
Setelah mengatur strategi dan memikirkan dampak ke depannya, akhirnya Zavian membuka ruang untuk berdiskusi dengan keluarganya. Dia bertemu dengan Tante Tania dan juga Tante Siska selaku adik kandung dari Papanya.
“ Aku tidak akan memegang jabatan apa-apa di perusahaan Rayyansyah. Tapi di sini aku akan memposisikan diri sebagai rekanan yang bekerjasama dalam menjalankan beberapa proyek ke depannya,” ucap Zavian menjelaskan situasinya.
“ Gak apa-apa,” jawab Tante Tania sambil mengangguk. Dia tahu persis bahwa sekecil apapun peran Zavian pasti akan sangat membantu di sini.
“ Aku juga sudah membeli saham perusahaan sebanyak dua juta lembar, sehingga saat ini akulah pemegang saham terbanyak di perusahaan ini,” jelas Zavian sambil memperlihatkan beberapa berkas yang dimilikinya.
Kedua adik papanya itu mengangguk pelan. Secara tidak langsung, saat ini Zavian menguasai perusahaan melalui status kepemilikan sahamnya.
Sekarang mereka merasakan bahwa ada titik terang yang mulai menumbuhkan harapan terhadap perusahaan yang hampir tumbang ini. Ada kelegaan yang menyapa mereka.
“ Untuk posisi CEO akan kita tentukan dalam rapat umum pemegang saham yang akan diadakan bulan depan,” ujar Zavian. Dia menatap ke arah Om Farhan yang sejak tadi menyimak dengan cermat.” Untuk sementara waktu ini Om Farhan saja yang mengatur semuanya, ya. Kita akan membahas pelaksanaan teknis dan juga progres ke depannya setelah ini.”
Om Farhan mengangguk cepat, begitu juga dengan Tante Tania. Mereka awalnya meminta Zavian bergabung dan menempati posisi sebagai CEO . Tapi sepertinya Zavian menghindari hal tersebut karena tidak ingin terlibat kisruh lebih jauh dengan Fabian.
“ Orang-orangku juga telah berhasil menciduk Hendri yang kabur ke Australia. Mungkin dalam minggu ini dia akan kembali ke Indonesia setelah dideportasi dari sana. Kita siapkan langkah hukum untuk menghadapi ini. Uang perusahaan yang dibawanya kabur harus kembali lagi,” tegas Zavian.
“ Baik, biar aku yang menangani kasus Hendri,” sahut Om Farhan.
Lalu diskusi menjadi semakin serius saat Zavian mengungkapkan berbagai rencana proyek yang akan dilaksanakan dalam kerjasama dua perusahaan ini. Kedua adik Papanya kini bisa tersenyum puas melihat langkah tepat yang diambil oleh Zavian. Tidak salah jika selama ini mereka menunggu dengan sabar karena ternyata hasilnya cukup memuaskan. Zavian dengan pemikirannya yang luar biasa selalu bisa membuat siapa saja merasa kagum.
Sayangnya, dalam kebahagiaan atas segala langkah yang diambil Zavian, mereka kembali mendapat kabar buruk. Fabian yang ada di dalam penjara tiba-tiba tumbang dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Zavian dan Mama Widya segera menuju rumah sakit dan menanyakan keadaan Fabian. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi laki-laki itu.
“ Kami telah melakukan berbagai tes dan ternyata hasilnya cukup mengejutkan,” ungkap dokter berkaca mata itu. “ Inilah yang menyebabkan Fabian tumbang karena sistem kekebalan tubuhnya sangat lemah.”
__ADS_1
“ Apa hasilnya?” tanya Zavian tidak sabaran.
Selembar kertas hasil pemeriksaan lab disodorkan ke hadapan Zavian. Di sana tertulis hasil tes medis yang dilalui Fabian.
Zavian membelalakkan matanya.” Fabian positif HIV?”
“ Ini gak mungkin, gak mungkin….” Mama Widya nyaris pingsan saat mendengar penjelasan dan juga bukti yang ditunjukkan ke hadapannya.
Untung saja Zavian sigap menahan tubuh wanita paruh baya itu agar tidak tumbang ke lantai. Untuk beberapa saat, Mama Widya menangis terisak. Berkali-kali dia menggelengkan kepala demi menyangkal kenyataan pahit yang kini menghantamnya dengan telak.
“ Kenapa Fabian harus mengalami hal menyedihkan seperti ini?” tanya Mama Widya dengan nada pilu.
“ Ini hasil dari kelakuan liarnya selama ini,” jawab Zavian.
