Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH EMPAT : Secercah Semangat di Balik Rasa Takut


__ADS_3

Ryanthi sudah berniat pulang, ketika ponselnya terasa bergetar. Nama Vera muncul di layar sebagai pemanggil. Ryanthi segera menuju halte, lalu duduk di sana. Kebetulan, suasana siang itu tidak terlalu ramai.


"Ya, Ver. Ada apa?" sapa Ryanthi saat menjawab panggilan itu.


"Ini aku, Thi. Arshan."


Seketika, Ryanthi terkejut. Dia bermaksud menutup sambungan telepon tersebut. Namun, niatnya terjeda karena Arshan lebih dulu bicara. "Vera masuk rumah sakit," ucapnya. Pria itu memberitahukan nama rumah sakit tempat Vera berada.


Tanpa menunggu lama lagi, Ryanthi langsung menuju ke sana. Hatinya teramat cemas, saat memikirkan kondisi Vera, yang dia pikir akan melahirkan.


Setibanya di rumah sakit yang dimaksud, Ryanthi bergegas ke UGD. Di sana, dia melihat Arshan tengah termenung seorang diri. Pria itu tampak sangat kacau.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Ryanthi tanpa berbasa-basi terlebih dulu.


Arshan yang awalnya duduk termenung, langsung menoleh. Raut wajahnya menyiratkan rasa bingung luar biasa. "Vera mengalami pendarahan hebat. Dokter sedang menanganinya," ucap Arshan pelan.


"Ya, Tuhan." Ryanthi tak percaya mendengar penjelasan Arshan. Dia duduk di sebelah pria itu. "Bagaimana dengan ayah dan ibu? Apa mereka sudah tahu?"


Arshan menggeleng. "Mereka sudah berangkat ke pasar. Untungnya, aku belum pergi ke pabrik."


"Lalu, ayah dan Tante Maya?"


"Aku bingung dan benar-benar kaget. Aku tidak tahu harus bagaimana." Arshan meraup kasar wajahnya.


Ryanthi dapat memahami hal itu. Dia mengangguk, kemudian beranjak dari duduk. "Aku saja yang memberi tahu ayah dan Tante Maya," ucap gadis itu. Dia berlalu dari tempat Arshan berada, untuk menghubungi Surya.


Tak bersrlang lama, Surya dan Maya muncul dengan raut tegang. Keduanya datang saat dokter sedang memberi penjelasa kepada Arshan serta Ryanthi.


"Placenta terlepas sebelum waktunya. Hal itu menyebabkan penderahan pada ibu si bayi. Kami benar-benar minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkan bayi Anda," sesal sang dokter, setelah memberikan penjelasan.


Sementara, Maya tak kuasa menahan tangis. Dia menyembunyikan wajah di dada Surya.

__ADS_1


Selang beberapa jam kemudian, Vera sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Wanita itu juga sudah mulai siuman. Arshan setia menemaninya.


Perlahan, Vera menyentuh perutnya yang rata. Dia masih belum tahu dengan yang terjadi pada dirinya. Vera menatap Arshan, seakan meminta penjelasan.


Dengan berat hati, Arshan memberitahu sang istri perihal musibah yang menimpa wanita itu. Vera tak bisa berkata-kata, selain menangis.


................


Beberapa hari telah berlalu. Vera sudah kembali dari rumah sakit. Sedangkan, Ryanthi sibuk menyiapkan segala hal yang akan dirinya bawa ke Perancis. Pagi itu, Ryanthi tengah duduk termenung di kamarnya, ketika merasakan sentuhan halus di pundak.


"Ibu," ucap Ryanthi lirih. Dia menoleh pada wanita yang berdiri di dekatnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Farida lembut, seraya duduk di tepian tempat tidur. Wanita itu menghadap sepenuhnya kepada Ryanthi.


"Aku akan berangkat ke Perancis lusa. Rasanya sangat berbeda. Apa ibu akan menemuiku di sana?" Sepasang mata Ryanthi mulai berkaca-kaca.


Farida tersenyum lembut. "Sepertinya, bukan ketidakhadiran Ibu yang membuatmu sedih," ucap wanita itu. "Kenapa tidak temui dia dan berpamitan secara baik-baik?"


"Pergi dan temuilah dia. Katakan bahwa kamu sangat mencintainya. Jangan sampai dirimu membuat kesalahan sama, seperti yang telah ibu lakukan dulu. Penyesalan itu teramat menyakitkan, Nak," saran Farida dengan tutur kata yang begitu lembut.


"Apa yang harus kulakukan, Bu? Aku terlanjur mengakhiri hubungan kami. Kupikir, dengan membiasakan diri tidak mendengar suara Adrian, maka aku akan terbiasa hingga nanti saat diriku berangkat ke Perancis. Akan tetapi, aku salah. Rasanya ... ternyata aku sangat merindukan dia."


Ryanthi akhirnya meluruhkan segenap kesedihan di pangkuan Farida. Dia membenamkan wajahnya di sana. Ryanthi menangis, seakan ingin meluapkan segala beban yang selama ini dirinya pendam.


Farida tersenyum sembari terus membelai lembut rambut Ryanthi. "Ibu sudah terlalu lelah. Rasanya ingin beristirahat saja. Jangan membuat ibumu ini terus merasa khawatir. Kamu sudah menemukan dia. Pria yang selama ini dirimu butuhkan."


