Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Curhat Keanu


__ADS_3

Pagi itu Keanu terlihat sudah rapi dengan kemeja putih dan jas yang ia tenteng di lengannya. Ia duduk di kursi sebelah Ryanthi.


"Selamat pagi, Bu," sapa Keanu. Ia menyapa Ryanthi dengan sebuah keluhan pendek di bibirnya.


"Pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu?" balas Ryanthi. Ia menatap Keanu untuk sejenak.


"Baik," jawab pria berambut cepak itu. Akan tetapi, raut wajahnya menunjukan hal yang sebaliknya.


"Ada apa, Sayang?" Ryanthi menyentuh punggung tangan putra sulungnya dan mengusap-usapnya dengan perlahan. Naluri keibuannya mengatakan jika Keanu sedang tidak baik-baik saja.


"Ibu tahu jika kamu lebih dekat dengan ayahmu. Akan tetapi, saat ini semuanya telah berbeda. Ayahmu sering datang dalam mimpi Ibu. Dia berkali-kali berpesan agar Ibu bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk kalian berdua. Kamu dan Arumi," tutur Ryanthi dengan lembutnya.


Keanu menatap Ryanthi untuk sejenak. Ia memang tidak terbiasa bercerita dengan sang ibu. Akan tetapi, sang ayah pun kini telah tiada. Pada akhirnya ia hanya memendam semuanya sendirian.


"Katakan saja semuanya! Ibu akan mendengarkannya dan mungkin memberimu sedikit masukan yang kamu butuhkan," ucap Ryanthi lagi.


Keanu tersenyum simpul. Ia kemudian mengangguk pelan.


"Apakah itu tentang gadis pirang yang diceritakan almarhum ayahmu?" selidik Ryanthi. Ia meletakan buku yang baru saja akan ia baca.


"Bukan!" jawab Keanu dengan segera.


"Lalu?" Tanya Ryanthi lagi.


Keanu terlihat salah tingkah. Ia juga mungkin merasa bingung harus memulainya darimana.


"Tidak, Bu! Ini tentang gadis berambut hitam," jawab Keanu. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bicara kepada Ryanthi.


"Siapa dia?" Tanya Ryanthi lagi. Tatapan matanya begitu lembut tertuju kepada Keanu.


Keanu menghela napas dalam-dalam. Ia pun meletakan jas yang dibawanya di atas sofa.


"Namanya Puspa, Bu," jawab Keanu pelan.

__ADS_1


"Nama yang cantik," puji Ryanthi. Ia terus menatap putra sulungnya itu. Ryanthi mencoba menerka apa yang sedang pria itu fikirkan.


"Bicaralah!" Pinta Ryanthi. Ia mengusap rambut putra sulungnya dengan lembut.


Tanpa diduga, Keanu menyandarkan kepalanya pada pundak Ryanthi. Hal itu membuat Ryanthi sangat terharu. Ia tersenyum bahagia karenanya.


"Seperti apa gadis itu?" Tanya Ryanthi lagi. Ia menjadi begitu penasaran dengan sosok Puspa yang telah berhasil menarik perhatian putra sulungnya.


"Dia gadis yang manis, Bu. Rambutnya panjang, tubuhnya mungil, sangat menggemaskan ...." tutur Keanu. Ia tersenyum membayangkan sosok Puspa dalam ingatannya.


"Sangat menarik. Ibu jadi penasaran dengannya. Keanu Ibu yang pemilih, akhirnya kini telah menemukan pilihannya sendiri. Ibu harap dia gadis yang tepat untukmu," ucap Ryanthi.


Keanu menggumam pelan. Ia masih menyandarkan kepalanya pada pundak Ryanthi.


"Entahlah, Bu. Aku merasa tidak yakin," bantah pria berkemeja biru navy itu.


Ryanthi melirik wajah putra sulungnya. Ia kemudian menyentuh wajah itu dengan lembut dan mengusap-usapnya perlahan.


"Apa yang membuatmu merasa tidak yakin?" Tanya Ryanthi lagi. Ia terus mengorek informasi agar Keanu mau bercerita lebih banyak lagi kepadanya.


"Sudah bicara dengannya?" Tanya Ryanthi. Ia harus tetap bijaksana dalam menanggapi cerita dari Keanu.


"Belum," Keanu menggeleng pelan.


Ryanthi meraih tangan Keanu. Ia menggenggam erat jemari putra sulungnya. Ditatapnya wajah tampan yang merupakan duplikat resmi dari Adrian. Mereka memiliki warna bola mata yang sama.


"Bicaralah dan minta penjelasan padanya. Ibu yakin jika dia pasti akan memberikan apa yang ingin kamu ketahui. Jangan sampai kamu melewatkan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya," ucap Rynathi dengan nada keibuannya.