Mama Widya menatap Zavian dengan sorot mata tidak suka. Oleh karena itu, Zavian langsung membela dirinya sendiri,” Memang begitu kenyataannya,kan? Memangnya Mama lupa kalau di hobi mendatangi klub malam bahkan berganti-ganti pasangan kencan?”
“ Fabian gak akan bisa sembuh seperti semula. Penyakit itu belum ada obatnya, Za.” ujar Mama Widya sambil terus menangis.” Kita harus mendukung Fabian.”
“ Ma , penyakit yang diderita Fabian ini seharusnya membuat dia sadar dan bertaubat. Dia harus tahu bahwa kesalahannya yang selama ini melewati batas hanya akan menghancurkan dirinya. Jadi, Mama jangan memanjakan dia lagi,” ucap Zavian yang tidak bisa menahan diri ketika melihat sikap lemah Mamanya.
“ Maksudku, oke kita beri Fabian dukungan moral, tapi bukan berarti Mama kembali memanjakannya dan tidak bisa bersikap tegas padanya. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi dia akan sadar?” tanya Zavian dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan lembut. Dia tidak ingin terkesan menggurui Mamanya sendiri meski jiwanya memberontak keras.
Mama Widya tidak menyahut apa-apa, dia hanya diam sembari meredakan tangisannya. Dia hanya meminta agar diizinkan masuk menemui Fabian.
Sementara itu, Fabian tidak mengerti kenapa dia dipindahkan ke ruang isolasi begitu selesai menjalani beberapa tes kesehatan . Perasaannya semakin tidak enak ketika perawat dan dokter yang memeriksanya menggunakan alat perlindungan diri lengkap.
Semenjak masuk penjara , Fabian memang sudah merasakan keanehan terjadi di tubuhnya. Dia gampang lelah dan mudah terserang demam. Ada di satu waktu, dia merasakan tangannya kebas dan kehilangan kekuatan, tapi setelah itu semuanya kembali seperti semula. Dia pikir mungkin itu efek akibat putus obat karena selama ini dia selalu mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh Liza.
__ADS_1
“ Hasil tesnya sudah keluar dan dipegang oleh pihak keluarga yang ada di luar,” ujar perawat yang masuk untuk mengganti tabung infus Fabian.
“ Memangnya siapa keluargaku yang ada di luar?” tanya Fabian penasaran.
“ Ibu dan kakaknya Mas,” jawab perawat itu.
“ Itu adik saya,” koreksi Fabian dengan cepat. Sejak dulu, banyak sekali orang yang mengira Zavian itu kakaknya. Mungkin karena pembawaan Zavian terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya.
“ Ah, iya. Hasil tes laboratorium milik Mas dipegang oleh mereka,” ucap perawat itu lagi.
“ Memangnya bagaimana hasil tesnya ?” tanya Fabian penasaran.
“ Nanti ditanya langsung ke mereka saja ya, Mas. Dokter juga sudah bicara sama mereka, kok.” jelas perawat itu.
Pihak dokter dan tenaga medis memang meminta agar keluarga pasien sendiri yang menyampaikan penjelasan ini. Karena mereka percaya bahwa keluarga pasien pasti punya cara yang lebih baik dalam menyampaikan berita sensitif sekaligus mengejutkan seperti ini.
Fabian diam saja dan rasa penasarannya semakin menjadi-jadi . Hingga akhirnya Mama Widya masuk bersama Zavian sambil menggunakan pakaian steril dan juga masker penutup wajah. Dari masker yang dikenakan Mama Widya, Fabian bisa melihat mata Mamanya sedikit sembab dan merah setelah selesai menangis. Sedangkan Zavian terlihat sedikit frustasi dan berkali-kali menghela napas panjang.
“ Dokter bilang apa tentang sakitku, Ma?” tanya Fabian tidak sabar.
Mama Widya menoleh ke arah Zavian dan laki-laki itu menyerahkan kertas hasil tes dari laboratorium. Di sana tertera hasil tes medis Fabian dan apa yang menyebabkan dia sampai tumbang begini.
Fabian membaca hasil tes itu dengan seksama. Ada beberapa hal yang tidak dipahaminya tentang hasil tes antibodi , antigen dan juga resistensi. Tapi setelah itu Fabian terkejut ketika menemukan keterangan bahwa dia positif menderita HIV.
Dia tentu tahu pasti tentang penyakit ini, tapi ia masih tidak percaya jika dirinya sampai mengidap penyakit tanpa penawar itu.
.
__ADS_1
...****************...