?" Keanu tampak kesal. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.


Moedya pun mengikutinya. Ia berdiri di dekat jendela kaca yang terbuka itu. Setelah itu Moedya pun membungkukan badannya dan melihat ke dalam mobil.


"Aku janji pasti aka memberikan paket service gratis untukmu selama tiga kali perawatan," rayu Moedya dengan tenangnya.


Keanu memakai kacamata hitamnya. Ia pun tertawa geli. "Aku kasihan kepada Arumi jika dia harus berkencan denganmu!" seloroh Keanu seraya menyalakan mesin mobilnya.


Moedya kembali tertawa. Ia sangat mengenal sahabatnya itu. Keanu memang sering mengatakan sesuatu dengan maksud yang sebaliknya.


"Terima kasih," ucap Moedya dengan senyum terkembang di bibirnya.


"Kenapa tiba-tiba berterima kasih padaku?" tanya Keanu. Ia pun sudah bersiap untuk pergi.


"Datanglah ke rumah dan bicaralah kepada ibuku! Itu juga jika memang kamu punya keberanian," tantang Keanu, membuat senyum di wajah Moedya memudar dengan seketika.


"Bertemu ibumu?" tanya Moedya.


Keanu mengangguk dengan yakin. Ia pun tergelak dengan begitu puas.


Moedya kembali menegakan tubuhnya. Ia berdiri terpaku dengan wajah bimbang. Bahkan hingga Keanu beranjak pergi dari halaman bengkelnya, Moedya masih berdiri disana. Ia seakan tengah menantang cahaya matahari, senja itu. Bayangan tubuhnya pun mulai tergambar dengan jelas, di tanah berkerikil depan bengkelnya.


Ya, ini mungkin akan menjadi awal bagi Moedya untuk memulai sebuah hubungan. Ia sudah bertekad untuk membawa Arumi ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Satu hal yang menjadi harapan Moedya. Arumi akan menerima cintanya dengan penuh suka cita. Setelah itu terjadi, barulah ia akan menemui Ryanthi, dan membuktikan seberapa besar nyali dan keberanian yang ia miliki.


__ADS_2