
Zavian menatap layar ponselnya dengan perasaan yang mendadak nyeri. Masih terngiang di telinganya bagaimana pilu tangisan Mamanya saat memintanya pulang ke rumah. Sebenarnya tidak ada niat Zavian untuk berbicara dengan Mama Widya, tapi nuraninya tergugah ketika dia mendapat kabar tentang suasana kacau yang sedang dialami Mamanya.
Setelah menelepon dan berbicara sebentar, Zavian kemudian memutuskan untuk merenung seorang diri. Dia sangat tidak menyukai bagaimana perasaan bersalah memenuhi dadanya. Karena setelah itu, sisi malaikat di dalam dirinya selalu meronta untuk datang dan memeluk Mama Widya.
“ Bagaimana kabar Mama ?” tanya Nayara yang datang dengan secangkir teh chamomille.
“ Tidak bisa dibilang baik-baik saja,” ujar Zavian lemah. “ Lebih tepatnya, keadaan di sana sedang berada dalam fase menyedihkan. Fabian masuk rumah sakit lagi dan penyakit HIV yang dideritanya telah berubah menjadi AIDS.”
Nayara tercengang untuk beberapa saat sebelum dia melontarkan kalimat berisi ungkapan simpati. Tapi setelah itu Nayara memilih untuk menghibur Zavian yang tampak tertekan setelah menelepon Mama Widya. Selalu ada kabar buruk yang sukses membuat Zavian merasa bersalah telah meninggalkan keluarga Rayyansyah . Dan Nayara tidak pernah menyukai bagaimana Zavian merasa bersalah atas pilihannya sendiri.
“ Mama Widya pasti akan baik-baik saja,” ujar Nayara.
“ Ya, aku tahu . Itulah kenapa aku tidak mau pulang dalam waktu dekat. Mama masih bisa hidup dengan baik meski tidak ada diriku,” tukas Zavian.
Sementara itu, Fabian yang melihat bagaimana Mama Widya memohon kepulangan Zavian hanya bisa bersikap kaku. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dalam menghadapi semua ini. Dia marah melihat Zavian yang tega pergi meninggalkan keadaan yang kacau dan membiarkan Mama Widya berjuang sendiri.
“ Sudahlah, Ma . Jangan menangis terus,” ujar Fabian menenangkan Mama Widya yang tak kunjung bisa menenangkan diri.
Mama Widya menyandarkan punggungnya ke dinding dengan pasrah. Tubuhnya lemas sekali setelah menangisi takdir yang dirasa tidak adil kepadanya. Air matanya masih menetes meski tidak sederas tadi. Dia telah memohon dengan teramat sangat kepada Yudha agar memberitahu dimana keberadaan Zavian saat ini. Tapi Yudha bersikeras menutup rahasia itu rapat-rapat.
“ Tolonglah, Yudha. Beritahu aku dimana Zavian berada saat ini.” ujar Mama Widya mengiba.
“ Zavian itu teman yang baik dan selalu bersedia membantuku disaat aku kesusahan. Dia juga berjasa dalam mengembangkan perusahaan yang kami jalani saat ini. Oleh karena itu, aku tidak akan mengkhianati temanku sendiri,” ujar Yudha.
“ Yudha……”
“ Enggak Tante, aku gak akan kasih tahu dimana Zavian saat ini.”
Setelah berkata begitu, Yudha langsung pergi meninggalkan Mama Widya. Dia bahkan tidak mau memberitahu nomor kontak Zavian kepada Mama Widya. Laki-laki itu benar -benar menjaga amanah Zavian yang memintanya untuk tidak membocorkan apapun tentangnya.
Akhirnya , Mama Widya harus pasrah saat menyadari bahwa Zavian yang telah memutus hubungan di antara mereka. Zavian bahkan tidak tergugah ketika Mama Widya memohon agar dirinya pulang. Zavian benar-benar bersikap tega terhadap Mamanya sendiri.
“ Zavian tidak akan pulang.” ucap Mama Widya dengan tatapan hampa.” Mama gak nyangka Zavian akan bersikap setega ini pada kita.”
“ Jelas saja dia tidak mau pulang setelah semua kekacauan yang terjadi di sini,” ujar Fabian menyahuti ucapan sang Mama.
” Lagipula , dia pasti menaruh dendam kepada kita karena telah mengacaukan seluruh usahanya.”
“ Maksudmu, dia masih marah karena Mama memintamu kembali bekerja ke perusahaan Rayyansyah?” tanya Mama Widya.
__ADS_1
“ Iya, sejak awal dia sudah tidak menyukaiku, itulah kenapa dia meminta jaminan yang setimpal dengan harga sahamnya. Tapi Mama tetap saja bersikeras ingin aku bergabung di sana.” jelas Fabian.
“ Mama ingin kamu kembali ke sana karena memang ada hakmu, Bian. Seharusnya Zavian mengerti kenapa Mama memintamu bergabung ke sana.” tukas Mama Widya tetap merasa dirinya benar atas hal yang ia lakukan.
