
Keluarga Arshan telah berpamitan, ketika Ryanthi memutuskan untuk keluar rumah. Sore itu, dia ingin berjalan-jalan sekadar mencari udara segar, agar dapat menenangkan pikirannya. Gadis cantik tersebut berjalan seorang diri di trotoar. Namun, Ryanthi tak tahu akan ke mana. Dia tak memiliki tujuan yang jelas.
Ada banyak hal yang berubah dalam hidup Ryanthi. Semenjak tinggal bersama sang ayah, gadis itu terlihat jauh lebih hidup. Dia dapat mengekspresikan dirinya dengan lebih lepas, tanpa beban. Tak seperti saat masih tinggal bersama mendiang Farida. Saat itu, Ryanthi cenderung pendiam dan tertutup.
Pikiran Ryanthi melayang entah ke mana. Dia melangkah tak tentu arah. Niatnya memang ingin menghilangkan kepenatan. Namun, sepertinya itu tidak akan berlangsung lama, setelah dia mendengar suara seorang pria yang memanggil namanya dari arah depan.
Ryanthi tertegun. Dia menatap pria yang tengah berdiri tenang, sambil bersandar pada mobil mewah berwarna putih. "Kenapa dia ada di sini?" pikir Ryanthi. Dia memaksakan tersenyum kepada pria yang tiada lain adalah Adrian. Pria tampan yang tidak pernah ada dalam pikirannya. Ryanthi berjalan ke arah pria itu, karena memang Adrian berada beberapa langkah di depan.
Adrian segera memasang senyuman menggoda. Dia pikir, Ryanthi akan menghampiri dan menyapanya. Namun, ternyata gadis itu melintas begitu saja. Ryanthi tidak memedulikan dirinya sama sekali.
Adrian menautkan alisnya karena tak mengerti. Dengan segera, dia menyusul Ryanthi yang sudah beberapa langkah menjauh dari tempatnya berdiri.
"Hey! Kamu sombong sekali hari ini. Apa kamu ada masalah denganku?" tanyanya, sambil terus mengiringi langkah Ryanthi dari samping.
"Tidak ada. Namun, bertemu denganmu tak ada dalam agendaku hari ini" jawab Ryanthi singkat dan seenaknya.
"Oh, aku benar-benar tersinggung dengan ucapanmu barusan. Lihatlah, hatiku patah menjadi dua." Adrian memegangi dadanya.
Akan tetapi, Ryanthi tak berniat menanggapi celotehan pria itu. Dia hanya mendelik sesaat. "Bagaimana jika kita minum kopi dulu sebentar," ajak Adrian
Ryanthi terus berjalan. Seperti tadi, dia tidak menoleh kepada Adrian. Gadis itu terus berjalan. "Asam lambungku akan naik jika minum kopi," tolak Ryanthi tak acuh. Dia berusaha untuk tidak merasa risi, karena Adrian terus mengikutinya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan teh?" Adrian tidak putus asa. Pria itu terus berusaha mengajak Ryanthi, agar bersedia meluangkan waktu untuknya.
Namun, lagi-lagi Ryanthi tidak peduli. Gadis itu terus berjalan, bahkan mempercepat langkahnya. "Aku tidak minum teh," tolak Ryanthi lagi, masih dengan sikap tak acuh. Pandangannya lurus ke depan.
Adrian menggaruk kening. Dia mencari ide lain, meskipun dirinya tahu bahwa gadis itu tidak berminat untuk menerima ajakannya. Tiba-tiba Adrian tersenyum lebar. Dia mempercepat langkah, sehingga dapat mendahului Ryanthi. Adrian lalu berbalik dan menghadang laju gadis itu hingga tertegun dan menatapnya.
"Ayo kita ke tempatku," ajak Adrian tanpa putus asa. "Aku bisa mengajarimu caranya berenang dengan benar," ujar pria itu diiringi senyum nakal. Adrian juga memainkan alisnya.
Ryanthi masih menatap pria di hadapannya tanpa sepatah kata pun. Dia bingung harus berkata apa, karena saat itu dirinya tengah merasa kacau. Ryanthi hanya ingin sendiri. Dia sedang tidak ingin bicara kepada siapa pun. Bertemu dengan Adrian di jalan seperti saat itu, merupakan suatu kebetulan yang tidak diharapkan.
Gadis cantik tersebut menghela napas panjang. Sedangkan, Adrian masih berharap agar Ryanthi bersedia menerima ajakannya.
"Dengar, Tuan Tampan. Sebenarnya, hari ini aku sedang ingin sendiri dan tidak berniat minum kopi, teh, ataupun kursus berenang denganmu. Jadi, tolong minggir dan kembalilah ke mobilmu yang bagus itu, karena sayang jika nanti ada petugas yang mengempiskan bannya. Apa kamu tidak sadar jika dirimu telah melanggar peraturan dengan parkir sembarangan?"
