Satu Malam Dengan Istrimu

Satu Malam Dengan Istrimu
Hanya manusia biasa


__ADS_3

“ Nayara pasti sudah bilang kalau Mama sering datang ke rumah untuk mencarimu,” ujar wanita paruh baya itu lagi.


“ Iya,” sahut Zavian singkat. Dia membantu memasukkan irisan daging ke dalam kuah sup panas, menahannya beberapa detik, lalu meletakkan di piring Mamanya.


“ Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Mama Widya masih berbasa-basi.” Semuanya baik-baik saja,’kan?” 


“ Baik-baik saja .Ma. Gak ada yang perlu dikhawatirkan,”ucap Zavian meyakinkan. 


Mama Widya mengangguk sambil tersenyum ringan,” Mama yakin semua yang ada di dalam dirimu baik-baik saja. Kamu hebat dan pintar, pasti segalanya selalu berjalan lancar untukmu. Salah banget kalau Mama khawatir sama kamu, Za.”


Zavian tertegun sejenak. Mama Widya dan orang lain yang ada di sekitar melihat Zavian selalu dalam keadaan yang baik-baik saja. Zavian akan terlihat luar biasa dengan segala kehebatannya dan mereka menaruh kekaguman terhadapnya. 


Semua itu terjadi karena Zavian sendiri yang menciptakan kesan baik terhadap dirinya sehingga orang lain tertipu oleh penampilan luarnya. Dia yang membangun image positif dan membuat orang lain tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentangnya. Padahal , dia tidak seperti itu. Zavian hanyalah manusia biasa yang bisa terluka oleh apa saja dan tentu memiliki rasa cemburu. 


Tidak ada yang benar-benar paham bagaimana perasaan Zavian selama ini selain Nayara. Hanya istrinya yang akan memeluknya erat di malam-malam dingin saat perasaannya berkecamuk hebat. Hanya Nayara yang tahu bagaimana terlukanya Zavian saat Mamanya berkata akan ikut bunuh diri jika Fabian tak bisa diselamatkan. Hanya Nayara yang tahu sedalam apa luka yang ditanggungnya. 


Hanya wanita itu yang selalu mengkhawatirkan Zavian untuk hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidupnya. 


“ Iya, Ma. Aku baik-baik saja,” sahut Zavian dengan lirih. 


“ Nah , makanya Mama ajak kamu ketemuan hari ini. Ada hal penting yang mau Mama bicarakan denganmu,” ucap Mama Widya.


“ Apa itu, Ma ?” tanya Zavian dengan suara lembutnya.


“ Fabian sudah bertekad untuk menjalani pengobatannya dengan baik. Dia akan menjalani hidup selayaknya orang normal seperti kita. Kamu tahu sendiri bahwa penyakit HIV tidak akan menular melalui interaksi biasa, iya,’kan?” jelas Mama Widya. Dia telah menghentikan minat pada daging premium yang ada di piringnya. 


“ Hem, terus ?” Zavian mendadak merasakan hawa yang tidak enak. Segala hal yang menyangkut dengan Fabian selalu sukses membuat moodnya terjun bebas.

__ADS_1


Tidak, Zavian tidak sedang membenci kakaknya itu. Hanya saja, Zavian tidak suka ada nama Fabian dalam percakapannya dengan Mama Widya. Apalagi di saat seperti ini. 


“ Fabian bilang dia ingin join lagi dengan perusahaan kita . Tapi dia butuh persetujuanmu. Makanya Mama mewakili Fabian untuk menanyakan hal ini. kepadamu,” jelas Mama Widya sambil memandang putra bungsunya.” Kamu pasti bakalan ngasih izin kakakmu untuk masuk ke perusahaan kita lagi,’kan?” 


Ada rasa nyeri yang kembali memenuhi dada Zavian. Rasanya sakit sekali. Tapi dia tetap menampilkan raut wajah tenang saat berhadapan dengan Mamanya. 


“ Bagaimanapun juga, perusahaan itu milik keluarga kita. Sayang banget kalau Fabian tidak mendapat jabatan di sana sementara Farhan yang orang luar saja bisa menjadi CEO. Lagipula, kita bisa membungkam orang-orang kantor yang membicarakan keburukan kakakmu,” lanjut Mama Widya lagi. 


“ Coba tanya sama Om Farhan saja, Ma. Perusahaan itu dipimpin oleh Om Farhan dan dia yang paling tahu keadaan saat ini,” ujar Zavian.


“ Itu dia, Za. Mama harus membicarakan ini padamu terlebih dahulu, masalah bicara pada Om Farhan itu urusan nanti,” sahut Mama Widya.” Farhan pasti akan nurut sama kamu.” 