“ Sudahlah , Ma . Aku capek. “ ucap Fabian dengan wajah yang benar-benar muak sekaligus lelah. Dia selalu tidak berhasil menjelaskan kepada Mama Widya bahwa segala kehancuran yang kini terjadi disebabkan oleh keputusannya sendiri.
“ Yudha juga tidak mau ngasih tahu Mama dimana Zavian tinggal sekarang,” ujar Mam Widya dengan suara serak.” Kenapa sih mereka kompak banget.”
“ Mau Mama menangis sampai buta sekalipun, sepertinya tidak akan ada yang berubah. Kita jalani saja hidup yang sudah ditakdirkan Tuhan seperti ini,” sahut Fabian menambah kepiluan di dalam batin Mama Widya.
“ Seandainya Papamu masih ada, pasti Mama tidak akan pernah mengemis kepulangan Zavian. Pasti Mama akan tetap baik-baik saja meskipun tanpa ada Zavian,” ucap Mama Widya kemudian.
“ Itu masalahnya, Ma.” ujar Fabian dengan pelan.” Mama menangis bukan karena kepergian Zavian, tapi Mama menangisi sikapnya yang tidak mau membantu disaat kita kesulitan . Seandainya keadaan baik-baik saja, pasti Mama gak akan pernah mencari Zavian,” tukas Fabian.
Mama Widya terdiam beberapa saat, kemudian dia melepaskan ******* napas kasar. Ada perasaan nyeri di dalam dirinya yang tak kunjung hilang. Dan dia tahu bahwa kepergian Zavian adalah sebagai bentuk protes akibat Mama Widya yang tidak adil dalam membagi kasih sayang.
“ Mama menyesal, Bian. Tapi sepertinya sudah terlambat, ya.” ujar Mama Widya dengan lirih.
Sementara itu, perusahaan Rayyansyah terus mengalami kemunduran. Walaupun Mama Widya terus menekan CEO baru untuk membuat perubahan tapi tidak ada menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan sikap Mama Widya membuat Jerry merasa kesal karena terus ditekan tapi tidak diberi bantuan, padahal keadaan sedang kacau. Mama Widya hanya mendatanginya untuk marah-marah dan mengatasi kinerjanya yang dianggap tidak becus.
“ Kalau begini terus, aku juga bisa mengundurkan diri !” ujar Jerry saat Mama Widya datang sambil marah-marah setelah mereview pekerjaan CEO muda itu.
“ Ya, sudah ! Mundur sana !” hardik Mama Widya.” Kamu saya pilih supaya bisa memajukan perusahaan milik suami saya . Tapi pekerjaanmu malah tidak ada yang memuaskan !”
Akhirnya, hari itu juga CEO di perusahaan Rayyansyah kosong setelah ditinggalkan oleh Jerry. Sebuah pernyataan tertulis disampaikan Jerry kepada seluruh dewan direksi dan juga petinggi perusahaan. Bahkan hal penting itu juga dikabarkan kepada para pemilik saham agar menjadi pertimbangan dalam rapat selanjutnya.
Tante Tania dan Tante Siska juga mengetahui kabar itu dan jelas saja mereka marah terhadap Mama Widya. Selama ini keduanya bersikap diam dan enggan berurusan dengan Mama Widya, mereka juga membiarkan Mama Widya mengurus perusahaan karena percaya semua akan baik-baik saja . Tapi ternyata semuanya malah menjadi berantakan.
“ Sudah puas kamu menghancurkan semuanya ?”tanya Tante Tania dengan wajah ketus.
“ Kami biarkan Mbak mengelola perusahaan ini karena percaya kalau semua akan membaik, tapi ternyata Mbak Widya malah membuat keadaan menjadi lebih buruk. Mengecewakan sekali,” cibir Tante Siska.
“ Aku juga mau yang terbaik untuk semuanya,” sanggah Mama Widya.
“ Kenapa sih, Mbak Widya selalu sukses membuat semua orang pergi ? Apa hanya mengacau saja satu-satunya keahlian Mbak ?” sindir Tante Tania. “ Setelah membuat Zavian pergi, lalu Farhan juga ikut-ikutan resign, sekarang Jerry juga menyerah ! Setelah ini, apalagi kekacauan yang akan Mbak Wid perbuat?”
“ Aku sudah berusaha,” sahut Mama Widya membela diri.
Kedua adik iparnya menggeleng kecewa. Kepergian Jerry setelah bertengkar dengan Mama Widya benar-benar membuat situasi semakin panas. Tidak hanya struktur kepemimpinan yang sedang kacau, tapi semua itu juga berimbas kepada hubungan kerjasama sampai juga pada penurunan harga saham.
__ADS_1
“ Sekarang serahkan semuanya pada kami !” ujar Tante Tania dengan tegas.