Mendengar hal itu, Adrian malah tertawa renyah. Dia terlihat sangat tenang dan tidak khawatir sama sekali. Kali ini, justru Ryanthi lah yang dibuat keheranan olehnya. Gadis bertubuh ramping tersebut mengernyitkan kening sambil menggeleng pelan.
"Dengan, Nona Galak. Jika kamu memang mengkhawatirkan mobilku, maka jangan biarkan itu terjadi. Sebaiknya berbalik dan temani aku ke sana. Apa kamu tahu? Aku memasang pengharum mobil dengan aroma yang akan membuatmu jauh lebih tenang. Kamu pasti akan menyukainya," balas Adrian seraya tersenyum kalem.
Pria itu juga berbicara dengan nada yang terdengar sangat berbeda, tidak seperti tadi yang terkesan tengil dan membuat Ryanthi jengkel. Sikap dan gaya bicara Adrian saat itu membuat dirinya tampak jauh lebih berwibawa dan tentu saja memesona.
Sama seperti bahasa tubuh yang dia tunjukkan ketika pertama kali Ryanthi bertemu dengannya. Hari yang teramat memalukan dan tidak mungkin Ryanthi lupakan sampai kapanpun.
__ADS_1
Ryanthi menggenggam tali tas yang melintang di pundak. Gadis cantik tersebut tak segera menjawab. Dia tampak berpikir sejenak, serta mempertimbangkan tawaran dari pria tampan itu. "Coba katakan, kenapa aku harus menerima tawaran darimu?" tanyanya masih dengan sikap yang terkesan tak acuh.
Namun, Adrian tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan gadis itu dengan lekat. Semua hal yang ada pada diri Ryanthi, tak luput dari pengamatannya.
Sebagai pria yang telah berpengalaman dengan banyak wanita, tak sulit bagi Adrian untuk dapat menebak karakter dari gadis di hadapannya itu. "Kamu sangat cantik," gumamnya tanpa sadar.
"Permisi." Ryanthi mencoba untuk meyakinkan apa yang baru saja dia dengar.
Sesaat kemudian, Adrian kembali tersadar dari lamunannya. Pria itu tampak sedikit gelagapan. Sekali lagi, dia menggaruk kening sambil memikirkan apa yang akan dikatakan kepada Ryanthi. "Ah, tidak. Maksudku, hari ini kamu terlihat sangat berbeda. Aku suka melihat dress hitam ini," sanjung Adrian bernada merayu.
Namun, sayangnya Ryanthi tak ingin terbuai. Gadis itu justru menanggapi dengan malas segala ucapan Adrian.
"Aku tahu, bahwa sebenarnya hari ini kamu sedang membutuhkan seorang teman untuk bicara. Kebetulan, aku sudah menyelesaikan semua urusan pekerjaan dan hal lain. Jadi, saat ini aku memiliki banyak waktu luang, untuk sekadar menemanimu berbincang-bincang menghabiskan sore. Apa kamu ingin tahu sesuatu?" tanyanya.
"Apa?" tanya Ryanthi yang seakan terhipnotis begitu saja.
"Orang Perancis memiliki waktu luang yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan waktu bekerja yang digaji. Waktu luang mereka sekitar dua ratus sembilan puluh empat menit atau empat koma sembilan jam. Waktu luang ini bisa digunakan untuk kegiatan bersosialisasi, datang ke acara budaya, olahraga, hiburan, hingga berolahraga. Jadi, anggap saja jika saat ini aku ingin bersosialisais denganmu. Tak ada salahnya, bukan?" bujuk Adrian. "Kamu juga terlihat amat sangat kacau, Nona," ucapnya lagi.
Ryanthi terperangah mendengar ucapan Adrian. Dia tak mengerti, karena Adrian selalu dapat menebak apa yang sedang ada dalam pikirannya. Entah ilmu apa yang dimiliki pria itu, sehingga dia selalu tahu dengan segala hal?
Ryanthi berpikir beberapa saat, apa yang Adrian katakan memang ada benarnya. Lebih baik dia bicara kepada seseorang, daripada terus berjalan tanpa tujuan. Sementara, semua unek-unek dalam hatinya tidak tersalurkan. Tanpa berkata apa-apa, Ryanthi segera membalikan badan. Dia berjalan tenang menuju mobil Adrian terparkir.
__ADS_1
Sementara, Adrian hanya berdiri mematung dengan senyum puas dan penuh kemenangan. Tak ada wanita setangguh apapun, yang tak bisa dia taklukan. "Kena juga!" gumam pria itu bangga.