"Waktu yang sudah terlewat tidak akan pernah kembali. Ia juga tidak akan menunggumu hingga kamu merasa siap. Terkadang kita harus memaksakan diri dan mungkin sedikit melawan," lanjut Ryanthi.


Keanu terdiam. Ia hanya duduk termenung mendengarkan nasihat dari sang ibu. Ia harus benar-benar meyakinkan hatinya sebelum mengambil langkah.


"Entahlah, Bu. Aku ... aku merasa bingung. Ini terlalu cepat untukku," ujar Keanu. Ia mengusap-usap keningnya.

__ADS_1


Ryanthi tertawa pelan. Ia kembali meraih buku dari atas meja yang diletakannya tadi. "Lucu sekali. Kemarin adikmu yang mengatakan hal seperti itu. Sekarang kamu. Kedua anak Ibu rupanya jatuh cinta dengan begitu cepat," Ryanthi kembali melayangkan tatapannya kepada Keanu.


"Nikmati saja prosesnya. Ada pasangan yang ditakdirkan bersatu setelah saling mengenal dalam waktu yang cepat. Ada pula yang harus melakukan penantian yang cukup lama. Apa bedanya selama cinta itu memang ada dan dirasakan bersama?" Ucap Ryanthi. Ia mengalihkan tatapannya pada buku yang sedang ia pegang.


"Ada yang mudah berpindah hati. Namun tak sedikit yang memilih satu cinta dalam hidupnya. Ia rela menghabiskan setiap waktunya dalam kesendirian. Berteman dengan rasa sepi dan sendiri ...." Ryanthi mulai menerawang. Fikirannya tertuju pada masa lalunya yang indah bersama Adrian.


"Siapa pun orang yang kamu cintai, Ibu hanya berharap agar ia memberimu sesuatu yang akan selalu kamu kenang karena keindahannya. Memang tidak selalu indah dilihat, manis dirasa. Akan tetapi, cinta sejati itu akan terus memelukmu disaat kamu tidak lagi dapat melihat keindahan ataupun menikmati manisnya aroma kehidupan. Ia akan terus menggenggam tanganmu. Ia juga tidak akan membiarkanmu sendirian ...." tutur Ryanthi dengan nada bicaranya yang sangat lembut.


"Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang Ibu katakan padaku. Akan tetapi, aku akan mencoba untuk mencernanya dengan lebih dalam. Terima kasih telah mendengarkanku, Bu. Terima kasih juga untuk semua nasihatnya," Keanu memeluk Ryanthi dengan erat. Ia merasa memiliki semangat baru saat ini. Ia pun kembali tersenyum.


"Jadi ... hari ini kamu mau kemana?" Tanya Ryanthi lagi.


"Ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan," jawab Keanu dengan senyum semangatnya.


Ryanthi mengangguk pelan. "Apa hari ini kamu akan makan siang di rumah?" Tanya Ryanthi kembali.


"Aku rasa tidak. Tidak apa-apa, kan?" Keanu melirik sang ibu.


Ryanthi kembali tersenyum. "Usahakan makan malam di rumah, ya!" pinta Ryanthi.


"Iya. Aku pergi dulu," jawab Keanu. Ia pun menyempatkan diri untuk mencium pipi sang ibu sebelum benar-benar pergi.


Sementara itu, Arumi sibuk membuat janji dengan Moedya. Ia ingin mengenalkan pujaan hatinya itu kepada sang ibu.


"Jangan menyuruhku untuk bercukur!" Tukas Moedya. Ia terlihat tidak tenang. Sejak tadi ia hanya mondar-mandir di depan Arumi.


"Siapa yang akan menyuruhmu melakukan itu?" Tanya Arumi. Ia memperhatikan pria berambut gondrong itu sambil melipat kedua tangannya di dada.


Moedya tertegun. Ia kemudian menatap Arumi. "Dengar! Ayahku dulu mencukur rambutnya saat ia akan bertemu dengan ibunya ibuku ...." terang Moedya.


"Nenekmu maksudnya?" Sela Arumi.


"Ya ... nenekku," jelas Moedya.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Arumi.


"Aku harap kamu tidak menyuruhku untuk mencukur rambutku. Tidak apa-apa jika aku harus memakai jas seperti kakakmu atau mantan pacarmu itu, tapi ... aku sayang dengan rambut gondrongku!" Tegas Moedya. Ucapannya telah membuat Arumi mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan semua yang ada di dalam fikiran pria itu. Bagi Arumi, apa yang Moedya fikirkan terlalu berlebihan.


__ADS_2