” Sudah cukup lama kami berdiam diri dan membiarkan Mbak Wid berbuat semaunya. Sekarang kami yang akan mengambil alih perusahaan ini !”
“ Mana bisa begitu. Aku gak mau menyerahkan perusahaan ini pada kalian !” seru Mama Widya.
“ Mbak beneran mau menghancurkan perusahaan ini, ya? “ tanya Tante Siska.
“ Sekarang apa lagi alasan, Mbak, ha ?” timpal Tante Tania.” Kemarin-kemarin Mbak beralasan bahwa anak-anak Mas Adrian yang berhak meneruskan perusahaan itu. Bahkan suamiku memilih resign demi memberi tempat untuk anakmu. Tapi sekarang anak kebanggaanmu itu sudah tidak ada lagi. Zavian pergi entah kemana, sedangkan Fabian sedang berjuang bertahan hidup. Seharusnya Mbak sadar diri !” ucap tante Tania dengan kalimat pedasnya.
“ Jika kami terus membiarkan Mbak bersikap seperti ini, maka perusahaan yang dibangun oleh ayah kami bisa beneran hancur,” tukas Tante Siska lagi.
“ Mbak bilang kalau suamiku orang asing yang tidak berhak menjabat di perusahaan Rayyansyah , padahal dirimu juga orang asing yang kebetulan dinikahi oleh Mas Adrian. Sekali lagi, harusnya Mbak Widya tahu diri,” ujar Tante Tania.
Mendapat serangan telak dari kedua iparnya, Mama Widya tidak bisa berkelit lagi. Tidak ada lagi argumen yang bisa dikemukakannya karena pada kenyataannya , keadaan memang kacau setelah dia ikut campur dan memerintah sesuka hati.
Mama Widya hanya bisa pasrah meski dadanya dipenuhi oleh rasa kecewa yang teramat sangat. Berhari-hari Mama Widya meratapi nasib sialnya dan mengutuk semua keadaan yang tidak berpihak kepadanya.
Selain itu, Mama Widya juga menangisi sikap Zavian yang dianggapnya tega telah memutuskan hubungan. Seandainya Zavian ada di sini tentu semuanya tidak akan seburuk ini. Berkali-kali Mama Widya mencoba untuk mencari tahu dan menghubungi Zavian lagi, tapi hasilnya nihil.
Bahkan Mama Widya tidak memperhatikan Fabian lagi karena dia sibuk dengan lukanya sendiri. Sehingga Fabian harus berjuang dan meyakini diri bahwa masih ada waktu untuknya di dunia ini. Hanya ada pelayan yang setia mengingatkan Fabian kapan harus meminum obat dan kegiatan apa yang harus dilakukannya setiap hari.
Melihat Mama Widya yang sudah tidak perhatian padanya, Fabian ikut merasa sedih dan terpuruk. Dia seperti kehilangan pegangan dan penopang hidup. Rasa sakit di tubuhnya bertambah parah seiring dengan batinnya yang terluka. Berat badannya semakin menyusut dari hari ke hari . Ketika dia keluar rumah, maka orang -orang akan terkejut melihat perubahan dirinya yang begitu drastis. Itulah alasan kenapa Fabian lebih suka mengurung diri di kamarnya.
Hingga suatu hari, Fabian memutuskan untuk naik ke rooftop gedung tiga puluh lantai dan berdiri di pinggir pembatas. Dia bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian dan membayangkan dirinya melayang terbawa angin. Dia sadar bahwa hidupnya akan berakhir sebagai pengidap AIDS yang menyedihkan.
Fabian meraih ponselnya dan menelepon Mama Widya. Dia menunggu beberapa detik setelah nada sambung berhenti dan sebuah suara di seberang sana menyapanya.
“ Dulu aku pernah ingin mengakhiri nyawa ini karena tidak tahan menjalani hidup yang menyedihkan. Tapi pada saat itu, Zavian melarangku dan mengatakan bahwa aku harus tetap hidup demi Mama.” ujar Fabian dengan suara sendu.
“ Tapi sekarang aku tahu bahwa Mama tidak begitu menyayangiku. Mama malu punya anak yang mengidap penyakit laknaat mematikan sepertiku. Itulah kenapa Mama selalu mencari keberadaan Zavian dan meratapi kepergiannya. Karena dia jauh lebih hebat dibandingkan diriku. Iya kan, Ma ?”
Ada sebuat sahutan dari seberang dan Fabian tidak begitu menanggapinya. Rasa kecewa dan putus asa telah menguasai seluruh pikirannya.
“ Tidak ada lagi alasanku untuk tetap hidup dan bertahan. Cepat atau lambat aku akan tetap mati. Sekarang juga tidak ada Zavian yang akan menahanku lagi. Jadi goodbye, Mama…….”
.
...****************...
__ADS_1
Ayo ramein lagi komentarnya....
Btw wedding agreement jg udah up ya, selamat membaca . Saranghae 🫰🫶