Nama Zavian memang tidak tercantum dalam struktur kepengurusan perusahaan Raya Corp, tapi semua orang tahu bahwa dirinyalah pemegang kuasa tertinggi di balik itu. Bahkan Om Farhan yang saat ini menjabat sebagai CEO tidak akan berkutik saat berhadapan dengan keputusan Zavian. 


Mama Widya tahu persis situasinya dan dia tahu harus melakukan apa untuk membuat Fabian kembali mendapat jabatan di sana. 


Mama Widya tercengang. Dia belum sempat menjawab atau menahan agar anaknya tidak pergi . Zavian langsung berdiri dan meninggalkan wanita itu tanpa basa-basi.


Ada langkah yang terayun panjang dan cepat saat Zavian berjalan. Wajahnya dingin dan kaku. Rasanya sulit sekali untuk menarik sebuah senyuman tipis ketika beberapa orang menyapanya dengan ramah. 


Zavian benar-benar kembali ke kantor dan mendapati raut terkejut dari sekretarisnya. Laura terheran-heran melihat bosnya yang kembali dalam waktu singkat, padahal tadi sudah berkata akan keluar untuk waktu yang lama. 


Zavian tidak bicara apa-apa. Dia belum bisa memutuskan apapun. Dia hanya duduk di belakang mejanya sambil bersandar dan memejamkan mata. Zavian pikir beberapa hari belakangan ini Mama Widya mencoba mendatanginya karena benar-benar merindukan kebersamaan mereka berdua. Tapi ternyata ada hal lain di balik itu. 


Segala hal tentang Mama Widya selalu berkaitan dengan Fabian dan itu membuat Zavian semakin merasa tersisih. Helaan napas Zavian terdengar panjang lalu ada deru memburu setelahnya. Zavian meraih ponselnya untuk menelepon Nayara. Tiba-tiba dia merindukan wanita itu di sisinya. 


“ Bisa ke sini sebentar , sayang?” tanya Zavian. Dia terkekeh sejenak.” Gak tahu nih, tiba-tiba aku kangen terus pengen peluk kamu.”

__ADS_1


“ Tunggu ya, By. Aku segera ke sana,” sahut Nayara dengan cepat. 


Zavian menutup sambungan ponselnya dan segera meraih telepon internal yang ada di mejanya. Dia menghubungi sekretarisnya. “ Ra, jadwal hari ini tetap seperti yang aku katakan tadi. Nanti istriku akan ke sini dan tunda semua pertemuanku dengan klien,” jelas Zavian. Ada sahutan patuh dari seberang dan Zavian mengangguk puas.


Sambil menunggu kedatangan istrinya, Zavian menyempatkan diri untuk memeriksa beberapa berkas pekerjaannya. Ada pesan masuk dari Mama Widya dan Zavian memilih mengabaikannya. Dia tidak ingin memikirkan apapun tentang Mama dan kakaknya. 


Saat pintu ruangannya diketuk dan terbuka setelahnya, Zavian tidak dapat menahan senyumannya. Dia meninggalkan berkas yang sempat dibukanya dan segera berjalan menyambut istrinya. 


“ Sayang…” Zavian mendesah pelan dengan perasaan lega, lalu menciumi istrinya banyak-banyak.


Ada panggilan telepon dari Mama Widya yang terasa mengganggu. Zavian membawa Nayara duduk di pangkuannya dan dia menjawab panggilan itu. 


“ Vian, kamu beneran ngasih izin Fabian untuk join ke perusahaan kita lagi,’kan? Mama lagi jalan ke kantor untuk bicara dengan Farhan,” ujar Mama Widya dari seberang telepon. 


“ Aku belum ngasih keputusan apa-apa lho , Ma. Jangan buru-buru gitu.” ucap Zavian mengingatkan . Satu tangannya membuka kancing baju Nayara dan menurunkan kemeja itu hingga jatuh ke lengan. 


“ Makanya kamu yang jelas, dong. Tadi Mama ajak ngobrol kamunya malah pergi.” gerutu Mama Widya yang terdengar kurang senang. 


“ Kan sudah kubilang kalau aku lagi ada pertemuan dengan klien penting,” jelas Zavian. Matanya menatap Nayara yang kini mengatupkan bibir menertawakannya. 


Masih ada desakan dari Mama Widya yang membuat Zavian merasa jengah. 


“ Mama jangan bertindak semaunya demi Fabian. Segala hal penting yang berhubungan dengan perusahaan Raya Corp harus melewati persetujuanku terlebih dahulu. Jika ada yang berani melangkahi keputusanku maka aku akan membuat perusahaan itu hancur seperti yang dilakukan Fabian dulu. Setelah itu Mama dan Fabian bisa melambaikan tangan pada puing-puing perusahaan peninggalan Papa.” 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2