
Malamnya Nayara yang merasa sesak dan sakit hati hendak menghabiskan waktu di rooftop sembari menghirup udara malam. Tapi ketika kakinya menaiki puncak tangga terakhir , dia melihat Fabian dan Sarah sudah ada di sana duluan.
Pasangan suami istri itu duduk di kursi dengan posisi saling berhimpitan. Lengan Fabian memeluk pinggang Sarah dengan erat, sedangkan wanita itu merebahkan kepala di dada pria itu.
Nayara berdiri di tempatnya dan menyimak obrolan suami dan madunya itu.
“ Terima kasih kadonya, Mas. Aku senang sekali.” ujar Sarah sambil tersenyum manis .
“ Selamat ulang tahun, istriku.” ucap Fabian .
“ Mas lebih cinta sama aku atau sama Nayara?” tanya sarah pada sang suami.
“ Tentu saja padamu, Sarah cantik.” jawab Fabian tanpa perlu berpikir lama.
“ Oh ya?”
“ Jangan ragu lagi.”
Sarah tertawa renyah, lalu kembali berkata.
"Ayo, sama- sama merayakan ulang tahun berdua hingga sisa hidup kita. Sampai tua nanti, sampai hanya ada kita berdua karena anak-anak sudah besar dan pergi bersama kehidupannya.”
“ Tentu saja, pasti akan sangat membahagiakan bisa menghabiskan masa tua bersamamu.” balas Fabian yang terdengar sangat romantis di telinga Nayara. Dia merasa dunia seakan mengejeknya.
Selama ini ia berusaha percaya bahwa mungkin Fabian hanya sebatas khilaf dan akan kembali padanya setelah menyadari kesalahannya, dia pikir Fabian masih mencintainya seperti yang sering pria itu katakan. Dia pikir hidupnya akan baik-baik saja. Sekarang ini kepercayaan itu runtuh menyisakan puing–puing ketegaran yang tak berarti lagi.
Nayara turun sambil menghapus air mata berkali-kali. Matanya kabur tapi dia terus berjalan, hingga akhirnya dia menabrak dada seseorang. Saat mendongak , dia menemukan Zavian berdiri di hadapannya.
“ Menangis lagi?” tanya Zavian sambil menatapnya.” Mau kupeluk?”
Nayara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia terisak kuat. Sedetik kemudian dia merasakan tubuhnya didekap oleh dua lengan kokoh. Tangis Nayara semakin menjadi saat Zavian memeluknya. Saat ini dia merasa ketakutan sendirian dan butuh sandaran .
Nayara masih sibuk meredakan rasa sakit hatinya dan terlalu lemah untuk menolak ketika Zavian mengangkat tubuhnya. Pria itu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“ Za..” panggil Nayara lirih. Dia telah mengusap air matanya hingga habis. Yang tersisa hanya suara sengau sisa tangisannya.
“ Hhmm?” pria itu menatap Nayara.
“ Ada wine?”
__ADS_1
“ Ada , tapi kenapa?”
“ Buat aku lupa pada Fabian. Seperti yang kamu lakukan malam itu.”
“ Aku malas keluar untuk mengambil wine. Lagipula besok aku ada meeting pagi.” ucap Zavian. “ Jadi gak boleh minum wine supaya gak kebablasan.”
Nayara mendadak kecewa. Padahal dia sudah berharap bisa melampiaskan rasa kecewanya terhadap Fabian. Tangan Zavian kemudian terulur untuk menghapus sisa air mata di pipi Nayara. “ Tapi sebagai gantinya, aku bisa melakukan sesuatu yang lebih memabukkan dari alkohol.”
“ Eemm, apa itu?” tanya Nayara dengan polosnya.
Zavian tergelak dan menatap kakak iparnya dengan gemas.” Penasaran banget nih?”
“ Serius. Aku pengen tahu.” tukas Nayara.
“ Sini, deketan dikit.” pinta Zavian.
Nayara mengerutkan keningnya.” Perasaan posisi kita udah dekat deh.”
“ Posisi hati kita masih terlalu jauh , Nay.”
“ Halah !” Nayara melengos , menghindari sorot mata Zavian yang menatapnya dengan penuh godaan. Pria itu terkekeh, lalu meraih pinggang Nayara hingga tubuh mereka semakin merapat.
Nayara menerima ciuman Zavian dengan bibir terbuka pasrah, tapi dia tak kunjung membalas kecupan hangat itu. Nayara hanya sedang ingin menikmati segalanya tanpa ingin melakukan apa-apa. Dia menunggu gerak tangan Zavian menjammahnya, seperti malam itu. Tapi Nayara tidak kunjung mendapatkan keinginannya karena Zavian hanya mendaratkan kecupan di bibirnya saja.
“ TIdur di sini malam ini, ya?” Zavian bertanya dengan nada memohon. Matanya menatap penuh harap.
“ Oke.” jawab Nayara disertai anggukan kecil. Saat berkata begitu , Nayara pikir Zavian sedang mengajaknya untuk bercinta. Tapi pria itu sama sekali tidak melakukan pergerakan yang membangkitkan hasrat selain memeluknya.
“ Coba ceritakan apa yang kamu lihat di rooftop tadi.” pinta Zavian sambil menutup ujung kaki Nayara dengan selimut.
Zavian bersandar di headboard ranjang sambil memeluk Nayara, sedangkan wanita itu bersandar di dada Zavian.