"Dengarkan Ibu, Nak," ucap Farida lagi. "Akan ada banyak pria tampan yang datang dan menawarkan cinta. Namun, hanya satu yang benar-benar bisa membuat dirimu merasakan seperti apa cinta. Saat kamu menemukannya, jangan sia-siakan. Temui dia. Katakan bahwa kamu sangat mencintai dan tak ingin kehilangannya."


Ryanthi mengangkat wajahnya. Dia menghapus air mata. Secercah harapan muncul, membawa senyum indah di paras cantik gadis itu. "Ibu benar. Aku hanya terlalu takut," ucapnya.


Farida kembali tersenyum. "Ibu paham seperti apa rasanya. Kisah hidup kedua orang tuamu memang bukan sesuatu yang patut untuk diteladani. Namun, tidak semuanya akan melakukan kegilaan seperti yang Ibu atau ayahmu lakukan."

__ADS_1


"Kepercayaan adalah sesuatu yang teramat berharga. Menjaga hal itu, sama seperti berjalan di atas pecahan beling tajam. Setiap langkah yang kita ambil, terasa begitu menakutkan. Namun, rasa takut tersebut akan membuat kita menjadi hati-hati dan tidak gegabah."


"Begitu juga dalam cinta. Ada yang diuji dengan pengkhianatan. Akan tetapi, tak sedikit yang bertahan dalam kebersamaan berjarak. Perasaan yang terombang-ambing tak karuan. Hatimu terguncang hebat, hingga kau merasa tak sanggup bertahan dengan dua kaki. Saat itulah, waktunya untuk mencari pegangan. Cinta tulus. Itulah, Nak. Ketulusan cintamu dan Adrian, akan membuktikan seberapa kuat ia menjadi pegangan bagi kalian."


"Ibu ...." Ryanthi mencium kedua tangan Farida yang putih pucat. Segenap perasaan berkecamuk dalam dada.


"Sudah Ibu katakan, ini adalah saatnya beristirahat. Ibu bersyukur, karena bisa mengantarmu hingga ke pintu masa depan yang baru. Mimpi terbesar kita. Raihlah semua selagi kamu bisa. Jangan mengalah lagi. Ketika tangan kanan mendapatkan sesuatu, biarkan tangan kiri ikut menikmati seperti apa rasanya."


Farida melepaskan genggaman tangan Ryanthi. Dia beranjak dari duduknya, lalu menjauh perlahan.


"Ibu mau ke mana?" tanya Ryanthi gusar. Dia bergegas turun dari tempat tidur, lalu menyusul Farida yang berjalan keluar kamar. Wanita itu cepat sekali. Ketika Ryanthi tiba di pintu kamar, dia sudah tak mendapati siapa pun di sana.


Ryanthi terpaku di ambang pintu, sambil mengedarkan pandangan. Namun, Farida seperti hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Gadis itu lalu melangkah keluar kamar, dan kembali terpaku.


"Kamu sedang apa?" tanya Surya yang tiba-tiba muncul di sana.


"Ayah? Apa Ayah melihat Ibu keluar dari kamarku barusan?" tanya Ryanthi resah. Sesaat kemudian, gadis itu tersadar saat melihat raut aneh yang Surya tunjukkan.


"Ah, aku mimpi bertemu ibu. Rasanya begitu nyata, sehingga kupikir dia benar-benar ada di sini dan ...." Ryanthi tak kuasa menahan kesedihannya. Tangis gadis itu pun pecah dalam dekapan sang ayah.


Beberapa saat lamanya, Ryanthi terus terisak. Perasaan gadis itu teramat sakit. Dia merasa begitu kehilangan. Padahal, Ryanthi sudah tahu bahwa Farida memang telah tiada sejak beberapa waktu yang lalu. Namun, entah mengapa Ryanthi seakan tak sadar dengan hal itu.


"Kamu sangat merindukannya, ya?" tanya Surya seraya membelai rambut Ryanthi. "Hingga detik ini, Ayah juga masih sangat merindukan ibumu. Namun, semua sudah terlambat."


Ryanthi tak kuasa menanggapi ucapan sang ayah. Dia hanya terisak pilu.


"Ayah sudah mengurus pemindahan makam ibumu. Segala sesuatunya telah selesai. Tak lama lagi, ibumu akan mendapat rumah baru yang jauh lebih layak. Seperti yang seharusnya dia dapatkan selama ini," tutur Surya seraya merenggangkan pelukannya.


Surya menatap lekat Ryanthi yang masih terisak. Dia mengusap lembut pipi anak gadisnya. Memghilangkan air mata kepedihan yang Ryanthi rasakan. "Kita akan mengawali lagi semua ini," ucapnya. "Ayah baru kembali dari menjenguk Vera. Syukurlah. Arshan begitu perhatian dalam merawatnya, hingga benar-benar pulih. Vera terlihat sangat bahagia."


Surya tersenyum hangat. "Untuk selanjutnya, Ayah ingin melihatmu seperti itu. Hidup bahagia bersama pria yang tepat. Seseorang yang mencintai dirimu sepenuh hati, sehingga Ayah tak menyesal karena telah menyerahkanmu pada pria itu."

__ADS_1


__ADS_2