“ Aku melihat Fabian sedang bersama Sarah di sana.” cerita Nayara dengan suara penuh kepedihan.” Bukan sikap mesra mereka yang membuatku sakit hati, tapi percakapan keduanya yang membuatku sadar bahwa ternyata aku telah tersisih dalam pernikahan ini.”
“ Tersisih karena apa ?” tanya Zavian.
“ Karena Fabian bilang bahwa dia lebih mencintai Sarah dibandingkan dengan diriku.” Nayara berucap lirih, seolah kepedihan itu telah merenggut sebagian kekuatannya.
“ Selama aku menikah dengan Fabian dia tidak pernah berminat untuk kuajak membicarakan tentang mimpi-mimpi dan masa depan. Tapi ketika bersama Sarah, dia dengan mudahnya merancang bagaimana menghabiskan masa tua berdua.”
__ADS_1
“ Kamu mendengar mereka berucap seperti itu?”
“ Hemm.”
“ Wajar kalau kamu sakit hati mendengarnya. Tapi bisa jadi Fabian cuma gombal. Bukannya dia memang pandai merayu.” kata Zavian.
“ Apa yang diucapkan oleh Fabian bukan rayuan tapi lebih mengarah pada sebuah kepastian.” sergah Nayara dengan cepat.
Zavian terkekeh sebentar, lalu ,mengeratkan pelukannya pada Nayara.” Sorry , harusnya aku berpihak padamu.”
Nayara pura-pura cemberut melihat sikap Zavian . Selanjutnya Zavian membuka percakapan lain yang tidak menyinggung permasalahan rumah tangga Nayara saat ini. Apapun ia bicarakan saat ini bahkan sampai candaan-candaan receh yang Zavian lontarkan setidaknya bisa membuat Nayara tertawa melupakan sakit hatinya sementara.
Setelah menghabiskan waktu untuk bercerita tentang banyak hal dan diakhiri dengan candaan receh, akhirnya keduanya memutuskan untuk tidur. Nayara tidak keberatan saat Zavian memeluk tubuhnya, justru dia merasa nyaman ketika berada di dalam pelukan adik iparnya itu. Aroma tubuh Zavian yang maskulin dan manis membuatnya tenang. Lengan kokoh Zavian yang melingkari pinggangnya membuat Nayara merasa dilindungi.
Malam itu Nayara tidur dengan nyenyak di ranjang adik iparnya setelah berhasil meredakan tangis dan menepikan rasa kecewa . Untuk pertama kalinya setelah sekian lama meringkuk sendirian di kasurnya yang dingin , Nayara kembali menemukan kehangatan. Sayangnya kehangatan itu bukan berasal dari suaminya.
Saat subuh, Nayara bangun terlebih dahulu dan keluar dari kamar Zavian. Dia menyempatkan diri kepantri untuk minum, lalu duduk termenung di salah satu stool.
Tadi malam Zavian mengatakan bahwa dia akan melakukan sesuatu yang lebih memabukkan dari alkohol. Nayara sempat berpikir bahwa Zavian akan mengajaknya bercinta dengan begitu hebat. Tapi ternyata dirinya salah. Zavian hanya memeluknya sepanjang waktu, meredakan rasa gelisahnya dengan cara sederhana, lalu membuat Nayara lupa akan luka yang tengah membebaninya. Terlihat sepele tapi Nayara tidak bisa menyepelekan efeknya.
Karena hingga detik ini, Nayara ingin terus berada di dalam pelukan Zavian. Rasanya hangat , tenang, nyaman dan membuat candu. Hal sederhana itu memberi efek jauh luar biasa dibandingkan alkohol yang memabukkan. Nayara menginginkan pelukan Zavian. Dia butuh itu!
“ Selamat pagi, nyonya Nayara .” sapa seorang pelayan yang membuat Nayara tersadar dari lamunannya.
“ Oh, selamat pagi.” jawab Nayara sedikit gelagapan . Dia melirik jam di dinding yang masih menunjukkan pukul lima , tapi para pekerja sudah memulai aktivitasnya .
Pelayan rumah itu tersenyum sopan, lalu dia berjalan ke balik meja bar dan mulai bekerja. Sedangkan Nayara kembali ke kamarnya. Seperti pagi-pagi yang telah terlewati selama satu bulan terakhir, Nayara akan menerima kunjungan Fabian ke kamarnya karena pria itu hanya datang untuk mengambil bajunya.
“ Nay, ini kemeja siapa?” tanya Fabian sambil menunjukkan kemeja putih yang tergantung di hanger.
“ Semua yang ada di lemari itu baju-baju milikmu, mas.” balas Nayara tanpa menoleh .
“ Kayaknya aku gak punya kemeja kaya gini deh.” Fabian memperlihatkan baju yang ada di tangannya. Saat melihat baju itu, Nayara hendak membelalak kaget tapi dia menahan keterkejutannya . Nayara sadar bahwa yang kini dipegang oleh Fabian adalah kemeja milik Zavian. Satu bulan yang lalu, Nayara bercinta dengan adik iparnya dan mengenakan kemeja itu asal-asalan. Parahnya lagi, pelayan malah menempatkan kemeja itu di lemari Fabian karena kemeja itu ditemukan di kamar Nayara.
“ Mungkin pelayan salah taruh baju mas. Nanti biar kutanya ini kemeja milik siapa.” ucap Nayara berbohong.
Fabian mengangguk sekilas, lalu meletakkan kemeja itu kembali ke dalam lemari. Dia memilih kemeja lain untuk dipakainya hari ini.
.
__ADS_1
...****************...